Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chaper 81. Dilema


__ADS_3

Mobil sport Reymond berhenti di depan pintu lobby Alvaro Group. Reymond segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Heidi.


"Silakan, Nona Heidi," ucap Reymond sambil tersenyum.


"Terima kasih, Tuan Reymond," ucap Heidi sambil membalas senyuman Reymond.


"Oh ya, siang nanti Helena dan Baby Triplets sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit," ucap Reymond.


"Benarkah?" seru Heidi.


"Nanti setelah pertemuan dengan para petinggi Alvaro, aku akan datang ke rumah sakit," ucap Heidi.


"Apa perlu aku jemput?" tanya Reymond.


"Tidak perlu. Kau kan harus bekerja. Apalagi kau sudah mengambil cuti selama 2 hari untuk menemaniku jalan-jalan. Terima kasih banyak ya Rey," jawab Heidi.


"Santai saja. Aku juga sedang ingin berlibur. Baiklah. Aku berangkat ke rumah sakit dulu ya," sahut Reymond.


"Hati-hati, Rey," ucap Heidi.


Reymond menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Senyuman Reymond membuat hati Heidi berbunga-bunga. Heidi segera masuk ke Alvaro Group untuk melakukan pertemuan penting dengan para petinggi Alvaro Group, yang sebelumnya sempat tertunda.


"Baiklah untuk pertemuan kali ini kita akhiri sampai di sini. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada Nona Heidi dan Tuan Andreas yang sudah berkenan untuk hadir. Saya juga meminta maaf karena pertemuan kita sempat tertunda sebelumnya," ucap Tuan Zayn yang menggantikan posisi Axel dengan didampingi oleh Tuan Vero dan Tuan Arya.


"Sama-sama Tuan Zaidan. Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar. Saya mengucapkan selamat atas kelahiran ketiga cucu kembar Anda," ucap Tuan Andreas.


"Terima kasih, Tuan," ucap Tuan Zayn.


Tuan Andreas segera pamit dan meninggalkan Alvaro Group, sedangkan Heidi masih merapikan berkas-berkasnya. Heidi tipe orang yang sangat rapi, teliti dan perfeksionis. Setiap akan meninggalkan tempat diadakannya pertemuan, Heidi selalu memeriksa semua berkasnya apalagi ketika tidak ada Sharon yang mendampinginya.


"Saya baru tahu jika Nona Heidi bisa berbahasa Indonesia. Dan bahasa Indonesia Anda cukup bagus," puji Tuan Vero.


"Anda terlalu memuji Tuan Vero. Kebetulan ibu saya masih memiliki darah keturunan Indonesia dan Turki. Almarhum kakek saya orang Indonesia, sehingga saya sedikit mengerti bahasa Indonesia," ucap Heidi.


Tak lama kemudian, Heidi pun pamit dan meninggalkan Alvaro Group.


Axel dan Helena sedang menunggu kedatangan Jasmine untuk menjemput mereka dan Baby Triplets pulang dari rumah sakit.


Reymond masuk ke dalam ruangan.


"Halo, para keponakan Uncle Rey," sapa Reymond kepada Baby Triplets.


"Halo Uncle Rey. Baby Triplets mau pulang. Nanti Uncle Rey main ke mansion Opa Zayn ya kalau kangen," jawab Helena dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.


Reymond mencium Baby Triplets secara bergantian.


"Rey, besok keluarga besar Alvaro akan mengadakan acara aqiqahan Baby Triplets di mansion Alvaro. Apa kau bisa datang?" tanya Axel.


"Insya Allah, aku pasti datang demi Baby Triplets," jawab Reymond.


"Kami juga mengundang Heidi. Tolong sampaikan padanya ya. Aku dengar kalian tinggal di gedung apartemen yang sama," ucap Helena.


"Ya, nanti aku sampaikan padanya," jawab Reymond.


"Rey, kalau boleh tahu bagaimana hubunganmu dengan Heidi?" tanya Helena.


"Maksudmu?" tanya Reymond tak mengerti.


"Sejauh apa hubungan kalian berdua? Apa kalian memiliki hubungan spesial?" sahut Axel.


"Hubungan kami baik. Aku dan Heidi hanya sebatas teman biasa tidak lebih," jawab Reymond santai.


"Apa kau yakin? Apa kau tidak tertarik padanya, atau memiliki perasaan yang lebih untuk Heidi dari sekedar teman?" tanya Helena dengan hati-hati.


"Heidi itu cantik, baik, cerdas dan mandiri. Kalian terlihat serasi saat bersama. Aku berharap kalian bisa bersama, lagipula kalian sama-sama single," tambahnya.


Axel mengangguk setuju.


"Apa kau yakin dengan perasaanmu? Jangan sampai kau kalah cepat lagi dengan pria lain. Nanti kau akan menyesal," ucap Axel.


Reymond mengangkat kedua bahunya.


"Sepertinya tidak. Aku murni hanya menganggap Heidi sebagai teman," jawab Reymond.


Sejak tadi Heidi berdiri di luar pintu. Heidi segera datang ke rumah sakit untuk menemui Helena dan Baby Triplets, dan juga menemui Reymond. Namun dia mengurungkan niatnya untuk masuk saat mendengar percakapan antara Axel, Helena dan Reymond.


Heidi segera pergi dari sana dengan langkah yang terburu.


"Bukankah itu Heidi? Mengapa wajahnya terlihat sedih?" gumam Jasmine saat melihat Heidi pergi dengan tergesa-gesa.


"Ada apa Jasmine?" tanya Evan.


Evan sudah tiba di Indonesia dan hari ini dia menemani Jasmine untuk menjemput Axel, Helena dan Baby Triplets.


"Tidak apa-apa, Evan. Ayo kita masuk ke ruangan Kak Helena. Aku sudah tidak sabar bertemu Baby Triplets," jawab Jasmine.


"Assalamualaikum," ucap Jasmine dan Evan.


"Waalaikumsalam," jawab Axel, Helena dan Reymond.


"Loh Evan? Kapan tiba di Indonesia?" tanya Axel.


"Tadi malam, Kak Axel," jawab Evan.


"Halo Baby Triplets kesayangannya Aunty Jasmine," sapa Jasmine kepada Arkana, Arshaka dan Arsyila.


"Selamat ya untuk kelahiran ketiga bayi kembar kalian," ucap Evan.


"Terima kasih, Evan," ucap Axel dan Helena bersamaan.


"Oh ya Kak. Aku tadi sempat melihat Heidi. Apa dia datang kemari?" tanya Jasmine.

__ADS_1


"Heidi?" seru Axel dan Helena.


"Dia tidak datang kemari," jawab Axel.


"Aku tadi melihat dia dari depan ruangan ini dan pergi dengan terburu-buru. Raut wajahnya terlihat sedih. Apa dia masih belum bisa move on dari Kak Axel?" ucap Jasmine.


Helena membulatkan matanya.


"Jangan-jangan Heidi mendengar percakapan kita tadi," ucap Helena.


"Memangnya apa yang kalian bicarakan?" cerca Jasmine.


"Helena mau menjodohkan Rey dan Heidi. Mereka kan sama-sama single. Tapi masalahnya, si dokter sok tampan ini bilang hanya menganggap Heidi teman biasa tak lebih," ucap Axel.


"Aku kan hanya berkata jujur, Axel," ujar Reymond.


"Wah sayang sekali. Padahal kalian itu cocok sekali. Sama-sama korban patah hati dari pasangan Kak Axel-Helena," ucap Jasmine dengan sambil terkekeh.


"Sebaiknya kau segera mengejar Heidi, Rey," ucap Helena.


"Untuk apa?" tanya Reymond.


"Dasar kau ini!" ucap Axel geram.


"Segera kejar Heidi sekarang, Kak Rey. Jika dia merasa sedih saat mendengar ucapanmu itu, itu artinya Heidi merasa kecewa karena Heidi memiliki perasaan lebih padamu dari sekedar teman biasa," cerocos Jasmine.


"Tapi kan?" protes Reymond.


"Kesempatan tidak akan datang dua kali, apalagi sampai berkali-kali. Jangan sampai kakak menyesal saat dia sudah pergi," ucap Evan.


Reymond mendengus kesal. Lalu segera pergi meninggalkan ruangan Helena untuk mengejar Heidi. Saat tiba di lantai dasar rumah sakit, Reymond tidak menemukan keberadaan Heidi. Reymond mengambil ponselnya dan menghubungi ponsel Heidi, namun tak ada jawaban.


"Sial!" umpat Reymond.


Reymond segera melacak GPS ponsel Heidi dan terlihat posisinya sudah menjauh dari rumah sakit. Reymond segera menuju tempat parkir. Reymond melajukan mobilnya dengan cepat menuju gedung apartemen.


Heidi segera menghapus air matanya sesaat sebelum pintu lift terbuka di lantai 15. Heidi segera melangkah keluar dan berjalan menuju unit apartemennya.


"Hai cantik," sapa pria asing yang beberapa hari yang lalu sempat menggoda Heidi.


Heidi bersikap tak acuh dan mengabaikan pria itu. Heidi segera membuka pintu apartemennya. Saat pintu terbuka, tanpa diduga pria itu sudah berada di belakang Heidi dan mendorongnya masuk ke dalam apartemen.


Heidi menjerit histeris karena terkejut dan takut.


"Mau apa kau? Keluar dari sini!" bentak Heidi.


Pria itu bukannya keluar malah menarik tubuh Heidi ke dalam pelukannya.


"Ayolah sayang, aku ingin bersenang-senang denganmu," ucap pria itu dengan tatapan tak senonohnya.


"Lepaskan aku!" teriak Heidi, namun pria itu mengabaikannya.


Heidi menggigit tangan pria itu dan berusaha untuk keluar dari apartemen. Tapi tangan pria itu dengan cepat menahannya.


"Mau lari ke mana sayang? Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku puas bersenang-senang denganmu," bisik pria itu.


Pria itu tertawa.


"Tapi aku lebih menginginkan tubuhmu sayang," jawab pria itu.


Ponsel Heidi berdering, ada panggilan dari Reymond. Dengan cepat dia mengangkat panggilan Reymond.


"Rey, tolong!" teriak Heidi.


Pria asing itu langsung merampas ponsel Heidi dan membuangnya asal.


"Rey, tolong! Aku mohon tolong aku!" teriak Heidi ketakutan.


Pria itu menarik tubuh Heidi dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dengan kasar pria itu menghempaskan tubuh Heidi ke atas ranjang.


Sedangkan di lantai dasar gedung apartemen, Reymond langsung panik setelah mendengar teriakan permintaan tolong Heidi. Reymond langsung masuk ke dalam lift menuju lantai 15 dengan membawa dua orang security.


Saat tiba di depan apartemen Heidi, security mengambil kunci cadangan untuk membuka pintu apartemen itu. Saat pintu terbuka, Reymond langsung masuk.


Reymond mendengar teriakan Heidi dari dalam kamar. Reymond langsung mendobrak pintu kamar itu. Wajah Reymond memerah penuh amarah saat melihat pria asing itu sudah merobek baju Heidi dan berusaha memperkosanya.


Reymond menarik tubuh pria itu dari atas tubuh Heidi dan menghajarnya dengan membabi buta. Heidi menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hampir polos sambil terus menangis.


Salah satu security segera menahan tubuh Reymond agar menghentikan pukulannya.


"Hentikan Tuan. Anda bisa membuatnya terbunuh," ucap security itu.


"Lepaskan aku. Biarkan ku bunuh b*j*ng*n ini!" teriak Reymond.


"Biarkan kami yang menangani pria ini. Kami akan membawanya ke kantor polisi. Sebaiknya Anda tenangkan teman Anda," sahut security itu.


Reymond segera meredam emosinya saat melihat kondisi Heidi.


"Cepat jebloskan pria ini ke penjara, atau aku akan menuntut kalian karena lalai menjaga keamanan di apartemen ini!" bentak Reymond.


Kedua security itu segera membawa pria asing yang hampir pingsan itu keluar dari apartemen Heidi.


Reymond segera mendekati Heidi dengan perlahan.


"Heidi," panggil Reymond pelan.


Heidi mengangkat wajahnya dan menatap Reymond.


"Rey," isak Heidi.


Reymond langsung memeluk Heidi. Heidi terus menangis di dalam pelukan Reymond.


"Tenanglah. Kau aman sekarang," ucap Reymond.

__ADS_1


Setelah Heidi sedikit tenang, Reymond mengurai pelukan mereka.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Reymond.


Heidi mengangguk.


Reymond mengambil botol minum yang ada di atas nakas dan membuka tutup botolnya.


"Ini minumlah dulu," ujar Reymond.


Heidi mengambil botol itu dan meneguk airnya.


Reymond mengambil satu set baju dari dalam lemari Heidi.


"Pakailah," ucap Reymond.


Heidi pun menurut.


Reymond mengeluarkan semua pakaian dan barang Heidi, lalu memasukkannya ke dalam koper.


"Apa yang kau lakukan, Rey?" tanya Heidi.


"Tempat ini tidak aman. Sebaiknya kau ikut denganku," jawab Reymond.


Heidi hanya bisa menurut, dia masih trauma atas kejadian tadi.


Keduanya sudah berada di penthouse Reymond.


"Kau tinggal dulu di sini. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan berbuat macam-macam," ucap Reymond sambil memasukkan koper Heidi ke dalam kamar.


"Istirahatlah. Aku akan membuatkanmu makan siang," ucap Reymond.


Heidi hanya mengangguk tanpa menjawab.


Sepanjang hari, Heidi terus diam. Dia hanya bicara seperlunya. Pada malam hari, Heidi tidur di kamar dan Rey tidur di ruang tamu.


Di dalam kamar, Heidi terus menangis dan berusaha agar suaranya tidak terdengar oleh Reymond. Reymond merebahkan tubuhnya di atas sofa. Reymond terus merenung.


"Mengapa aku bisa semarah itu saat pria itu menyentuh Heidi? Rasanya aku tadi ingin sekali membunuhnya," lirih Reymond.


Reymond memikirkan ucapan Axel dan Helena siang tadi.


"Apa benar aku menyukai Heidi?" gumam Reymond.


Reymond mengusap wajahnya kasar. Reymond dilema saat ini. Dia tidak mengerti dengan perasaan pada Heidi yang sebenarnya.


Pada tengah malam, Heidi keluar dari kamar sambil membawa koper. Heidi melihat Reymond yang sudah tertidur.


"Maaf Rey, aku pergi tanpa pamit. Aku tidak ingin terus merepotkanmu. Dan aku tidak ingin hatiku semakin sakit karena perasaanku padamu," lirih Heidi.


Heidi berusaha membuka pintu penthouse itu tapi tak bisa.


"Apa seperti ini caramu berterima kasih?" bisik Reymond yang sudah berada di belakang Heidi.


Heidi terpekik karena terkejut. Heidi segera membalikkan tubuhnya menghadap Reymond.


"Maafkan aku Rey. Aku tidak bermaksud bersikap tidak sopan, aku hanya tidak ingin semakin merepotkanmu," ucap Heidi dengan jantung berdebar karena tubuh mereka yang sangat dekat.


Glek!!! (Heidi menelan salivanya kasar).


"Tak kan kuijinkan kau pergi," ucap Reymond.


"Tapi aku...mmmpphh," ucapan Heidi terputus.


Reymond langsung membungkam bibir Heidi dengan bibirnya. Reymond menyesap benda kenyal itu dengan lembut. Kaki Heidi terasa lemas, seperti ada aliran listrik yang mengalir di dalam darahnya. Satu tangan Reymond segera menahan tubuh Heidi agar tidak jatuh.


Setelah cukup lama, Reymond melepaskan tautan bibir mereka dengan napas keduanya yang masih terengah-engah.


"Jangan mengharapkan permintaan maaf dariku, karena aku tidak menyesalinya Heidi," ucap Reymond.


Heidi masih mengatur napasnya.


"Jawab aku dengan jujur," ujar Reymond.


Heidi langsung menatap mata Reymond.


"Apakah kita seiman?" tanya Reymond.


"Ya," jawab Heidi.


Reymond segera menjauh dan mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.


"Papa! Mama! Segera lamarkan seorang wanita untukku!" ucap Reymond dengan tegas.


Bersambung ...


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen (new novel)


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2