Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Extra Part 1. Selesainya Masa Hibernasi


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Axel segera membuka pintu kamarnya. Tuan Zayn dan Nyonya Aline sudah berdiri di depan pintu kamar sambil tersenyum. Wajah Axel terlihat kusut dan sangat lelah.


"Apa kau sakit?" tanya Tuan Zayn.


"Tidak Pa. Hanya lelah saja, hari ini aku harus melakukan lima kali pertemuan dengan klien penting. Karena besok kita akan berangkat ke Inggris untuk mengantarkan Jasmine dan menghadiri acara pernikahan Reymond dan Heidi di London," jawab Axel.


"Papa dan Mama. Ada apa malam-malam datang ke kamar Axel?" tanya Axel.


"Papa dan Mama mau mengambil Baby Triplets. Malam ini mereka akan tidur bersama kami. Boleh ya, Nak," mohon Nyonya Aline.


"Sebentar Ma, Axel tanyakan dulu kepada Helena. Papa dan Mama masuk saja dulu," ucap Axel.


Axel melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sedangkan Tuan Zayn dan Nyonya Aline langsung menuju box bayi. Mereka tersenyum melihat ketiga cucu mereka yang menggemaskan sedang tidur dengan lelapnya.


Tok... Tok...


"Sayang. Papa dan Mama mau mengambil baby Triplets. Mereka minta ijin mengajak si kembar tidur di kamar mereka. Boleh tidak?" tanya Axel sedikit berteriak.


"Boleh sayang," sahut Helena dari dalam kamar mandi.


"Eh, tumben Helena beri ijin semudah itu. Biasanya dia tidak mau berpisah dari si kembar," gumam Axel.


Axel segera menemui kedua orang tuanya.


"Boleh Pa, Ma. Helena sudah mengijinkan," ucap Axel.


"Baguslah. Terima kasih sayang. Kalau begitu Papa dan Mama bawa si kembar ke kamar ya," ucap Nyonya Aline.


Tuan Zayn segera membuka pengunci roda box bayi tersebut.


"Sama-sama, Ma. Axel juga berterima kasih karena Papa dan Mama mau menjaga baby Triplets. Axel lelah sekali, dan takut tidak kuat begadang jika nanti mereka bangun," ucap Axel.


"Kamu istirahat saja," ucap Tuan Zayn.


"Untuk susunya bagaimana?" tanya Axel.


"Kamu tenang saja, Helena sudah menyimpan ASIPnya di freezer. Jika tidak cukup masih ada susu formula. Kalian berdua istirahat saja," jawab Nyonya Aline sambil mendorong box bayi baby Triplets keluar dari kamar.


Setelah kedua orang tua dan ketiga bayinya keluar, Axel segera menutup pintunya. Axel menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tengkurap.


"Aku akan minta Helena untuk memijatku sebentar. Badanku lelah sekali," gumam Axel.


Helena sudah keluar dari kamar mandi.


"Apa kau sudah tidur, sayang?" tanya Helena dengan langkah pelan.


"Belum. Tapi badanku lelah sekali, sayang. Tolong pijat aku sebentar ya," jawab Axel tanpa melihat ke arah Helena.


"Wah, sayang sekali ya. Padahal aku ingin mengajakmu bersenang-senang," ucap Helena kecewa.


Axel segera bangun.


"Maaf sayang, aku tidak bermaksud mengecewakanmu. Aku hanya ......."


Mulut Axel langsung menganga saat melihat penampilan Helena saat ini yang menggunakan baju dinas malamnya. Axel segera mengusap bibirnya dan menghapus air liurnya yang hampir menetes.


Glek...


Axel menelan salivanya kasar.


"Baiklah, aku ganti baju dulu setelah itu aku akan memijatmu," ucap Helena, lalu berbalik menuju kamar mandi.


Axel langsung berlari mengejar Helena. Axel mengangkat tubuh Helena dan merebahkannya di atas ranjang.


"Axel!" pekik Helena.


"Jangan coba-coba mengganti bajumu!" ucap Axel.


"Bukannya tadi kau bilang lelah, Xel," ucap Helena dengan nada menggoda.


"Rasa lelahku seketika menguap. Dan staminaku kembali pulih berkali-kali lipat," ucap Axel.


"Hooaarrggmm," teriak Axel menirukan tokoh marvel "Hulk".


Helena tertawa. Axel langsung naik ke atas tubuh Helena. Axel mencium bibir Helena dengan lembut.


"Jadi L-Na sudah sembuh?" tanya Axel.


"He..em," jawab Helena sambil mengangguk.


"Sejak kapan?" tanya Axel lagi.


"Sebenarnya sejak kemarin. Tapi aku ingin memastikan dulu jika benar-benar bersih," ucap Helena.


Axel tersenyum nakal.


"Akhirnya masa hibernasi X-Lo selesai," ucap Axel bahagia.

__ADS_1


"Bukannya X-Lo kemarin-kemarin juga sudah berhenti hibernasi?" tanya Helena.


"Bedalah sayang. Kalau sebelumnya X-Lo hanya bermimpi," elak Axel.


"Mimpi apa? Mimpi basah? Sampai laharnya keluar banyak. Apa kau tidak menyukai keahlian tanganku selama ini?" sahut Helena kesal.


"Jangan marah seperti itu sayang. Aku sangat menyukainya. Tapi aku juga sangat rindu untuk memasukimu. Aku juga ingin membuatmu melayang. Kita mendapatkan puncak kenikmatan bersama-sama," ucap Axel.


Helena tersenyum malu. Axel kembali melahap bibir ranumnya. Keduanya pun saling mengecap dan bibir mereka saling membelit.


"Eemmhhh...," terdengar lenguhan dari bibir Helena.


Axel tidak menghentikan aksinya. Axel menjelajahi leher mulus istrinya yang membuat bibir Helena semakin meracau. Axel membuka lingerie itu dengan kasar beserta segitiga bermudanya. Axel langsung melahap bagian favoritnya yang sekarang berada di bawah kekuasaan ketiga bayinya.


"Ouhhh... Pelan-pelan, Xel. Nanti air susunya menetes," rintih Helena.


Axel segera mengontrol semangatnya yang menggebu. Axel menurunkan bibirnya ke perut Helena dan mencium bekas jahitannya dengan lembut. Helena semakin dibuat kelinjangan. Axel tersenyum. Axel membuka kaki Helena lebar dan membenamkan wajahnya di pangkal paha Helena.


Axel semakin gencar memberikan serangannya menggunakan jari dan lidahnya.


"Oouhh... Emmhhh.. Hentikan, Xel. Aku mohon. Aku tidak kuat lagi," rintih Helena.


"Keluarkan saja sayang," ucap Axel lembut.


"Tidak mau. Aku maunya kita keluar bersama, Xel," ucap Helena manja.


Axel segera bangun dan melepas semua bajunya termasuk kain yang membungkus X-Lo. Begitu melihat X-Lo menyembul dari sarangnya, Helena langsung bangun dan mel***pnya. Axel sangat terkejut.


"Ouhhh... Hentikan, El. Aahhh...," erang Axel.


Axel merasakan kenikmatan yang luar biasa. Selama ini Axel tidak pernah meminta Helena untuk melakukan hal seperti itu. Bahkan pada saat Helena menawarkan untuk melayaninya dengan cara seperti itu, Axel menolak.


Axel langsung menarik wajah Helena dan ******* bibirnya. Axel merebahkan tubuh Helena dan satu tangannya segera mengarahkan X-Lo ke mulut L-Na yang sudah sangat lembab.


Bless...


"Aaaahh...," lenguh Axel dan Helena bersamaan.


Axel masih diam tak bergerak, menikmati pijatan dan remasan otot L-Na yang memabukkan.


"Mau sampai kapan kau akan diam seperti itu, Xel?" tanya Helena kesal.


Axel membuka matanya dan tersenyum nakal. Axel mulai bergerak perlahan membuat Helena terus mendesah.


"Xel...," ucap Helena dengan wajah memohon.


Axel lansung menaikkan volume kecepatan lajunya. Pegangan tangan Helena pada bahu Axel semakin kuat.


Axel menghujam semakin cepat sampai keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama.


"Aaahhhh....," lenguh Axel dan Helena bersamaan.


Axel terus menyemburkan lahar panasnya sampai tak bersisa.


"Terima kasih sayang," bisik Axel sesaat setelah menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Helena dengan bersimbah keringat.


Helena hanya diam sambil menikmati sisa-sisa terjangan ombak kenikmatan yang baru saja dia rasakan. Axel langsung berguling ke samping Helena dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Axel memejamkan matanya sambil mengatur napasnya.


Helena tersenyum saat melihat sesuatu yang masih berdiri tegak dari balik selimut, meskipun sudah menyemburkan laharnya. Dengan nakalnya tangan Helena menyentuh X-Lo yang belum tidur dan memainkannya. Tangan Helena sudah sangat handal sekarang.


"Aaahhhh....," pekik Axel yang langsung membuka matanya.


Tangan Helena terus meng*c*k dengan ritme yang semakin cepat membuat X-Lo semakin menegang.


"El... Kau nakal sekali sekarang. Ooogghh...," lenguh Axel.


Helena membuka selimut dengan kasar dan naik ke atas tubuh Axel. Dengan perlahan mempertemukan X-Lo dan L-Na kembali.


"Aaahhhh...," lenguh Helena.


Helena mulai bergerak naik turun. Axel membantunya dengan memegang pinggang Helena. D*****n dan e*****n yang bersahutan kembali terdengar keras di kamar mereka sampai keduanya mendapatkan pelepasan kedua mereka.


...*****...


Tuan Zayn dan keluarga sudah berada di private jet milik keluarga Alvaro yang terbang menuju Inggris. Axel terus menempel pada Helena dengan manjanya. Bahkan saat Helena sedang menyusui baby Triplets, Axel masih terus menempel.


"Kenapa sih kakak manja sekali hari ini? Nempel terus sama Kak Helena," tanya Jasmine kesal melihat tingkah kakaknya.


"Aku kan manjanya sama istriku sendiri. Kenapa kau berisik sekali," sahut Axel.


Jasmine mendengus kesal.


"Mengapa kau tidak berpamitan dengan Evan? Kakak tidak melihatnya di bandara tadi," ucap Axel.


"Evan sedang sibuk. Ada rapat yang tidak bisa dia tinggalkan," jawab Jasmine sedih.


"Kasihan sekali. Mengantarkanmu ke bandara saja tak ada waktu, apalagi nanti kalau sudah lebih dari satu bulan, satu tahun, pasti tidak ada kabar lagi," ledek Axel.


Jasmine hanya diam tanpa menjawab ocehan kakaknya. Jasmine menatap keluar jendela pesawat.

__ADS_1


"Apa benar yang dikatakan Kak Axel? Aku bahkan sudah satu minggu tidak bertemu dengan Evan karena dia sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan hari ini dia juga tidak bisa menemuiku," batin Jasmine.


Bulir air mata mulai menetes dari pelupuk mata Jasmine.


"Hei, mengapa putri kesayangan Papa menangis?" tanya Tuan Zayn.


Tuan Zayn langsung duduk di samping Jasmine. Jasmine langsung memeluk ayahnya dan menangis.


"Aku kesal, Pa," lirih Jasmine sambil terisak.


"Kesal sama siapa? Kak Axel?" tanya Tuan Zayn lagi.


Jasmine menggeleng.


"Bukan. Aku kesal pada Evan," jawab Jasmine.


Nyonya Aline tersenyum mendengar ucapan Jasmine.


Tuan Zayn menghela napas panjang. Tuan Zayn mengambil sebuah telpon duduk dan menghubungi seseorang.


"Hei, kau! Yang duduk di sebelah pilot. Kemarilah! Kau harus bertanggung jawab karena telah membuat putri kesayanganku menangis," perintah Tuan Zayn.


Jasmine langsung melepas pelukannya.


"Apa maksud Papa?" tanya Jasmine bingung.


Tuan Zayn memberi isyarat ke arah sebuah pintu yang menghubungkannya dengan ruangan pilot. Seorang pria tampan keluar dari pintu itu sambil tersenyum.


"Evan!" seru Jasmine.


Evan hanya mengangguk dan tersenyum. Jasmine langsung berlari ke dalam pelukan Evan. Tuan Zayn mendengus kesal.


"Maaf Tuan Zayn. Bukan saya loh ya yang memeluk Jasmine, tapi putri Anda yang memeluk saya terlebih dahulu," ucap Evan sambil terkekeh.


Jasmine langsung melepaskan pelukannya dan tersenyum malu.


"Duduk!" perintah Tuan Zayn.


Jasmine dan Evan segera duduk berdampingan.


"Jasmine duduk di sini. Kalian harus tetap jaga jarak aman," ucap Tuan Zayn sambil menunjuk tempat duduk di sampingnya.


Jasmine segera duduk di samping ayahnya.


"Cie, tadi nangis-nangis dan bilang aku kesal sama Evan. Sekarang senyum-senyum," ledek Axel.


Jasmine memberikan tatapan tajamnya pada Axel, membuat Axel tertawa.


"Sudahlah, suamiku. Jangan meledek Jasmine terus," tegur Helena.


"Jadi Evan ikut kita ke Inggris," ucap Jasmine senang.


"Apa kau ingin Papa menurunkannya di sini?" sahut Tuan Zayn.


Jasmine langsung menggeleng.


"Sayang?" seru Nyonya Aline.


Wajah kesal Tuan Zayn langsung luntur.


"Papa sengaja menantangnya. Jika dia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik dan tidak menemuimu selama satu minggu, Papa akan membawanya ikut serta untuk mengantarmu ke Inggris," jelas Tuan Zayn.


"Terima kasih Papaku sayang," ucap Jasmine sambil memeluk ayahnya.


Setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam, pesawat mereka mendarat dengan mulus di bandara internasional Heathrow yang terletak di kota London. Reymond dan Heidi sudah menunggu kedatangan mereka di bandara.


"Selamat datang di London, Tuan dan Nyonya Alvaro," ucap Reymond.


"Terima kasih Rey dan Nona Calland, sudah menyambut kedatangan kami," ucap Tuan Zayn.


Reymond dan Heidi mengangguk sambil tersenyum. Mata Reymond berbinar saat melihat Axel dan Helena yang berjalan sambil mendorong stroller Baby Triplets.


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2