
Dua hari setelah kepergian Helena dari mansion, Marco mendapatkan surat panggilan dari pengadilan untuk memenuhi gugatan cerai yang telah diajukan oleh Helena. Marco sangat marah, dia langsung menyobek surat itu. Marco juga membanting beberapa barang yang ada di mansionnya. Hal itu membuat Sherly dan Nyonya Miranda takut. Setelah lelah mengamuk, Marco melangkahkan kakinya menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamar Helena dan menguncinya.
Sherly keluar dari kamarnya sambil menenteng tas di bahunya. Dia menghampiri ibu mertuanya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Mama. Sherly ijin keluar sebentar. Sherly mau mengambil barang yang tertinggal di apartemen," ucap Sherly.
"Apa kamu mau Mama temani sayang?" tanya Nyonya Miranda.
"Tidak perlu Ma. Aku bisa ke sana sendiri. Lagi pula kandunganku juga baik-baik saja. Mama tidak perlu khawatir. Sherly sudah memesan taksi, dan sedang menunggu di depan," jawab Sherly.
"Baiklah. Kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa kamu hubungi Mama atau Marco," ujar Nyonya Miranda.
"Iya Ma, pasti. Sherly pergi dulu ya Ma," ucap Sherly pergi keluar dari mansion Marco.
Sherly langsung masuk ke dalam taksi yang telah menunggunya.
"Heh... Mana mungkin aku akan mengajak Mamanya Marco? Aku kan mau bersenang-senang dengan Rocky. Suasana hati Marco sedang buruk, lebih baik aku menghindar dulu dari darinya. Aku sangat merindukan Rocky dan semua sentuhannya," batin Sherly sambil tersenyum.
Helena dan Emily sudah kembali ke Jerman. Tuan Narendra memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi Helena, dia khawatir Marco akan mencoba menemui Helena dan mengganggu hidupnya lagi. Saat ini Helena dan Emily sedang makan siang di sebuah restoran yang berada di salah satu hotel berbintang.
"Dua hari lagi sidang pertama perceraianmu akan berlangsung. Apa kau sudah siap, Helen?" tanya Emily.
"Aku sudah siap, Em. Daddy juga sudah menyiapkan beberapa pengacara untuk mendampingiku selama di persidangan. Daddy dan Mommy juga akan hadir," jawab Helena.
"Baguslah kalau begitu. Aku juga akan mendampingimu," ucap Emily.
Helena mengangguk.
"Terima kasih, Em," ucap Helena.
Setelah selesai makan, Helena dan Emily segera meninggalkan restoran tersebut. Saat sampai di depan restoran, mereka melihat Sherly dan Rocky sedang berpelukan dan berc****n mesra. Keduanya baru saja keluar dari kamar hotel tempat mereka memadu kasih. Helena dan Emily membelalakkan mata mereka. Emily langsung menarik tangan Helena dan menghampiri dua insan yang sedang bercumbu mesra itu.
"Ekhm!" dehem Emily.
__ADS_1
Sherly dan Rocky melepaskan tautan bibir mereka. Sherly sangat terkejut saat melihat Helena dan Emily berada di hadapannya.
"Aku tahu kau itu memang seorang j****g, Sherly. Tapi aku tidak menyangka ternyata kau serendah ini. Kau sudah merebut Marco dari Helena, dan sekarang di luaran kau masih mencari pria lain untuk menghangatkan tubuhmu," hina Emily.
Wajah Sherly memerah dan rahangnya mengeras. Rocky hanya diam tanpa mau ikut campur.
"K****g a**r! Beraninya kau menghinaku!" bentak Sherly.
"Mengapa kau harus marah? Kenyataannya kan memang seperti itu. Apa kau tidak merasa malu dengan bayi dalam kandunganmu itu?" ucap Emily sambil tersenyum mengejek.
Helena berusaha menenangkan Emily agar tidak terus beradu mulut dengan Sherly.
"Jaga bicaramu! Ini hidupku, urusanku bukan urusanmu. Lebih baik kau hibur saja sahabatmu ini yàng sebentar lagi menjadi seorang janda," ucap Sherly sambil melihat Helena dengan tatapan mengejeknya.
Helena angkat bicara.
"Untuk apa menghiburku? Aku tidak bersedih, malah sangat bahagia akhirnya aku bisa terbebas dan tidak memiliki ikatan apapun dengan Marco lagi," ucap Helena.
Sherly terlihat kesal.
Sherly tertawa.
"Karena aku ingin merebut semua yang kau miliki, Helena. Aku sangat membencimu. Kau itu terlalu sempurna. Kau cantik, baik, cerdas, terlahir dari keluarga kaya dan selalu di penuhi kasih sayang dari semua orang yang berada di sekitarmu. Bahkan kau juga mendapatkan kekasih setampan dan sekaya Marco. Sedangkan aku, sejak kecil harus merasakan hidup susah dan serba kekurangan. Agar bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik, aku harus belajar dengan keras supaya bisa mendapatkan beasiswa. Aku semakin menderita saat kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Tuhan sangat tidak adil," jawab Sherly dengan tatapan kebencian.
"Aku sengaja mendekatimu dan berteman denganmu supaya aku bisa mengetahui kelemahanmu. Aku ingin merasakan kebahagiaan sepertimu. Dan aku juga ingin kau merasakan bagaimana hidup menderita seperti yang pernah aku rasakan dulu," ungkap Sherly sambil menyeringai.
Helena tersenyum kecut.
"Jadi kau melakukan semua ini hanya karena rasa iri di hatimu. Bahkan kau sampai merendahkan harga dirimu demi merebut Marco dariku. Aku sangat kasihan padamu, Sherly. Padahal kau itu cantik dan cerdas. Seharusnya kau bisa menjadi wanita yang lebih berharga," ucap Helena.
"Jangan coba-coba menghinaku, Helen. Sekarang aku lebih unggul darimu. Karena tak lama lagi aku akan menjadi satu-satunya istri Marco, Nyonya Muda di keluarga Austin," ucap Sherly sombong.
"Silakan saja kau ambil Marco. Aku dengan senang hati memberikannya padamu. Doakan semoga proses perceraian kami berjalan dengan lancar sehingga kau bisa secepatnya menjadi Nyonya Muda Austin," ucap Helena sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Ayo Em, kita pergi dari sini sebelum mataku sakit karena terlalu lama melihat tontonan tak senonoh," ajak Helena.
Helena dan Emily segera meninggalkan Sherly yang sedang menahan marah.
"Bagaimana Helen? Apa kau masih ingin bercerai dengan Marco? Kau lihat sendiri kan Sherly sudah berselingkuh di belakang Marco," tanya Emily saat keduanya berada di dalam mobil.
"Tentu saja. Aku tidak peduli Sherly mengkhianati Marco atau tidak, itu bukan urusanku. Aku ingin segera terbebas dari keluarga Austin," jawab Helena.
Setelah menjalani beberapa proses persidangan, akhirnya hakim pengadilan mengabulkan permohonan cerai Helena. Dengan berat hati dan berurai air mata, Marco membacakan talaknya kepada Helena dan keduanya pun resmi bercerai. Nyonya Miranda sedih melihat kondisi putranya. Saat Helena dan keluarganya akan meninggalkan kantor pengadilan, Marco menahan mereka. Marco meminta ijin untuk berbicara sebentar dengan Helena.
"Helena. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang telah aku perbuat padamu. Aku minta maaf atas semua luka yang telah aku berikan padamu. Aku minta maaf karena belum bisa membahagiakanmu selama kau menjadi istriku. Aku minta maaf karena tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Aku memang pria bodoh. Tapi aku ingin kau tahu, aku akan selalu mencintaimu. Hanya kau wanita yang ada di hatiku," ucap Marco sambil menangis.
Helena menghela napas panjang.
"Aku juga minta maaf karena belum menjadi istri yang baik untukmu, sehingga kau sampai mencari wanita lain. Terima kasih atas semua kebahagiaan dan penderitaan yang telah kau berikan padaku. Hubungan kita sudah cukup sampai di sini. Kau harus belajar mencintai Sherly, dia istrimu dan calon ibu dari anakmu. Berikan hatimu pada mereka. Aku doakan semoga kalian selalu bahagia. Aku pergi dulu, Marco. Selamat tinggal," ucap Helena.
Helena mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Marco pun menerima uluran tangan Helena. Ingin sekali rasanya dia menarik Helena ke dalam pelukannya. Hati Sherly panas saat melihat Marco memandang Helena dengan tatapan penuh cinta.
Helena ikut kedua orang tuanya kembali ke Paris. Tuan Narendra dan istrinya khawatir jika Marco berusaha untuk menemui dan mengganggu hidup Helena lagi. Sedangkan Emily menginap di masion ayahnya selama beberapa hari, lalu pergi ke Italia untuk menemui keluarga ibunya.
Bersambung...
Baca juga baca novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author dengan :
💫Tinggalkan comment
💫Tinggalkan like
💫Tinggalkan vote
__ADS_1
💫Klik favorite
Terima kasih🙏🥰