
Candrama segera bangun setelah jatuh tersungkur di lantai akibat hantaman keras dari Evan. Sandy segera menahan tubuh Evan saat hendak menghajarnya lagi. Candrama menyentuh pipi dan sudut bibirnya yang sobek dan mengeluarkan darah. Dia menatap Evan dan tersenyum sinis.
"Mengapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku padamu, Candrama?" teriak Evan dengan wajah yang masih diliputi amarah.
Candrama terkekeh. "Karena kau telah mengambil sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku, yang seharusnya hanya menjadi milikku."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengambil apa-apa darimu? Kedua perusahaan kita bekerja sama dengan sehat," tanya Evan tak mengerti.
Candrama menyunggingkan bibirnya namun tatapannya penuh kebencian.
"Candrama Adipura. Atau harus ku panggil, Andra," seru Jasmine.
Candrama mengalihkan pandangan ke arah Jasmine. Seketika kilatan amarah dan kebencian di matanya berubah menjadi lembut dengan tatapan memuja.
"K-kau tahu nama kecilku?" ucap Candrama dengan senyum bahagia.
"Ya, aku tahu," jawab Jasmine.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Evan.
"Tidak. Tapi aku pernah bertemu dengannya saat menolongnya dari tindak pembulian di kampus, dua tahun yang lalu. Saat itu, dia dikenal sebagai kutu buku berkacamata dan juga seorang introvert," jawab Jasmine.
"Dan apa kau tahu? Karena pertolonganmu itu telah merubah diriku. Untuk pertama kalianya aku merasakan jatuh cinta, my Jasmine. Kau telah merubah pria culun, kutu buku dan berkacamata itu menjadi pria tampan dan hebat seperti sekarang. Dan perubahanku ini hanya untuk dirimu, agar aku bisa bersanding dengan bidadari sepertimu," ucap Candrama sambil tersenyum malu.
"Lancang! Beraninya kau menyukai wanitaku!" bentak Evan.
Candrama tertawa lepas seperi orang gila.
"Wanitamu? Hanya ada dalam mimpimu. Lihat dirimu sekarang Evan. Kau sudah tidak layak lagi untuk Jasmine-ku," ejek Candrama.
Evan semakin emosi. "Kurang aj*r! Tak kan kubiarkan kau mengambil wanita yang aku cintai!"
Candrama semakin terkekeh. "Akulah pria yang paling mencintainya di dunia ini. Dan hanya aku yang paling pantas menjadi pendampingnya. Kau itu sudah kotor Evan, tubuhmu sudah menjamah wanita lain."
Wajah Evan semakin memerah, emosinya sudah berada di ubun-ubun. Evan hendak meraih tubuh Candrama lagi, namun Sandy dengan dibantu oleh Bima berusaha menahannya.
"Tapi apa yang terjadi tidak sesuai dengan rencanamu," ucap Yudistira.
"Aku tidak peduli. Yang penting Evan sudah menjamah wanita lain, yang artinya dia sudah kotor dan tidak layak lagi untuk Jasmine," sahut Candrama dengan wajah meremehkan.
"Apa maksud kalian?" tanya Evan menuntut.
"Sebenarnya dia sudah menyiapkan seorang wanita yang akan tidur bersamamu di kamar 215. Lebih tepatnya, mereka berdua bekerja sama," jawab Yudistira.
Arjuna masuk ke dalam ruangan sambil menyeret Gina yang tangannya sudah diikat.
"Gina?" seru Evan.
"Ya, ini aku Evan, my prince. Kau masih mengingatku?" tanya Gina.
Gina sangat bahagia karena Evan masih mengingat dan mengenalinya.
"Tentu saja aku ingat. Kau kan salah satu teman SMA-ku," jawab Evan. "Lalu apa hubunganmu dengan Candrama? Dan mengapa kau bekerja sama dengannya?"
"Candrama adalah sepupuku. Apa kau tahu my prince? Hatiku hancur saat mengetahui pertunanganmu dengan bocah ingusan ini. Gadis bar-bar sepertinya dia tak layak untukmu. Hanya aku yang layak. Aku sudah menunggumu selama 8 tahun dan memendam cintaku hanya untukmu," jawab Gina sambil tersenyum bahagia.
Evan melebarkan matanya.
"Aku mohon menikahlah denganku. Biarkan dia bersama Candrama. Dan kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak, sayang," mohon Gina dengan wajah memelas.
"Itu mustahil, Gina. Sejak dulu cintaku hanya untuk Jasmine, dan hanya dialah wanita yang akan aku nikahi. Aku minta maaf," tegas Evan.
Gina langsung jatuh terduduk di lantai sambil menangis. Namun Arjuna tetap berdiri di sampingnya tanpa rasa iba dan takkan membiarkan Gina berhasil kabur darinya.
"Apa kau tahu, my angel. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kita bertemu. Di saat kau menolongku dari pembulian dan kau menghajar para preman kampus itu dengan kehebatanmu. Kau bagaikan malaikat pelindungku, kau adalah bidadariku. Sejak saat itu aku berusaha merubah penampilanku. Dan lihatlah sekarang aku menjadi pria tampan, hebat dan kaya raya. Banyak wanita mengejar-ngejarku, tapi hatiku hanya tertuju padamu, my angel," ucap Candrama dengan tatapan memujanya membuat Evan semakin geram.
"Tapi di balik kepolosanmu itu tersembunyi jiwa seorang stalker yang psycho," ucap Jasmine dingin.
Candrama terkekeh.
"Karena aku terlalu mencintàimu dan aku harus memastikan jika tidak ada satu pria pun yang berani mendekatimu," ungkap Candrama dengan tatapan tajam.
"Itu bukan cinta, tapi obsesi yang gila," sahut Jasmine.
Candrama tertawa seperti orang yang tak waras.
"Aku tidak peduli, karena sekarang hanya aku yang bisa memilikimu," ucap Candrama sambil tertawa.
"Aku tidak sudi bersanding dengan pria gila sepertimu!" tegas Jasmine.
"Menyerahlah pria gila dan hentikan kegilaanmu ini. Kau sudah tidak bisa lari dan berkutik lagi sekarang," teriak Bima.
Senyuman di wajah Candrama langsung menghilang dan berubah menjadi dingin.
__ADS_1
"Jika aku tak bisa memilikimu, maka siapapun juga tidak akan bisa memilikimu."
Candrama mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku jasnya dan menodongkannya ke arah Jasmine. Semuanya langsung kaget dan membelalakkan matanya.
"Hei, jangan gila kau!" hardik Pramudya.
"Hentikan Candrama! Turunkan dan buang pistolmu!" teriak Evan.
Candrama menulikan telinganya dan tersenyum ke arah Jasmine.
"Kita akan mati bersama, my angel. Setelah kau pergi, aku akan segera menyusulmu. Dan kita akan hidup bahagia bersama di surga."
Candrama mengarahkan pistolnya tepat ke jantung Jasmine dan bersiap menarik pelatuknya. Dengan cepat, Evan berlari ke arah Jasmine dan memeluknya. Evan memeluk Jasmine erat sambil menutup matanya.
Ceklek.... Ceklek... (Candrama menarik pelatuk pistol berkali-kali, namun tidak ada satu pun peluru yang keluar)
Evan membuka matanya saat tidak terdengar suara tembakan dan tubuhnya tidak merasakan apa-apa. Evan melerai pelukannya dan menatap Jasmine dengan intens. Evan menakup wajah Jasmine dengan kedua tangannya.
"Apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka kan, my sunshine?" cerca Evan dengan bulir air matanya turun dari pelupuk matanya.
"Aku baik-baik saja," ucap Jasmine pelan tanpa memutuskan kontak mata mereka.
Evan langsung mencium kening Jasmine dan memeluknya sebentar.
Candrama terus menerus menarik pelatuk pistolnya dan menatapnya dengan wajah bingung.
"Oh, ****!" teriak Candrama.
"Apa kau mencari ini?" tanya Yudistira sambil tersenyum saat menunjukkan tiga butir peluru yang berada di atas telapak tangannya.
Candrama membelalakkan matanya. "Bagaimana bisa peluru pistolku ada di tanganmu, br*ngs*k?"
Yudistira tertawa terbahak-bahak.
"Kau menganggap dirimu yang paling pintar di sini. Tanpa kau menyadari jika kau mencari masalah dengan orang yang salah. Keluarga Alvaro adalah keluarga yang memiliki otak genius secara turun temurun. Bahkan kami, para pengawal dan penjaga mereka dididik bukan hanya untuk menjadi kuat secara fisik tetapi juga memiliki otak yang cerdik," jawab Yudistira sambil menyeringai.
"Kurang aj*r!" bentak Candrama dan hendak memukul Yudistira.
Bugh... Bagh...
Yudistira memberikan pukulan dan tendangan mautnya. Tubuh Candrama langsung terlempar dan tersungkur di lantai.
"Dia pingsan!" teriak Bima saat memeriksa Candrama yang terdiam.
"Payah sekali, baru segitu saja sudah pingsan. Otot-ototku saja masih kaku," gerutu Yudistira.
"Sudahlah, sebaiknya kalian bawa mereka berdua ke kantor polisi beserta barang bukti," ucap Yudistira.
Bima dan Arjuna segera membawa Candrama dan Gina masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka menuju kantor polisi. Gina hanya diam dan pasrah saat dirinya digiring masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana? Semua bukti sudah menjelaskan jika aku masuk ke dalam kamar 216 karena kesalahan akibat dari obat yang aku minum," ucap Evan kepada Pramudya.
"Ya, kau benar. Tapi apa kau bisa membuktikan apa yang terjadi di dalam kamar itu? Dan apakah benar kau tidak menyentuh adikku sama sekali?" tanya Pramudya.
Pramudya sudah mulai bisa mengendalikan emosinya. Namun dia tidak bisa percaya begitu saja. Pramudya akan terus menuntut dan mencari keadilan untuk adiknya, Vira.
Evan terdiam.
"Masih ada satu bukti lagi. Hasil tes DNA," ucap Jasmine.
"Apa maksudmu?" tanya Pramudya.
"Yudistira dan kedua adiknya sudah mengambil sampel cairan yang ada di seprei kamar hotel 216 dan juga darah beserta rambut Evan. Dengan melakukan tes DNA, kita akan mengetahui apakah cairan itu milik Evan atau bukan," jawab Jasmine.
"Apa?" seru Evan.
"Dan bagaimana jika hasil tes DNA itu cocok?" sahut Pramudya.
"Maka Evan harus bertanggung jawab dan menikahi adikmu," jawab Jasmine dengan tegas.
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu?" tanya Evan tak terima.
"Aku setuju. Jadi kapan hasil tes DNA itu akan keluar?" tanya Pramudya.
"Paling cepat dua minggu lagi," jawab Jasmine.
"Apa kau bisa dipercaya?"
"Kami keluarga Alvaro tidak suka mengingkari janji dan selalu memegang ucapan kami," tegas Jasmine.
Pramudya mengangguk, kemudian pergi meninggalkan markas Alvaro diantarkan oleh Yudistira. Tinggallah Evan dan Jasmine di ruangan itu, karena Sandy juga segera keluar dan menunggu di dalam mobil.
"Dramanya sudah selesai. Pulanglah!" ucap Jasmine.
__ADS_1
Evan masih belum mau beranjak dari tempatnya. Jasmine segera berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti saat Evan memeluknya dari belakang.
"Aku mohon jangan seperti ini. Jangan abaikan aku. Aku tahu aku salah karena kebodohanku. Maafkan aku. Aku sangat merindukanmu," lirih Evan sambil terisak.
Jasmine hanya diam mematung.
"Hatiku tersiksa. Aku tak sanggup jika harus berpisah darimu."
Evan mencium bagian belakang kepala Jasmine. Jasmine segera melepas kedua tangan Evan yang melingkar di perutnya.
"Kita lihat saja nanti," ucap Jasmine lalu segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Evan sendiri.
Evan jatuh terduduk sambil menangis. Setelah cukup lama, Evan pun segera keluar dari ruangan itu dan pergi meninggalkan markas Alvaro. Jasmine menatap mobil Evan yang bergerak pergi meninggalkan markas.
"Aku juga tersiksa, Evan," lirih Jasmine sambil menangis.
...***...
Satu minggu telah berlalu. Dan selama itu juga Jasmine dan Evan tidak pernah bertemu. Bukan karena Evan tidak berusaha untuk menemuinya, tapi karena Jasmine yang masih tidak ingin bertemu dengannya. Dan Evan menghargai permintaan Jasmine dan selalu memperhatikannya dari jauh. Axel membebaskan Jasmine dari pekerjaan di Alvaro Group, dan berharap adiknya itu bisa menenangkan diri. Setiap hari Jasmine ikut ke butik ibunya, DńA Fashion. Jasmine menyibukkan diri dengan membantu pekerjaan Mama dan Miminya.
Ponsel Jasmine berdering dan ada panggilan video masuk dari nomor asing.
"Halo, my bestie and my beloved sister," teriak Azzura dengan raut wajah bahagia.
"Halo, kesayanganku. I miss you," ucap Jasmine sambil menunjukkan mimik wajah sedihnya.
"I miss you too. Muah... muah...."
"Sister, aku ingin memberitahumu jika dua hari lagi aku akan menikah," ucap Azzura dengan hati-hati.
"Really? Mengapa mendadak sekali? Kau tidak sedang tidak hamil dan mengandung anak Pangeran Aaron kan?" cerca Jasmine dengan mata terbelalak.
"Tentu saja tidak. Aku masih bersegel, sister."
"Eh, tunggu dulu. Kau tahu dari mana jika aku akan menikah dengan Pangeran Aaron?" tanya Azzura penasaran.
Jasmine terkekeh.
"Apa kau meragukan kegeniusan otak keturunan keluarga Alvaro, sister? Kalung yang saat ini kau pakai itu hanya ada satu di dunia ini, begitu juga dengan pemiliknya. Pangeran Aaron memberikannya padamu, karena pastinya dia sudah memilihmu sebagai calon istrinya, queen Azzura," jawab Jasmine.
Azzura menutup mulutnya.
"Sejak kapan kau tahu?"
"Sejak pertama kali kau memakainya," jawab Jasmine santai.
Azzura tersenyum malu.
"Jadi kau sudah yakin mau nikah muda?" tanya Jasmine.
"Tidak ada pilihan lain. Lagipula dia tidak terlalu buruk," jawab Azzura dengan wajah merona.
"Hehh, akhirnya kau jatuh cinta juga," ejek Jasmine.
"Ayolah, jangan mengejekku terus. Kau harus menghadiri acara pernikahanku, tidak ada penolakan. Benarkan Hans?" teriak Azzura.
Hans pun ikut bergabung ke dalam panggilan video.
"Yups, benar sekali. Kau harus datang princess. Hatimu pasti akan terhibur jika kita bertiga berkumpul dan menciptakan kehebohan seperti biasa. Aku juga sudah menyiapkan sebuah kejutan untukmu. Jika kau menolak, aku akan meminta Papa Zayn dan Kak Axel untuk memaketkanmu ke Inggris," ucap Hans.
Jasmine tersenyum.
"Kalau begitu, segera jemput aku," ucap Jasmine.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
__ADS_1
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰