
Pesta pernikahan Yudi-Vira dan Pramudya-Nabila diadakan di Hotel A1. Sebelumnya mereka sempat menolak untuk diadakan pesta, karena acara akad nikah saja sudah cukup yang penting mereka sudah sah menjadi suami istri. Namun, Tuan Alex tidak ingin ditentang.
"Harta keluarga Alvaro tidak akan habis hanya karena mengadakan pesta pernikahan untuk kalian. Aku sudah menganggap kalian sebagai bagian dari keluarga Alvaro. Kalau kalian menolak sama saja kalian tidak pernah menganggap keberadaanku," ucap Tuan Alex.
Akhirnya mereka pun setuju dan memohon agar diadakan pesta yang kecil saja.
Tamu yang diundang oleh keluarga Alvaro adalah besan dari Keluarga Alvaro, semua karyawan dari Alvaro Group dan semua pegawai rumah sakit milik Keluarga Alvaro. Kedua pasang pengantin terlihat sangat memukau. Para pengantin pria sangat tampan dan gagah dengan balutan tuxedo yang senada dengan gaun pengantin yang membuat sang pengantin wanita sangat cantik dan mempesona.
"Selamat ya Yudi dan Vira, juga Pramudya dan Nabila. Semoga pernikahan kalian langgeng, berkah dan segera diberikan keturunan," ucap Axel.
"Terima kasih Tuan dan Nyonya," ucap para mempelai.
Keluarga besar Alvaro memberikan ucapan selamat secara bergantian kepada para mempelai dan keluarga mereka. Tuan Rino dan Bu Sinta sangat bahagia melihat rona kebahagiaan yang tercipta di wajah putra sulung mereka, begitu juga dengan ibu dan adik Nabila.
"Bagiku ini bukan pesta kecil, Pram," bisik Nabila saat melihat para tamu yang memenuhi ballroom hotel.
Pramudya tersenyum menanggapi ucapan wanita yang telah sah menjadi istrinya.
"Ya mau bagaimana lagi, semua kan sudah disiapkan oleh Tuan Besar. Kita syukuri saja. Jika kau lelah, kau bisa duduk. Kau tidak boleh kelelahan, karena hanya aku yang boleh membuatmu lelah malam ini," ucap Pramudya yang membuat Nabila salah tingkah dan tersipu malu.
Berita pernikahan Yudistira telah membuat banyak wanita patah hati, terutama para karyawati Alvaro Group. Salah satunya bernama Sasa, wanita yang bekerja di bagian pemasaran. Sasa telah lama menaruh hati kepada Yudistira. Begitu dia mendapatkan undangan pernikahan dari Yudistira, hati Sasa serasa hancur berkeping-keping.
Meskipun selama ini Yudistira selalu terkesan dingin, tapi dia bersikap baik kepada semua orang sehingga banyak wanita yang mengaguminya. Beberapa kali Sasa mendapatkan pertolongan dari Yudistira saat dia mengalami masalah di dalam pekerjaannya. Sasa berpikir jika Yudistira juga menaruh hati padanya.
Dengan memaksakan langkahnya, Sasa bersama rekan kerja yang lain naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada para mempelai.
"Selamat ya, Yudi. Semoga kau bahagia," ucap Sasa saat menjabat tangan Yudi.
"Terima kasih, Sa," ucap Yudistira.
Sasa menjabat tangan Yudistira cukup lama dengan tatapan penuh cinta, membuat Vira sedikit cemburu. Yudistira segera melepaskan jabatan tangan mereka, lalu menyalami rekan kerja yang lain. Saat bersalaman dengan Vira, Sasa memberikan tatapan sinis dan dengan sengaja Sasa menekan tangan Vira. Vira memekik pelan karena tangannya terasa sakit.
"Siapa wanita ini? Dia cantik sekali. Apakah dia teman dekat Mas Yudi? Terlihat sekali jika dia menyukai suamiku dan memberikan tatapan permusuhan padaku," batin Vira.
"Apa kau lelah?" tanya Yudistira saat melihat wajah murung Vira.
Vira langsung merubah mimik wajahnya. "Tidak, Mas. Aku baik-baik saja."
Hal serupa juga dirasakan oleh Pramudya, saat mereka menyalami beberapa tamu pria yang tak lain adalah dokter muda yang berlomba untuk menarik perhatian Nabila. Bahkan ada satu orang dokter bernama Wisnu, membuat Pramudya naik darah.
"Selamat ya Nabila. Aku doakan kau selalu bahagia. Dan jika suatu saat nanti hubungan kalian bermasalah, segera hubungi aku. Kan kutunggu jandamu," ucap Wisnu dengan terang-terangan.
Wajah Pramudya langsung memerah menahan marah. Dia mengepalkan tangannya. Ingin rasanya dia menghajar pria yang bernama Wisnu saat itu juga. Nabila hanya bisa memaksakan senyumnya tanpa membalas ucapan Wisnu. Nabila langsung menggenggam tangan suaminya, agar tidak sampai lepas kendali.
"Tenanglah suamiku sayang," bisik Nabila seketika membuat emosi Pramudya yang sedang melambung tinggi langsung terjun bebas.
Tiba-tiba ada yang menarik baju Yudistira dari bawah.
"Uncel Yudi," panggil ketiga bocah yang selalu menjadi pusat perhatian.
Siapa lagi kalau bukan Baby Triplets. Yudistira langsung berjongkok lalu memeluk mereka secara bergantian.
"Oh, keponakan-keponakan uncle yang tampan dan cantik," ujar Yudistira.
Vira tersenyum bahagia melihat keakraban mereka.
"Uncle Yudi jangan pernah melupakan kami bertiga ya meskipun sudah punya kakak yang cantik ini," ucap Arsyila dengan comelnya.
"Tentu saja, Princess. Mana mungkin Uncle melupakan kalian yang sangat menggemaskan ini. Uncle kan sayang kalian," jawab Yudistira sambil mencubit pipi gembul Arsyila.
Arshaka menggenggam tangan Vira. "Kak Vira, kalau misalnya Uncle Yudi nakal dan buat Kak Vira yang cantik ini menangis, langsung bilangkan Kakek Rino. Biar Kakek Rino yang menghukumnya."
__ADS_1
Vira tidak bisa menahan tawanya. "Siap pangeran kecil."
Arkana menghela napas panjang saat mendengar ucapan adiknya itu.
"Arkana tidak mau mengatakan apa-apa?" tanya Yudistira.
"Aku berdoa semoga Uncle dan Kakak cantik selalu bahagia. Dan bisa kasih kami adik yang banyak," jawab Arkana yang membuat Yudistira dan Vira langsung membulatkan mata mereka.
Yudistira melirik ke arah Vira sambil tersenyum, membuat Vira menjadi salah tingkah.
"Aamiin. Terima kasih doanya ya sayang," ucap Yudistira sambil mencium pucuk kepala Arkana.
Pesta pun berakhir. Para pengantin sudah berada di kamar pengantin mereka masing-masing. Ibu dan adik Nabila diantarkan ke rumah kontrakan oleh sopir Tuan Alex.
Di kamar pengantin, Yudistira dan Vira sudah selesai membersihkan diri dan melaksanakan ibadah bersama. Vira duduk di atas ranjang dengan perasaan senang tapi juga takut. Sekuat tenaga, Vira berusaha mengontrol traumanya. Yudistira menghampirinya dan duduk di sampingnya. Vira sangat terpana dengan ketampanan dari pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
"Apa kau lapar?" tanya Yudistira.
"Tidak Mas. Aku sudah kenyang," jawab Vira. "Apa Mas lapar?"
Yudistira menggeleng. "Aku juga sudah kenyang, sayang."
Blush... (Pipi Vira langsung merona)
"Kenapa harus malu seperti itu? Kita kan sudah sah menjadi suami istri," goda Yudistira yang membuat Vira semakin malu.
Keheningan menyelimuti keduanya, membuat Vira semakin gugup. Yudistira menyentuh tangan Vira dan terkejut merasakan betapa dinginnya tangan Vira saat ini. Yudistira menyadari jika Vira masih mengalami trauma dari kejadian buruk sebelumnya.
"Angkat wajahmu dan tatap mataku, sayang," pinta Yudistira.
Vira mengangkat wajahnya dengan perlahan.
"Buang jauh-jauh rasa takutmu padaku. Aku berjanji, aku tidak akan meminta hakku sebelum kau siap. Kita nikmati saja waktu kebersamaan kita untuk saling mengenal dan memahami. Anggap saja kita sedang pacaran, tapi halal," ucap Yudistira dengan lembut.
"Kau tidak perlu meminta maaf sayang. Bersama, kita akan mengobati traumamu dengan perlahan. Dan kau tidak boleh meneteskan air matamu sedikitpun, kecuali air mata bahagia," ucap Yudistira sambil menakup wajah Vira dengan kedua tangannya.
Vira mengangguk dan tersenyum. Yudistira mengecup kening Vira.
"Sebaiknya kita istirahat sekarang. Naiklah ke atas ranjang. Mas akan tidur di sofa supaya kau bisa tidur dengan nyaman."
"Tidak Mas. Vira takut tidur sendiri di atas ranjang yang besar ini," ujar Vira dengan wajah memelas membuat Yudistira semakin gemas.
Yudistira tersenyum. "Baiklah, kita tidur bersama dan Mas akan meletakkan guling di tengah. Bagaimana?"
Vira mengangguk. Keduanya pun merebahkan tubuh mereka ke atas ranjang yang empuk itu dengan sebuah guling yang berada di tengah.
"Selamat tidur, istriku sayang," ucap Yudistira.
"Selamat tidur, suamiku sayang," lirih Vira.
Sedangkan di kamar pengantin yang satunya, Pramudya berjalan menghampiri Nabila yang berdiri di dekat kaca dan menatap pemandangan yang ada di luar.
"Ada apa, Nab? Kau terlihat sedang marah. Apa aku telah membuat kesalahan?" tanya Pramudya.
Nabila menghela napas panjang, lalu menyerahkan ponsel Pramudya.
"Saat kau berada di kamar mandi, ponselmu berdering. Maaf aku lancang mengangkat telpon dari ponselmu," jawab Nabila.
"Untuk apa kau minta maaf. Kita kan sudah menjadi suami istri. Memangnya siapa yang menelpon tadi?" tanya Pramudya.
"Mitha. Dia masih mengharapkanmu. Tadi dia juga mengirimkan foto dan video kebersamaan kalian dulu," ketus Nabila.
__ADS_1
Pramudya menghela napas dan membuka ponselnya. Di depan Nabila, Pramudya memblokir nomor Mitha serta menghapus semua foto dan video yang berhubungan dengan Mitha.
"Sudah tidak ada lagi Mitha di hidup kita," ucap Pramudya dan meletakkan ponselnya di atas nakas.
Nabila masih berdiri di tempatnya. Nabila terkejut saat tangan Pramudya melingkar di perutnya. Jantung Nabila langsung berdetak tak karuan. Pramudya meletakkan kepalanya di bahu Nabila.
"Jangan marah lagi, sayang," bisik Pramudya membuat bulu roma Nabila meremang.
Nabila meneguk salivanya kasar. Dengan perlahan, Pramudya memutar tubuh Nabila sehingga keduanya saling berhadapan. Pramudya menarik satu tangan Nabila dan meletakkannya di depan dada kirinya.
"Mulai saat ini hanya kau yang menempati ruang di hatiku. Hanya kau satu-satunya wanita yang berkuasa atas diriku. Karena kau adalah istriku, pemilik diriku seutuhnya," ucap Pramudya sambil tersenyum.
Pramudya mendekatkan wajahnya seraya berkata,"Aku mencintaimu, Nabila."
Pramudya menci um bibir Nabila dengan lembut. Semula Nabila masih diam terpaku, namun secara perlahan dia mulai terbuai dan mengikuti gerakan bibir Pramudya.
"Bolehkah?" lirih Pramudya saat bibir keduanya terlepas.
Nabila mengangguk dengan pelan. Pramudya tersenyum bahagia dan meletakkan tangan kanannya di atas kepala Nabila sambil melafalkan doa. Kemudian, Pramudya langsung mengangkat tubuh Nabila ala bridal style dan meletakkan dengan pelan ke atas ranjang.
Kedua bibir mereka kembali tertaut dan saling memagut. Tak butuh waktu lama, baju keduanya sudah terlepas dari tubuh mereka. Nabila menunduk malu saat menyadari tubuhnya dalam keadaan polos di bawah kungkungan Pramudya. Pramudya menarik dagu Nabila.
"Aku berjanji akan pelan-pelan, sayangku," ucap Pramudya lalu mel umat bibir Nabila kembali dengan lembut.
Tanpa ragu, Pramudya naik turun menjelajahi dua gunung yang indah itu. Pramudya berjuang untuk menerobos masuk. Nabila memekik kesakitan saat Pramudya berhasil menerobos masuk. Tangannya meremas bahu Pramudya dengan kuat. Air matanya mengalir dari pelupuk matanya. Hati Pramudya sangat bahagia dan sangat menikmati semua sensasi di dalam sana. Pramudya bergerak dengan perlahan, dia memperlakukan Nabila dengan lembut.
"Sayang...mmhh...," de sah Nabila.
"Ya sayang," sahut Pramudya.
"Sepertinya aku ingin buang air," lirih Nabila.
Bukannya berhenti, Pramudya semakin mempercepat gerakannya membuat Nabila semakin mende sah, sampai keduanya mendapatkan pelepasan pertama mereka bersama-sama.
"Maafkan aku harus membuatmu begadang malam ini, sayang," bisik Pramudya, lalu meminta haknya kembali.
Keduanya pun tertidur setelah Pramudya mendapatkan pelepasan ketiganya.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
(Sabar ya readers, menunggu keromantisan Yudi dan Vira🤭)
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰