Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 12. Dokter Tampan Narsis


__ADS_3

"Sekarang Nona ingin saya antarkan ke mana?" tanya Joe sambil memperhatikan traffic light.


"Antarkan aku ke hotel saja, Uncle. Hans dan Azzura sudah tiba di Amerika. Mereka sedang menungguku di hotel," jawab Helena.


Joe tersenyum.


"Nona memang luar biasa dalam membuat alibi, agar terbebas dari kecurigaan Tuan Axel. Benar-benar darah keturunan Alvaro," ucap Joe.


"Aku kan Opa Alex versi perempuan, Uncle," ucap Jasmine sambil terkekeh.


Sedangkan dari dalam mobil yang terletak di sebelah mobil yang mereka tumpangi, seorang pria tampan semakin melebarkan senyumnya.


"Akhirnya aku menemukanmu, Bocilku," ucap pria itu sambil tersenyum.


Lampu hijau menyala, Joe segera menginjak gas mobilnya. Mobil di sebelah mereka pun juga dilajukan dan berusaha mengejar mobil yang dikendarai Jasmine dan Joe. Kedua mobil itu melaju dengan kencang.


"Aakkhhh!!! Evan! Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila mengendarai mobil sekencang ini? Kakak masih ingin hidup. Kakak minggu depan mau menikah, Evan!" bentak Cemal, kakak Evan si bule blasteran Indonesia dan Turki.


"Kakak diam saja. Aku sedang mengejar mobil yang di depan itu," sahut Evan sambil pandangannya fokus pada mobil Jasmine.


"Apa kau punya masalah dengan pengendara mobil di depan itu? Huaaahhhhkkkk!" teriak Cemal semakin kencang saat Evan melewati tikungan tajam dengan kecepatan tinggi.


Cemal serasa dalam mobil balap F1.


"Di dalam mobil itu, ada masa depanku, Kak," jawab Evan.


Karena keasyikan mengobrol dengan Cemal, Evan ketinggalan jauh dari mobil Jasmine. Akhirnya dia kehilangan jejak mobil Jasmine. Evan segera menepikan mobilnya dan berhenti. Evan memukul setir mobil keras karena kesal. Sedangkan Cemal langsung turun dari mobil, lalu memuntahkan semua yang ada di perutnya. Kejadian yang baru saja terjadi membuat perutnya serasa diaduk-aduk. Setelah puas, Cemal masuk kembali ke dalam mobil. Evan segera memberinya botol berisi air minum. Evan merasa bersalah melihat penderitaan yang Cemal alami sekarang.


"Aku minta maaf, Kak," ucap Evan dengan raut wajah bersalah.


Cemal hanya mengangguk lalu meminum airnya.


"Sebenarnya siapa yang sedang kau kejar tadi?" tanya Cemal.


"Jodoh masa depanku, Kak," jawab Evan.


Cemil mengerutkan dahinya.


"Bukankah kau selalu menolak setiap wanita yang mendekatimu?" tanya Cemal penasaran.


Evan menghela napas.


"Yang ini beda, Kak. Dia adalah calon menantu idaman Daddy," jawab Evan sambil tersenyum dan menaik turunkan kedua alisnya.


Cemal melebarkan matanya.


"Maksudmu anak perempuan yang dulu pernah mengalahkanmu di lomba olimpiade saint?" tanya Cemal tak percaya.


"Iya. Tapi aku sudah kehilangan jejaknya, Kak," ucap Evan sedih.


Cemal terkekeh melihat sikap adiknya.


"Jika memang kalian berjodoh, Tuhan pasti akan mempertemukan kalian kembali. Sebaiknya kita mencari restoran atau cafe terdekat. Perut kakak lapar. Karena apa yang kakak makan tadi sudah keluar semua," ucap Cemal.


Evan mengangguk lalu segera melajukan mobilnya lagi.


Jasmine sudah tiba di hotel bintang 5 tempatnya menginap. Sesuai prediksinya, Azzura dan Hans sudah menunggu di lobby hotel.


"Jasmine!" panggil Azzura.


"Hai, Azzura! Hans! Maaf ya jika kalian harus lama menunggu," sapa Jasmine.


"Kamu juga baru sampai, santai saja," jawab Hans.


"Ini Nona kunci kamar Anda bersama Nona Azzura. Dan ini untuk Tuan Hans," ucap Joe sambil menyerahkan kunci kamar kepada Jasmine dan Hans.


"Terima kasih, Uncle," jawab mereka bersamaan.


Kemudian mereka segera masuk ke dalam kamar masing-masing untuk menaruh barang-barang mereka dan beristirahat. Joe sengaja menempatkan mereka di lantai yang sama dengan kamar yang dia tempati, dan memilih suite room. Agar Joe bisa terus menjaga dan mengawasi keamanan mereka.


Di dalam kamar, Jasmine duduk di atas ranjang dan langsung mengeluarkan tabnya. Jasmine membuka foto seorang wanita yang diambil dari rekaman CCTV di suatu bandara. Seorang wanita cantik berambut blonde bahu, memakai hot pants berbahan jeans, kaos pendek yang dilapisi jaket berbulu dan memakai sepatu boots. Wanita itu juga memakai riasan yang cukup tebal.


"Kau mau merubah gaya seperti apapun, aku akan tetap mengenalimu, Marissa," gumam Jasmine sambil menyeringai.


"Apa kau sudah menemukan wanita itu?" seru Azzura.


"Aha... Dia tidak sengaja terekam kamera CCTV di salah satu bandara yang ada di Meksiko," jawab Jasmine.


"Tapi aku belum tahu di mana keberadaannya sekarang. Aku sudah berusaha melacaknya, tapi belum berhasil. Sepertinya ada orang yang cukup berpengaruh yang sengaja memberikan keamanan yang ketat padanya," tambahnya.


"Lalu, bagaimana jika Kak Axel tahu jika Marissa masih hidup? Apa dia akan meninggalkan Kak Helena? Kalau sampai itu terjadi, kasihan sekali Kak Helena," ucap Azzura.


"Entahlah. Tapi aku akan berusaha untuk menjaga keutuhan rumah tangga mereka," ujar Jasmine.


...*****...

__ADS_1


"Bagaimana Will? Apa ada yang mencurigakan dari sikap adikku di Amerika?" tanya Axel.


"Sejauh ini aman, Tuan. Nona Jasmine beberapa hari yang lalu tinggal di mansion yang Tuan Haris beli di Minessota. Dan sekarang Nona Jasmine berada di California," jawab William.


Axel mengerutkan dahinya.


"Nona Azzura dan Tuan Hans juga berada di Amerika, Tuan. Mereka menginap di salah satu hotel di sana. Tuan Alex meminta Papa untuk menjaga mereka. Tuan Hans ingin mengunjungi bibinya, kakak dari Nyonya Charlotte yang tinggal di California. Dan mereka juga telah memesan hotel di New York, Los Angeles, dan Miami. Karena mereka juga akan berlibur ke beberapa tempat itu, Tuan," terang William.


Axel hanya menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana dengan kediaman orang tua Patrick? Apa ada petunjuk tentang keberadaanPatrick?" tanya Axel.


"Belum, Tuan. Kedua orang tua Patrick juga sedang mencari putra mereka," jawab William.


"Baiklah. Terima kasih atas laporanmu. Dan sampaikan terima kasihku pada Uncle Joe karena telah menjaga adik-adikku. Katakan juga kepada anak buah kita supaya mereka tetap mengintai mansion orang tua Patrick dan semua yang dilakukan oleh orang tua Patrick," ucap Axel.


"Baik Tuan. Terima kasih kembali Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap William, lalu melangkah keluar dari ruangan Axel.


"Jadi, Jasmine memang ingin berlibur di sana. Baguslah kalau begitu, jadi dia tidak akan mengganggu semua rencanaku," gumam Axel sambil tersenyum.


William berjalan mendekati meja kerja Irene.


"Bagaimana Irene dengan undangan dari Tuan Robinson di Jerman?" tanya William.


"Undangannya sudah kita terima Will. Acaranya akan diadakan minggu depan," jawab Irene.


"Baguslah. Nanti akan aku sampaikan kepada Tuan Axel," ucap William.


"Selamat siang, semuanya," sapa Helena yang tiba-tiba muncul di kantor Axel sambil membawa beberapa kotak makanan.


William dan Irene terkejut. Keduanya langsung menyambut kedatangan istri bos mereka itu.


"Selama siang, Nona Helena," sapa mereka.


"Apa suamiku ada di dalam ruangannya, Will?" tanya Helena.


"Ada Nona. Tuan Axel berada di ruangannya" jawab William.


"Aku tadi memasak beberapa masakan dan akan membawanya ke rumah sakit. Aku juga membuatkan untuk kalian. Kalian belum makan siang kan?" ucap Helena.


"Belum, Nona. Wah... jika Nona Helena yang memasak pasti lezat sekali," seru William dengan antusias.


Helena menyerahkan dua kotak makanan kepada William dan Irene.


"Terima kasih banyak, Nona," ucap William dan Irene bersamaan.


"Tentu saja boleh Nona. Mari saya antarkan," ucap William.


William mengetuk pintu ruangan Axel, lalu dengan perlahan membuka pintu itu.


"Permisi, Tuan. Ada Nona Helena datang ke sini ingin bertemu dengan Anda," ucap William sambil masuk ke dalam ruangan dan diikuti oleh Helena di belakangnya.


"Assalamualaikum, suamiku," salam Helena.


"Waalaikumsalam. Ada perlu apa kau datang ke sini?" tanya Axel dingin.


Helena tersenyum lalu menjatuhkan pinggulnya di atas sofa empuk yang ada di sana.


"Aku ke sini ingin mengantarkan makanan untuk makan siangmu. Karena aku hari ini ada jadwal jaga malam di rumah sakit, sehingga besok pagi tidak bisa membuatkanmu sarapan," jawab Helena sambil meletakkan kotak makan di atas meja.


"Kau bawa saja kotak makan itu. Aku sudah memesan makanan tadi untuk makan siangku," jawab Axel.


"Apa kau yakin tidak ingin memakan masakanku?" tanya Helena sambil tersenyum sinis.


"Tidak!" tegas Axel.


"Baiklah. Kalau begitu Will ini untukmu saja," ucap Helena.


William terkejut. Lalu dia melihat ke arah Axel. Axel menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih banyak, Nona," ucap Will sumringah.


Axel menatapnya tidak suka. Helena segera berdiri dan mendekat ke arah Axel.


"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu suamiku. Meskipun kau tidak sudi memakan masakanku, setidaknya ijinkan aku salim untuk mendapatkan ridho darimu dan dari Tuhan," ucap Helena.


Axel pun mengangkat tangannya dengan kaku. Helena pun salim dan mencium punggung tangannya.


"Terima kasih suamiku. Jangan lupa makan da sholat ya. Aku pergi dulu. Assalamualaikum," ucap Helena.


"Waalaikumsalam," jawab Axel.


Helena segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Axel bersama William. Setibanya di luar ruangan Axel, Helena juga berpamitan kepada William dan Irene lalu pergi meninggalkan Alvaro Group dan mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


Tak lama, masuklah seorang office boy masuk ke dalam ruangan Axel sambil membawa makanan yang sudah Axel pesan. Saat akan makan, Axel merasa kurang berselera. Dia menaruh sendok dan garpu yang dipegangnya. Axel melangkah keluar dari ruangannya. Axel melihat William dan Irene sedang makan bersama di meja Irene.

__ADS_1


"Apa menu makan siang kalian?" tanya Axel.


William dan Irene tersentak.


"Kami makan nasi rendang buatan istri Anda. Dan masakannya benar-benar lezat, Tuan. Anda beruntung sekali mendapatkan istri yang cantik, baik dan pandai memasak seperti Nona Helena, Tuan Axel," jawab Irene sambil memuji masakan Helena.


Axel meneguk salivanya dan selera makannya langsung naik saat melihat nasi padang yang sedang disantap oleh kedua asistennya itu. Lalu dia melihat kotak makan yang dibawakan Helena untuknya tadi. Axel langsung mengambilnya.


"Kenapa diambil Tuan? Bukankah Anda tidak menginginkannya tadi?" protes William.


"Istriku membawakannya untukku, jadi ini milikku," seru Axel lalu membawa kotak makan itu masuk ke dalam ruangan.


Axel langsung duduk di sofa dan membuka kotak makan itu, lalu memakan nasi rendangnya dengan lahap sampai bersih tak bersisa dengan rona wajah bahagia.


William hanya menghela napas berat.


"Dasar suami sok jual mahal. Tadi bilang tidak mau. Tapi sekarang malah doyan," batin William sedikit kesal.


...*****...


Saat tiba di rumah sakit, Helena segera memarkirkan mobilnya. Helena keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah sakit sambil menenteng rantang berisi makanan untuk dibagikan kepada teman-temannya, termasuk Aisya.


"Aduh!" teriak Helena.


Tiba-tiba ada seorang pria yang menabraknya, sehingga rantang yang dia bawa jatuh ke lantai. Beruntung penutupnya rapat, sehingga makanannya tidak sampai tumpah sepenuhnya.


"Saya minta maaf, Nona. Saya tidak sengaja, karena terburu-buru," ucap pria itu sambil melihat ke arah Helena.


"Ini rumah sakit. Seharusnya kau lebih berhati-hati," ucap Helena kesal sambil melihat pria itu.


Pria itu memiliki wajah blasteran, tinggi dan juga tampan. Pria itu langsung terpesona dengan kecantikan Helena, sedangkan Helena menatapnya kesal. Helena segera mengambil rantang makanannya.


"Kenalkan, aku Reymond. Kau bisa memanggilku Rey," ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.


"Maaf, saya tidak ada waktu. Permisi," ucap Helena sambil melangkahkan kakinya.


Namun pria yang bernama Rey itu menghadangnya.


"Setidaknya sebutkan siapa namamu, Nona cantik," ucap Rey genit.


"Dokter Rey! Dokter Helena!" sapa dokter Maya yang melihat keduanya.


"Selamat siang dokter Maya," jawab Helena.


"Siang dokter Maya. Lama tidak berjumpa. Saya kira dokter sudah mengajukan pensiun?" ucap Rey.


"Selamat siang. Masih tahun depan dokter Rey," jawab dokter Maya.


"Baiklah kalau begitu saya pulang dulu ya. Mari dokter Helena dan dokter Rey," ucap dokter Maya.


"Hati-hati dokter Maya," seru Rey.


Sedangkan Helena hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Jadi kau juga dokter di sini. Perkenalkan lagi, aku adalah dokter Rey, dokter tertampan di rumah sakit ini, Reyna," ucap Rey sambil tersenyum.


"Nama saya bukan Reyna," ketus Helena.


"Aku tahu. Reyna itu Reymond dan Helena. Bagaimana bagus bukan? Dokter tampan dan cantik. Kita pasti akan menjadi pasangan yang sangat serasi dokter Helena," ucap Rey penuh percaya diri.


Helena memutar bola matanya jengah.


"Bagiku, Anda biasa saja. Permisi," ketus Helena lalu pergi meninggalkan Rey yang berdiri di tempat.


"Hmm... Benar-benar wanita yang menarik sesuai dengan yang aku inginkan," guman Rey sambil tersenyum.


...🌹🌹🌹...


Nah Loh!!! Axel harus siap-siap ditikung ya sama dokter tampan🤭


(Maafkan author telat up karena kesehatan sedang menurun. Semoga para reader selalu diberikan kesehatan oleh Tuhan. Aamiin🤲)


Baca juga baca novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author dengan :


💫Tinggalkan comment


💫Tinggalkan like


💫Tinggalkan vote


💫Klik favorite

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2