
Jasmine dan Yudistira tiba di kota Batam menjelang pagi. Keduanya segera menuju hotel tempat Evan dan Sandy menginap. Saat tiba di depan hotel, Jasmine mengambil ponselnya dan melacak keberadaan ponsel Evan. Jasmine tersenyum dan melangkah masuk mengikuti arah ponsel Evan berada.
Jasmine dan Yudistira masuk ke dalam lift. Saat pintu lift akan tertutup, seorang pria menahan pintu itu. Pria itu masuk bersama seorang gadis muda yang perkiraan usianya masih belasan tahun. Terlihat raut panik dan cemas di wajah pria itu. Dia terus menerus mengusap wajahnya dengan kasar dan tiada henti menghentakkan kakinya tak sabar untuk sampai di lantai tujuan mereka.
Pintu lift terbuka, pria dan gadis itu segera keluar dengan terburu dan celingak celinguk mencari sebuah nomor kamar. Jasmine dan Yudistira berjalan di belakang mereka.
"Kak Pram, ini kamar 126," teriak gadis itu sambil menunjuk sebuah kamar.
"Apa kau yakin Dinda?" tanya pria itu.
Gadis bernama Dinda itu menganggukkan kepalanya.
Pria yang bernama Pram pun segera bergegas dan berusaha membuka paksa kamar itu, tapi tak bisa karena pintu itu terkunci. Jasmine terus mengikuti petunjuk ponsel Evan. Matanya terbelalak saat petunjuk itu mengarah ke kamar 126. Jasmine memeriksa ponselnya lagi untuk memastikan. Jasmine melangkah dengan ragu sampai di depan kamar 126 yang berusaha didobrak oleh pria yang dipanggil Pram itu.
"Tunggu! Apa yang kau lakukan?" tanya Jasmine.
"Aku harus menyelamatkan adikku. Dia berada di dalam sana," jawab Pram.
"Nona Jasmine. Anda datang ke sini?" seru Sandy yang tiba-tiba muncul di belakang Jasmine bersama seorang pria.
"Ya, Sandy. Aku ingin bertemu Evan," jawab Jasmine.
"Kamar Tuan Evan di sebelah sini, Nona, kamar 125," ujar Sandy.
"Tapi, mengapa ponselnya berada di kamar 126?"
Jasmine menunjukkan ponselnya kepada Sandy.
"Bagaimana bisa?" tanya Sandy tak mengerti.
Jasmine merasakan hatinya yang semakin tak tenang. "Yudi, bantu pria itu mendobrak pintu kamar. Cepatlah!"
Yudistira langsung menendang pegangan pintu dengan tendangan mautnya. Dengan sekali tendangan, engsel pintu langsung rusak sehingga pintu itu pun bisa dibuka.
"Pergi! Jangan sentuh aku! Menjauhlah dariku!" terdengar teriakan seorang gadis dari dalam kamar.
Pram dan Dinda langsung masu ke dalam kamar. Seorang gadis sedang terduduk di lantai sambil menangis ketakutan dengan tubuh berbalut selimut dan seorang pria yang hanya memakai celana boxer mencoba mendekatinya.
"Vira!" teriak Pram membuat pria dan gadis itu tersentak.
"Kakak!" panggil gadis itu sambil terisak.
"Dasar baj*ngan!" Pram langsung menarik pria itu dan memberikan pukulan keras ke wajahnya.
"Hentikan. Aku bisa jelaskan, ini salah paham," ucap pria itu yang tak lain adalah Evan.
Namun Pram menulikan pendengarannya dan terus menghajarnya dengan membabi buta. Yudistira langsung menahan tubuh Pram dan menjauhkannya dari Evan.
"Lepaskan aku. Akan kubunuh baj*ngan ini!" teriak Pram sambil memberontak.
Sandy dan pria yang tadi bersamanya ikut masuk dan membantu Evan untuk berdiri. Sedangkan, Jasmine membatu di tempatnya saat melihat apa yang terjadi di sana. Napasnya tercekat begitu pandangan matanya tertuju pada sprei kasur yang terdapat bercak darah segar yang bercampur cairan kental berwarna putih dan membuat ruangan itu beraroma bau anyir.
"Kak Pram, Vira pingsan," teriak Dinda.
Pram langsung mendekati kedua gadis itu.
"Vira, bangun sayang. Kakak sudah datang. Aku mohon bangunlah," ucap Pram sambil terisak melihat keadaan adiknya saat ini.
"Sebaiknya segera bawa dia ke rumah sakit," ujar Yudistira.
Pram langsung mengangkat tubuh Vira, sedangkan Dinda mengambil baju dan tas Vira.
"Urusan kita belum selesai, baj*ngan. Aku akan kembali dan membalas semua perbuatan bejatmu," ancam Pram.
Evan hanya bisa diam karena dia sendiri merasa terkejut dan tak ingat apa yang telah terjadi. Evan tampak sangat syok, dia tidak percaya jika dirinya telah melakukan kesalahan besar dengan menodai gadis itu.
"Kak Jasmine," panggil Yudistira sambil menepuk bahu Jasmine.
Evan terkejut dan menatap ke arah Jasmine yang diam mematung.
"Jasmine," lirih Evan.
Evan berjalan mendekati Jasmine.
"Berhenti!" bentak Jasmine tanpa melihat ke arah Evan.
Evan langsung berhenti dan berlutut.
__ADS_1
"Dengarkan penjelasanku dulu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Ini semua salah paham," mohon Evan.
"Yudi, ayo kita keluar!" pinta Jasmine dengan wajah dinginnya.
"Jasmine, aku mohon dengarkan penjelasanku dulu," Evan terus memohon.
Jasmine menulikan telinganya dan segera melangkah keluar dari kamar itu.
"Biarkan Kak Jasmine tenang dulu. Sebaiknya segera bersihkan dulu tubuhmu dan kenakan pakaianmu," ucap Yudistira.
"Benar apa yang dia katakan, Tuan Evan. Sebaiknya kau bersihkan dirimu dulu. Setelah itu kita akan cari kebenarannya bersama-sama," ucap pria yang tadi datang bersama Sandy.
"Terima kasih, Tuan Candrama. Maafkan Anda harus melihat hal yang tak pantas seperti ini," ucap Evan dengan wajah sedihnya.
"Tak masalah. Kalau begitu, aku keluar dulu," ujar Candrama lalu keluar dari kamar.
Candrama melihat Jasmine dan Yudistira yang duduk di kursi yang tersedia di depan kamar. Candrama berdiri agak jauh dan memperhatikan Jasmine yang diam dengan tatapan matanya yang kosong lurus ke depan.
"Mengapa hal buruk ini harus terjadi padaku, Sandy?"
Racau Evan setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian dengan sambil terus menangis. Evan takut kehilangan Jasmine. Sandy menghela napas panjang. Sandy bingung harus menjawab apa, karena dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya bisa mengusap bahu Evan untuk menenangkan.
Evan dan Sandy segera pergi menemui Jasmine dan Yudistira, yang sudah menunggu di restoran hotel, di sana juga sudah ada Candrama. Evan langsung berlari ke arah Jasmine, namun saat akan mendekat Yudistira menahannya. Evan pun mengalah dan duduk agak jauh dari Jasmine. Hatinya terasa perih sekali karena Jasmine tidak mau menatapnya sama sekali.
"Sebenarnya apa yang terjadi Tuan Evan?" tanya Candrama.
Evan menghela napas panjang.
"Aku sama sekali tidak tahu dan bingung harus memulai dari mana."
Evan mengingat kembali apa yang semalam terjadi.
Flashback On
Semalam Evan pulang dari pesta pernikahan keluarga klieannya, Tuan Subrata , lebih awal karena kepalaya tiba-tiba terasa pusing. Sandy segera mengantarkannya kembali ke hotel. Namun, Sandy hanya mengantarkannya sampai di lobby hotel.
"Tuan, maafkan saya antarkan Anda sampai di sini, karena saya ingin pergi ke supermarket. Ada beberapa barang yang ingin saya beli. Apa Anda tidak apa-apa?" tanya Sandy.
"Aku tidak apa-apa. Pergilah San, aku akan langsung ke kamar untuk istirahat," jawab Evan.
"Mengapa pintunya tak terkunci, apa aku lupa menguncinya tadi?" gumam Evan.
Tanpa pikir panjang, Evan langsung ke dalam kamar karena dia ingin segera tidur supaya sakit kepalanya segera sembuh. Tiba-tiba Evan terbangun karena mendengar suara tangisan seorang wanita.
"Mengapa aku mendengar suara tangisan perempuan? Aku pasti bermimpi. Tidak mungkin ada perempuan di kamarku," lirih Evan.
Evan mengerjapkan matanya saat suara tangisan itu semakin keras terdengar. Evan langsung bangun dan menyalakan lampu. Evan terkejut dan matanya seperti mau melompat dari tempatnya saat melihat ada seorang gadis meringkuk di atas lantai dengan tubuh polos ditutupi selimut dan menangis.
"Siapa kau? Mengapa kau ada di kamarku?" tanya Evan.
Gadis itu tak menjawab dan semakin kencang menangis sambil memeluk selimutnya erat. Evan yang tidak menyadari dirinya hanya memakai celana boxer mendekati gadis itu dan membuat gadis itu semakin berteriak histeris.
"Pergi! Jangan sentuh aku! Menjauhlah dariku!"
Lalu tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah Pram ke dalam kamar. Pram yang sudah kalap langsung memukuli Evan sampai akhirnya Yudistira melerai mereka.
Flashback Off
"Aku benar-benar tidak ingat apa yang telah terjadi sehingga aku bisa masuk ke dalam kamar itu. Aku bersumpah sayang, aku sama sekali tidak mengenal gadis itu. Aku yakin ini pasti ada kesalahpahaman. Aku mohon percayalah padaku," mohon Evan.
Jasmine tetap setia dengan diamnya dan enggan bersuara.
"Bagaimana kalau kita memeriksa rekaman kamera CCTV di hotel ini? Kebetulan aku mengenal manager hotel ini. Siapa tahu kita bisa mendapatkan petunjuk Tuan Evan," usul Candrama.
"Maaf kalau boleh tahu, Anda siapa?" tanya Yudistira.
Candrama tersenyum mengulurkan tangannya yang disambut oleh Yudistira.
"Perkenalkan nama saya Candrama Adipura, salah satu rekan bisnis Tuan Evan. Kebetulan saya bertemu dengan Tuan Sandy di restoran hotel. Karena kami sama-sama tidak bisa tidur, kami memutuskan untuk meminum kopi sambil menonton pertandingan bola hingga menjelang pagi," terang Candrama.
"Perkenalkan saya Yudistira, dan ini Nona Jasmine, tunangan dari Tuan Evan," ujar Yudistira.
"Tuan Candrama benar, sebaiknya kita segera memeriksa rekaman dari CCTV di lantai kamar itu. Supaya kita bisa mendapatkan petunjuk," ucap Sandy.
Semua setuju dan langsung menuju ruang CCTV dan memeriksa rekaman CCTV hotel. Jasmine juga ikut menyaksikan hasil rekaman CCTV itu. Saat rekaman CCTV itu diputar, terlihat Evan berjalan sempoyongan dan masuk ke dalam kamar 126, bukan kamar 125. Semua membelalakkan mata, terutama Evan.
Yudistira langsung menarik tubuh Evan dan memukul wajahnya dengan keras. Evan tidak sempat mengelaknya dan langsung mendapatkan luka sobekan di bibir kirinya sampai mengeluarkan darah segar.
__ADS_1
"Kurang aj*r! Aku tidak menyangka jika kau sebejat itu Evan. Rekaman CCTV itu menunjukkan bahwa kau sendiri masuk ke dalam kamar 126. Aku sangat kecewa padamu. Kau sudah menyakiti Kak Jasmine dan keluarga Alvaro!" teriak Yudistira.
Sandy dan Candrama langsung menahan tubuh Yudistira.
"Lepaskan aku!" bentak Yudistira sambil menghempaskan tangan Sandy dan Candrama.
Yudistira mendekati Jasmine yang terus terdiam. "Ayo Kak, kita pergi dari sini."
Yudistira menarik tangan Jasmine dan membawanya pergi dari tempat itu. Evan terus berteriak memanggil Jasmine, namun Jasmine tak menoleh sedikit pun ke arahnya. Evan jatuh terduduk di lantai sambil menangis. Sandy dan Candrama berusaha untuk menenangkan dan meyakinkan Evan jika mereka akan membantu Evan mengungkap kebenarannya.
"Apa kau sudah melakukan yang aku perintahkan, Yudi?" tanya Jasmine.
Saat ini keduanya berada di salah satu villa yang telah mereka sewa di kota Batam itu.
"Sudah Kak. Sebentar lagi mereka tiba di sini," jawab Yudistira.
Tak selang berapa lama, masuklah dua orang pria yang wajahnya memiliki kemiripan dengan Yudistira. Mereka adalah Bima dan Arjuna, adik Yudistira.
"Apa kalian berhasil?" tanya Yudistira.
Bima dan Arjuna mengembangkan senyum mereka dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.
"Tentu saja kami berhasil mendapatkan sampel cairan yang menempel di sprei hotel itu. Kami menyamar sebagai cleaning service dan membersihkan kamar 126," jawab Bima.
"Bagus. Bagaimana denganmu Yudi?" tanya Jasmine.
"Pukulanku tidak pernah meleset, Kak. Aku berhasil mendapatkan darah dan rambut Evan," jawab Yudistira sambil menunjukkan sapu tangan yang dia gunakan untuk mengelap darah Evan yang menempel di tangannya dan ada rambut Evan juga.
Yudistira sengaja memukul Evan supaya dia bisa mendapatkan sampel darah Evan, sesuai rencana Jasmine. Setelah keluar dari kamar 126, Jasmine memutar otaknya untuk memecahkan masalah ini dan mendapatkan kebenaran. Jujur saja hatinya sangat hancur membayangkan Evan menyetubuhi gadis lain, namun akal sehatnya jauh lebih berkuasa daripada hatinya.
"Segera bawa sampel-sampel ini ke laboratorium terbaik di Jakarta. Aku ingin mendapatkan hasil tes DNA ini secepatnya, untuk mengetahui apakah benar Evan yang telah menodai gadis itu," ucap Jasmine.
Bima mengambil sampel darah dan rambut Evan, lalu memasukkannya ke dalam tas bersama sampel cairan putih yang telah mereka dapatkan. Bima dan Arjuna segera terbang ke Jakarta menggunakan private jet Alvaro.
"Aku bersyukur Kak. Tidak percuma kita mengijinkan Bima dan Arjuna untuk ikut ke sini. Ternyata keberadaan mereka sangat berguna," ucap Yudistira.
Jasmine mengangguk sambil menyunggingkan bibirnya.
"Apa kakak percaya dengan hasil rekaman CCTV itu?" tanya Yudistira.
Jasmine menoleh ke arah Yudistira.
"Apa menurutmu aku sebodoh yang mereka kira?" sahut Jasmine sambil menyeringai.
Yudistira tersenyum lebar. Jasmine menelpon seseorang.
"Hans, cari tahu siapa saja orang yang telah keluar masuk kamar 126 hotel SS dari rekaman CCTV yang asli," ucap Jasmine.
"Kau tenang saja, princess. Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan," jawab Hans.
Jasmine tersenyum lalu menutup panggilan telpon mereka.
"Baiklah, Yud. Mari kita ikuti permainan ini dan buat tikus busuk itu masuk ke dalam perangkap yang telah dia buat sendiri," ucap Jasmine dengan senyum evilnya.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1