
Di dalam ballroom sebuah hotel ternama di Berlin, Emily sedang mengikuti sebuah seminar kedokteran. Emily memutuskan akan kembali ke Italia dan menjadi dokter relawan lagi. Emily segera keluar dari ruangan tersebut saat kegiatan seminar telah berakhir.
"Emily!" panggil seseorang saat Emily sudah berada lobby hotel.
"Aiden," seru Emily.
Emily merasakan jantungnya berdegup dengan kencang dan tangannya tiba-tiba terasa dingin. Bertemu dengan Aiden membuat Emily mengingat kembali pergulatan panas yang mereka lakukan minggu lalu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Aiden santai menyembunyikan jantungnya yang berdebar bahagia saat ini.
Emily tersenyum kikuk.
"Aku baru saja selesai mengikuti seminar kedokteran. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Emily.
"Mmm.... Aku....," ucapan Aiden terpotong.
"Maaf ya sayang sudah membuatmu menunggu lama," seru seorang wanita cantik sambil memeluk lengan Aiden erat.
Emily terkejut. Ada rasa tak nyaman di hatinya saat melihat Aiden bermesraan dengan wanita lain.
"Tidak apa-apa, Keira," jawab Aiden sambil memaksakan senyumannya.
"Sial! Mengapa aku harus bertemu dengan Emily saat bersama j****g ini?" batin Aiden.
Wanita yang bernama Keira itu memberikan tatapan tidak sukanya pada Emily.
"Baiklah, Aiden. Aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang," ucap Emily sambil tersenyum.
Tanpa menunggu jawaban dari Aiden, Emily segera meninggalkan Aiden dan Keira.
"Ayo sayang kita segera ke kamar. Aku sudah tidak sabar ingin bermain-main dengan senjatamu," ucap Keira dengan suara sensualnya dan tangannya mengelus anaconda Aiden dari luar celana.
Aiden hanya mengangguk.
Emily masuk ke dalam mobilnya. Dia duduk di belakang kemudi sambil memegang dadanya.
"Ingat Em. Hubunganmu dengan Aiden tak lebih hanya sekedar cinta satu malam. Jangan mengharapkan sesuatu yang lebih darinya," gumam Emily.
Emily segera menyalakan mobilnya dan melajukannya dengan kencang.
Di dalam presidential suit, Aiden duduk sambil bersandar di atas ranjang dalam keadaan polos. Dia terus melamun dan tidak fokus pada Keira yang juga sudah polos dan sedang memainkan anacondanya menggunakan tangan dan mulutnya.
Entah mengapa anacondanya tidak mau bangkit meskipun sudah mendapatkan servis yang luar biasa dari bibir seksi Keira. Aiden memejamkan matanya. Terlintas bayangan saat dia sedang berc***a dengan Emily. Seketika anacondanya segera bangkit dan membuat Keira girang bukan kepalang dan terus mel***pnya dengan rakus.
"Aahh...," lenguh Aiden.
Namun saat Aiden membuka matanya dan melihat Keiralah yang bersamanya, seketika itu juga sang anaconda kembali lemas dan hendak tidur kembali.
"S**t!" umpat Aiden.
Aiden segera mendorong tubuh Keira menjauh darinya. Aiden bangkit dan memberikan cek kepada Keira.
"Segera pakai bajumu dan pergi dari sini!" bentak Aiden.
Keira terkejut.
"Ada apa Aiden? Mengapa kau mengusirku? Ayolah kita bersenang-senang, aku pasti akan memuaskanmu seperti biasanya," ucap Keira manja.
"Pergi! Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Atau kau ingin kujadikan j****g untuk para anak buahku!" bentak Aiden lagi dengan tatapan dinginnya.
Keira ketakutan. Dia segera turun dari ranjang dan memakai bajunya dengan tergesa-gesa. Setelah itu dia mengambil cek dan keluar dari kamar itu sambil sedikit berlari.
Aiden masuk ke dalam kamar mandi.
"Ada apa denganmu anaconda? Mengapa kau tidak berg****h saat bersama wanita lain? Sedangkan saat aku membayangkan Emily yang mend***h kau langsung bangkit," ucap Aiden pada anacondanya.
Aiden melakukan permainan solo. Namun belum sempat mendapatkan pelepasannya, Aiden menghentikan aktivitasnya itu. Aiden menghela napas panjang lalu membuangnya dengan kasar. Akhirnya Aiden memutuskan untuk membersihkan diri.
Emily saat ini berada di apartemennya. Dia turun dari ranjang untuk mengambil air. Emily terkejut saat melihat ada gelas di atas meja makan. Meskipun penerangan di ruangan itu tidak terlalu terang, namun Emily masih bisa melihatnya.
"Siapa yang meletakkan gelas di sini? Seingatku aku tidak meletakkannya," guman Emily.
"Aargghhh!!!"
Emily berteriak histeris saat ada tangan yang memeluknya dari belakang. Emily langsung membalikkan tubuhnya.
"Aiden!" seru Emily.
"Ya, Em. Ini aku," ucap Aiden sambil tersenyum dengan kedua tangannya masih memeluk tubuh Emily.
"Apa yang kau lakukan di sini? Dan bagaimana kau bisa masuk, padahal aku yakin sudah mengunci pintunya?" tanya Emily.
__ADS_1
"Tidak sulit bagiku, sang pangeran mafia untuk sekedar masuk ke dalam apartemen ini. Dan aku ke sini, karena aku merindukanmu, Em," jawab Aiden.
Aiden langsung menc**m bibir Emily dan m*****tnya. Emily membelalakkan matanya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk mendorong tubuh Aiden. Aiden melepaskan pagutannya.
"Aku menginginkanmu, Em," ucap Aiden.
"Itu tidak mungkin. Kita sudah sepakat Aiden, jika hubungan kita hanya satu malam saja, pada malam itu," sahut Emily dengan jantungnya yang terus berdebar kencang karena gejolak yang telah dibangkitkan oleh Aiden tadi.
"Persetan dengan kesepakatan itu. Aku menginginkanmu sekarang," ucap Aiden.
Aiden mengangkat tubuh Emily dan meletakkannya di atas meja. Aiden tersenyum senang saat melihat gaun tidur yang dikenakan oleh Emily. Gaun tidur itu berbahan tipis dan menerawang, tanpa b** dan hanya ada g-string yang menggoda.
"Lepaskan aku Aiden. Aku tidak menginginkanmu!" bentak Emily.
Aiden menulikan telinganya. Dia segera membuka baju dan melepas celananya. Tak butuh waktu lama Emily sudah bisa melihat anaconda Aiden yang super jumbo menyembul keluar. Emily membulatkan matanya.
"Ayo kita buktikan apakah kau benar-benar tidak menginginkanku, Em," ucap Aiden sambil menyeringai.
Aiden menarik gaun Emily merobeknya, kemudian giliran g-string seksi yang menjadi sasarannya. Tubuh Emily benar-benar sudah polos. Aiden mengangkat kedua kaki Emily dan meletakkannya di atas bahunya. Aiden berjongkok dan membenamkan wajahnya di depan sarang Emily membuat napas Emily tercekat.
"Aku bilang berhenti Aiden!" bentak Emily lagi.
Aiden langsung menc**m dan memainkan pintu sarang itu dengan bibir dan lidahnya. Emily menggeliatkan tubuhnya karena merasakan geli bercampur nikmat. Emily yang semula berusaha agar tidak mend***h, akhirnya mengeluarkan suara er***snya saat mendapatkan serangan dahsyat dari bibir dan lidah Aiden. Aiden tersenyum penuh kemenangan. Dia segera berdiri dan memposisikan anaconda di depan pintu sarang yang sudah sangat lembab.
Aiden menatap Emily yang sudah diliputi g****h.
"Kau juga menginginkanku, Em," ucap Aiden sambil tersenyum.
Emily hanya diam, dirinya sudah tidak sabar ingin disentuh oleh Aiden.
Aiden menurunkan kaki Emily dan melingkarkannya di pinggangnya. Aiden menuntun anacobdanya masuk ke dalam sarang. Dengan perlahan Aiden menekannya.
Bles...
King Anaconda pun melesat masuk ke dalam sarangnya.
"Aaahhh...," lenguh Emily saat merasakan benda super jumbo itu penuh di dalam miliknya.
Aiden menc**m bibir Emily dengan rakus sambil bergerak dengan pelan. Emily semakin mend***h tanpa malu. Bibir Aiden turun ke leher Emily dan memberikan stempel-stempel cinta di sana. Emily mend***h semakin keras saat Aiden ******* kedua choco chipnya secara bergantian dengan satu tangan meremas squisynya.
Emily mengangkat pinggulnya dan ikut bergerak. Dia menuntut sesuatu yang lebih. Aiden semakin mempercepat laju g**p***nnya. D*****n dan e*****n Emily dan Aiden saling bersahutan.
"Ougghh... A**h... Aiden," racau Emily.
"Faster Aiden. Aku sudah tidak tahan lagi," rengek Emily.
"Bersama honey," ucap Aiden.
Aiden mem***a dengan semakin cepat dan menekan kepala anacondanya semakin dalam, sampai keduanya menuju puncak bersama-sama dan terdengar lenguhan yang sangat keras dari bibir Emily dan Aiden. Aiden menyemprotkan lahar panasnya ke dalam ladang Emily.
Aiden menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Emily. Keduanya saling bertukar peluh.
"Kau sudah menjadi canduku, Em," ungkap Aiden.
Emily masih menutup matanya dengan napas yang masih terengah menikmati sisa gelombang kenikmatan yang dia dapatkan beberapa detik yang lalu.
Aiden bangkit tanpa melepaskan penyatuan mereka. Dengan perlahan menarik tubuh Emily dan menggendongnya. Emily refleks berpegangan pada bahu Aiden.
"Lingkarkan tanganmu di leherku supaya kau tidak jatuh," ucap Aiden.
Emily menurut dan melingkarkan kedua tangannya di leher Aiden. Aiden tersenyum lalu me****t bibir Emily dengan anaconda yang mulai bergerak lagi di bawah sana. Emily tersentak.
"Kita lanjut ronde kedua honey, dengan gaya yang berbeda. Aku akan mem***kanmu malam ini," bisik Aiden sambil menggigit pelan telinga Emily.
"Aaahh...," d***h Emily.
Aiden semakin semangat memacu anacondanya keluar masuk sarang sehingga ruangan itu dipenuhi kembali dengan suara-suara lucknut dari bibir keduanya. Emily benar-benar dibuat puas dan tak berdaya sampai mendapatkan pelepasannya yang kedua.
Aiden membawanya masuk ke dalam kamar dan naik ke atas ranjang. Aiden melanjutkan ke ronde-ronde selanjutnya dengan bergonta ganti gaya. Entah sudah berapa lama Aiden terus memacu dan menggempur Emily, sampai sarang Emily benar-benar licin karena telah mendapatkan beberapa kali pelepasan. Sedangkan Aiden masih terus berjuang untuk mendapatkan pelepasannya.
Emily melihat jam di dinding. Dia melebarkan matanya saat mengetahui jika mereka berpacu sampai hari telah berganti. Emily tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi area intimnya saat ini.
"Cepatlah Aiden, aku sudah tidak sanggup lagi," ucap Emily memohon.
Aiden mencabut anacondanya, lalu membalik tubuh Emily. Aiden menarik p*****l Emily sedikit ke atas lalu menusukkan anacondanya ke dalam sarang yang licin itu dari arah belakang, dengan gaya DG style.
"Aahhhh...," Emily dibuat mend***h lagi.
Aiden mem****nya semakin cepat sampai terdengar bunyi khas dari aktivitas perc*****n.
Lenguhan terus keluar dari bibir Emily, karena g****hnya telah bangkit kembali.
__ADS_1
Aiden melaju semakin cepat, dan akhirnya memberikan tusukan yang sangat kuat. Aiden berteriak saat mendapatkan pelepasannya bersamaan dengan Emily.
Aiden merobohkan tubuhnya di samping Emily.
"Terima kasih honey. Kau sungguh luar biasa," ucap Aiden.
"Kau sudah puas kan? Segera keluarlah dari apartemenku," ucap Emily sambil mengatur napasnya.
Aiden membalikkan tubuh Emily dan berhadapan dengannya.
"Jadilah wanitaku, Em," ucap Aiden.
"Apa alasanmu?" tanya Emily.
"Karena aku menginginkanmu," jawab Aiden.
Emily tersenyum getir.
"Kau tidak menginginkanku, tapi tubuhku," ucap Emily.
"Aku akui itu memang benar. Aku tergila-gila dengan tubuhmu, kau sudah menjadi canduku. Dan tubuhmu juga menginginkanku, bukan?" ucap Aiden.
"Kau hanya ingin aku menjadi partnermu di atas ranjang. Dan ketika kau bosan nanti, kau akan membuangku dan menggantinya dengan wanita-wanita yang lain," ucap Emily.
"Jangan samakan aku dengan wanita-wanita yang pernah kau tiduri. Aku tidak pernah menginginkan hubungan seperti ini. Aku tidak ingin hanya menjadi partner di atas ranjang. Aku ingin memiliki pria yang tulus mencintaiku, tanpa memasukkan wanita lain ke dalam hubungan kami. Aku tidak sudi untuk berbagi dengan wanita lain."
"Apa kau sanggup menjadi pria yang aku inginkan?" tanya Emily.
Aiden terdiam tanpa bisa berkata-kata, karena dia tidak tahu apa dia bisa menjadi pria yang setia dengan satu wanita.
"Kau tidak sanggup kan," ucap Emily dengah raut wajah kecewa.
"Besok aku akan kembali ke Italia. Ku mohon pergilah dari sini, dan kembalilah kepada kekasihmu tadi siang. Aku ingin istirahat," usir Emily.
"Tidak. Dia bukan kekasihku," ucap Aiden.
Emily hanya menghela napas panjang.
"Aku mohon Em. Ijinkan aku bermalam kali ini saja, aku ingin tidur sambil memelukmu. Aku janji, saat kau bangun nanti kau tidak akan melihatku lagi di sini," mohon Aiden.
"Baiklah," ucap Emily.
Emily sudah malas berdebat dengan Aiden. Dia merasakan badannya remuk sekali dan ingin segera tidur. Aiden menarik tubuh Emily ke dalam pelukannya, membuat Emily merasa sangat nyaman. Tak butuh lama bagi keduanya untuk tertidur lelap dengan rasa puas yang luar biasa.
Emily mengerjapkan matanya saat merasakan hangatnya cahaya matahari yang menelusup masuk ke dalam kamarnya. Emily tidak merasakan lagi pelukan hangat Aiden. Emily segera bangun dan melihat Aiden sudah tidak berada di sampingnya.
Emily merasakan hatinya kosong. Bulir-bulir air mata mengalir dari pelupuk matanya.
"Aku tidak boleh seperti ini. Aku tidak boleh jatuh cinta pada seorang cassanova seperti Aiden," lirih Emily sambil terisak.
Emily segera menyeka air matanya. Dia turun dari ranjang menuju meja riasnya. Emily membuka laci meja itu dan mengambil obat penunda kehamilannya, karena Aiden tidak menggunakan pengaman sama sekali. Emily segera mengambil air dan meminum obat itu. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi sambil tertatih, area sensitifnya terasa perih sekali.
Setelah selesai bersiap, Emily menuju bandara dan terbang ke Italia.
"Apa wanitaku sudah berangkat?" tanya Aiden pada anak buahnya yang diperintahkan untuk mengintai Emily.
"Sudah Tuan, dengan menggunakan pesawat komersil menuju Italia," jawab anak buah Aiden.
Aiden pun mengangguk.
"Aku akan menunggumu, Em, dan berharap kau akan berubah pikiran," batin Aiden sambil memandang ke langit dari balik kaca di kantornya.
Bersambung....
...🌹🌹🌹...
Aiden oh Aiden, udah bucin tapi kok belum syadaarrr....😤😤😤
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
__ADS_1
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰