Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 28. Arti Diriku Bagimu


__ADS_3

Helena, Aisya dan Reymond saat sedang berada di mall M2. Rumah sakit tempat mereka bekerja sedang mengadakan program pemeriksaan gratis yang diadakan di ballroom mall M2. Banyak sekali para pengunjung mall yang antusias untuk memeriksakan kesehatan tubuh mereka secara gratis.


Pada saat pergantian shift, Helena, Aisya dan Reymond makan siang di salah satu restoran yang ada di mall tersebut.


"Aku ke toilet dulu ya. Tolong pesankan makanan yang sama dengan kalian," ucap Aisya.


Helena dan Reymond mengangguk.


"Bagaimana Helen? Sangat melelahkan ya?" tanya Reymond.


"Yah seperti itulah. Tapi hatiku merasa senang bisa membantu banyak orang hari ini," jawab Helena sambil tersenyum.


"Kau mau pesan apa?" tanya Reymond sambil tersenyum.


"Aku pesan steak saja dan jus jeruk. Pesananku sama dengan Aisya," ucap Helena.


Reymond mengangguk lalu memanggil pelayan restoran.


"Kami pesan 3 steak, 2 jus jeruk dan 1 milktea," ucap Reymond.


"Baik Tuan. Ditunggu dulu ya pesanannya," jawab si pelayan restoran.


"Terima kasih," ucap Reymond.


Reymond duduk berhadapan dengan Helena. Dari arah pintu restoran, masuklah Axel bersama Marissa. Satu tangan Marissa memeluk lengan Axel, dan tangan satunya menenteng beberapa paper bag. Reymond membelalakkan matanya.


"Ada Rey?" tanya Helena heran melihat ekspresi Reymond.


"Em... Tidak ada apa-apa," sahut Reymond bohong.


Axel berjalan mendekat ke arah meja Helena dan Reymond. Rahang Axel mengeras menahan marah saat melihat Helena makan siang berdua dengan Reymond.


"Kita duduk di meja sebelah sana saja, Axel," ucap Marissa sambil menunjuk meja sebelah Helena.


Helena terkejut mendengar nama suaminya disebut. Dia langsung membalikkan badannya.


"Axel?" seru Helena.


Lalu Helena melihat wanita cantik yang berada di sebelah Axel dan tangannya memeluk lengan Axel. Wanita yang fotonya banyak dipajang di kamar Axel. Helena langsung berdiri.


"Helena. Jadi ini yang kau bilang tadi ada kegiatan pemeriksaan gratis?" sindir Axel sambil melihat ke arah Rey.


Helena tersenyum.


"Kegiatannya ada di ballroom mall ini. Kau bisa berkunjung ke sana dan melihatnya sendiri."


"Sekarang ada pergantian shift, sehingga kami bisa beristirahat dan mengisi perut yang mulai kosong. Suamiku pernah bilang bahwa seorang dokter itu harus menjaga kesehatannya terlebih dahulu sebelum memastikan kesembuhan pasiennya," ucap Helena.


"Jadi kamu yang bernama Helena. Kenalkan aku Marissa," ucap Marissa memperkenalkan diri.


Marissa mengulurkan tangannya. Helena pun menerima dan menjabat tangannya.


"Hai, Marissa. Kenalkan aku Helena Margaretha Alvaro, istri dari Axello Zyan Alvaro," ucap Helena.


Marissa berusaha memaksakan senyumnya, dalam hati dia mengumpat Helena habis-habisan. Dari ucapan Helena barusan, secara tidak langsung Helena ingin mengatakan bahwa Axel adalah miliknya, sedangkan Marissa tak lebih dari seorang pelakor yang sedang menggoda suaminya.


"Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sedang menemui rekan bisnis Alvaro Group?" tanya Helena kepada Axel dengan nada menyindir.


Helena menatap lekat wajah Axel. Terlihat ada rasa sakit dari tatapannya.


"Tidak!" jawab Axel dingin.


"Aku sedang menemani Marissa berbelanja," tambahnya.


Mendengar kejujuran Axel membuat hati Helena terasa semakin sakit. Axel dan Reymond saling memberikan tatapan tajam.


"Kau duduklah dulu. Aku akan ke toilet sebentar," ucap Axel pada Marissa dengan lembut.


Marissa mengangguk. Axel segera melangkah menuju toilet. Helena duduk kembali di tempatnya dengan raut wajah sedih. Marissa tersenyum puas, karena Axel bersikap lembut padanya di depan Helena.


Reymond tidak pernah melepaskan pandangannya dari Helena. Melihat kesedihan Helena, membuat hatinya sakit.


"Helena," panggil Marissa.


Helena tersentak. Dia langsung menoleh ke arah Marissa.


"Iya, Marissa," jawab Helena.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah menjaga Axel dengan baik selama aku tidak ada," ucap Marissa sambil tersenyum ramah.


Helena tersenyum.


"Kau tidak perlu berterima kasih. Sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri untuk menjaga suamiku," ucap Helena dengan menekankan kata "suamiku".


Marissa tersenyum sinis.


"Iya, kau benar. Tapi statusmu sebagai istri Axel hanya berlaku selama 6 bulan. Axel sudah menceritakan semuanya, termasuk perjanjian pernikahan kalian. Dan setelah kalian bercerai, aku dan Axel akan segera menikah seperti seharusnya. Karena, Axel hanya mencintaiku," ucap Marissa dengan tatapan sinisnya.

__ADS_1


Helena dan Reymond membulatkan mata mereka. Helena terkejut. Ternyata Axel telah memberitahu Marissa tentang surat perjanjian itu. Itu artinya Axel memang ingin pernikahan mereka berakhir. Helena berusaha meredam rasa sakit di hatinya dan mengontrol emosinya.


"Itu artinya aku masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Helena," batin Reymond senang.


Namun kesenangan Reymond sirna saat melihat tatapan sedih di mata Helena.


Axel sudah kembali dari toilet. Begitu juga dengan Aisya. Aisya langsung duduk di samping Helena.


"Maaf ya, aku agak lama. Kalian sudah pesan makanan kan? Aku sudah lapar sekali," tanya Aisya yang baru datang dan tidak menyadari keberadaan Axel dan Marissa.


Helena terdiam.


"Sudah. Kami sudah memesannya, mungkin sebentar lagi makanannya akan datang," jawab Reymond dengan senyuman yang dipaksakan.


"Axel sebaiknya kita makan di tempat lain saja," pinta Marissa.


"Kau mau makan di mana, Cha?" tanya Axel ramah.


"Aku ingin makan di restoran Jepang langganan kita dulu. Aku ingin mengulang kembali masa-masa indah kita," ucap Marissa manja.


"Baiklah. Kita ke sana sekarang sesuai keinginanmu," ucap Axel lembut.


Marissa langsung berdiri dan mengambil paper bagnya lagi.


"Kami pergi dulu ya Helena. Selamat menikmati makan siangmu," ucap Marissa.


Helena tidak menjawab. Dia tetap setia dengan diamnya. Sedangkan Aisya hanya bisa melongo saat menyadari sesuatu yang tidak beres itu.


Axel menggandeng tangan Marissa dan pergi dari sana, tanpa melihat dan berkata apapun pada Helena.


"Apa kau baik-baik saja, Helena?" tanya Reymond.


"Aku baik-baik saja. Aku ke toilet sebentar. Jika makanannya sudah datang, kalian makanlah dulu tak perlu menungguku," jawab Helena sambil tersenyum terpaksa.


Helena segera melangkahkan kakinya menuju toilet.


"Apa pria tadi suaminya Helena, Rey?" tanya Aisya.


Reymond mengangguk.


"Iya. Dia Axel suaminya Helena. Aku tidak menyangka kalau dia sebr*ngs*k itu. Dengan beraninya dan tanpa rasa bersalah dia menggandeng wanita lain di depan Helena. Bahkan dengan sengaja menunjukkan kemesraan mereka di depan Helena," ucap Reymond kesal bercampur marah.


Aisya langsung berdiri dan menyusul Helena.


Helena tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya lagi. Helena menumpahkan air matanya saat berada di dalam toilet.


"Helen, aku tahu kau di dalam. Ini aku Aisya. Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Berbagilah denganku," ucap Aisya.


Cklek...


Helena membuka pintu dan keluar dengan wajah sembab. Aisya langsung memeluknya. Helena menangis di pelukan Aisya.


"Menangislah jika itu bisa mengurangi bebanmu. Ada aku di sini. Kau tidak sendiri," tutur Aisya.


"Terima kasih, Aisya," ucap Helena sambil terus menangis.


Sore harinya, Helena sudah tiba di mansion. Tanpa Helena tahu, Reymond sengaja mengikuti mobil Helena dari belakang. Reymond mengkhawatirkan kondisi Helena saat ini. Dia takut jika terjadi sesuatu pada Helena. Begitu melihat mobil Helena memasuki mansion, Reymond merasa lega. Lalu dia pergi menjauh dari mansion Axel.


Helena langsung masuk ke dalam kamarnya. Helena menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ada panggilan video dari Jasmine. Helena langsung mengangkatnya.


"Assalamualaikum, Jasmine," sapa Helena.


"Waalaikumsalam, Kak," jawab Jasmine.


"Apa terjadi sesuatu? Mengapa mata kakak sembab? Apa Kak Axel menyakitimu?" tanya Jasmine khawatir.


Helena terdiam sejenak.


"Wanita itu kembali, Jasmine. Marissa sudah kembali," ucap Helena dengan tatapan sedih.


"Apa? Jadi Marissa sudah kembali. Lalu bagaimana dengan Kak Axel?" cerca Jasmine.


Helena tersenyum hambar. Dia mengingat bagaimana cara Axel bersikap pada Marissa tadi.


"Aku yakin Axel sangat bahagia sekarang. Dan saat ini mereka pasti sedang bersama. Aku tidak sengaja bertemu dengan mereka tadi, dan mereka terlihat mesra sekali," jawab Helena.


"Kakak ingat kan. Sebelumnya aku sudah memperingatkanmu jika wanita itu pasti akan kembali dan berusaha masuk ke dalam hidup Kak Axel. Dan aku juga meminta kakak untuk berjuang dan mempertahankan pernikahan kalian," ucap Jasmine.


"Bagaimana aku bisa mempertahankan pernikahan kami, jika hanya aku yang berjuang, Jasmine? Itu tidak akan mudah. Apalagi kakakmu terlihat sangat mencintai Marissa. Axel bersikap sangat lembut pada Marissa dan berbeda jauh saat dia bersikap padaku," sahut Helena.


"Yang harus kakak tahu adalah Marissa itu bukan wanita yang baik, dia jahat. Dia mempunyai suatu tujuan mendekati Kak Axel. Aku mohon Kak, pertahankan pernikahan kalian, pertahankan rumah tangga kalian."


"Tunjukkan kepada wanita itu bahwa posisi kakak jauh lebih tinggi darinya, karena kakak adalah istri sah Kak Axel. Dan aku akan berusaha membantu kakak. Aku akan berusaha menyingkirkan wanita ular itu dari hidup Kak Axel, dan hidup kita semua," ucap Jasmine.


Helena terdiam.


"Kakak mencintai Kak Axel, kan?" tanya Jasmine.

__ADS_1


"Aku mohon perjuangkan cinta kakak."


Setelah sambungan panggilan video mereka terputus, Helena duduk sambil memikirkan semua perkataan Jasmine.


Menjelang malam, setelah Helena melaksanakan ibadah sholat, Helena beraktifitas di dapur dan memasak rawon. Helena memasak dengan porsi yang cukup banyak. Setelah matang, Helena mengajak para maid dan penjaga mansion untuk makan malam bersama di taman dengan menggelar tikar. Kebersamaannya dengan para pekerja di sana, membuat hati Helena senang dan dia tidak merasa sedih lagi.


Axel tiba di mansion pukul sebelas malam. Axel terkejut melihat Helena sedang di dapur untuk mengambil air minum. Helena tahu jika Axel sudah pulang, namun dia bersikap tak acuh. Helena segera kembali ke kamarnya.


Saat akan menutup pintu kamarnya, Axel menahannya. Axel mendorong pintu itu dan masuk ke dalam kamar Helena.


"Ada apa? Ini sudah malam, aku mengantuk dan mau tidur," ucap Helena ketus.


"Apa kau punya hubungan spesial dengan pria yang bernama Rey itu?" tanya Axel.


Helene tertawa hambar.


"Apa pedulimu?" tanya Helena balik.


"Aku tidak suka melihatmu dekat pria yang bernama Rey itu," ucap Axel dingin.


"Kau tidak suka melihatku dekat dengan pria lain. Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, yang mengumbar kemesraan bersama wanita lain?" sahut Helena.


"Bukankah kita sudah sepakat tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing. Aku tidak peduli dan tidak mau mencampuri urusanmu dengan Marissa. Jadi kau tidak perlu mencampuri urusanku dengan Rey."


"Lagi pula Rey itu pria yang baik dan penuh perhatian. Jangan salahkan aku jika menerima perhatian dari pria lain. Karena dirimu sendiri, suamiku, lebih memperhatikan wanita lain dibandingkan aku, istrimu," ucap Helena.


Wajah Axel mengeras. Axel langsung menarik tubuh Helena ke dalam pelukannya. Helena memberontak dan berusaha lepas dari pelukan Axel. Axel mengangkat tubuh Helena dan menjatuhkannya di atas ranjang. Axel naik ke atas tubuh Helena dan mengungkungnya.


"Lepaskan aku. Apa yang kau lakukan? Bukankah kau sendiri yang bilang jika kau tidak sudi menyentuhku?" bentak Helena.


Axel tidak mempedulikan bentakan Helena. Axel menarik kedua tangan Helena ke atas kepala. Lalu Axel langsung menc**m dan ******* bibir Helena dengan rakus. Helena berusaha memberontak, namun perlahan pertahanannya pun goyah.


Helena larut dalam c****n yang memabukkan. Axel melepaskan bibir Helena, lalu turun ke leher Helena. Axel mulai menjelajahi leher jenjang dan mulus itu. Helena berusaha menahan d*s***nnya saat Axel memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang membuat darahnya berdesir. Axel membuat beberapa kissmark di leher Helena.


Tubuh keduanya terasa terbakar dan menuntut lebih. Tiba-tiba ponsel Axel berdering. Axel segera menghentikan aksinya dan bangkit dari atas tubuh Helena. Helena terlihat kecewa.


"Ingat ucapanku. Jangan berdekatan dengan pria lain, terutama dengan Rey," tegas Axel sambil berusaha menahan gejolak di dalam tubuhnya.


Axel melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Apa arti diriku bagimu?" pekik Helena.


Axel menghentikan langkahnya.


"Suatu saat nanti kau akan mengetahuinya," jawab Axel, lalu keluar dari kamar Helena.


Helena meneteskan air matanya.


"Kau anggap aku ini apa, Xel?" gumam Helena dalam tangisnya.


Axel langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil ponselnya yang terus berdering dari di dalam saku celananya.


"Halo Aiden. Ada apa Aiden?" sapa Axel.


"Patrick sudah sadar dari komanya," jawab Aiden.


Axel membelalakkan matanya.


"Bawa Jasmine terbang ke Inggris untuk menemui Patrick dan korek informasi darinya," ucap Axel.


"Baiklah. Kau harus terus waspada. Jangan sampai kau jatuh lagi ke dalam sandiwara Marissa," ucap Aiden.


"Kau tidak perlu khawatir. Saat ini dia yang jatuh ke dalam sandiwaraku," ucap Axel sambil menyeringai.


Axel segera mematikan panggilan telpon mereka.


"Sebaiknya aku berendam sekarang untuk menenangkan juniorku yang hampir mengamuk," gerutu Axel.


...🌹🌹🌹...


Yah!!! Gagal lagi. Gara2 author nih...🤭🤭🤭


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2