Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 34. Pertengkaran Kecil


__ADS_3

Helena dan Axel menikmati sarapan pagi mereka di restoran mewah yang ada di hotel. Helena terlihat cantik sekali dengan balutan dress panjang sampai di bawah lutut berwarna kuning . Axel berjanji akan mengajaknya jalan-jalan hari ini.


Helena sangat bahagia dengan perubahan sikap Axel sekarang, yang lebih lembut dan perhatian padanya.


Helena mencari keberadaan Axel, dan melihat Axel berdiri di taman dekat restoran. Helena segera menghampirinya.


"Bagaimana kabar Marissa, Will? Semua baik-baik saja, kan? Anak buahmu selalu menjaganya kan? Pastikan ke manapun Marissa pergi harus berada dalam pengawasan mereka," ucap Axel.


Deg.


Hati Helena terasa sakit saat mendengar dan mengetahui Axel sangat mengkhawatirkan keadaan Marissa. Helena langsung melangkah pergi dari sana.


"Semua baik Tuan. Anda tidak perlu khawatir. Marissa saat ini kebingungan mencari keberadaan Anda," jawab William dari seberang telpon.


"Jangan sampai dia tahu di mana keberadaanku sekarang. Aku tidak mau wanita itu mengganggu kebersamaanku dengan Helena," ucap Axel.


"Perintahkan anak buahmu untuk meneror Marissa. Kirimkan hasil rekaman kamera yang kita letakkan di apartemen saat Javier mengunjunginya!" perintah Axel.


"Baik Tuan."


"Apa Anda tidak ingin menonton hasil rekamannya terlebih dahulu?" goda William.


"Tidak. Aku tidak mau kedua mata berhargaku ternoda karena tontonan unfaedah seperti itu. Lebih baik aku mempraktekkannya langsung dengan istri cantikku, bukan hanya nikmat tapi juga mendapat banyak pahala," ucap Axel dengan santainya.


William tertawa. Axel langsung memutuskan sambungan telpon mereka.


Axel segera kembali ke dalam restoran, namun Helena sudah tidak ada di sana. Axel menghubungi ponsel Helena, namun tidak ada jawaban. Axel langsung melacak ponsel Helena, ternyata Helena berada di kamar hotel.


Axel masuk ke dalam kamar, dan melihat Helena sedang duduk di atas sofa sambil melihat ikan dari balik kaca.


"Mengapa kau kembali ke kamar? Bukankah kau bilang ingin jalan-jalan?" tanya Axel lembut sambil memeluk Helena dari belakang.


Helena langsung melepaskan pelukan Axel dan berdiri.


"Aku lelah. Aku ingin istirahat," jawab Helena tanpa melihat ke arah Axel.


Axel bingung dan mengerutkan dahinya. Axel menyadari ada sesuatu yang Helena sembunyikan.


"Ada apa, El? Apa aku telah membuat kesalahan?" tanya Axel.


"Tidak. Kau tidak salah apa-apa," jawab Helena ketus.


"El. Ada apa denganmu? Apa kau sakit?" tanya Axel dengan sabar.


"Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku," jawab Helena dingin.


Axel mulai kehabisan kesabarannya. Dia berdiri dan menarik tubuh Helena supaya menghadapnya.


"Ada apa?" tanya Axel lagi.


"Apa arti diriku bagimu, Xel?" tanya Helena sambil menahan tangis.


"Mengapa kau mempertanyakannya, El? Aku sangat menginginkanmu dan aku tidak ingin kehilangan dirimu. Seharusnya kau sudah tahu," jawab Axel.


Helena tersenyum getir.


"Kau hanya menginginkan tubuhku. Benar begitu, bukan?" ucap Helena.


"Mengapa kau berkata seperti itu?" tanya Axel.


"Karena yang ada di hatimu bukan aku, tapi wanita lain, Marissa," jawab Helena sedikit membentak.


Wajah Axel berubah dingin.


"Kau pikir aku hanya menginginkan tubuhmu sebagai pem**s n****ku semata. Apa aku serendah itu di matamu?" ucap Axel.


Helena terdiam. Dia melihat kekecewaan di wajah Axel.


"Setiap kita bercin**, pernahkan aku menyebut nama Marissa? Pernahkah aku meneriakkan nama wanita lain, selain dirimu?"


"Tidak pernah kan. Jika memang di hati dan pikiranku ada wanita lain, tidak mungkin aku terus menyerukan namamu," jelas Axel.


Helena terdiam. Apa yang dikatakan Axel memang benar. Axel tidak pernah melenguhkan nama Marissa di setiap perc****an mereka.


"Sebaiknya kau istirahat sekarang," ucap Axel dingin.


Axel keluar dari kamar dan meninggalkan Helena sendirian.


Tangis Helena pun tak bisa terbendung lagi.


Sejak pertengkaran mereka pagi tadi, Helena tidak melihat Axel sama sekali. Bahkan saat malam menjelang, Axel juga tidak terlihat batang hidungnya.


Helena merasa bersalah, tapi dia tidak membohongi hatinya yang sakit saat Axel memikirkan wanita lain.


Tok... Tok... Tok...


Helena tersentak. Dia langsung membukakan pintu.


"Selamat malam, Nona. Perkenalkan saya Tania. Tuan Axel meminta saya untuk menemani Anda selama di sini. Karena Tuan Axel sedang ada pertemuan penting yang tidak bisa ditinggalkan," jelas wanita yang bernama Tania.


Tania adalah salah satu orang kepercayaan Axel. Tania memiliki keahlian dalam ilmu bela diri.


"Apa suamiku tidak ada di sini?" tanya Helena.


"Benar Nona. Tuan Axel sudah terbang meninggalkan pulau ini pagi tadi," jawab Tania.

__ADS_1


Helena semakin sedih saat mengetahui suaminya pergi tanpa pamit.


"Apa Axel semarah itu padaku?" gumam Helena dengan wajah sedih.


Tania mengerutkan dahinya.


"Maaf Nona. Anda ingin makan malam di restoran atau makanannya dibawakan ke kamar saja?" tanya Tania.


"Aku masih kenyang Tania. Tolong bawakan saja ke kamarku," jawab Helena ramah sambil memaksakan senyumnya.


"Baik Nona. Apa ada lagi yang Anda butuhkan, Nona?" tanya Tania lagi.


"Tidak ada. Terima kasih, Tania," ucap Helena.


"Sama-sama, Nona. Sebentar lagi pelayan hotel akan mengantarkan hidangan makan malam Anda," ucap Tania.


Helena menganggukkan kepalanya dan menutup pintunya setelah Tania pergi.


Helena duduk di atas ranjang. Meskipun kamar yang dia tempati terkesan sangat mewah, Helena tidak merasa senang atau bahagia.


"Seharusnya aku bisa mengontrol emosiku dan lebih bersabar lagi," lirih Helena sambil menyeka air matanya yang tumpah lagi.


Selama dua hari ini, Tania menemani Helena jalan-jalan di sekitar hotel. Bukan hanya Tania yang menjaga keamanan dan keselamatan Helena, ada beberapa bodyguard yang sengaja Axek tempatkan di sana.


"Sudah dua malam, aku tidur sendiri. Aku merindukan pelukan Axel," ucap Helena sambil duduk di atas ranjang.


Ponsel Helena berdering. Helena langsung meraih ponselnya berharap Axel yang menghubunginya.


"Mama," seru Helena saat melihat nomor ibu mertuanya yang muncul di layar ponselnya.


Mereka melakukan panggilan video.


"Assalamualaikum, Ma," salam Helena.


"Waalaikumsalam. Bagaimana kabarmu, sayang?" ucap Aline.


"Alhamdulillah Helena baik, Ma. Mama dan Papa bagaimana? Baik-baik saja, kan?" balas Helena.


"Alhamdulillah baik, sayang. Mama senang kalian menghabiskan waktu untuk berbulan madu," ucap Aline senang.


"Iya, Ma," jawab Helena tersenyum.


"Axel di mana sayang?" tanya Aline.


"Mmm... Axel sedang tidak ada di sini, Ma. Ada pertemuan penting yang harus Axel hadiri," jawab Helena sambil memaksakan senyumnya.


Aline tahu jika menantunya menutupi sesuatu.


"Ada apa sayang? Apa kalian bertengkar?" tanya Aline lembut.


"Ti-tidak Ma. Kami baik-baik saja," jawab Helena.


Helena tidak bisa menyembunyikannya lagi. Helena menceritakan semuanya kepada ibu mertuanya itu dengan air mata yang terus mengalir.


"Helena minta maaf Ma," ucap Helena.


"Kamu tidak perlu minta maaf, sayang. Permasalahan muncul di dalam suatu pernikahan itu sudah biasa. Sebenarnya Axel itu mirip sekali dengan Papanya. Papa Zayn bukan tipe pria yang akan dengan mudahnya mengumbar kata dan ucapan cinta. Tapi selalu menunjukkan kasih sayang dan perhatian dengan sikapnya," tutur Aline.


"Tapi Ma. Wanita yang dicintai Axel, Marissa, telah kembali," ucap Helena.


"Kalau Axel masih mencintai Marissa, Axel tidak akan mungkin menyentuhmu sayang. Para pria Alvaro hanya akan setia pada satu wanita. Dan mereka hanya menyentuh satu wanita saja," ucap Aline.


Helena menghela napasnya.


"Saat kalian bertemu nanti segera selesaikan masalah kalian," ujar Aline.


Helena menganggukkan kepalanya.


"Ma, bagaimana caranya menjadi istri yang baik? Sepeŕti Mama yang bisa membuat Papa Zayn sangat mencintai Mama," tanya Helena.


Aline terkekeh.


"Mama juga tidak tahu sayang. Tapi mertua Mama, Oma Savira pernah memberikan nasihat jika membahagiakan suami itu tidak cukup hanya dengan rasa cinta yang besar. Kita juga harus selalu berusaha memuaskan mereka. Puaskan perutnya, puaskan pandangan matanya dan puaskan tubuh mereka di atas ranjang," nasihat Aline.


Wajah Helena merona karena malu.


"Aduduh... Menantu kesayangan Mama wajahnya sampai memerah seperti itu. Saat berada di hadapan suami, kita harus membuang rasa malu. Mama doakan semoga masalah kalian cepat selesai ya," ucap Aline.


"Aamiin Ma. Terima kasih untuk semua nasihatnya," ucap Helena.


"Sama-sama, Nak. Assalamualaikum," ucap Aline.


"Waalaikumsalam," jawab Helena.


Sedangkan di tempat lain, Axel, Jasmine dan anak buah mereka sedang memberikan pelajaran kepada para pengkhianat Alvaro Group Jerman yang sempat berhasil melarikan diri.


"Katakan! Siapa yang sudah menyuruh kalian untuk menghancurkan perusahaan keluarga Alvaro?" bentak Axel.


"Atau kami akan membungkam mulut kalian selamanya," ucap Jasmine dengan wajah evilnya.


Tiga orang pria yang berstatus sebagai pengkhianat itu meneguk saliva mereka kasar.


"A-ampun Tuan. Ampuni kami," mohon salah seorang pria.


"Jangan berbelit-belit lagi. Tanganku sudah gatal ingin memotong lidah kalian," ucap Joe menyeringai sambil memainkan pisaunya.

__ADS_1


"Tu-tuan Javier. Dia adalah salah satu pengusaha kaya yang berasal dari Meksiko. Dia menjanjikan uang masing-masing sebesar 1 juta euro, jika kami berhasil membuat Alvaro Group mengalami kebangkrutan," jawab pria yang lain.


"Uncle Joe, bawa mereka ke kantor polisi beserta barang buktinya," perintah Axel.


"Baik Tuan," jawab Joe.


Joe dan beberapa anak buahnya membawa ketiga pengkhianat itu ke kantor polisi.


"Javier Alonso. Orang itu mencoba menantang kekuatan keluarga Alvaro. Serahkan masalah ini padaku, Kak," ucap Jasmine.


"Tidak. Ini terlalu berbahaya untukmu," tolak Axel.


"Kakak tidak perlu khawatir, ada uncle Joe dan para anak buah terlatih yang akan melindungiku. Lagi pula ada Kak Aiden dan Red Dragon yang siap membantu kita."


"Kakak fokus saja berbulan madu dengan Kak Helena. Kasihan Kak Helena, kakak tinggal begitu saja di hotel. Kalau marah jangan lama-lama. Segera ungkapkan perasaan kakak yang sebenarnya, supaya Kak Helena tidak berpikir negatif tentang Kakak. Nanti kalau Kak Helena diambil pria lain, baru menyesal," ucap Jasmine.


"Baiklah, Kakak serahkan masalah ini padamu. Kalau ada apa-apa segera hubungi Kakak," ucap Axel.


"Siap Kak!" seru Jasmine.


Axel memeluk adik kesayangannya itu sebelum kembali ke hotel untuk menemui Helena.


Malam harinya Axel tiba di hotel.


"Bagaimana Tania? Apa istriku baik-baik saja?" tanya Axel begitu tiba di hotel.


"Secara fisik, Nona Helena baik Tuan. Tapi secara emosioal, saya rasa tidak. Nona selalu terlihat murung dan sedih," jawab Tania.


"Terima kasih banyak sudah menemani istriku. Sekarang tolong kemasi barang-barang istriku. Kita akan terbang ke Switzerland," ucap Axel.


"Baik Tuan," ucap Tania.


Axel mendekati Helena yang sedang tidur. Wajah Helena terlihat sembab karena terlalu banyak menangis.


"Aku minta maaf ya sayang sudah membuatmu menangis lagi. Aku janji akan mengganti setiap kesedihan yang kau rasakan dengan kebahagiaan berlipat ganda," lirih Axel sambil menc**m kening Helena.


Axel membungkus tubuh Helena menggunakan selimut lalu mengangkatnya dan membawanya menuju private jetnya.


Helena menggeliat. Dia merasakan ada benda yang menghimpit tubuhnya. Dia membuka matanya perlahan dan tatapan matanya berhadapan dengan dada bidang yang sangat menggoda.


Helena membelalakkan matanya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat Axel lah yang sedang memeluknya. Helena bahagia sekali, dia langsung memeluk tubuh Axel erat.


"Apa kau sengaja ingin membangunkan X-Lo?" terdengar suara berat Axel.


Helena menatap wajah Axel sambil tersenyum nakal.


"L-Na merindukan X-Lo. L-Na ingin mel***t X-Lo sekarang juga," ucap Helena nakal.


Tanpa basa basi, Axel langsung bangkit dan naik ke atas tubuh Helena. Keduanya pun melakukan olahraga panas di dalam private jet.


Axel merobohkan tubuhnya di atas tubuh Helena sesaat setelah keduanya meraih puncak kenikmatan bersama-sama.


Axel mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Helena.


"Ini adalah pengalaman pertama kita berc***a di dalam private jet, El," ucap Axel sambil terkekeh.


Helena membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Dia baru menyadari jika saat ini mereka berada di sebuah kamar yang cukup sempit.


"Kau memang penuh kejutan, Xel. Untuk kedua kalinya kau membawaku pergi dalam keadaan tidak sadar," ucap Helena sambil tertawa kecil.


"Ke mana lagi kita akan berbulan madu?" tanya Helena.


"Switzerland. Saat ini suhu udara di sana cukup dingin, sangat baik untuk X-Lo dan L-Na," ucap Axel dengan tatapan nakalnya.


Helena tersenyum malu, tapi dalam hati dia sangat bahagia.


...*****...


Kebahagiaan Helena berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Marissa.


Saat ini Marissa marah bercampur takut saat melihat video m***mnya bersama Javier Alonso, yang mereka lakukan di apartemen.


"K****g a**r!" umpat Marissa.


"Siapa yang sudah menaruh kamera itu di dalam apartemen? Aku sudah memeriksa sebelumnya tapi tidak menemukan ada kamera satupun. Ini pasti ulah Javier. Dia ingin mengganggu hidupku menggunakan video ini," ucap Marissa penuh emosi setelah membuka paketan yang dikirimkan untuknya.


"Aku harus menghancurkan video ini. Aku tidak mau Axel sampai mengetahuinya. Video ini bisa menghancurkan semua rencanaku."


Marissa segera menghancurkan rekaman video itu.


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2