
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum. Vira, ini kakak. Tolong bukakan pintunya," teriak Pramudya.
"Kau sudah pulang, Pram," seru Nabila yang baru saja pulang kerja.
"Ya, Nab. Aku sudah panggil Vira tapi tidak ada jawaban," jawab Pramudya.
"Pintunya dikunci ya, mungkin Vira sedang tidur. Tunggu sebentar akan aku bukakan," ucap Nabila sambil mengeluarkan kunci dari dalam tasnya.
Pramudya memang tidak tinggal serumah dengan Nabila dan Vira. Dia tinggal di sebuah ruangan bekas gudang yang terletak di samping rumah kontrakan. Gudang itu sudah dibersihkan dan dijadikan kamar. Mereka tidak ingin para tetangga bergunjing karena keduanya bukan saudara dan tidak baik tinggal dalam satu rumah.
Nabila dan Pramudya pun masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, Vira keluar dari kamarnya.
"Maaf ya, Kak. Vira tadi tertidur," bohong Vira.
Begitu mendengar suara teriakan Pramudya, Vira langsung berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Vira juga menggunakan make up tipis untuk menutupi matanya yang sedikit membengkak karena habis menangis.
"Tidak apa-apa, ada Nabila yang membukakan pintu," jawab Pramudya sambil menjatuhkan pinggulnya di atas sofa.
"Ada apa Kak? Mengapa kakak terlihat sangat bersemangat?"
Pramudya tersenyum.
"Aku ada kabar gembira untuk kalian. Duduklah," ucap Pramudya.
Vira dan Nabila langsung ikut duduk di samping Pramudya.
"Alhamdulillah aku sudah mendapatkan pekerjaan. Aku tadi tanpa sengaja bertemu dengan Tuan Axel saat melamar kerja di sebuah restoran. Tuan Axel menerimaku bekerja di Alvaro Group setelah aku berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh Tuan Axel," cerita Pramudya.
"Alhamdulillah Kak. Vira senang mendengarnya," ucap Vira.
"Aku juga senang mendengarnya. Selamat ya, Pram," ucap Nabila.
"Terima kasih. Keluarga Alvaro sangatlah baik. Begitu banyak kebaikan yang telah mereka berikan kepada kita. Semoga setelah ini kehidupan kita bisa menjadi lebih baik lagi ya, Dik," ucap Pramudya.
Vira berusaha memaksakan senyumannya. Vira teringat lamaran dadakan Yudistira sebelumnya. Pramudya dan Nabila menyadari perubahan raut wajah Vira. Keduanya saling berpandangan.
"Apa kau tidak senang, Vir?" tanya Pramudya dengan hati-hati.
"Tidak Kak. Tentu saja aku senang," jawab Vira dengan cepat.
Pramudya menghela napas panjang.
"Bukankah kita sudah sepakat jika kita akan saling terbuka dan tidak ada hal yang perlu kita sembunyikan. Kakak ingin Vira jujur, ada apa? Apa terjadi sesuatu saat Kak Pram dan Kak Nabila tidak ada di rumah?" tanya Nabil dengan lembut.
Vira menunduk dengan kedua tangannya saling memilin. Kebiasan yang Vira lakukan jika dia merasa gugup. Pramudya menyentuh tangan Vira. Dengan perlahan Vira mengangkat wajahnya.
"Ta-tadi Mas Yudi datang ke sini, Kak," lirih Vira.
"Yudi? Anak buah Tuan Axel?" tanya Pramudya.
Vira mengangguk.
"Lalu untuk apa dia datang ke sini?"
"Di-dia... Dia melamarku, Kak. Mas Yudi memintaku untuk menikah dengannya," jawab Vira dengan gugup.
"Apa?"
"Menikah?"
Teriak Pramudya dan Nabila bersamaan. Keduanya benar-benar terkejut dan tak percaya.
"Apa kau serius? Kau sedang tidak bercanda kan, Vir?" tanya Nabila.
Vira menggelengkan kepalanya. "Aku berkata jujur, Kak."
Vira menceritakan apa yang dia bicarakan dengan Yudistira tadi, juga tentang semua yang telah Yudistira katakan termasuk rencana kepergian Yudistira ke Amerika. Pramudya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Sungguh ini berita yang sangat mengejutkan baginya. Pramudya tidak bisa membayangkan jika dirinya harus berpisah dan hidup berjauhan dengan adiknya.
"Lalu, apa jawabanmu, Vir?" tanya Nabila.
"Aku tidak tahu, Kak," jawab Vira sambil menunduk.
"Apa kau menyukai Yudistira? Jawab dengan jujur," tanya Pramudya.
"A-aku tidak tahu, Kak. A-aku merasa nyaman saja saat berada di sampingnya. Dan jujur saja saat mengetahui dia akan pergi dan tinggal di Amerika, entah mengapa aku merasa tak rela," jawab Vira dengan polosnya.
Pramudya terdiam dan menghela napas panjang. Pramudya menggenggam tangan Vira lagi.
"Keputusan ada di tanganmu. Kakak akan selalu mendukung apapun pilihan yang akan kau ambil," ucap Pramudya.
Vira langsung berhambur ke dalam pelukan kakaknya.
"Jika kau mencintai Yudistira, kakak ikhlas melepaskanmu. Yang Kakak tahu Yudistira itu pria yang baik. Berkat bantuannya juga, kita bisa mengungkap kebenaran kasusmu dan kau mendapatkan keadilan," ucap Pramudya sambil mengusap rambut adiknya.
Di dalam kamarnya, Vira berdiri di dekat jendela kamarnya sambil melamun. Dia terus memikirkan ucapan kakaknya. Tak sengaja Vira melihat Pramudya yang sedang duduk di teras samping rumah dan terlihat sedang melamun.
"Apa yang kakak pikirkan?" tanya Vira yang mengejutkan Pramudya.
"Kamu belum tidur. Kakak tidak sedang memikirkan apa-apa, hanya sedang mencari angin saja," jawab Pramudya.
__ADS_1
Vira duduk di samping Pramudya.
"Berbohong itu dosa loh, Kak," ucap Vira.
Pramudya terkekeh, lalu menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar.
"Jujur saja, kakak bahagia jika melihatmu bahagia. Jika bersama Yudistira akan membuatmu bahagia, kakak rela. Tapi, kakak tidak bisa berbohong. Jika kau menikah dan ikut kemanapun suamimu pergi, kakak akan merasa kesepian nantinya. Kau adalah satu-satu saudaraku, adik yang kakak miliki," ucap Pramudya sambil meneteskan air mata yang berusaha dia tahan sebelumnya.
Vira langsung memeluk kakaknya dan ikut menangis.
"Kalau begitu aku tidak akan meninggalkan kakak. Aku akan selalu bersama kakak," ucap Vira.
Pramudya langsung mengurai pelukan mereka.
"Kau tidak boleh bicara seperti itu. Cepat atau lambat, kau pasti akan menikah. Dan sebagai seorang istri yang baik kau harus tinggal bersama suamimu, di manapun itu," ucap Pramudya lembut.
"Tapi aku tidak ingin membuat Kak Pram sedih. Hatiku sakit jika melihat kakak bersedih," lirih Vira sambil terisak.
"Dasar anak bodoh. Mungkin kakak akan kesepian tapi bukan berarti kakak bersedih saat melihatmu bahagia," ucap Pramudya sambil terkekeh.
"Lagipula aku juga belum tahu jawaban apa yang akan aku pilih, Kak," sahut Vira.
"Tanyakan pada hatimu, kau mau menerima Yudistira atau tidak? Apakah hatimu akan tetap baik-baik saja jika kalian berjauhan? Dan apakah hatimu bisa menerima dengan ikhlas jika suatu saat nanti Yudistira kembali dengan wanita lain dengan status sebagai istrinya?" ujar Pramudya.
Membayangkannya saja sudah membuat hati Vira memanas.
"Yudistira itu pria yang baik, tampan dan cerdas. Kakak yakin, tidak akan sulit bagi seorang wanita untuk jatuh hati padanya."
Vira mengerucutkan bibirnya.
"Lalu bagaimana dengan kakak?" tanya Vira.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kakak. Kakak kan bukan anak kecil lagi. Kakak sudah mendapatkan pekerjaan dan pastinya kakak tidak akan terlalu kesepian karena akan memiliki banyak teman nantinya di kantor. Dan juga, kakak masih punya sahabat terbaik, yaitu Nabila," jawab Pramudya.
"Bagaimana kalau Kak Nabila menikah nanti? Tidak mungkinkan kalian akan sering bersama," sahut Vira.
Pramudya hanya bisa menghela napas.
"Mengapa kalian tidak menikah saja?"
"Apa? Menikah?" seru Pramudya.
Vira mengangguk.
"Kalian berdua kan sudah bersahabat lama dan saling mengenal satu sama lain. Jika kalian menikah akan menjadi hal yang bagus sekali," ucap Vira.
Tak... (Pramudya menyentil kening Vira)
"Kalau mau bicara itu dipikir dulu. Mana mungkin kami menikah?"
"Mengapa tidak? Kak Pram itu harus tahu jika Kak Nabila menyukai kakak sejak dulu,"celoteh Vira.
Pramudya membulatkan matanya.
"Apa kakak pernah melihat Kak Nabila dekat dengan pria lain? Apakah kakak pernah melihat kak Nabila pacaran? Tidak pernah kan? Itu karena Kak Nabila memiliki perasaan lebih kepada kakak. Kakak saja yang tidak peka. Dan malah menyakiti hatinya dengan berpacaran sama Mitha. Padahal Kak Nabila yang telah dengan sabar mendampingi kakak sejak dulu," ungkap Vira.
Pramudya masih terdiam.
"Tapi aku bersyukur kakak tidak jadi menikah dengan wanita itu," lirih Vira.
"Sebenaranya apa alasanmu tidak menyukai Mitha? Bukankah selama ini dia bersikap baik kepadamu? Apa ada yang tidak aku ketahui?" tanya Pramudya.
"Dia hanya baik disaat ada kakak. Tapi jika tidak ada kakak dia selalu berbicara kasar padaku juga pada Kak Nabila. Dia mengatakan padaku jika setelah kalian menikah, dia tidak ingin aku ikut tinggal bersama kalian. Itu hanya akan menambah beban kalian. Bukan hanya itu, Mitha juga mengancam Kak Nabila agar menjaga jarak dengan kakak. Karena Mitha tahu jika Kak Nabila suka sama kakak," jawab Vira.
"Mengapa kau tidak pernah mengatakannya kepada kakak?"
Vira menghela napas.
"Memangnya kakak akan percaya begitu saja? Apalagi dengan kakak cinta akut sama wanita itu," ketus Vira.
"Kakak minta maaf, jika selama ini kau tertekan karena kehadiran Mitha," lirih Pramudya.
"Sudahlah Kak. Kita lupakan saja masa lalu yang kelam itu. Kembali ke topik semula. Bagaimana? Apa kakak mau menikah dengan Kak Nabila? Apa kakak tidak memiliki perasaan lebih sama Kak Nabila?"
Pramudya tak bisa menjawab. Sejujurnya dia merasa nyaman bersama Nabila. Apalagi melihat bagaimana Nabila sangat menyayangi Vira dan tiada henti membantu proses kesembuhan Vira selama ini. Nabila selalu ada di saat yang tepat, di mana dia membutuhkan teman untuk bercerita dan selalu memberinya dukungan saat dia memiliki masalah. Secara fisik, Nabila tidak kalah cantik dengan Mitha. Bahkan, Nabila memiliki kecantikan yang alami.
Vira menepuk bahu Pramudya dan membuyarkan lamunannya.
"Kok melamun, Kak? Sedang memikirkan Kak Nabila ya?" goda Vira.
Wajah Pramudya langsung memerah, namun dia tetap berusaha untuk tenang.
"Mana mungkin Nabila mau dengan kakak?" ucap Pramudya lesu.
"Mengapa tidak?"
"Kau tahu sendiri kan, saat ini karir Nabila sangat bagus. Sedangkan kakak baru saja mendapatkan pekerjaan. Dan penghasilan kakak juga pastinya tidak akan sebanding penghasilan Nabila yang berprofesi sebagai seorang dokter di rumah sakit besar dan ternama," jawab Pramudya.
"Kakak tidak boleh menyerah sebelum berjuang. Tanyakan dulu kepada Kak Nabila, baru buat keputusan," sahut Vira.
Pramudya meregangkan kedua tangannya sambil menggeliat.
__ADS_1
"Ini sudah malam, sebaiknya kau segera tidur. Kakak juga akan kembali ke kamar kakak. Kakak tidak ingin datang terlambat di hari pertama masuk kerja," ucap Pramudya.
"Baiklah, Kak. Selamat tidur. Jangan lupa mimpikan Kak Nabila ya," ucap Vira sebelum berlari masuk ke dalam kamarnya.
Pramudya hanya bisa tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Vira, Vira. Ada-ada saja permintaannya," gumam Pramudya sambil menutup matanya.
Tiba-tiba terlintas bayangan Nabila yang sedang tersenyum padanya. Pramudya pun senyum-senyum sendiri tanpa membuka matanya.
Keesokan paginya, Yudistira berangkat kerja dengan mengendarai mobil yang biasa dia gunakan. Saat berada di luar gerbang mansion Alvaro, dia melihat Vira yang berdiri di bawah pohon sambil memeluk tubuhnya karena kedinginan. Pagi sekali, Vira pergi dari rumah kontrakan menuju mansion Alvaro menggunakan taksi. Sebelum pergi, Vira telah meninggalkan pesan agar Nabila dan Pramudya tidak cemas.
Yudistira langsung menghentikan mobilnya dan segera keluar. Yudistira berlari mendekat ke arah Vira sambil melepas jas yang dia kenakan.
"Apa yang kau lakukan di sini, Vira? Sejak kapan kau berdiri di sini? Apa kau tersesat?" tanya Yudistira sambil memakaikan jasnya ke tubuh Vira.
Yudistira terlihat sangat cemas saat melihat Vira yang kedinginan dengan bibir sedikit membiru. Yudistira menggosok-gosokkan tangannya ke tangan Vira agar Vira merasa hangat.
"Mas Yudi," lirih Vira.
"Ya," jawab Yudistira.
"Jangan tinggalkan Vira," ucap Vira sambil menitikkan air mata.
Yudistira melebarkan matanya.
"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu. Masuklah ke dalam mobil, aku akan mengantarkanmu pulang," ujar Yudi menarik tangan Vira agar masuk ke dalam mobil.
Namun Vira tidak mau beranjak.
"Ada apa? Apa kakimu sakit?" tanya Yudistira semakin khawatir.
Vira menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau berpisah dan berjauhan dengan Mas Yudi."
"A-apa maksudmu?" Yudistira semakin bingung.
"Jangan tinggalkan aku. Bawa aku pergi ke Amerika," jawab Vira pelan.
Yudistira membelalakkan matanya.
"Apa kau serius? Apa kau bersedia menikah denganku?"
Vira menganggukkan kepalanya. "Ya, aku mau menikah dengan Mas Yudi."
Yudistira sangat bahagia. Dia langsung menarik Vira ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, Vira. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik dan akan melimpahimu dengan penuh kasih sayang," ucap Yudistira tulus.
Vira mengangguk sambil tersenyum.
"Ekhm!"
Keduanya tersentak dan segera mengurai pelukan mereka. Yudistira dan Vira terkejut juga takut melihat Tuan Rino yang berdiri di belakang Yudistira dengan wajah dinginnya.
"Apa kalian mau menjadi tontonan banyak orang?" tanya Tuan Rino.
"M-maaf Ayah," jawab Yudistira.
"Kalau kalian ingin mengobrol, jangan di pinggir jalan. Malu dilihat orang."
Yudistira dan Vira langsung menunduk karena takut.
"Cepat bawa masuk, Yud. Ayah tidak mau calon menantu Ayah ini jatuh sakit karena kedinginan. Sekalian kenalkan dia kepada ibu dan adik-adikmu," ucap Tuan Rino sambil tersenyum.
"Siap, Ayah!" seru Yudistira dengan semangat.
Vira tersipu malu. Dia terus menundukkan wajahnya yang merona karena Tuan Rino menyebutnya sebagai calon menantu.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰