
"Dan satu hal lagi. Jangan pernah mengharapkan cinta dariku. Karena sampai kapanpun, cintaku hanya untuk Marissa," tegas Axel.
Helena hanya memberikan ekspresi biasa saja mendengar ucapan Axel, karena dia memang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi seperti saat ini. Helena mengambil map tersebut dan membaca surat perjanjian pasca pernikahan itu.
Di dalam surat perjanjian itu tertulis bahwa pernikahan mereka hanya akan bertahan selama 6 bulan. Setelah 6 bulan mereka akan berpisah dengan permohonan pisah harus dilakukan pihak kedua, yaitu Helena. Dan di dalamnya juga tertulis bahwa masing-masing pihak baik pihak pertama, Axel, maupun pihak kedua, Helena, tidak berhak mencampuri urusan satu sama lain.
Helena tersenyum sinis. Lalu dia melempar map itu kembali ke atas meja membuat Axel dan William terkejut.
"Aku tidak mau tanda tangan," ucap Helena santai.
"Apa maksudmu?" tanya Axel tak terima.
"Aku tidak mau tanda tangan. Karena semua yang tertulis di surat perjanjian itu hanya menguntungkan satu pihak saja, yaitu dirimu," jawab Helena sambil menarik satu ujung bibirnya.
Axel menyipitkan matanya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Axel kesal.
"Aku ingin di dalam surat perjanjian itu juga tertulis apa pun yang aku inginkan dalam pernikahan ini," jawab Helena.
Axel tersenyum sinis.
"Apa kau menginginkan uang kompensasi setelah bercerai? Kau tidak perlu khawatir, aka akan memberikannya dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan kau bisa mendapatkan gelar janda kaya raya," ucap Axel mengejek.
Helena terkekeh.
"Ck...ck...ck... Ternyata jalan pikiranmu sempit sekali ya," ucap Helena mengejek.
"Sebutkan apa yang kau inginkan!" bentak Axel.
"Baiklah. Pertama, aku ingin setiap pagi aku yang menyiapkan baju kerjamu. Kau tidak perlu khawatir, aku memiliki selera fashion yang bagus."
"Kedua, setiap hari kau harus sarapan di rumah dan memakan apa yang aku masak untukmu dan biasakan pamit sebelum kau berangkat kerja. Kau tidak perlu takut, profesiku sebagai dokter itu untuk menyelamatkan nyawa bukan menghilangkan nyawa orang. Jadi aku tidak akan memberimu racun."
"Ketiga, aku ingin kita melaksanakan sholat berjamaah meskipun itu hanya satu kali dalam seminggu. Meskipun pernikahan kita terjadi karena terpaksa, tapi aku juga ingin mendapatkan pahala dan kebaikan sebagai seorang istri."
"Keempat, meskipun kita tidak mencampuri urusan satu sama lain, tapi ijinkan aku untuk tetap meminta ijin padamu jika ada suatu hal yang akan aku lakukan. Karena ijin dari suami adalah ridho dari Tuhan."
"Kelima, aku ingin kita terlihat harmonis di depan keluarga besar kita. Karena bagaimana pun juga kita harus menjaga perasaan mereka."
"Keenam, selama aku masih berstatus sebagai istri sahmu, jangan sekali-sekali kau tidak mengakuiku sebagai istrimu di depan orang lain, termasuk rekan bisnismu."
"Dan selama aku masih menjadi istrimu, ijinkan aku untuk mengatur mansionmu, terutama bagian dapurmu."
__ADS_1
Helena menyebutkan semua keinginannya.
"Bagaimana? Keinginanku tidak berat kan? Dan pastinya tidak akan mengganggu urusan pribadimu," ucap Helena.
"Baiklah. Will segera perbaiki surat perjanjian ini. Tapi, aku juga ingin menambahkan," ucap Axel sambil tersenyum.
"Selama kau menjadi istriku, pekerjaan mencuci dan menyetrika semua bajuku menjadi tanggung jawabmu. Dan semua harus kau cuci menggunakan tanganmu sendiri. Kau tidak boleh menggunakan mesin cuci. Bagaimana?" Axel menyeringai.
"Tidak masalah. Asal kau tidak menginginkanku untuk mencuci tubuhmu," jawab Helena sambil tersenyum mengejek.
Axel membelalakkan matanya. Sedangkan William berusaha menahan tawanya.
"*Kali ini Axel mendapatkan lawan yang s*ebanding," batin William dengan wajah memerah menahan tawa.
"Jangan k****g a**r, Will!" gerutu Axel sambil memberikan tatapan dinginnya.
William tersentak. William segera merubah ekspresi wajahnya.
"Segera perbaiki surat perjanjian ini dan besok pagi sudah harus ada di sini," perintah Axel.
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu Tuan, Nona Helena," pamit William.
"Terima kasih, Tuan Will," ucap Helena.
William segera meninggalkan sepasang pengantin baru itu.
"Dan satu hal lagi. Kamar kita terpisah. Karena aku tidak sudi menyentuh barang bekas pria lain," ucap Axel.
Snuttt...
Hati Helena terasa nyeri. Namun dia berusaha tidak menunjukkan sakit hati yang dia rasakan kepada Axel.
"Tidak masalah. Aku juga sedang tidak ingin berbagi kamar dengan siapapun. Jadi di mana kamarku? Karena aku ingin segera beristirahat," ucap Helena sambil tersenyum.
"Bu Sari!" panggil Axel.
Bu Sari adalah maid yang dulu bekerja di mansion Zayn dan salah satu orang kepercayaan Aline. Dan sekarang bekerja di mansion Axel sesuai permintaan Aline.
"Iya Tuan," jawab Bu Sari yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Antarkan Helena ke kamarnya. Dan satu lagi, Bu Sari jangan pernah mengatakan kepada keluargaku, jika kami pisah kamar," perintah Axel.
"Baik, Tuan. Saya mengerti," ucap Bu Sari.
__ADS_1
"Mari Nona Helena saya antarkan ke kamar Anda," ajak Bu Sari.
"Terima kasih Bu Sari," ucap Helena.
"Kau boleh masuk ke kamarku pukul 05.00 pagi saat aku berada di kamar mandi, untuk menyiapkan baju kerjaku. Dan pastikan saat aku keluar dari kamar mandi kau sudah keluar dari kamarku," ucap Axel dingin.
"Baiklah, as your wish," sahut Helena.
"Oh iya, jika surat perjanjiannya sudah jadi kau beritahu aku supaya bisa segera aku tanda tangani," seru Helena sambil melenggang pergi ke menuju kamarnya meninggalkan Axel yang masih duduk di sana.
Axel menggenggam tangannya kuat. Axel berharap Helena akan menangis dan memohon seperti wanita pada umumnya. Tapi dia salah. Ada rasa kecewa di hatinya. Axel segera bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya di lantai dua. Kamarnya bersebelahan dengan kamar Helena.
jSemua sudah Axel persiapkan untuk berjaga-jaga jika keluarganya atau keluarga Helena datang berkunjung. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk memindahkan barang Helena ke kamarnya.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Axel langsung melepas bajunya dan membersihkan diri. Di kamar Helena, Bu Sari membantu Helena melepas gaun pengantinnya. Kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Bu Sari merapikan barang dan baju Helena di walk in closet. Setelah membersihkan diri, Helena keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama.
"Terima kasih banyak ya Bu Sari sudah membantu merapikan barangku," ucap Helena.
"Sama-sama, Non. Semoga Nona Helena betah tinggal di sini. Nona Helena bisa istirahat sekarang," jawab Bu Sari.
Bu Sari segera pamit dan keluar dari kamar Helena. Helena duduk di atas ranjang. Helena mengingat kembali semua ucapan Axel. Perlahan air matanya menetes. Haruskah pernikahan keduanya akan berakhir dengan perceraian seperti pernikahan pertamanya. Setelah cukup lama, Helena segera menghapus air matanya.
"Aku tidak boleh lemah. Sejak awal aku sudah tahu konsekuensi yang harus aku terima jika aku bersedia menikah dengan Axel," gumam Helena.
"Mungkin aku tidak akan pernah mendapatkan cintamu, Xel. Tapi aku akan berusaha untuk membuatmu kembali seperti sahabat kecilku dulu," ucap Helena.
Helena melaksanakan sholat terlebih dahulu kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Helena merasakan tubuhnya lelah sekali. Dan tak butuh waktu lama, dia sudah terlelap dan memasuki alam mimpinya.
Baca juga baca novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author dengan :
💫Tinggalkan comment
💫Tinggalkan like
💫Tinggalkan vote
💫Klik favorite
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1