Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 74. Memaafkan


__ADS_3

Helena sedang berada di sebuah restoran seafood yang ada di pusat kota Berlin. Helena ingin sekali makan "German salmon fillet on zucchini and tomatoes", yang merupakan olahan ikan salmon yang paling digemari oleh masyarakat Jerman.


Dokter Reymond yang tampan pun menjadi sasaran empuk Helena. Kali ini Reymond bukan hanya mengawasi sang chef saat memasak, tapi Reymond juga harus ikut memasaknya.


Jasmine, Evan dan Hans ditugaskan oleh Axel untuk mengawal istrinya. Axel harus menghadiri pertemuan penting dengan klien bersama Tuan Zayn, Tuan Vero dan kedua asistennya, sehingga dia tidak bisa mendampingi Helena.


"Kak, aku mau mengintip ke dapur restoran sebentar ya. Hans sejak tadi terus mengirimkan foto Kak Rey dan Evan yang sedang memasak. Aku jadi penasaran. Apa kakak mau ikut?" ucap Jasmine.


"Kau pergilah. Kakak menunggu di sini saja," sahut Helena, lalu menyesap orange juicenya.


"Baiklah. Aku tidak akan lama," ucap Jasmine.


Jasmine segera melangkahkan kakinya ke dapur restoran diantarkan oleh salah satu pelayan restoran.


"Selamat, Nyonya Helena," sapa Heidi.


Helena sedikit terkejut dengan kedatangan Heidi.


"Selamat siang, Nona Heidi," ucap Helena sambil memaksakan senyumannya.


"Kebetulan kita bertemu di sini. Apa saya boleh duduk di sini sebentar? Ada yang ingin saya sampaikan pada Anda," ucap Heidi.


"Silakan," jawab Helena.


Heidi segera menarik kursi dan duduk di depan Helena. Heidi terdiam dan menunduk malu.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Nona Heidi?" tanya Helena.


"S-saya, saya ingin meminta maaf kepada Anda atas sikap dan ucapan saya yang tidak sopan kepada Anda beberapa waktu yang lalu. Saya minta maaf telah memiliki perasaan pada Tuan Axel dan berharap bisa memilikinya. Saya akui saya salah. Saya sangat malu dan menyesal, dan saya benar-benar meminta maaf kepada Anda," ucap Heidi sambil menatap Helena.


Helena menatap lekat kedua bola mata Heidi dan Helena tidak melihat kebohongan di sana. Helena menghela napas panjang.


"Aku sudah memaafkanmu. Dan aku harap kau tidak lagi menyimpan perasaan dan mengharapkan suamiku lagi. Karena aku tidak akan pernah membiarkan siapapun yang berusaha mengusik kebahagiaan kami," ucap Helena.


Heidi tersenyum.


"Terima kasih Nyonya. Saya janji akan membuang perasaan saya kepada suami Anda dan saya tidak akan mengharapkannya lagi. Saya sadar, saya tidak sebanding dengan Anda, Nyonya," ucap Heidi.


"Kau itu wanita yang cantik, cerdas dan berkelas. Aku yakin Tuhan sudah menyiapkan pria yang luar biasa untukmu," ucap Helena.


Heidi tersenyum mendengar ucapan Helena.


"Apa kita bisa berteman?" tanya Helena.


Heidi melebarkan kedua bola matanya.


"Apa Nyonya serius?" tanya Heidi tak percaya.


"Panggil saja Helena, jika kau bersedia menjadi temanku," jawab Helena.


Heidi langsung mengangguk.


"Tentu saja aku mau. Aku mau menjadi temanmu, Helena," ucap Heidi sambil menangis haru.


Helena segera berdiri dan memeluk Heidi. Heidi sangat bahagia, karena Helena mau menjadi temannya dengan tulus setelah semua yang telah dia perbuat. Helena mengurai pelukan mereka.


"Sudah jangan menangis lagi, wajah cantikmu jadi luntur. Nanti jodohmu tidak bisa mengenalimu," goda Helena sambil tertawa.


Heidi langsung menghapus air matanya sambil tertawa.


Jasmine, Reymond, Evan dan Hans terkejut melihat keakraban dua wanita itu.


"Mau apa wanita itu datang ke sini dan menemui Kak Helena?" gumam Jasmine dengan tatapan tidak senang.


"Memangnya siapa dia?" tanya Reymond.


"Dia adalah salah satu wanita tertarik dengan Kak Axel, Heidi Calland. Dan aku sudah memberikan ancaman padanya," jawab Jasmine kesal.


"Tapi sepertinya hubungan mereka terlihat baik," ucap Evan.


Hans mengangguk setuju.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Sekali lagi terima kasih banyak. Hatiku sudah tenang sekarang. Semoga harimu menyenangkan," ucap Heidi.


"Baiklah. Hati-hati Heidi," ucap Helena.


Heidi mengangguk, lalu melangkahkan kakinya keluar dari restoran.


"Mau apa wanita itu datang kemari, Kak?" tanya Jasmine.


Helena terkejut tiba-tiba Jasmine dan yang lainnya sudah berada di belakangnya.

__ADS_1


"Mmm... Heidi ingin meminta maaf padaku. Dan dia juga mengatakan jika dia sudah menyerah dan tidak akan mengharapkan Axel lagi," jawab Helena.


"Kakak percaya begitu saja?" cerca Jasmine.


Helena tersenyum sambil memeluk lengan adik iparnya.


"Kita kan tidak boleh berburuk sangka kepada orang yang beritikad baik pada kita. Lagi pula aku melihat ketulusan di matanya," jawab Helena.


"Sudah-sudah. Jangan berpikirian buruk lagi Jasmine. Sebaiknya kita makan sekarang. Aku sudah lapar," ucap Hans.


"Benar kata Hans. Sebaiknya kita makan sekarang. Aku juga sudah tidak ingin mencicipi makanan yang terlihat menggiurkan ini," sahut Helena.


Mereka berlima pun menyantap masakan yang sudah susah payah dimasak oleh Reymond dengan bantuan chef restoran dan Evan.


Heidi sudah berada di luar restoran dan berjalan menuju mobilnya. Secara tidak sengaja dia bertabrakan dengan seorang wanita.


"Maaf Nona, apa Anda baik-baik saja?" tanya Heidi.


Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat wajah Heidi, lalu tersenyum sinis.


"Kau Heidi Calland, bukan? Mantan tunangannya Robin," ucap wanita itu sinis.


"Kau siapa? Bagaimana kau bisa mengetahui tentang diriku dan Robin?" tanya Heidi penasaran.


"Namamu Cecilia, kekasih Robin, wanita yang berhasil membuat Robil meninggalkan wanita freak sepertimu," ucap Cecilia dengan sombongnya.


"Jadi kau wanita j****g itu," sahut Heidi sambil menahan emosinya.


"Jaga bicaramu! Aku bukanlah j****g, tapi wanita yang dicintai oleh Robin," bentak Cecilia.


"Lebih tepatnya perebut kekasih orang lain," ucap Heidi.


Cecilia terkekeh.


"Aku tidak merebut Robin darimu, tapi dia sendiri yang jatuh cinta padaku. Apa kau tahu alasannya, Heidi?" ucap Cecilia.


Heidi hanya memberikan tatapan dinginnya.


"Karena kau itu wanita sombong, sok pintar dan membosankan. Mana ada pria yang mau dengan wanita sok berkuasa sepertimu. Kau selalu merasa sok pintar dengan mengatur apapun yang harus Robin lakukan dalam memimpin perusahaannya. Dan yang membuat Robin jengah denganmu, kau itu sok jual mahal. Seorang pria tidak hanya butuh sekedar cinta, tapi juga kehangatan dari seorang wanita. Pelayanan dan kenikmatan di atas ranjang. Dan semua itu Robin dapatkan dariku," ucap Cecilia dengan sombongnya.


Heidi meremas gaunnya. Rasa sakit dari masa lalunya kembali lagi.


"Dasar wanita murahan!" umpat Heidi.


Rahang Heidi mengeras. Cecilia berjalan mendekati Heidi.


"Aku juga ingin memberikan kabar bahagia. Aku sedang mengandung anak Robin dan sebentar lagi kami akan menikah," bisik Cecilia.


Cecilia melangkah pergi meninggalkan Heidi yang masih terdiam sambil tersenyum penuh kemenangan. Heidi segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi sambil menangis. Heidi tidak bisa membendung lagi air matanya yang mengalir. Luka dihatinya yang mulai tertutup, saat ini terbuka kembali.


...*****...


Reymond memarkir mobilnya di depan sebuah club malam. Sepupunya Harlan, mengundangnya ke pesta ulang tahun salah satu temannya.


"Mengapa Harlan memintaku datang ke tempat seperti ini? Dia kan sudah tahu jika aku sudah berhenti minum," gumam Reymond.


Reymond segera turun dari mobil dan masuk ke dalam club. Harlan sudah menunggunya di dekat bar.


"Rey!" panggil Harlan.


Reymond segera berjalan ke tempat Harlan.


"Hai, Harlan. Di mana pestanya?" tanya Reymond.


"Pestanya diadakan di ruang VIP. Ayo kita ke sana," ajak Harlan.


"Harlan, kau tahu kan jika aku sudah berhenti minum," ucap Reymond.


"Kau tenang saja, kau bisa meminum jus jeruk atau jus lemon. Aku sudah memesannya spesial untukmu dan dijamin tanpa alkohol," sahut Harlan.


Reymond dan Harlan menuju tempat pesta yang sudah dimulai. Harlan mengenalkan Reymond kepada teman-temannya. Reymond ikut menikmati pesta tersebut. Ada beberapa teman wanita Harlan mencoba mendekatinya, namun Reymond bersikap biasa saja.


"Harlan, aku pergi ke toilet dulu," ucap Reymond.


"OK. Apa kau tahu di mana tempatnya?" sahut Harlan.


"Kau tenang saja, aku tidak akan kesasar," ucap Reymond.


Reymond segera keluar dari ruangan itu menuju toilet. Ketika akan kembali lagi ke ruangan pesta, Reymond melihat seorang wanita yang dilihatnya bersama Helena di restoran tadi siang, sedang dalam kondisi mabuk berat dengan meletakkan kepalanya di atas meja bar.


"Wanita itu kan yang menemui Helena tadi siang," gumam Reymond.

__ADS_1


"Apa peduliku? Aku juga tidak kenal dengannya," lanjutnya.


Reymond berusaha mengabaikan Heidi yang sudah dalam keadaan mabuk berat, dan melanjutkan langkah kakinya menuju tempat pesta. Namun saat dia melihat ada dua orang pria yang terlihat mendekati Heidi dan berniat melakukan hal tak senonoh, Reymond langsung mengubah arah jalannya.


Reymond segera menahan tangan salah seorang pria yang hendak menyentuh tubuh Heidi.


"Hei siapa kau?" tanya pria itu.


"Maaf Tuan, wanita ini teman saya," jawab Reymond dengan sopan.


"Kau pikir kami percaya begitu saja?" bentak pria yang satunya.


Pria itu memberikan pukulannya ke arah wajah Reymond, namun Reymond berhasil menghindar dan memberikan pukulan balik. Baku hantam pun terjadi, sampai security melerai mereka.


"Ada apa ini? Mengapa kalian membuat keributan di sini?" tanya manager club.


"Pria ini mencari masalah dulu pada kami," jawab salah seorang pria yang mengeroyok Reymond.


"Itu tidak benar Tuan. Saya hanya ingin membawa teman saya yang sudah mabuk ini pergi, tapi mereka melarang dan malah menyerang saya," ucap Reymond tak terima.


"Apa buktinya jika wanita ini temanmu?" tanya manager club.


"Silakan cek kartu pengenalnya, namanya Heidi Calland," jawab Reymond.


Beruntung Jasmine sempat memberitahu nama wanita itu dan Reymond mengingatnya.


Manager club memeriksa tas Heidi dan melihat kartu pengenalnya.


"Tuan ini benar, nama wanita ini Heidi Calland," ucap manager club.


"Security! Bawa kedua pria ini keluar dari sini karena telah membuat keributan," perintah manager club.


Security segera membawa kedua pria yang sudah mabuk itu keluar dari club.


"Sebaiknya Anda segera membawa teman Anda ini pulang, Tuan," ucap manager club.


"Baik Tuan. Terima kasih," ucap Reymond.


Reymond segera memapah Heidi dan mengambil tasnya. Heidi berjalan dengan sempoyongan.


"Pergi kau pria tak tahu diri. Menjauhlah dariku," ucap Heidi sambil mendorong Reymond.


Heidi yang terlepas dari pegangan Reymond terjatuh di lantai. Reymond segera membantu Heidi untuk berdiri lagi.


"Orang mabuk memang benar-benar menyusahkan," gerutu Reymond.


"Uhuk...uhuk...."


"Hei jangan sampai kau muntah!" hardik Reymond.


"Hoeekk....hoeeekkk...," Heidi muntah mengenai baju dan sepatu Reymond.


"Aaarrgg!" teriak Reymond.


Heidi mengusap bibirnya dengan tangannya. Reymond segera membawanya masuk ke dalam mobil. Kemudian mengirimkan pesan ke Harlan dan mengatakan jika dirinya pulang lebih dulu dengan alasan sakit perut.


"Hei, bangun. Katakan di mana rumahmu?" tanya Reymond, namun tidak ada jawaban dari Heidi.


Reymond mengambil tas Heidi dan mencari petunjuk. Namun hasilnya nihil. Di kartu pengenal tertera jika Heidi berwargakenegaraan Inggris.


"Mengesalkan sekali. Padahal seharian ini aku sudah menyenangkan hati wanita hamil, seharusnya aku mendapatkan pahala bukannya musibah," gerutu Reymond.


Reymond segera menyalakan mobilnya, kemudian pergi meninggalkan area club tersebut.


Bersambung ...


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2