Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 70. Kejutan


__ADS_3

Jasmine sudah siap dengan dressnya yang dilapisi dengan baju toga. Tak ketinggalan topi toga sudah bertengger di atas kepalanya. Hari ini Jasmine akan mendapatkan gelar sarjananya. Seluruh anggota keluarga besar Alvaro dan Hermawan datang untuk menghadiri acara wisuda satu-satunya Nona Muda di keluarga Alvaro itu.


Jasmine berbaris rapi bersama para wisudawan yang lain. Rasa bangga semakin dirasakan oleh Tuan Zayn dan Nyonya Aline saat nama Jasmine disebutkan sebagai wisudawan dengan nilai terbaik dan berpredikat cumlaude. Nyonya Aline menitikkan air mata haru bercampur bahagia.


"Aku sangat bahagia dan bangga dengan kedua anak kita, suamiku," ucap Nyonya Aline sambil menangis.


"Bukan hanya dirimu, tapi kita semua sayang. Aku sangat bersyukur Tuhan telah memberikan dua anak hebat dan genius kepada kita," ucap Tuan Zayn sambil memeluk istrinya.


Jasmine maju ke depan podium. Sang Rektor memberikan selempang bertuliskan mahasiswa terbaik dengan predikat cumlaude. Jasmine diminta untuk memberikan pidatonya. Jasmine pun berpidato di depan para wisudawan dan keluarga wisudawan.


"Alhamdulillah. Apa yang aku raih saat ini adalah karena berkah tak tertingga dari Tuhan dan dukungan keluargaku, Papa, Mama, Kakakku dan semua anggota keluarga besarku. Ucapan terima kasih terbesarku untuk Mama yang selalu mendoakanku di setiap langkahku. Terima kasih kepada Papa yang telah menjadi kekuatanku. Aku bisa berdiri di sini berkat kalian, Papa dan Mama terbaik di dunia," ucap Jasmine sambil meneteskan air matanya.


Tuan Zayn dan Nyonya Aline tidak bisa membendung lagi bulir air mata yang keluar dari pelupuk mata mereka.


Acara wisuda berjalan dengan sangat baik. Jasmine sudah berkumpul bersama keluarga besarnya. Tiada henti Tuan Zayn dan Nyonya Aline memberikan pelukan dan ciuman kepada putri kesayangan mereka.


"Papa dan Mama sangat bangga padamu, sayang. Selalu jadilah orang yang rendah hati dan jangan menjadi tinggi hati. Karena apapun yang kau miliki saat ini adalah anugerah dan titipan dari Tuhan. Dan jangan berhenti untuk mengucap syukur ya," ucap Tuan Zayn.


"Terima kasih Papa, Mama. Jasmine akan selalu mengingat nasihat kalian," ucap Jasmine sambil memeluk kedua orang tuanya.


Seluruh anggota keluarga Alvaro memberikan ucapan selamat secara bergantian, kemudian melakukan pengambilan foto bersama. Axel tidak pernah menjauh dari istri tercintanya. Dia semakin protektif menjaga Helena karena di tempat itu berkerumun banyak orang. Axel tidak ingin perut besar Helena tergesek apalagi sampai terluka sedikit pun.


Jasmine duduk di sebuah kursi yang ada di taman tak jauh dari tempat keluarga besarnya berkumpul. Jasmine menyalakan ponselnya. Terlihat raut kecewa di wajahnya. Tidak ada satupun pesan atau telpon dari Evan. Bahkan sehari sebelumnya Jasmine sudah mengirimkan pesan pada Evan dan memberitahu jika hari ini dia akan diwisuda.


"Sesibuk itukah dirimu, Evan? Sampai tak sempat mengirimkan kabar atau pesan padaku," lirih Jasmine.


Tak terasa mata Jasmine terasa panas dan bulir air mata keluar dari pelupuk matanya. Namun dengan cepat segera dihapusnya, supaya keluarganya tidak melihat kesedihan yang dirasakannya saat ini.


Tiba-tiba ada sebuah buket mawar yang cantik disodorkan ke depan wajah Jasmine. Jasmine pun membulatkan matanya karena terkejut.


"Bocilku tidak pantas menangis. Dia lebih cocok tersenyum dengan wajah angkuh dan ucapan pedasnya," ucap seseorang dari belakang Jasmine.


Jasmine segera memutar badannya.


"Evan!" seru Jasmine.


Jasmine langsung berdiri dan memeluk Evan.


"Mengapa kau jahat sekali? Kau tidak memberikan kabar apapun padaku. Kau benar-benar jahat," isak Jasmine sambil memukul dada Evan pelan.


Evan pun terkekeh dan segera mengurai pelukan keduanya. Dengan lembut Evan mengapus jejak air mata yang mengalir di wajah Jasmine.


"Aku minta maaf. Aku ingin memberikan kejutan untukmu," ucap Evan.


"Selamat ya Nona Zalina Jasmine Alvaro, akhirnya menyandang gelar sarjana dengan nilai terbaik dan mendapatkan predikat cumlaude. Aku sangat bangga padamu," ucap Evan sambil menyerahkan buket bunga yang dia bawa.


Jasmine menerima buket bunga itu dengan hati bahagia.


"Terima kasih. Kau tahu, saat ini aku benar-benar merasa sangat bahagia. Semua orang yang aku sayangi berada di dekatku," ucap Jasmine.


"Jadi, kau menyayangiku ya?" goda Evan.


Wajah Jasmine langsung merona. Jasmine meninju lengan Evan. Evan pun tertawa.


"Ekhmm!!!"


Terdengar deheman dari belakang Jasmine dan Evan. Tuan Zayn sudah berdiri di belakang mereka dengan wajah dinginnya. Dalam hati, Tuan Zayn tidak suka ada pria yang berani menyentuh apalagi sampai memeluk putrinya tanpa seijinnya.


"Papa," ucap Jasmine sambil melebarkan matanya.


Glek!


Evan menelan salivanya kasar saat mendapat tatapan dingin yang seolah-olah ingin menerkam dirinya.


"Assalamualaikum, Tuan Zaidan," sapa Evan.


"Waalaikum salam," jawab Tuan Zayn dingin.


Evan memberanikan dirinya untuk menghampiri Tuan Zayn dan mengulurkan tangannya untuk salim. Tuan Zayn menerima uluran tangan Evan. Evan segera menunduk dan mencium punggung tangan Tuan Zayn.


"Jadi kau yang bernama Evan," ucap Tuan Zayn.


"Benar Tuan. Perkenalkan saya Evander Sahir, putra dari Farhat Sahir," jawab Evan.


Tuan Zayn hanya menganggukkan kepalanya.


"Berani juga kau mendekati putriku. Percaya diri sekali dirimu," ucap Tuan Zayn.


Evan hanya tersenyum.


"Bukannya menjawab malah cengengesan!" bentak Tuan Zayn.


Senyuman di wajah Evan pun luntur.


"Iya Tuan. Jika saya tidak berani dan percaya diri, bagaimana saya bisa mendampingi dan menjaga putri Anda yang sangat berharga ini, Tuan?" jawab Evan.

__ADS_1


"Bicara manis memang sangat mudah," sahut Tuan Zayn.


"Apa yang Tuan inginkan supaya saya bisa membuktikan ucapan saya? Apa Tuan ingin saya meminang Jasmine sekarang juga?" tanya Evan.


Jasmine membulatkan matanya. Dengan beraninya Evan berbicara seperti itu pada ayahnya.


"Putriku masih kecil. Aku tidak ijinkan dia untuk menikah muda. Dia harus menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 nya terlebih dahulu," jawab Tuan Zayn.


"Baik Tuan. Dan saya akan siap menunggu," ucap Evan tegas.


"Kuat juga pendirianmu," cibir Tuan Zayn.


"Papa?" keluh Jasmine.


"Sudah suamiku bercandanya. Jangan menggodanya terus. Kasihan Evannya," ucap Nyonya Aline.


"Siapa yang bercanda, sayang? Aku kan harus super selektif dengan pria yang mendekati putri kita," ucap Tuan Zayn.


"Assalamualaikum Nak Evan. Perkenalkan saya Mamanya Jasmine," ucap Nyonya Aline ramah.


"Waalaikum salam, Nyonya," ucap Evan kemudian salim dan mencium punggung tangan Aline.


"Sikap dan perkataan Papanya Jasmine jangan diambil hati ya. Terima kasih kau sudah jauh-jauh datang kemari untuk mengucapkan selamat pada Jasmine," ucap Nyonya Aline.


"Tidak apa-apa Nyonya. Apa yang Tuan Zayn lakukan dan katakan memang sudah semestinya. Seorang ayah pasti akan sangat melindungi putri kesayangannya. Jika suatu saat nanti Tuhan memberikan saya anak perempuan, maka saya akan melakukan hal yang sama seperti yang Tuan Zayn lakukan untuk menjaga dan melindunginya," ucap Evan.


Nyonya Aline tersenyum, kemudian melirik suaminya.


"Apalagi yang perlu kau khawatirkan suamiku? Evan ini pria yang baik," ucap Nyonya Aline.


"Tahu dari mana?" tanya Tuan Zayn.


"Bukankah dia telah banyak membantu keluarga kita. Evan juga membantu menemukan menantu dan ketiga calon cucu kita," jawab Nyonya Aline.


Tuan Zayn menghela napas panjang.


"Baiklah. Tapi kalian harus tetap menjaga jarak."


"Dan kau, Evan. Jangan lagi mencuri-curi kesempatan untuk memeluk putriku, apalagi melakukan hal yang lebih dari itu," ucap Tuan Zayn.


"Tentu saja, Tuan. Lagi pula yang memeluk duluan tadi kan Jasmine, bukan saya," ucap Evan sambil tersenyum.


"Kau?" seru Tuan Zayn.


"Tidak sayang. Jangan bicara seperti itu. Akan aku lenyapkan pria manapun yang mencoba menggantikan posisiku," sahut Tuan Zayn.


"Kalian berdua, segera bergabung dengan keluarga besar. Aku tidak mau jika sampai ada setan lewat dan menyesatkan kalian," perintah Zayn.


"Baik, Papa," jawab Jasmine.


Jasmine segera menarik tangan Evan dan membawanya untuk bertemu keluarga besarnya.


"Baru diberitahu untuk jaga jarak, ini malah berpegangan tangan," ucap Tuan Zayn kesal.


"Masih mau marah?" tanya Nyonya Aline.


Tuan Zayn langsung merubah ekspresi wajahnya.


"Tidak cintaku," ucap Tuan Zayn sambil tersenyum.


"Bagus. Itu baru suami tampan dan baik hatiku. Ayo kita juga bergabung dengan mereka," ucap Nyonya Aline sambil memeluk lengan suaminya.


Jasmine memperkenalkan Evan kepada semua anggota keluarganya. Keluarga Alvaro dan Hermawan menyambutnya dengan ramah.


"Opa dan Oma berencana akan mengunjungi panti asuhan besok. Seperti tradisi di keluarga kita, saat kita mendapatkan rejeki atau kabar yang baik, kita akan berbagi dengan para anak yatim piatu," ucap Tuan Alex saat merek semua sudah kembali ke mansion Alvaro.


"Kami setuju Pa. Zayn dan Aline sebenarnya juga sudah memikirikan hal itu. Kita semua besok akan pergi ke panti asuhan," sahut Zayn.


"Dan Opa juga akan membuat pesta sederhana untuk merayakan kelulusan cucu Opa yang paling cantik ini, di mansion Alvaro besok malam. Opa akan mengundang orang-orang terdekat dan beberapa rekan bisnis Alvaro Group," ucap Tuan Alex.


"Vero dan Joe yang akan membantu mempersiapkan semuanya," sahut Tuan Vero.


"Terima kasih Opa, Oma, Papa, Mama, Pipi dan Mimi," ucap Jasmine sambil memeluk Tuan Alex.


"Sama-sama, sayang," jawab Tuan Alex.


Axel senang melihat kebahagian yang terpancar dari wajah keluarganya.


"Oh iya Evan. Selama di Jerman, kau tinggal di mana?" tanya Axel.


"Aku tinggal di apartemen yang terletak di pusat kota Berlin," jawab Evan.


"Lalu bagaimana dengan pendidikanmu?" tanya Axel.


"Aku baru saja menyelesaikan pendidikan S2ku di California," jawab Evan.

__ADS_1


"Apa rencanamu setelah ini? Apa kau akan melanjutkan pendidikan S3? Atau bekerja?" tanya Tuan Zayn.


"Membantu Daddy dan kakak saya mengurus perusahaan keluarga kami. Dan saya berencana untuk membuka usaha sendiri di bidang arsitektur," jawab Evan.


"Itu bagus sekali. Tapi apa kau bisa membagi waktumu antara bekerja di perusahaan keluargamu dengan membangun usaha sendiri?" tanya Tuan Narendra.


"Memang tidak mudah Tuan. Tapi saya akan belajar dan terus berusaha," jawab Evan.


"Hidangan makan malam sudah siap," terdengar seruan dari Nyonya Savira.


Semua anggota keluarga, termasuk Evan segera berpindah ke ruang makan dan menikmati hidangan makan malam yang telah disiapkan oleh Nyonya Savira. Setelah makan malam, Evan pun pamit pulang ke apartemen. Jasmine mengantarkannya sampai ke tempat parkir.


"Aku pulang dulu ya. Besok pagi aku kan ke sini lagi. Aku juga ingin ikut kalian mengunjungi panti asuhan," ucap Evan.


"Terima kasih banyak untuk kejutannya yang luar biasa. Hati-hati dalam mengemudi. Saat kau tiba di apartemen hubungi aku ya," ucap Jasmine.


Evan mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil.


"Selamat malam dan semoga bermimpi indah, Bocilku. Assalamaualaikum," ucap Evan.


"Waalaikumsalam," jawab Jasmine.


Setelah mobil Evan keluar dari area mansion, Jasmine segera masuk ke dalam mansion.


"Sejak kapan kau menjadi penguntit, suamiku?" tanya Nyonya Aline kepada suaminya.


Sejak tadi Tuan Zayn mengintip Evan dan Jasmine dari balik kaca jendela kamarnya.


"Aku bukan penguntit, hanya seorang ayah yang terlalu menyayangi putrinya," jawab Tuan Zayn.


Nyonya Aline memutar kedua bola matanya.


"Jadi kau lebih senang berdiri di sana, dan mengabaikanku?" tanya Nyonya Aline kesal.


Tuan Zayn langsung membalikkan badannya dan berjalan mendekati istrinya.


"Aku tidak bermaksud mengabaikanmu sayang," ucap Tuan Zayn sambil memeluk tubuh istrinya.


Nyonya Aline mengalungkan tangannya ke leher Tuan Zayn. Tak lama kemudian, bibir keduanya menyatu. Semakin lama ciuman mereka semakin panas. Tuan Zayn langsung mengangkat tubuh istrinya dan merebahkannya ke atas ranjang. Tak butuh waktu lama aktivitas panas pun terjadi. Tuan Zayn selalu merasa muda saat bersama istri tercintanya itu.


"Kau masih tetap sama, my Cherry. Kau sangat nikmat dan selalu menjadi canduku," bisik Tuan Zayn di sela-sela aktivitas panas mereka.


"Ingat umur. Sudah mau jadi kakek dan punya tiga cucu sekaligus masih saja menggombal," ucap Nyonya Aline sambil tersenyum malu.


"Umurku boleh bertambah tua, tapi semangatku masih membara seperti saat pertama kali bertemu denganmu sayang," ucap Tuan Zayn.


Tuan Zayn membuktikan ucapannya. D*****n dan lenguhan terus keluar dari bibir Nyonya Aline saat Tuan Zayn mempercepat gerakannya. Malam ini menjadi malam yang panas bagi pasangan yang sudah tak lagi muda itu.


Sedangkan di luar kamar Jasmine hendak mengetuk pintu kamar orang tuanya.


"Berhenti!" hardik Axel.


"Kenapa Kak? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Papa dan Mama," tanya Jasmine.


"Besok saja bicaranya. Jangan mengganggu kebersamaan mereka sekarang," ucap Axel sambil menarik tangan Jasmine.


Axel mengantarkan Jasmine sampai ke depan pintu kamarnya.


"Sebaiknya kau masuk kamar dan tidur sekarang. Jangan pernah mendekati kamar Papa Mama, apalagi kamarku," ucap Axel sambil tersenyum.


"Memangnya kenapa?" tanya Jasmine penasaran.


"Kau masih kecil. Nanti kalau sudah menikah, kau akan mengerti," jawab Axel sambil berjalan menuju kamarnya sendiri.


Jasmine mendengus kesal dan masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2