Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 50 (Dua Sekaligus)


__ADS_3

Dengan perlahan, Jasmine membuka matanya. Dia merasakan kepalanya terasa berat sekali.


"Evan," lirih Jasmine.


"Sayang, syukurlah kau sudah siuman. Aku sangat mencemaskanmu," ucap Evan dengan berurai air mata.


"Mengapa kau menangis? Apa yang terjadi padaku?" tanya Jasmine bingung.


Jasmine berusaha untuk bangun, Evan segera membantunya dan menyandarkan tubuh Jasmine disandaran ranjang.


"Mulai saat ini kau harus lebih berhati-hati, sayang," jawab Evan.


"Kenapa?"


Evan tersenyum, kemudian tangan kanannya mengusap perut Jasmine dengan lembut. "Karena ada buah hati kita di dalam sini yang harus kita jaga. Alhamdulillah sayang. Doa kita telah dikabulkan oleh Tuhan."


Jasmine terlihat bingung. "A-apa maksudmu Evan? Buah hati kita?"


"Kau sedang hamil, Jasmine. Selamat ya," ucap Helena yang berdiri bersama Axel di belakang Evan.


Jasmine membulatkan matanya.


"Kak Axel, Kak Helena," seru Jasmine.


"Ya adikku sayang. Ini kami," jawab Axel.


Axel naik ke sisi ranjang yang lain, lalu memeluk Jasmine dengan penuh kasih sayang.


"Selamat ya, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu," ucap Axel.


Jasmine tidak bisa membendung air mata bahagianya.


"A- apa benar aku hamil? Dan aku akan menjadi seorang ibu."


Evan, Axel dan Helena mengangguk.


"Terima kasih, Tuhan. Evan, kita akan menjadi orang tua," ucap Jasmine dengan penuh haru dan bahagia.


"Ya sayang. Kita akan menjadi orang tua. Tuhan telah mengabulkan doa kita selama ini," ucap Evan sambil memeluk Jasmine.


Axel dan Helena segera keluar dari kamar, meninggalkan Evan dan Jasmine berdua untuk meluapkan kebahagiaan atas kehadiran calon buah cinta mereka.


"Bagaimana, Kak? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Hans yang sejak tadi menunggu di ruang keluarga.


"Tadi, Jasmine sempat tidak sadarkan diri," jawab Axel.


"Apa Evan telah bersikap kasar padanya?" Hans terlihat marah.


"Tidak. Bukan seperti itu. Evan dan Jasmine memang sempat bertengkar tadi karena salah paham, tapi sekarang permasalahan mereka sudah selesai. Malahan mereka sedang berbahagia saat ini, karena sebentar lagi mereka akan memberikan calon keponakan baru kita," terang Helena sambil tersenyum.


Hans mencerna ucapan kakaknya itu.


"Hah?! Jasmine hamil?" ucap Hans sampil membelalakkan matanya.


Axel dan Helena mengangguk dengan kompak.


"Ini berita yang sangat membahagiakan, Kak. Papa Zayn, Mama Aline, dan seluruh keluarga besar Alvaro juga Sahir pasti senang sekali mendengar berita bahagia ini."


"Tidak perlu diragukan lagi. Tapi kau jangan memberitahu mereka dulu. Kami akan memberikan kejutan untuk mereka," ucap Axel.


Hans mengangguk paham.


"Kami tidak salah dengar kan, Kak? Apa benar Kak Jasmine sedang hamil?" tanya Yudistira yang baru saja bergabung bersama Vira dengan raut wajah bahagia.


"Kau tidak salah dengar, Yud. Alhamdulillah Jasmine sedang hamil sekarang," jawab Helena.


"Alhamdulillah, Kak. Aku dan Vira ikut senang. Ya kan sayang?" ucap Yudistira.


"Ya, Mas. Alhamdulillah tak lama lagi mansion ini akan ramai dengan suara bayi yang menggemaskan," sahut Vira dengan senyum bahagia.


Jasmine tiada henti mengelus perutnya yang masih datar. Evan masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur dan sup hangat buatan Helena.


"Ayo sayang makan dulu," ucap Evan.


"Terima kasih, suamiku sayang."


Jasmine mau mengambil sendok, namun Evan melarangnya. "Aku yang akan menyuapimu."


Jasmine makan dengan lahapnya, karena perutnya sudah lapar sekali. Apalagi setelah tahu ada janin di dalam kandungannya. Jasmine menghabiskan bubur dan supnya tanpa bersisa.


"Apa kau sudah makan, sayang?" tanya Jasmine.


"Sebentar lagi aku makan. Oh ya, Kak Helena tadi mengatakan jika sebaiknya kita pergi ke dokter kandungan," ucap Evan.


"Kalau begitu, setelah kau selesai makan kita pergi ke rumah sakit. Aku juga sudah tidak sabar ingin melihat calon anak kita," sahut Jasmine antusias.


"Sesuai keinginanmu, my sunshine," ucap Evan lalu mencium kening Jasmine.

__ADS_1


...***...


"Saya ucapkan selamat, Nyonya positif hamil, Tuan. Dan kalian berdua akan mendapatkan dua bayi sekaligus. Kedua calon kalian berkembang dengan baik," ucap dokter Anna sambil tersenyum.


Mata Evan dan Jasmine berbinar saat menatap layar monitor saat dokter sedang melakukan USG.


"Alhamdulillah, Tuhan memberikan kita dua anak sekaligus, sayang, Baby Twins," ucap Evan penuh syukur.


Jasmine mengangguk sambil menangis haru. Bukan hanya Evan dan Jasmine yang berada di ruangan dokter, tap Axel dan Helena juga ikut masuk. Sedangkan Baby Triplets menunggu di luar ruangan bersama Hans, Yudistira dan Vira. Kebetulan dokter Anna adalah salah satu teman kuliah Helena. Mereka sangat bahagia mengetahui Jasmine hamil anak kembar.


Axel mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video.


"Assalamualaikum. Pa, Ma," sapa Axel.


"Waalaikumsalam. Nak. Kami sudah menunggu kabar kalian sejak tadi. Bukankah kau berjanji akan langsung menghubungi Mama jika sudah tiba di Amerika?" ucap Nyonya Aline.


"Axel minta maaf ya Ma. Axel baru bixsa menghubungi Mama," ujar Evan.


Tak lama kemudian, panggilan video mereka juga tersambung dengan ponsel Tuan Alex, Tuan Farhan dan Tuan Kareem.


"Ada apa Axel? Mengapa kau menghubungi kami semua?" tanya Tuan Alex.


"Kami ingin memberikan kabar bahagia untuk kalian semua," ucap Axel sambil tersenyum.


Axel mengubah pengaturan kamera ponselnya sehingga menjadi kamera belakang dan mengarahkannya ke layar monitor. Para orang tua itu membelalakkan mata mereka.


"I-itu hasil USG, bukan?" ucap Nyonya Aline.


"Dan gambarnya ada dua," sahut Nyonya Savira.


Mereka terbelalakkan kembali.


"Helena hamil? Dan kalian akan mendapatkan anak kembar lagi?" seru mereka.


Jasmine dan Evan tak bisa menahan tawa mereka.


"Ish, bukan Helena, tapi cucu tercantik di keluarga Alvaro," ucap Axel.


"Jasmine?! Jasmine hamil?"


Axel menangguk, lalu memberikan ponselnya kelada Evan dan Jasmine. Ucapan puji syukur terus terucap dari bibir para tetua. Mereka mengucapkan selamat kepada Evan dan Jasmine. Nyonya Aline dan Nyonya Diah sampai meneteskan air mata bahagia.


Dokter Anna juga ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan. Tak lama kemudian panggilan video pun berakhir. Mereka segera keluar dari ruangan dokter Anna setelah mendengarkan penjelasan tentang kondisi Jasmine serta semua arahan dan nasihat yang dokter berikan untuk sang calon ibu.


Baby Triplets berebut foto hasil USG.


Evan dan Jasmine tertawa pelan.


"Uncle dan Aunty belum tahu sayang. Dedek bayinya cantik apa tampan," jawab Evan.


"Memangnya kalau dedek bayinya tampan, Cilla tidak suka?" goda Jasmine.


"Sukalah Aunty. Tapi kasihan Kak Arka dan Kak Arsha harus menemani Cilla main boneka terus," jawab Arsyilla sambil menatap wajah kedua saudara kembarnya.


"Kak Arka tidak apa-apa kok menemani Cilla main boneka terus," ucap Arkana.


"Kak Arsha juga, yang penting Cilla senang," sahut Arshaka sambil tersenyum.


"Terima kasih kakak-kakakku sayang," ucap Arsyilla sambil memeluk Arkana dan Arshaka.


"Oh, manis sekali anak-anak hebat Mommy. Mommy dan Daddy sangat bangga dan bahagia dengan kasih sayang kalian bertiga," ucap Helena, lalu berjongkok.


"Sini, peluk Mommy."


Baby Triplets langsung berhambur ke dalam pelukan ibu mereka.


"Panggilan selanjutnya atas nama Nyonya Vira Gunawan," teriak seorang perawat.


"Mas, mengapa namaku dipanggil? Aku kan tidak mendaftar tadi?"


Vira dan Yudistira saling berpandangan dengan wajah bingung.


"Aku yang telah mendaftarkanmu, Vira. Sekalian kita periksakan kondisi kesehatanmu," ucap Helena.


"Tapi aku kan tidak sakit, Kak. Lagipula aku kan," ujar Vira menggantung.


"Sudahlah. Ayo, aku akan menemani kalian," ajak Helena.


Yudistira dan Vira pun mengikuti Helena ke dalam ruangan dokter Anna.


"Silakan masuk," ucap dokter Anna.


Yudistira dan Vira duduk di kursi seberang meja dokter Anna.


"Dokter Helena sudah menceritakan kepadaku tentang masalah yang terjadi sebelumnya yaitu Nyonya Vira pernah mengalami keguguran," ujar dokter Anna. "Sebelum ini, apakah Nyonya pernah melakukan pemeriksaan lagi?"


Vira menggeleng. "Belum dokter. Panggil saja Vira, saya merasa canggung dengan sebutan Nyonya."

__ADS_1


"Baiklah Vira. Kalau begitu, saya akan memeriksa kondisimu sekarang."


Dokter Anna segera melakukan pemeriksaan menggunakan alat USG. Vira terlihat tegang dan wajahnya mulai memucat.


"Tidak perlu tegang, sayang. Ada aku di sini," lirih Yudistira sambil menggenggam tangan Vira.


"Kondisi rahim Vira bagus dan tidak ada masalah. Apakah saat ini kau sedang mengkonsumsi obat penunda kehamilan?"


"B-benar dokter. Kami memang sepakat menunda untuk memiliki anak," jawab Vira dengan wajah menahan rasa sedih.


Dokter Anna tersenyum. "Saya setuju dengan keputusan kalian. Saya sarankan sebaiknya kalian memang menunda kehamilan terlebih dahulu."


"Mengapa seperti itu dokter? Bukankah dokter tadi mengatakan jika rahim saya baik-baik saja?" tanya Vira.


"Memang benar, kondisi rahimmu sehat. Namun, usia Vira saat ini masih muda, 19 tahun. Pasalnya, organ-organ reproduksi wanita berusia di bawah 20 tahun belum terbentuk sempurna. Tidak sedikit para calon ibu di usia muda akan beresiko tinggi mengalami keguguran, meskipun tidak semuanya ibu hamil di usia muda akan mengalami hal yang sama. Apalagi Vira sudah pernah mengalami keguguran sebelumnya," terang dokter Anna.


Vira terlihat menahan tangis.


"Hei, jangan bersedih sayang. Kita menunda kehamilan bukan berarti Mas tidak ingin punya anak darimu. Tapi Mas tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya," ucap Yudistira dengan lembut.


"Kau tidak perlu bersedih atau cemas, Vira. Jika Tuhan berkehendak, kalian pasti akan diberikan keturunan nantinya," ujar Helena dengan lembut.


"Saran saya, setidaknya kalian menunda kehamilan selama 2 tahun sampai kondisi tubuh dan psikis Vira siap untuk menyambut kehadiran buah hati kalian. Selain itu, saya juga memberikan alat kontrasepsi yang baik dan aman untuk kesehatan rahim Vira," ucap dokter Anna.


Wajah sedih Vira berangsur menghilang. Vira mengangguk setuju. Saat ini hatinya benar-benar setuju dan ikhlas untuk menunda proses kehamilannya. Vira berjanji akan mengikuti semua saran dokter agar dia bisa menjaga kesehatan tubuhnya. Dan pada saatnya nanti dia akan benar-benar siap untuk mengandung buah cintanya dengan Yudistira.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, mereka segera kembali ke mansion.


"Bagaimana Hans? Apa kau sudah mendapatkan petunjuk tentang masalah Evan dan Jasmine tadi siang?" tanya Axel.


"Yah sudah ada, Kak. Tapi aku masih belum menemukan petunjuk tentang para pria yang berusaha mencelakai Jasmine. Karena kamera CCTV di area toilet dan sekitarnya sengaja dibuat rusak dan mati. Aku yakin ada yang menyabotase. Lebih kesalnya lagi, aku juga tidak tahu bagaimana wajah mereka," jawab Hans.


"Sial! Jangan sampai mereka berhasil kabur," ucap Axel kesal.


"Daddy, Uncle," panggil Arkana yang tiba-tiba datang dan ikut bergabung.


"Ya sayang," jawab Axel sambil tersenyum.


Mimik wajah Axel seketika berubah lembut jika berhadapan dengan Baby Triplets.


"Adakah orang jahat yang ingin menunjukkan wajah aslinya di depan orang banyak?" tanya Arkana dengan wajah polosnya.


"Tentu saja tidak. Itu sama saja dengan bu nuh diri," jawab Hans.


Axel langsung memberikan tatapan tajamnya kepada Hans.


"Emm... maksud Uncle itu sama saja mereka ingin menyerahkan diri dan mengakui kesalahan mereka." Hans dengan cepat mengoreksi kata-katanya.


Sosok yang sedang dia hadapi saat ini adalah anak berusia belum genap 3 tahun, sehingga dia harus berhati-hati dalam memilih kosa kata.


"Bukankah semua bangunan itu mempunyai yang namanya pintu depan dan pintu belakang?" tanya Arkana lagi, namun sambil menyeringai.


Axel dan Hans langsung tersadar dan mengerti maksud dari ucapan Baby Arkana.


"Kau memang genius, Arkana sayang. Mengapa aku tidak berpikir ke sana," seru Hans dengan wajah bahagianya.


Hans langsung memeriksa rekaman CCTV yang ada di bagian belakang bangunan kampus, serta pintu-pintu cadanga selain pintu utama. Wajah Hans langsung berbinar.


"Gotcha!"


"Bagus, kirimkan alamat para baji ngan itu kepadaku. Supaya anak buahku bisa segera menyeret ketiganya dan membawanya ke markas," ucap Axel.


"Maaf Tuan. Bolehkah saya saja yang menyeret mereka? Sekalian untuk melemaskan otot-otot saya," tanya Mark dengan senyuman smirknya.


"Dengan senang hati Mark. Kau boleh melakukan sesuka hatimu dan bersenang-senanglah," jawab Axel.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2