Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 39. Pencarian


__ADS_3

Axel sedang dalam perjalanan pulang dari Bandung. Axel sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan istri tercintanya.


"Tuan, Nona Helena sedang tidak berada di rumah sakit. Sepertinya Nona sudah pulang ke mansion," lapor Irene.


"Kita langsung pulang ke mansion," seru Axel.


"Siap!" William menambah kecepatan mobilnya.


Setelah menempuh hampir 2 jam lamanya, Axel tiba di mansion.


Axel mengerutkan dahinya saat tidak melihat mobil Helena di parkiran mansion. Axel segera melangkah masuk ke dalam mansion.


"Tuan Axel!" panggil Bu Sari.


"Bu Sari. Apa istriku belum pulang? Aku tidak melihat mobilnya?" tanya Axel.


"Anu... Itu Tuan. Nona Helena tadi pulang sebentar, kemudian keluar lagi membawa koper. Nona bilang ada tugas kerja keluar kota. Nona juga sudah menyiapkan bahan makanan di lemari es dan beberapa menu masakan untuk sarapan Tuan," jawab Bu Sari.


"Apa? Helena keluar kota. Tapi dia tidak minta ijin sama sekali padaku," ucap Axel heran.


"Maaf Tuan. Perasaan saya tidak enak. Sikap Nona Helena berbeda, tidak seperti biasanya. Nona tadi juga terburu-buru saat berangkat," ujar Bu Sari.


"Terima kasih Bu. Bu Sari silakan kembali bekerja," ucap Axel.


"Baik, Tuan," jawab Bu Sari.


Perasaan Axel tidak tenang. Dia langsung melebarkan langkahnya menuju kamar Helena, yang beberapa hari ini menjadi kamar mereka berdua.


Axel mengambil ponselnya dan menghubungi ponsel Helena, namun ponsel Helena sedang tidak aktif. Axel menuju walk in closet dan membuka lemari pakaian Helena. Hanya tinggal beberapa baju saja. Axel mencoba menghubungi ponsel Helena lagi, tapi hasilnya tetap sama.


Axel melangkah menuju ranjang dan melihat ada surat yang ditinggalkan Helena di atas bantal.


Axel.


Saat kau membaca surat ini, aku sudah pergi jauh. Maafkan aku harus pergi. Aku tidak sanggup jika harus melihatmu bersama wanita lain. Sudah cukup di pernikahanku terdahulu aku harus berbagi suami dan melihat suamiku bermesraan dengan wanita lain.


Aku harap kau akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab atas apa yang telah kau perbuat.


Jaga kesehatanmu. Jangan sampai telat makan. Dan, jangan mencariku lagi.


Terima kasih telah menjadikanku istrimu dan terima kasih atas semua kebahagiaan yang telah kau berikan padaku selama menjadi istrimu.


Kau akan selalu menjadi pria terbaik dalam hidupku.


^^^Helena^^^


Axel meremas surat itu. Darahnya seketika mendidih.


"Apa yang kau pikirkan, El? Mengapa kau tidak percaya jika hanya dirimu yang ada di hatiku?" ucap Axel marah.


Axel mengambil ponselnya.


"Will, kerahkan semua anak buah kita dan cari keberadaan Helena! Helena pergi," perintah Axel.


"Apa? Helena pergi?" tanya William.


"Ya. Aku tidak ada waktu menjelaskannya sekarang. Cepat laksanakan perintahku!" bentak Axel.


Axel langsung menutup panggilan telpon mereka. Dia segera melacak ponsel dan mobil Helena. Ponsel Helena mati dan terakhir terlacak lokasinya berada di mansion. Sedangkan mobil Helena ada di parkiran bandara.


Axel meretas dan memeriksa rekaman CCTV yang ada di bandara, namun dia tidak menemukan keberadaan Helena.


"Sial! Ada orang yang sengaja melindungi Helena," teriak Axel geram.


"Siapa yang sudah berani menyembunyikan istriku? Tidak mungkin Daddy Narendra," gumam Axel.


Axel mengambil kunci mobil dan segera melajukannya menuju mansion Alvaro. Perginya Helena membuat kehebohan seluruh keluarga Alvaro. Axel memerintahkan William dan anak buahnya untuk menjelajahi bandara dan melihat rekaman CCTV lagi di bandara.


Axel menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Aline sedih melihat kondisi putranya.


"Apa sebelumnya kalian bertengkar?" tanya Zayn.


"Tidak Pa. Hubungan kami baik-baik saja," jawab Axel.


"Mengapa Kakak tidak memeriksa di rumah sakit?" seruan Jasmine.


Axel terkejut.


"Kapan kau kembali dari Jerman?" tanya Axel.


"Tadi malam. Rencananya malam ini aku mau ke mansion kalian, mau menginap di sana," jawab Jasmine.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Siapa tahu kita akan mendapatkan petunjuk. Sambil menunggu kabar terbaru dari Kak William," ajak Jasmine.


Tanpa menunggu lama, Axel dan Jasmine langsung meluncur ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Axel dan Jasmine mencari informasi dari para karyawan rumah sakit. Mereka memeriksa rekaman CCTV. Dari rekaman CCTV terlihat Helena terburu-buru saat meninggalkan rumah sakit.


Axel ingat, dia pernah meminta anak buahnya meletakkan rekaman CCTV di ruangan Helena. Dari rekaman CCTV tersebut terlihat Helena sedang membuka laptopnya. Kemudian Helena menangis dan menutup laptopnya dengan kasar.


Axel berlari masuk ke dalam ruangan Helena dan menemukan laptop Helena di atas meja. Axel membuka laptop itu untuk mencari tahu penyebab Helena menangis. Namun hasilnya nihil. Axel memukul meja dengan keras. Wajahnya terlihat frustasi.


"Sebentar, Kak. Seingatku ada flashdisk yang menempel di laptop ini saat Kak Helena membukanya. Kita harus menemukan flashdisk itu," ucap Jasmine.


Axel membuka laci meja Helena, begitu juga Jasmine membantu mencari di setiap sudut ruangan.

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada di sini," ucap Axel.


"Kita tanyakan pada pegawai yang lain," lanjut Axel.


Axel berpapasan dengan Aisya saat keluar dari ruangan Helena.


"Dokter Aisya. Apa kau tahu di mana istriku, Helena? Anda kan teman baik istriku di sini," tanya Axel.


"Maaf Tuan. Sejak pagi saya tidak bertemu dengan dokter Helena. Saya sibuk membantu dokter yang lain karena dokter Reymond sedang ijin cuti hari ini," jawab Aisya.


"Maksudmu Reymond sedang tidak berada di sini?" tanya Axel marah.


"Benar Axel. Reymond ijin mengambil cuti selama 2 hari. Dia pergi ke Surabaya untuk mengunjungi orang tuanya," jawab dokter Narita yang kebetulan lewat sana.


Axel mengepalkan tangannya.


"Awas saja kalau sampai Rey yang membawa Helena pergi. Aku akan menghabisinya," ucap Axel penuh amarah.


Aisya menjadi ketakutan.


"Dokter Aisya, silakan lanjutkan pekerjaan Anda," ucap dokter Narita.


Aisya mengangguk lalu melangkah pergi dari sana.


"Suami Helena menakutkan sekali saat marah. Kamu di mana Helen? Semoga dokter Rey tidak ada hubungannya dengan kepergianmu. Aku tidak bisa membayangkan betapa murkanya Tuan Axel," guman Aisya sambil berjalan dengan cepat.


"Tenangkan dirimu, Axel. Jangan membuat masalah di sini. Ini rumah sakit, banyak pasien yang membutuhkan ketenangan demi kesembuhan mereka," tutur dokter Narita.


"Maafkan Axel, Oma. Kalau begitu kami pergi dulu. Jika Oma mendapatkan informasi tentang Helena segera hubungi Axel," ucap Axel.


"Tentu saja. Kalian hati-hati ya," ucap dokter Narita.


Axel dan Jasmine segera meninggalkan rumah sakit. Axel melajukan mobilnya dengan kencang.


"Kita ke mana lagi sekarang, Kak?" tanya Jasmine.


"Kita ke Surabaya," jawab.


Jasmine segera menghubungi pilot private jet Alvaro Group. Setibanya di bandara Axel dan Jasmine segera naik private jet dan terbang ke kota Surabaya.


Axel mendapatkan telpon dari William.


"Maaf kami belum mendapatkan petunjuk. Ada yang sengaja meretas CCTV di setiap sudut bandara. Tapi kami akan terus berusaha mencari. Anak buah kita juga masih mengecek data penumpang di setiap penerbangan, juga private jet apa saja yang keluar masuk bandara," lapor William.


"Aku mengerti. Aku mohon teruslah mencari. Aku dan Jasmine sedang dalam perjalanan menuju kota Surabaya untuk menemui Reymond. Aku curiga Reymond-lah yang membawa Helena pergi," ucap Axel.


"Baiklah. Kalian hati-hati. Nanti jika ada info terbaru, aku akan segera menghubungimu," ucap William.


Keduanya memutuskan panggilan telpon mereka.


Mobil Axel dan Jasmine berhenti di sebuah mansion yang bisa di bilang cukup besar dan mewah.


"Sepertinya pria bernama Reymond ini bukan berasal dari keluarga sembarangan, Kak," ucap Jasmine.


"Mau dia anak Presiden sekalipun, aku juga tidak peduli. Yang penting aku harus menemukan Helena," ucap Axel sambil melangkahkan kakinya ke mansion keluarga Reymond.


"Permisi, apa Reymondnya ada?" tanya Jasmine kepada penjaga yang berjaga di pintu gerbang.


"Maaf Nona. Kalau boleh tahu kalian siapa dan dari mana? Ada keperluan apa ingin bertemu dengan Tuan Muda Rey," jawab penjaga itu.


Axel merasa geram dan tak sabaran.


"Bilang pada Tuan Mudamu itu, Tuan Muda Alvaro ingin menemuinya. Penting!" bentak Axel.


"Tolong Anda bersikap sopan, Tuan," ucap penjaga itu dengan nada tinggi.


"Ada apa ini ribut-ribut?"


Seorang pria paruh baya berjalan menghampiri mereka.


"Maaf Tuan Besar. Mereka berdua ini ingin bertemu Tuan Muda," jawab penjaga itu.


"Siapa kalian? Ada perlu apa dengan putraku?" tanya Tuan Bagaskara, ayah Reymond.


"Selamat malam Tuan. Maaf jika kami mengganggu. Kami dari keluarga Alvaro ingin menemui putra Anda, Reymond. Ada hal penting yang ingin kami tanyakan pada putra Anda," jawab Jasmine ramah.


"Suatu kehormatan bagi keluarga Bagaskara, Tuan dan Nona Muda Alvaro berkenan datang ke mansion kami," ucap Tuan Bagaskara.


"Bukakan pintu untuk mereka," perintah Tuan Bagaskara.


"Baik Tuan," jawab si penjaga kemudian membukakan pintu untuk Axel dan Jasmine.


Axel dan Jasmine masuk ke dalam mansion.


"Mari silakan duduk, Tuan dan Nona. Saya panggilkan Rey dulu," ucap Tuan Bagaskara.


Axel dan Jasmine menjatuhkan tubuh mereka di atas sofa. Tak selang berapa lama, Tuan Baskara kembali menemui mereka bersama Reymond.


"Axel?!" seru Reymond.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Rey bingung.


Axel langsung berdiri dan memberikan bogeman ke wajah Reymond.

__ADS_1


Bugh...


"Aargh!!"


"Rey!" teriak Tuan Bagaskara.


"Kakak!" teriak Jasmine.


Jasmine langsung memeluk kakaknya untuk menenangkannya.


"Ada apa ini?" tanya Reymond.


"Katakan! Di mana kau menyembunyikan istriku?" bentak Axel.


Wajah Reymond mencengo tak mengerti.


"Apa maksudmu? Aku tidak menyembunyikan Helena," elak Reymond.


"Jangan bohong. Kau menyukai istriku dan selalu berusaha merebutnya dariku," teriak Axel.


"Kakak, tenangkan dirimu," ucap Jasmine pelan.


"Apa benar yang dikatakan Tuan Axel, Rey? Apa benar kau menyukai istrinya?" tanya Tuan Bagaskara.


"Benar. Aku memang menyukai Helena," jawab Reymond tanpa rasa bersalah.


Bugh... Bugh...


Tuan Bagaskara mengambil tongkat golf dan memukul kaki dan ****** Reymond.


"Au... sakit Pa. Ampun. Reymond bisa jelaskan," mohon Reymond.


"Papa memang memintamu untuk segera membawa pulang calon menantu Papa dan Mama, tapi bukan berarti kau harus sampai merebut istri orang," bentak Tuan Bagaskara.


"Reymond memang menyukai Helena dan ingin merebutnya, tapi itu dulu saat Axel terus menyakiti hatinya. Sekarang Reymond sudah mengurungkan niat itu, karena aku melihat Helena bahagia dengan pernikahannya," jelas Reymond.


"Dan aku berani bersumpah, aku tidak membawa pergi Helena. Aku terakhir bertemu dengan Helena kemarin. Pagi ini pun saat aku mengajukan ijin cuti kepada dokter Narita, aku tidak bertemu dengan Helena," tambah Reymond.


Jasmine menarik Axel untuk duduk kembali. Axel mengusap wajahnya kasar.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah hubungam kalian baik-baik saja?" tanya Reymond.


"Aku tidak tahu. Saat aku pulang kerja tadi Helena sudah pergi dengan alasan tak masuk akal yang dia tuliskan dalam suratnya. Dia berpikir aku memiliki wanita lain," jawab Axel.


Reymond dan Tuan Bagaskara ikut duduk. Reymond kemudian menghela napas panjang. Di detik berikutnya Reymond membulatkan matanya.


"Tunggu. Aku ingat, tadi pagi aku bertemu dengan mantan kekasihmu dulu. Emm... Icha ya benar kau memanggilnya dengan nama Icha," ucap Reymond.


Axel mengerutkan dahinya.


"Icha tadi tiba-tiba muncul di hadapanku saat aku berjalan ke tempat parkiran mobil. Dia memintaku untuk merebut Helena darimu, tapi aku mengabaikannya. Lalu dia pergi begitu saja," terang Reymond.


"Sepertinya wanita ular itu ada hubungannya dengan kepergian Kak Helena, Kak," ucap Jasmine.


Axel merenungkan cerita Reymond.


"Apa kau berkata jujur?" tanya Axel.


"Aku bersumpah, aku berkata jujur. Kau bisa memeriksa setiap sudut mansion ini," ucap Reymond.


Axel tidak melihat kebohongan di mata Reymond.


"Aku minta maaf," ucap Axel pelan.


Reymond terkekeh.


"Dimaafkan. Aku sekarang yakin jika kau benar-benar mencintai Helena. Kau kan hacker handal, kau pasti bisa menemukannya," ucap Reymond.


Axel tersenyum getir. Setelah cukup lama berada di mansion Bagaskara, Axel dan Jasmine segera pamit dari kediaman orang tua Rermond. Keduanya segera kembali ke Jakarta.


Setibanya di mansion Zayn dan Aline, Axel berjalan dengan gontai. Pikirannya benar-benar kalut. Axel masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


"Kamu di mana, El? Jika aku memang memiliki salah padamu, aku minta maaf. Aku mohon kembalilah. Aku mencintaimu," lirih Axel sambil menangis.


...🌹🌹🌹...


Semangat Bang Axel!!! 💪💪💪


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2