Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 73. Jangan Pernah Melepaskanku


__ADS_3

Reymond berjalan dengan santainya saat memasuki ruangan pesta. Reymond mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Axel dan Helena. Sebenarnya Reymond tidak terlalu mengenal para anggota keluarga Alvaro. Kedatangan Reymond ke pesta ini karena mendapat undangan dari Axel.


Axel tidak sengaja melihat Reymond saat tiba di bandara Frankfurt. Reymond sedang mengambil cuti dan berlibur ke Jerman untuk mengunjungi sepupunya. Tanpa sepengetahuan Helena, Axel menghubungi Reymond dan mengundangnya untuk datang ke pesta Jasmine.


"Itu Axel dan Helena. Helena terlihat semakin cantik dan menggemaskan dengan perut buncitnya."


Reymond tersenyum.


"Baby triplets, Uncle Rey datang," ucap Reymond pelan.


"Helena!" panggil Rey.


Axel dan Helena segera menolehkan kepala mereka.


"Rey?" seru Helena.


Reymond segera berlari mendekati Helena. Dengan sigap Axel langsung memeluk istrinya dengan posesif.


"Ayolah Axel jangan pelit seperti itu. Aku tidak akan merebut istrimu. Aku hanya merindukan baby triplets," keluh Reymond.


"Tidak usah modus. Itu hanya alasanmu. Aku tahu kau ingin menyentuh istriku," ucap Axel ketus.


Reymond mendengus kesal.


"Bagaimana kau bisa datang kemari?" tanya Helena.


"Itu, suami kulkas tiga pintumu yang mengundangku," jawab Reymond.


Helena langsung menatap suaminya bingung.


"Kebetulan dia berada di Jerman. Aku tidak sengaja melihatnya saat kita tiba di bandara, jadi sekalian saja aku undang," ucap Axel.


Helena hanya menganggukkan kepalanya.


"Aiden, Emily. Kenalkan ini adalah Reymond."


"Dan Reymond, kenalkan ini adalah Aiden dan Emily, sahabatku dan Helena.


Aiden dan Reymond berjabat tangan.


"Senang bertemu denganmu, Reymond," ucap Aiden.


"Senang juga bertemu denganmu, Aiden. Panggil saja, Rey," ucap Reymond.


"Helena. Apa kau tidak ingin ngidam atau menginginkan sesuatu? Meskipun menyebalkan, tapi aku merindukan drama ngidammu," ucap Reymond.


Helena hanya tersenyum sambil terus mengusap perutnya.


"Ada apa sayang? Apa perutmu sakit?" tanya Axel khawatir.


"Tidak, Xel. Tapi baby triplets sedang bersemangat. Mereka menendang-nendang perutku terus," ucap Helenw sambil meringis.


"Wah, baby triplets pasti merindukan Uncle Rey ya," ucap Reymond.


"Percaya diri sekali," sahut Axel.


"Tapi sepertinya Rey benar sayang. Baby triplets senang bertemu dengan Rey sehingga membuat mereka sangat semangat," ucap Helena.


"Tuh kan benar," cibir Reymond.


"Mengapa kau bilang seperti itu sayang? Aku tidak suka anak-anakku lebih menyukai pria lain selain Daddy mereka," ucap Axel merajuk.


Aiden dan Emily tertawa melihat tingkah Axel yang seperti anak kecil.


Helena menyentuh pipi suaminya.


"Kamu tidak perlu khawatir suamiku. Kau akan tetap jadi yang nomor satu bagi mereka. Mungkin mereka semangat karena menginginkan sesuatu dari Rey. Bukankah Rey tadi bertanya apa aku sedang tidak mengidam saat ini."


"Benar kan, Rey?" ucap Helena sambil menyeringai.


"Aku benci senyumanmu yang seperti itu, Helena," sahut Rey.


Axel dan Helena tertawa melihat Reymond mengerucutkan bibirnya.


Jasmine sangat menikmati pesta malam ini, karena dia bisa menghabiskan waktu bersama keluarga besarnya, terlebih lagi bersama Evan dan Azzura. Azzura yang doyan makan tiada hentinya mengunyah makanan dan kue secara bergantian.


"Apa kau tidak takut badanmu akan membengkak jika makan banyak seperti itu, Azzura?" tanya Darrel.


"Nope. Mau aku makan banyak, atau makan sedikit badanku tetap sama dan tidak akan membengkak," jawab Azzura santai.


Darren dan Darrel menyerngitkan dahi mereka.

__ADS_1


"Kalian tidak perlu terkejut seperti itu. Azzura memang seperti ini, makannya banyak tapi badannya tidak pernah gemuk," ucap Hans.


Jasmine melihat kalung berlambang singa yang dikenakan oleh Azzura.


"Sepertinya aku tidak asing dengan kalung itu. Tapi di mana aku pernah melihatnya?" batin Jasmine sambil mengingat-ingat.


"Oh ya aku ingat. Itu kan kalung milik Pangeran Aaron, dan aku yakin itu bukan kalung biasa. Tapi mengapa kalung itu ada pada Azzura? Apa jangan-jangan mereka memiliki hubungan?"


"Ada apa Jasmine?" tanya Evan yang membuyarkan lamunan Jasmine.


"Tidak apa-apa, Evan," jawab Jasmine sambil tersenyum.


Pesta pun selesai sebelum tengah malam. Setelah para tamu pergi meninggalkan ruangan pesta, Evan dan Reymond pun pamit undur diri. Begitu juga dengan keluarga besar Morris.


"Apa kau bahagia, cucu cantiknya Opa? Apa kau menyukai pestanya?" tanya Tuan Alex.


"Sangat Opa. Terima kasih banyak," jawab Jasmine sambil memeluk Tuan Alex.


"Sebaiknya Jasmine istirahat sekarang. Papa juga, jangan tidur terlalu malam," ucap Tuan Zayn.


"Siap Papaku sayang," ucap Jasmine.


Jasmine mencium pipi Opa dan Papanya secara bergantian, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


...*****...


Di sebuah kamar dengan suasana lampu yang cukup remang, sedang terjadi pergulatan panas dari sepasang kekasih.


"Ouuhh... Aahhhh...," terdengar lenguhan dari bibir seorang wanita cantik yang berada di bawah kungkungan seorang pria.


"Suaramu merdu sekali sayang, membuatku semakin bersemangat," ucap si pria.


Pria itu semakin semangat menggempur wanita yang berada di bawahnya. Wanita itu menyeringai. Dia mendorong tubuh kekasihnya dan merubah posisi mereka. Wanita itu dengan penuh semangat menaik turunkan pinggulnya.


"Sssttt... Aaahhh... Ini nikmat sekali sayang," e******n sang pria sambil memegang pinggang kekasihnya.


Tak butuh berapa lama, sang wanita semakin mempercepat gerakannya.


"Aahhhh... Will... Aku tidak tahan lagi. Aku ingin....," d***h wanita itu.


Pria itu adalah William, yang sedang memadu kasih dengan kekasihnya.


"Together, honey," ucap William.


"Aaahhhh....," lenguhan panjang keluar dari bibir keduanya.


Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh William dengan napas yang terengah-engah.


"Terima kasih sayang. Malam ini kau sungguh luar biasa," ucap William sambil mencium pucuk kepala kekasihnya.


"Ada apa Irene? Aku tahu kau sedang marah," tanya William.


William dan Irene menjalin hubungan secara diam-diam.


Irene menegakkan badannya.


"Hatiku sedang kesal," jawab Irene ketus.


William menyerngitkan dahinya tak mengerti.


"Aku tidak suka priaku didekati wanita lain," ucap Irene.


"Apa aku membuat kesalahan, sayang?" tanya William lagi.


Irene mendengus kesal, karena William tidak peka. William tersenyum melihatnya. William menyentuh rambut Irene dan memainkannya.


"Jadi kau cemburu pada Sharon, benar kan?" goda William.


Irene memalingkan wajahnya. William menegakkan tubuhnya sehingga posisi keduanya duduk dengan saling berhadapan tanpa melepaskan penyatuan mereka.


"Jangan merajuk seperti itu, Ireneku sayang. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa, dan aku sudah menegaskan padanya jika aku sudah memiliki seorang kekasih," ucap William lembut.


"Kau tahu kan aku sangat mencintaimu, hingga aku tak sanggup melirik wanita lain lagi," tambahnya.


Irene tersenyum sambil menunduk malu. William mengangkat dagunya, lalu mencium bibir Irene dengan lembut.


"Mari kita menikah," ucap William.


Wajah Irene seketika berubah dingin, dan senyum di wajahnya pun menghilang.


"Kita sudah pernah membahasnya Will," protes Irene.

__ADS_1


William menganggukkan kepalanya.


"Aku tahu kau masih trauma dengan kegagalan pernikahan kedua orang tuamu, Irene. Tapi kita bukanlah mereka. Kita saling mencintai. Dan aku yakin kita akan hidup dengan bahagia, sayang. Aku mohon. Orang tauku juga sudah ingin melihatku menikah dan memiliki seorang istri," ucap William dengan tulus.


Irene segera bangkit dari pangkuan William dan turun dari ranjang.


"Kalau begitu carilah wanita lain untuk kau nikahi dan menjadikannya sebagai istrimu, Will. Aku tidak akan menghalangimu," ucap Irene, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Sayang, bukan seperti itu maksudku. Dengarkan dulu penjelasanku, Irene," ucap William.


Irene masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya dengan rapat. Tubuh Irene merosot ke lantai dan tangisnya pun langsung pecah.


"Maafkan aku Will. Aku sangat mencintaimu dan aku sangat ingin menjadi istrimu," isak Irene.


Tak lama kemudian, Irene berdiri dan membuka sebuah kotak di atas wastafel. Irene mengambil sebuah alat tes kehamilan yang telah dia gunakan tadi pagi.


"Aku tidak sempurna Will. Aku tidak layak untukmu," lirih Irene sambil memandang alat tes kehamilan itu dengan hasil satu garis.


William dan Irene telah menjalin hubungan cukup lama, semenjak Irene menjadi sekretaris Axel. Keduanya pun sudah sering melakukan hubungan panas itu dan tidak pernah menggunakan pengaman. Dan selama itu, Irene tidak pernah hamil. Irene sudah sering melakukan tes kehamilan tanpa sepengetahuan William.


Sampai akhirnya Irene memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Hati Irene hancur saat dokter mendiagnosa dirinya mengalami gangguan proses ovulasi karena gangguan hormon tiroid yang menyebabkannya sulit memiliki anak. Kemungkinan besar dia tidak akan bisa memberikan William keturunan.


Irene segera membuang test pack itu ke dalam tong sampah, kemudian membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air. Irene memeluk tubuhnya sambil terus menangis. Tiba-tiba dia merasakan pelukan dari belakang tubuhnya.


"Aku minta maaf, sayang," bisik William.


Irene membalikkan tubuhnya dan menghadap William.


"Kau tidak salah, Will. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku yang tidak bisa menjadi wanita yang sempurna untukmu, karena aku....," Irene tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Aku tidak peduli, Irene. Mau kau bisa hamil atau tidak, aku tidak peduli. Aku tetap mencintaimu sepenuh hatiku," sahut William.


"A-apa kau tahu?" tanya Irene dengan wajah terkejutnya.


William mengangguk.


"Aku tahu semuanya. Aku tahu kau sering membeli alat tes kehamilan dan menggunakannya tanpa sepengetahuanku. Aku tahu saat kau mengunjungi dokter kandungan untuk memeriksakan dirimu," jawab William.


"Tapi kenapa kau diam dan seolah-olah tidak tahu apa-apa, Will?" tanya Irene.


"Karena aku tidak ingin kau semakin terluka. Aku tidak ingin melihatmu sedih sayang," jawab William sambil menghapus air mata Irene.


William mencium kedua mata Irene secara bergantian.


"Aku mohon Irene, jangan pernah lagi memintaku untuk mencari wanita lain. Itu sangat menyakitkan hatiku. Aku tidak menginginkan wanita lain. Aku hanya menginginkanmu," ucap William.


Irene mengalungkan kedua tangan ke leher William lalu menempelkan bibirnya pada bibir William. Semakin lama c****n keduanya semakin memanas, dengan lidah keduanya saling membelit. Pedang samurai William pun sudah siap untuk berperang kembali.


"Jangan pernah melepaskanku, sayang," ucap William.


William merapatkan tubuhnya Irene pada dinding. Bibir William sudah turun menjelajah leher Irene dan berhenti pada salah satu choco chip Irene. Irene terus menge***g dan mend***h. William mengangkat satu kaki Irene dan meletakkannya di atas pahanya, lalu mengarahkan pedang samurainya ke sarungnya.


Pergulatan panas pun terjadi kembali. Suara lenguhan mereka beradu dengan suara gemericik air yang jatuh di atas lantai.


Bersambung ...


...🌹🌹🌹...


Visual


William Jonathan Herrmann



Irene Angelica Reinhard



Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2