Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 29. Kebenaran


__ADS_3

Inggris


Jasmine dan Aiden sudah tiba di rumah sakit. Pangeran Aaron sendiri yang menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang Tuan Morris dan Nona Alvaro," sapa Pangeran Aaron.


"Terima kasih Pangeran. Bagaimana kabar Anda?" ucap Aiden.


"Aku baik. Sebaiknya kita segera ke ruangan Patrick. Dokter bilang kondisinya sudah stabil. Philipe juga sudah berada di sana," ujar Pangeran Aaron.


Jasmine dan Aiden mengangguk.


Di dalam ruang rawat inapnya, Patrick baru selesai makan disuapi oleh ibunya, Nyonya Melisa. Begitu melihat Jasmine memasuki ruangan, Nyonya Melisa langsung berdiri dan menyambutnya.


"Terima kasih banyak Nona. Berkat bantuan Anda dan teman-teman Anda akhirnya putraku bisa ditemukan," ucap Nyonya Melisa sambil berlinang air mata.


"Sama-sama, Nyonya," jawab Jasmine sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak Nona," ucap Tuan Harry.


Jasmine mengangguk sambil tersenyum.


"Patrick, kenalkan ini Nona Alvaro," ucap Nyonya Melisa.


"Hai, Patrick," sapa Jasmine.


"Hai, Nona," balas Patrick.


"Wajah Anda mirip dengan kakak Anda, Nona Alvaro."


"Anda pasti akan menanyakan tentang Marissa?" tanya Patrick.


"Kau benar. Aku ingin tahu siapa Marissa sebenarnya. Dan apakah yang terjadi denganmu, juga ulah dari wanita itu?" jawab Jasmine.


Patrick menarik napas panjang.


"Wanita itu bukanlah Marissa yang sebenarnya. Dia orang lain yang menggunakan nama dan menempati posisi Marissa," ucap Patrick.


Semua orang yang berada di sana terkejut, kecuali Jasmine yang memberikan senyuman menyeringai.


"Aku tahu jika dia bukanlah Marissa yang sebenarnya sejak pertama kali uncle Mario membawa pulang anak perempuan itu ke mansion Dawson. Aku mengenal Marissa sejak dia masih bayi, sehingga aku langsung tahu jika dia bukan Marissa. Bukan hanya wajahnya yang berubah, tapi juga suara dan tingkah lakunya."


"Marissa itu gadis yang ceroboh dan kurang pintar. Dia sering melakukan kesalahan. Berbeda dengan gadis itu yang cerdas, sangat teliti dan hati-hati. Semua yang dia lakukan terlalu sempurna. Seperti seorang anak yang telah lulus dari sekolah khusus kepribadian. Ada lagi yang membedakan mereka. Marissa memiliki tahi lalat di belakang telinga bagian kirinya, sedang anak itu tidak."


"Pengasuh yang bernama yang bernama Ella, sebenarnya dia adalah ibu dari gadis itu. Aku mendengarnya sendiri gadis itu memanggilnya dengan sebutan "Mama" saat tidak ada orang lain selain mereka berdua," terang Patrick.


"Apa kau tahu siapa nama gadis itu sebenarnya?" tanya Jasmine.


Patrick menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu Bu Ella selalu memanggilnya dengan nama Putri. Dan mereka selalu menyebut tentang keluarga Alvaro. Bu Ella selalu mengatakan kepada Putri jika Tuan Muda Alvaro adalah calon suaminya, seperti pangeran yang menjadi pasangan dari putri. Dan dia harus menjadi menjadi Nyonya di keluarga Alvaro," jawab Patrick.


"Bu Ella itu wanita yang jahat. Setiap hari dia memberikan minuman yang sudah dicampur dengan serbuk putih kepada uncle Mario. Bahkan Uncle Mario dan Bu Ella berselingkuh di belakang Aunty Laila. Peristiwa kecelakaan yang menewaskan Uncle Mario dan Aunty Laila juga karena ulah Bu Ella. Dia menyuruh seseorang mencelakai mobil mereka, dan membuat seolah-olah seperti kecelakaan."


Patrick menghela napas panjang sebelum melanjutkan.


"Apa yang terjadi denganku saat ini juga karena ulah mereka. Mereka tahu jika aku mengetahui tentang pemalsuan kematian Putri dan takut jika aku memberitahu Tuan Muda Alvaro. Bu Ella meminta anak buah Javier Alonso untuk menculikku dan membawaku ke negara ini. Mereka menghajarku habis-habisan lalu membuangku ke jurang untuk menutup mulutku. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah mengirimkan orang untuk menyelamatkanku dan masih memberikan kesempatan kepadaku untuk hidup."


"Apa kau tahu di mana Ella sekarang?" tanya Jasmine.


"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu jika wanita itu suka berganti pasangan. Dia selalu mengincar pria tua kaya raya, dan dia juga suka bermain judi. Hanya itu yang aku ketahui, Nona. Aku sudah berusaha mencari tahu tentang mereka supaya aku bisa menemukan Marissa yang asli, tapi tidak pernah berhasil," jawab Patrick dengan nada sedih.


"Terima kasih banyak, Patrick. Informasi yang kau berikan sudah sangat membantu," ucap Jasmine sambil tersenyum.


"Sama-sama, Nona. Saya juga berterima kasih kepada kalian semua karena telah membantu pengobatanku dan terima kasih telah menghadirkan kedua orang tuaku di sini," balas Patrick.


"Kau harus fokus dengan kesembuhanmu. Kau harus segera sembuh, karena Marissamu sedang menunggu kedatanganmu," ucap Jasmine sambil tersenyum.


Patrick melebarkan matanya.


"Apa Nona sudah menemukan keberadaan Marissa?" tanya Patrick tak percaya.


"Bukan aku. Tapi sepupu kembarku yang telah menemukannya. Oleh sebab itu, segeralah sembuh dan temui pujaan hatimu itu," jawab Jasmine dengan nada menggoda.


Wajah Patrick merah merona. Patrick bahagia akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan Marissa, gadis kecilnya dan cinta pertamanya.


...*****...


Di salah satu hotel berbintang lima yang ada di ibu kota, Axel dan Helena saat ini sedang menghadiri undangan resepsi pernikahan dari salah satu rekan kerja Axel. Ternyata Reymond juga hadir di sana. Reymond adalah sahabat dari mempelai pria.


Axel jengkel sekali melihat Reymond ada di sana. Dan pria itu selalu mencuri-curi pandang ke arah Helena. Saat ini Reymond sedang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Hai, Helena," sapa Reymond.


"Hai, Rey. Kau berada di sini juga?" tanya Helena.


"Iya. Mempelai pengantin prianya adalah sahabatku," jawab Reymond.


Reymond memperhatikan penampilan Helena.


"Malam ini kau cantik sekali, Helena," puji Reymond.

__ADS_1


"Kau bisa saja. Terima kasih untuk pujiannya," ucap Helena sambil tersenyum malu.


"Dokter Reymond, tolong jaga pandangan mata Anda terhadap istri saya," ucap Axel dengan nada kesal.


Reymond terkekeh.


"Sekarang kau menganggapnya istri, Tuan Axel. Luar biasa! Di mana wanita murahanmu yang kemarin itu?" sindir Reymond.


"Jaga bicaramu!" ucap Axel emosi.


Reymond hendak menjawab, namun Helena menghentikannya.


"Sudah cukup! Apa kalian tidak malu bertengkar di tempat umum seperti ini?" ucap Helena kesal.


Helena langsung pergi meninggalkan kedua pria itu. Axel dan Reymond saling memberikan tatapan tajam. Ponsel Axel berdering, Marissa menghubunginya. Axel mengerutkan dahinya.


"Sebaiknya segera kau angkat telpon kekasihmu itu," ucap Reymond sambil memberikan senyuman mengejeknya.


Reymond meninggalkan Axel dan pergi mencari Helena. Axel mengangkat telpon dari Marissa.


"Halo, ada apa Cha?" tanya Axel.


"Axel, aku merindukanmu," ucap Marissa manja.


"Maaf Cha, aku sedang menghadiri undangan dari salah satu klienku," ucap Axel.


"Apa kau bersama Helena sekarang?" tanya Marissa.


"Tentu saja," jawab Axel.


Axel melihat kedua orang tuanya, Zayn dan Aline baru saja tiba. Mereka juga mendapatkan undangan. Axel tersenyum senang.


"Mengapa kau tidak mengajakku malah mengajak Helena?" tanya Marissa kesal.


"Aku tidak mungkin mengajakmu, Cha. Kedua orang tuaku juga diundang. Dan semua rekan bisnisku tahu jika Helena adalah istriku. Besok saja aku ke sana." Axel beralasan.


"Baiklah. Kalau begitu," ucap Marissa.


Panggilan telpon mereka pun terputus.


"Enak saja. Mana mungkin aku datang ke apartemen Marissa dan meninggalkan Helena di sini bersama predator seperti Reymond," gumam Axel sambil mendengus.


Axel langsung pergi ke tempat Helena. Hatinya terbakar api cemburu saat melihat Helena tertawa riang bersama Reymond.


"Sayang. Papa dan Mama juga datang. Ayo kita sapa mereka," ucap Axel lembut sambil memeluk pinggang Helena posesif.


"Eh," Helena terkejut.


"Apa benar mereka berada di sini?" tanya Helena.


"Itu mereka," ucap Axel sambil menunjuk ke arah Zayn dan Aline berada.


"Ayo kita ke sana. Aku sangat merindukan mereka," ajak Helena penuh semangat.


"Rey, kami pergi dulu ya," ucap Helena.


"Baiklah," jawab Reymond.


Axel menatap Reymond sambil memberikan senyuman penuh kemenangan. Reymond mendengus kesal. Reymond pikir Axel akan pergi menemui kekasihnya, sehingga dia bisa berduaan dengan Helena.


"Papa. Mama," sapa Helena.


"Oh hai sayangku, menantu kesayangan Mama," sapa Aline.


Helena dan Axel segera salim. Aline langsung memeluk menantunya itu. Sejak Axel dan Helena kembali dari Jerman, mereka belum bertemu sama sekali.


"Helena merindukan Mama," ucap Helena manja.


"Sama sayang. Setelah kembali dari Jerman, kalian tidak pernah berkunjung ke mansion Papa dan Mama," ucap Aline sedih.


"Helena minta maaf ya Ma. Ada banyak pekerjaan yang harus Helena selesaikan karena Helena telah mengambil cuti cukup lama," ujar Helena.


"Tidak apa-apa, Nak. Kami mengerti. Pengantin baru memang butuh banyak waktu untuk berduaan," goda Zayn.


"Papa kan sudah sangat berpengalaman, pasti sudah paham kesibukan pengantin baru," sahut Axel sambil mengerlingkan matanya pada Helena.


Helena membulatkan matanya, lalu pipinya merona. Zayn dan Aline tertawa.


"Mama berdoa semoga kalian segera memberikan Papa dan Mama cucu," ucap Aline.


"Ih Mama. Masih muda gitu sudah ingin cepat punya cucu," ujar Axel.


"Kan memang sudah waktunya, Axel jika kami memiliki cucu," sahut Zayn.


Axel mendengus kesal.


"Kau tinggal pilih. Kau berikan kami cucu atau kami akan memberikanmu adik bayi. Papa dan Mama masih sanggup memberikanmu dan adikmu, Jasmine, seorang adik bayi. Iya kan, sayang," ucap Zayn sambil memeluk pinggang istrinya.


Axel dan Helena membelalakkan mata mereka.


"Kamu itu sayang ada-ada saja. Lihatlah ekspresi mereka berdua," ucap Aline sambil terkekeh.

__ADS_1


"Tapi kan benar sayang, aku masih sanggup membuatmu hamil lagi," ucap Zayn sambil tersenyum genit.


Axel mencebikkan bibirnya.


"Dasar suamiku ini. Sudah jangan menggodaku seperti itu. Malu dilihat anak dan menantu kita," ujar Aline.


"Axel, Papa ingin bicara denganmu," ucap Zayn.


"Baik, Pa."


Axel dan Zayn berpindah tempat agar bisa bicara serius berdua.


"Biarkan saja mereka berdua, Helena. Pasti mereka mau membahas tentang pekerjaan," bisik Aline.


"Iya Ma, Helena mengerti. Kita ambil makanan saja yuk Ma, sambil duduk di sana dan melanjutkan obrolan kita," ajak Helena.


Aline mengangguk dan berjalan beriringan dengan menantunya itu.


"Ada Pa?" tanya Axel.


"Papa sudah tahu jika Marissa masih hidup dan dia datang kembali. Apa rencanamu sekarang?" tanya Zayn.


Axel terkejut.


"Kamu tidak perlu terkejut seperti itu. Selama ini Papa selalu mengawasi anak-anak Papa. Tidak ada yang bisa kalian sembunyikan, kecuali urusanmu dan Helena di dalam kamar," ucap Zayn.


"Papa juga tahu jika saat ini kau sedang bersandiwara dan memainkan sebuah drama," tambah Zayn.


Axel menghela napas.


"Jadi Papa sudah tahu," ucap Axel.


"Aku ingin menjebak Marissa dan membongkar semua kebusukannya, termasuk menangkap orang berada di belakangnya. Aku yakin sekali jika Marissa itu tidak bergerak sendiri, Pa," terang Axel.


"Selama itu baik, Papa akan mendukungmu. Tapi kau juga harus menjaga perasaan Helena. Papa tidak mau hanya karena drama ini hati Helena terluka. Helena pernah terluka karena dikhianati suami pertamanya. Jangan sampai Helena merasakan rasa sakit yang sama," nasihat Zayn.


"Axel mengerti Pa. Terima kasih atas semua nasihat dan dukungannya," ucap Axel.


Zayn langsung memeluk putra semata wayangnya itu dan kembali bergabung bersama istri mereka.


Bel apartemen Marissa berbunyi. Marissa langsung bangkit dari tidurnya dan berlari menuju pintu. Marissa tersenyum bahagia, dia yakin jika Axel lah yang datang. Marissa langsung membukakan pintu. Senyum bahagia di wajah Marissa seketika memudar.


"K-kau?" seru Marissa dengan raut wajah takut.


"Iya sayang, ini aku Javier. Apa kau tidak merindukanku?" ucap Javier yang berdiri di depan pintu bersama dua anak buahnya.


Javier mendorong Marissa dan memaksa masuk ke dalam apartemen Marissa, lalu menutup pintunya. Sedangkan anak buah Javier berjaga di luar pintu.


"M-mau apa kau? Urusan kita sudah selesai. Semua hutang ibuku sudah lunas," tanya Marissa.


"Hutang ibumu memang sudah kau lunasi dengan tubuhmu selama 1 tahun ini. Tapi aku merindukanmu sayang," jawab Javier.


"Pergi kau dari sini! Aku tidak ada urusan lagi denganmu!" bentak Marissa.


"Baiklah aku akan pergi. Tapi jangan terkejut jika kurang dari 1 jam, pacarmu yang bernama Axel itu akan mengetahui hubungan kita selama 1 tahun ini," ucap Javier mengancam.


Wajah Marissa memucat dan rahangnya mengeras.


"Bagaimana?" tanya Javier sambil tersenyum.


Marissa meneteskan air matanya.


Satu jam kemudian, Javier keluar dari apartemen Marissa dengan raut wajah penuh kepuasan dan kebahagiaan. Javier segera meninggalkan apartemen Marissa bersama kedua anak buahnya.


Sedangkan Marissa di kamar mandi menggosok giginya sambil menangis. Dia ingin menghilangkan bekas Javier yang melekat di bibir dan rongga mulutnya. Marissa juga menggosok bekas kissmark yang Javier tinggalkan di lehernya.


"Sampai kapan, aku harus berurusan dengan pria sakit jiwa itu?" pekik Marissa dalam tangisnya.


Lalu dia menatap pantulan wajahnya yang ada di cermin.


"Aku harus segera memisahkan Axel dan Helena, dan menjadi Nyonya Axello Zyan Alvaro. Dengan begitu, Javier tidak akan mengganggu hidupku lagi. Axel harus jatuh ke dalam pelukanku, bagaimanapun caranya," ucap Marissa dengan wajah evilnya.


...🌹🌹🌹...


Wadaw... Kira-kira, rencana jahat apa yang akan dilancarkan oleh Marissa???😵🤔


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2