Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 49 (Semakin Memanas)


__ADS_3

Di dalam kamar, Evan dan Jasmine masih bersitegang.


"Sekarang katakan apa yang sebenarnya? Bagaimana bisa kau bersama pria yang bernama David itu? Dan mengapa ponselmu tidak bisa dihubungi sama sekali dan kau juga tidak menghubungiku?" tuntut Evan.


Jasmine menyunggingkan bibirnya.


"Bukankah David sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Jika kau tidak percaya, tak apa. Terserah kau mau berpikir tentang kami. Aku tak peduli. Yang pasti, aku tidak pernah berpelukan dengan pria lain."


Jasmine mengambil ponselnya dari dalam tas dan melemparkannya ke atas ranjang.


"Aku tidak bisa menghubungimu atau kau tidak bisa menghubungiku karena ponselku rusak. Apa kau puas sekarang?"


Evan terkejut melihat ponsel Jasmine dalam kondisi cukup hancur. Evan mengarahkan pandangannya ke wajah Jasmine. Mata Evan membulat saat menyadari ada luka lebam di sana. Evan langsung menyentuh wajah Jasmine.


"Apa yang terjadi padamu? Siapa yang sudah melukaimu?" tanya Evan dengan suara melembut.


Jasmine menepis tangan Evan dengan tatapan jijik.


"Aku tidak sudah sudi bersentuhan dengan bekas wanita lain. Apa pedulimu jika aku terluka atau tidak?" ucap Jasmine dengan tatapan dinginnya.


Jasmine langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia melucuti bajunya, lalu mengguyur tubuhnya di bawah shower untuk menenangkan dirinya. Evan menyugar rambutnya dengan kasar. Evan segera melepas pakaiannya dan ikut masuk ke dalam kamar mandi.


Hanya suara gemericik air yang memecah keheningan diantara mereka. Jasmine dan Evan mandi bersama tanpa berbicara atau saling memandang. Evan menggosok tubuhnya dengan kasar untuk melampiaskan kekesalannya. Jasmine kembali berdiri di bawah guyuran air shower untuk menghilangkan busa dari tubuhnya. Jasmine tersentak saat kedua tangan Evan memeluknya dari belakang.


"Tenanglah sayang. Tubuhku sudah bersih. Aku pastikan tidak ada bekas wanita manapun yang menempel di kulitku. Aku sudah menghilangkannya," bisik Evan.


Tubuh Jasmine yang semula tegang perlahan menjadi rileks. Evan memutar tubuh Jasmine dengan perlahan sehingga tubuh polos mereka saling berhadapan. Evan menakup wajah Jasmine dengan tangan kanannya.


"Aku minta maaf sayang karena aku telah bersikap kasar dan menyakitimu. Aku cemburu dan lepas kontrol. Hatiku terasa terbakar saat melihatmu bersama David tadi. Aku minta maaf, aku sangat menyesal," ucap Evan dengan tatapan tulus.


"Bagaimana dengan Michelle?" tanya Jasmine dengan tatapan sayunya.


"Aku berani bersumpah. Seandainya dia tidak dalam kondisi terluka karena berusaha menyelamatkanku, aku tidak akan sudi berdekatan dengannya. Jika dia tidak dalam keadaan sakit, tidak akan kubiarkan dia memelukku. Aku pasti sudah mendorongnya untuk menjauh dariku."


"Aku benar-benar minta maaf, My Sunshine," ucap Evan dengan wajah memelas.


Jasmine mengalungkan kedua tangannya di leher Evan dan menarik tengkuk lehernya. Kedua bibir mereka saling bertemu dan mel umat. Evan merapatkan tubuh Jasmine ke dinding. Ciu man mereka semakin dalam dan panas. Jasmine menengadahkan wajahnya ke atas, saat bibir Evan mulai turun menjelajahi lehernya yang putih mulus.


Dengan pelan, Evan mengangkat satu kaki Jasmine dan menahannya dengan satu pahanya. Evan memposisikan juniornya tepat di depan pintu sur ganya. Jasmine mulai mende sah dan mele nguh saat Evan melahap asetnya dengan rakus secara bergantian.


"Ooohhh....," lenguh keduanya saat keduanya menyatu dengan sempurna.


Evan mela hap bibir Jasmine kembali sambil mulai bergerak dengan indahnya. Suara lenguhan terus bersahutan di dalam kamar mandi. Huja man Evan membuat Jasmine mengeratkan pegangan tangannya. Evan menghu jam dengan kuat dan keduanya mendapatkan pele pasan bersama dengan bibir saling mema gut.


Sedangkan di ruang keluarga, Axel tidak bisa tenang. Sesekali dia berdiri dan mondar mandir seperti setrika, membuat Helena dan Hans menghela napas panjang.


"Tenanglah sayang. Kepalaku pusing melihatmu bertingkah seperti itu," ucap Helena.


"Aku tidak bisa tenang sayang. Mengapa mereka masih belum keluar juga dari kamar? Ini sudah 30 menit," jawab Axel kesal.


"Jika sampai satu jam mereka tidak keluar juga, akan aku dobrak pintu kamar mereka."


"Axello Zyan Alvaro, sebaiknya kau duduk atau aku tidak mau berbicara denganmu lagi," ancam Helena.


Axel langsung menurut dan duduk kembali sambil memeluk istrinya.


"Jika sampai satu jam mereka tidak keluar juga, kita datangi kamar mereka dengan baik-baik. Setuju?" usul Helena.


Axel hanya mengangguk.


"Katakan sayang, siapa yang sudah berani melukai wajah cantikmu?" tanya Evan di sela-sela pergulatan panas mereka ronde ke dua.


Evan mendudukkan Jasmine di atas wastafel hingga punggung Jasmine menyentuh cermin besar yang ada di sana. Evan bergerak dengan pelan.


"Mmhh... Tadi ada tiga pria tak dikenal mendatangiku saat aku berada di toilet. Mereka berusaha melecehkanku. Aku pun berkelahi dengan mereka, sebelum David datang. Salah satu dari mereka ingin melukaiku dengan pisau, namun David menghalaunya sehingga pisau untuk melukainya," terang Jasmine sambil menahan desa hannya.

__ADS_1


Evan mengepalkan tangan kanannya dengan kuat.


"Akan kucari dan akan kubalas semua perbuatan mereka," ucap Evan dengan tatapan membunuhnya.


Tanpa sadar, Evan menghu jam Jasmine dengan sangat keras membuat Jasmine kesakitan.


"Aargghh... sakit," rintih Jasmine.


Evan langsung tersadar. "Maafkan aku sayang."


Evan mengurangi kecepatan gerakannya dan menci um bibir Jasmine dengan lembut. Keduanya terus berpacu sampai mendapatkan pele pasan untuk kedua kalinya. Mereka segera membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi.


"Sayang, apa kau sudah selesai memakai baju? Kalau sudah sebaiknya kita segera turun, kamu kan belum makan tadi," teriak Evan.


Karena tidak mendapat sahutan, Evan pun masuk ke dalam walk in closet.


"Sayang...," panggilnya.


"Sayang!" teriak Evan saat melihat tubuh Jasmine tergeletak di atas lantai.


Evan segera mengangkat tubuh Jasmine yang masih berbalut bathrobe dan memindahkannya di atas ranjang dengan perlahan. Evan mengambil minyak kayu putih, lalu menggosok tangan Jasmine. Dia berusaha membangunkan Jasmine namun Jasmine tetap tidak bangun.


"Aku mohon bangunlah, My Sunshine. Jangan membuatku takut. Bangunlah sayang," ucap Evan sambil menitikkan air mata, namun Jasmine tak kunjung bangun.


Evan merasa sangat menyesal karena kemarahan yang telah membuatnya bertengkar dengan Jasmine. Evan terlihat sangat takut. Dia segera turun dari ranjang dan keluar untuk meminta bantuan. Saat Evan membuka pintu kamar, Axel dan Helena sudah berdiri di depan pintu.


"Kak Axel, Kak Helena. Syukurlah kalian ada di sini. Kak Helena, tolonglah istriku," ucap Evan dengan wajah memohon.


"Apa yang terjadi?" tanya Axel saat melihat mata Evan berair.


"Jasmine pingsan, Kak," jawab Evan.


Axel langsung menerobos masuk. Axel mendekati Jasmine yang berada di atas ranjang.


"Jasmine sayang, ini kakak. Bangunlah," panggil Axel.


"Apa yang sudah kau lakukan, Evan? Beraninya kau melukai dan menyakiti adikku!" bentak Axel tanpa melepaskan cekikannya.


Wajah Evan memucat dengan mata semakin berair karena dia kesulitan untuk bernapas. Evan bahkan tidak memberontak, hanya memegangi tangan Axel yang mencekiknya.


"Axel! Apa yang kau lakukan? Kau bisa membuat Evan terbunuh," teriak Helena.


Axel langsung melepaskan cekikannya dengan kasar. Tubuh Evan jatuh ke lantai. Evan terbatuk-batuk dan berusaha untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Tenangkan dirimu. Ini bukan saatnya kau mengumbar emosimu. Kendalikan dirimu," ucap Helena.


"Kau berhutang penjelasan padaku, Evan. Jika benar kau yang telah melukai adikku, maka aku akan...,"


"Bunuh aku," sahut Evan.


"Aku pegang kata-katamu," ucap Axel berusaha menahan emosinya.


Helena segera memeriksa keadaan Jasmine. Axel berdiri di samping Helena. Mata Axel menelisik, dan melihat leher Jasmine yang penuh dengan stempel cinta yang Evan berikan. Lalu Axel menatap ke arah leher Evan, hal yang sama juga terjadi di leher Axel.


Axel membuang napasnya kasar.


"Katakan apa yang telah terjadi?" tuntut Axel.


"Aku dan Jasmine tadi bertengkar, karena sebuah kesalahpahaman. Tapi aku bersumpah, bukan aku yang membuat wajah Jasmine lebam," jawab Evan.


"Lalu, setelah itu?"


"Ekhm! Apa kakak yakin ingin tahu?" tanya Evan sedikit malu.


"Ya, katakan apa yang terjadi setelahnya?" sahut Axel kesal.

__ADS_1


"Kami bertengkar. Lalu, kami berusaha meredakan emosi sambil membersihkan diri di bawah guyuran air shower, kemudian...ya begitulah, Kak," ucap Evan sambil mengangkat bahunya.


Axel memberikan tatapan tajamnya, membuat Evan meneguk salivanya kasar.


"Baiklah. Kemudian kami berbaikan dan bercin ta di dalam kamar mandi," ucap Evan pasrah.


"Selesai membersihkan diri, kami segera memakai baju. Saat aku masuk ke dalam ruang ganti, tubuh Jasmine sudah tergeletak di atas lantai," pungkas Evan.


"Apa Jasmine belum makan sekali?" tanya Helena.


"Terakhir kali, kami makan pagi tadi," jawab Evan.


Helena membenarkan selimut Jasmine, lalu menatap ke arah dua pria yang wajahnya terlihat cemas dan tegang.


"Ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu pada Jasmine?" tanya Axel.


"Aku mohon Kak, katakan ada apa dengan istriku?" mohon Evan.


Helena menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Wajah Axel dan Evan semakin tegang.


"Lain kali pastikan Jasmine jangan sampai telat makan. Dan juga, pada saat kalian bercin ta tadi, apa kau melakukannya dengan kasar Evan?" tanya Helena.


"Maaf jika aku harus menanyakan hal yang sangat pribadi ini."


Axel langsung memberikan tatapan tajamnya ke arah Evan.


"Aku tadi sempat lepas kontrol, tapi hanya sebentar karena emosiku meluap setelah mendengar ada beberapa pria yang berusaha untuk melecehkannya tadi," jawab Evan.


"Apa?" seru Axel dan Helena dengan mata terbelalak.


"Aku benar-benar menyesal, Kak," tambahnya.


"Kau harus bersyukur Evan, Jasmine tidak sampai mengalami pendarahan," ucap Helena.


"A-apa maksudmu, Kak?" Evan semakin bingung.


"Dari hasil pemeriksaanku, saat ini Jasmine sedang hamil muda. Dan kondisi tubuhnya sangat lemah karena dia kekurangan asupan gizi dan mengalami sedikit tekanan," jawab Helena sambil tersenyum.


"Jasmine hamil. Istriku sedang hamil. Itu artinya aku akan menjadi seorang ayah?" tanya Evan tak percaya.


Helena mengangguk. "Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Tapi sebaiknya kita harus memeriksakannya ke dokter kandungan."


Kebahagiaan Evan tak bisa terbendung lagi. Evan langsung bersujud syukur atas rejeki yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Axel memeluk Helena dengan tangis bahagia. Evan bangkit dari sujudnya,lalu memeluk Jasmine yang masih memejamkan matanya.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2