
Di sebuah ruangan yang didominasi dengan warna putih, Emily membuka matanya secara perlahan. Badannya terasa lemas. Emily juga merasakan sakit di bagian perutnya.
"Kakak sudah sadar," terdengar seruan Neil, adik Emily.
Emily menatap adiknya yang duduk di samping ranjangnya.
"Kita berada di mana Neil?" tanya Emily yang masih bingung dengan kondisinya.
"Kita berada di rumah sakit. Apa kakak lupa? Perut Kakak tiba-tiba sakit sebelumnya," jawab Neil dengan hati-hati.
Emily mencoba mengingatnya. Tak lama kemudian, Emily membulatkan matanya. Emily langsung menangis. Emily ingat sekarang, dia mengalami kontraksi hebat pada perutnya. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa.
Emily meraba perutnya. Dia menyikap bajunya sedikit ke atas dan melihat pada bagian perutnya terdapat luka gores dan jahitan yang dibalut perban.
"Bayiku? Bagaimana dengan bayiku, Neil?" teriak Emily sambil menangis ketakutan.
Neil langsung memeluk kakaknya.
"Kakak tenanglah. Aku mohon tenangkan dirimu," ucap Neil yang berusaha menenangkan kakaknya yang sedang histeris.
"Katakan Neil! Kedua bayiku baik-baik saja, kan?" teriak Emily.
Seorang dokter wanita dan perawat masuk ke dalam ruangan saat mendengar teriakan Emily.
"Dokter Samantha, tolong bantu tenangkan kakakku," ucap Neil.
"Nona, saya mohon tenangkan diri Anda. Kasihan dengan bayi dalam kandungan Anda," ucap Dokter Samantha.
"Kedua bayi saya baik-baik saja kan dokter? Mereka masih hidup, kan? Lalu mengapa ada bekas jahitan di perut saya?" tanya Emily.
Dokter Samantha menghela napas panjang.
"Sebelumnya saya minta maaf Nona. Saat tiba di rumah sakit, Anda telah mengalami pendarahan yang cukup hebat. Salah satu dari janin kembar Anda tidak bisa kami selamatkan. Dan dengan terpaksa, kami harus melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkannya demi keselamatan nyawa Anda dan saudara kembarnya," terang dokter Samantha.
"Ini tidak mungkin. Tidak mungkin bayiku meninggal. Aku tidak mau kehilangan salah satu bayiku," Emily berteriak dengan histeris.
Emily tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah kehilangan salah satu bayi kembarnya. Neil terus memeluk kakaknya sambil menangis. Dokter Samantha memberikan suntikan obat penenang pada selang infusnya. Secara perlahan mata Emily mulai berat, dan akhirnya dia pun tertidur.
Dokter Samantha memeriksa kembali kondisi Emily dan bayi dalam kandungannya. Perawat membersihkan jahitan Emily yang mengeluarkan darah karena Emily banyak bergerak tadi. Perawat pun segera mengganti perbannya.
"Bagaimana keadaan Kakak saya dokter?" tanya Neil.
"Secara keseluruhan semuanya baik, hanya kondisi fisiknya yang masih lemah. Usia kandungannya sekitar tiga bulan. Nanti setelah kakak Anda sadar dan tenang, kita akan melakukan pemeriksaan ulang. Berbeda dengan saudara kembarnya, janin yang ini sangat sehat dan kuat. Usahakan jangan sampai kakak Anda terlalu stress. Dan selalu beri dukungan padanya agar dia bisa menerima kepergian salah satu janinnya," jawab dokter Samantha.
Neil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Lalu bagaimana dengan janin yang telah kalian keluarkan dari perut kakakku? Di mana jenazahnya sekarang?" tanya Neil lagi.
"Jenazah janin itu ada di kamar jenazah. Tuan bisa mengambilnya di sana," terang dokter Samantha.
"Baiklah. Terima kasih banyak dokter," ucap Neil.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Dokter Samantha.
Sepeninggal dokter Samantha dan perawatnya, Neil kembali duduk di samping ranjang Emily. Neil memegang tangan Emily dan menciumnya penuh sayang.
"Sebenarnya apa yang terjadi di dalam gedung itu Kak? Sampai membuatmu seperti ini. Apa karena pria yang bernama Aiden itu tidak mau mengakui kedua bayi yang ada dalam kandunganmu?" gumam Neil sambil menangis.
"Jika benar pria itu yang telah membuatmu seperti ini, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membalasnya. Aku tidak peduli meskipun dia seorang mafia yang ditakuti sekalipun. Karena dia telah menyakiti kakak yang paling aku sayangi," ucap Neil dengan tatapan penuh kebencian.
Dua jam kemudian, kesadaran Emily sudah kembali secara perlahan. Emily melihat Neil yang tidur sambil duduk di samping ranjangnya dengan terus memegang tangan kanannya.
Tangis Emily pecah saat mengingat salah satu bayinya telah tiada. Dia mengusap perutnya dengan perlahan.
"Maafkan Mommy sayang. Maafkan Mommy. Seharusnya Mommy tidak membawa kalian datang ke tempat itu. Seharusnya kita pergi yang jauh," lirih Emily sambil terisak.
Flashback On
Beberapa bulan yang lalu, Emily disibukkan dengan kegiatannya sebagai dokter sukarelawan di Italia. Saat menangani seorang pasien, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan tak lama kemudian dia jatuh pingsan.
__ADS_1
Saat sadar, Emily sangat terkejut saat dokter sekaligus temannya bertugas memberitahu jika Emily sedang hamil. Karena selama ini dia hanya berhubungan badan dengan Aiden dan Emily tidak pernah lupa meminum obat pencegah kehamilannya.
Emily segera memeriksakannya kembali ke dokter kandungan. Dan sekali lagi, Emily dibuat terkejut karena ada dua janin di dalam kandungannya. Emily pun dilema, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Akhirnya Emily memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya itu karena ingin mempertahankan kedua calon anak kembarnya.
Adiknya, Neil, adalah satu-satunya orang yang mengetahui kehamilannya. Emily melarang Neil untuk memberi tahu keluarga mereka karena tidak ingin membuat keluarganya cemas. Emily memutuskan untuk tinggal di Madrid, Spanyol, bersama Neil. Kebetulan Neil sedang melanjutkan studynya di salah satu universitas yang ada di kota Madrid.
Saat kandungannya menginjak usia tiga bulan, Emily selalu merasakan rindu yang teramat pada Aiden. Emily tahu jika kedua bayinya sedang merindukan ayah mereka. Setiap hari Emily selalu memeluk foto Aiden yang dicetak di kaos milik Neil. Neil mengenakannya supaya Emily bisa seolah-olah sedsng memeluk Aiden. Semua itu sengaja Neil lakukan demi kakak tersayangnya.
"Kak, sebaiknya kita ke Jerman. Kita temui ayah dari kedua bayimu. Aku tidak tega melihat kakak terus bersedih dan menangis seperti ini. Bagaimana pun juga pria itu harus tahu jika yang dilakukan pada malam itu telah menghasilkan dua bayi kembar," ucap Neil.
"Bagaimana jika Aiden tidak mau mengakuinya? Dia bukan pria yang mau memiliki sebuah ikatan, Neil. Dia selalu mengatakan jika dia tidak ingin wanita yang pernah ditidurinya merengek meminta pertanggung jawaban darinya. Aiden tidak pernah ingin memiliki anak," ucap Emily sambil terisak.
"Kakak tidak akan tahu sebelum kakak mencobanya. Aku akan selalu mendampingi kakak. Dan jika pria itu menolak, kakak tidak perlu khawatir aku siap untuk menjadi ayah angkat mereka berdua. Aku yang akan melindungi kalian bertiga," ucap Neil meyakinkan.
"Baiklah, besok kita pergi ke Jerman," lirih Emily.
Setibanya di Jerman, Emily langsung menuju ke perusahaan keluarga Morris. Penjaga di sana mengatakan jika Aiden sedang tidak berada di sana. Karena bos mereka itu pada malam harinya akan menghadiri sebuah pesta di gedung bernama Joy Dream, milik salah satu pengusaha terkaya di Jerman.
Emily memutuskan untuk menemui Aiden di pesta itu. Dia mengenakan gaun berwarna putih dengan rambutnya tergerai indah.
"Apa Kakak yakin akan menemuinya sendirian? Aku bisa menemani Kakak," tanya Neil saat keduanya berada di dalam mobil yang terparkir di parkiran gedung Joy Dream.
"Kakak yakin Neil. Kau tidak perlu khawatir," jawab Emily.
"Baiklah selalu aktifkan ponsel Kakak supaya aku bisa terus memantau GPSnya dan tahu di mana lokasi Kakak," ucap Neil mengalah.
Emily mengangguk, kemudian keluar dari dalam mobil. Emily menarik napasnya panjang, lalu melangkahkan kakinya menuju gedung tersebut. Karena Emily tidak termasuk tamu undangan, Emily masuk ke dalam gedung itu melalui pintu belakang dan memberikan sejumlah uang yang cukup banyak kepada orang yang berjaga di sana.
Di dalam ruangan pesta sudah terdapat banyak orang. Emily terus mencari keberadaan Aiden. Kedua netra matanya melihat Aiden yang berdiri sendirian sambil memegang segelas wine. Emily tersenyum bahagia.
"Itu Daddy sayang. Kita akan bertemu dengan Daddy," lirih Emily sambil mengelus perutnya.
Emily melangkahkan kakinya menuju tempat Aiden berada. Namun langkahnya terhenti saat berada di dekat meja tempat Cassandra bersama teman-temannya berkumpul. Emily mendengar dengan jelas jika wanita yang bernama Cassandra itu adalah kekasih Aiden saat ini. Hati Emily terasa ditusuk-tusuk saat mendengar pengakuan Cassandra jika Aiden telah melamarnya dan keduanya akan segera menikah. Emily juga menatap cincin yang dipamerkan oleh Cassandra pada teman-temannya.
Emily mengurungkan niatnya untuk menemui Aiden. Emily segera memutar badannya dan melangkah pergi keluar dari ruangan itu. Di sepanjang lorong, Emily tidak bisa lagi menahan air matanya yang terus berjatuhan.
"Emily!" terdengar suara pria yang sangat dikenalinya sedang memanggilnya.
Pyaaarrr!!! (Terdengar suara pecahan gelas)
Emily terus melangkah tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Emily melihat seorang wanita yang memakai gaun putih dengan rambut tergerai sedang menatap ke arah taman. Emily segera bersembunyi di balik tiang besar. Terdengar kembali suara Aiden yang memanggil namanya.
Emily melihat Aiden mendekati wanita yang mirip dengannya itu.
"Emily," panggil Aiden sambil menarik lengan wanita itu dan menghadap padanya.
"Auh...," pekik wanita itu sedikit kaget.
Aiden terkejut. Ternyata wanita itu bukanlah Emily.
"Maaf Nona. Saya pikir Anda adalah teman saya. Sekali lagi maaf," ucap Aiden.
Aiden segera meninggalkan wanita itu.
"T-tidak apa-apa Tuan," ucap wanita itu sambil memaksakan senyumannya.
Aiden mengedarkan pandangannya ke penjuru tempat itu, namun orang dia cari tidak ada.
"Aiden sayang. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Cassandra.
Emily melihat Cassandra yang berjalan mendekati Aiden.
"Aku hanya mencari udara segar. Sebaiknya kita pulang sekarang," jawab Aiden.
"Apa kau yakin? Pestanya kan belum selesai," ucap Cassandra.
"Kalau kau masih ingin berada di sini, silakan. Aku mau pulang," ucap Aiden dingin.
"Tidak. Aku ikut pulang denganmu. Dan kita bisa bersenang-senang berdua nantinya," sahut Cassandra dengan wajah riangnya.
__ADS_1
"Mereka benar-benar pasangan yang serasi," batin Emily.
Emily keluar dari persembunyiannya setelah memastikan Aiden dan Cassandra sudah pergi dari sana.
"Maafkan Mommy ya sayang. Mommy tidak bisa mempertemukan kalian dengan Daddy, karena keberadaan kita akan merusak kebahagiaan Daddy kalian. Mommy sendiri yang akan merawat dan membesarkan kalian. Mommy harap kalian bisa mengerti," ucap Emily sambil mengelus perutnya.
Emily segera menyeka air matanya tidak ingin membuat Neil cemas.
"Kakak sudah kembali. Bagaimana sudah bertemu dengan pria itu?" tanya Neil saat Emily masuk ke dalam mobil.
"Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini Neil. Kakak mohon," ucap Emily dengan tatapan memohon.
Neil pun menurut dan mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Neil tahu jika saat ini Emily sedang dalam kondisi mood yang tidak baik, terutama dengan mata Emily yang terlihat sembam. Emily merintih kesakitan sambil memegang perutnya dan tak lama kemudian jatuh pingsan.
"Kak, bangun. Apa terjadi padamu?" tanya Neil cemas.
Ada darah segar yang mengalir dari bagian pangkal kaki Emily dan mengenai gaunnya. Neil segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter Samantha memberitahu jika harus segera dilakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan salah satu janin Emily yang sudah tidak bisa ditolong lagi.
Neil pun sebagai satu-satunya anggota keluarga Emily yang berada di rumah sakit saat itu, dengan berat hati memberikan persetujuan untuk dilakukannya tindakan operasi.
Flashback Off
"Kakak sudah bangun?" terdengar seruan Neil.
Emily tersentak. Dia segera menyeka air matanya.
"Ya, kakak sudah bangun. Terima kasih ya Neil kau selalu setia menemani Kakak," ucap Emily sambil berusaha tersenyum.
"Kakak jangan bilang seperti itu. Sudah menjadi tugasku untuk melindungimu, Kak," ucap Neil.
"Bagaimana perasaan Kakak sekarang?" tanya Neil.
"Sudah lebih baik," jawab Emily.
"Tapi aku lapar. Maukah kau membelikan bubur untukku?" ucap Emily.
"Tentu saja. Aku akan membelikannya untukmu."
"Tapi apa Kakak baik-baik saja aku tinggal sendiri di kamar ini?" tanya Neil.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja," jawab Emily meyakinkan.
"Baiklah. Aku pergi dulu," ucap Neil.
Sepeninggal Neil, dengan perlahan Emily mengambil ponselnya yang diletakkan di atas nakas. Emily menghubungi seseorang.
"Halo, Hans. Ini kau Emily. Bagaimana kabarmu?"
"Bolehkan aku meminta bantuan padamu?" pinta Emily.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Tetap semangat ya Emily...🥲🤗🤗
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
__ADS_1
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰