
Di depan gereja, Irene sudah berdiri dengan cantik dan anggun dengan balutan gaun putih rancangan Nyonya Aline. Irene melingkarkan tangannya pada lengan Tuan Zibber.
"Kau terlihat luar biasa, sayang. Aku sangat bahagia bisa mengantarkan pengantin secantik dirimu menuju Altar," ucap Tuan Zibber.
Wajah Irene merona. Dia tersenyum malu.
"Terima kasih Tuan. Anda juga terlihat sangat tampan. Saya yakin Anda dulu pasti menjadi incaran para gadis," ucap Irene sambil tersenyum.
Di usia yang sudah tak muda, Tuan Zibber terlihat tetap tampan dan gagah.
"Tentu saja. Kami para pria keluarga Morris, selalu menjadi idola para wanita," ucap Tuan Zibber dengan sombongnya.
Irene terkekeh.
"Apa kau sudah siap?" tanya Tuan Zibber.
Irene mengambil napas panjang, kemudian mengangguk dengan mantap.
Tak lama kemudian, Irene masuk ke dalam gereja dan berjalan menuju altar bersama Tuan Zibber. William menangis haru bercampur bahagia saat melihat calon istrinya memasuki gereja dan berjalan ke arahnya.
Tuan Joe beserta istri dan keempat anaknya tersenyum bahagia. Bahkan Nyonya Serena sampai meneteskan air matanya. Saat berada di depan William, Tuan Zibber menyerahkan tangan Irene pada William.
"Kau cantik sekali, sayang," ucap William pelan saat Irene sudah berdiri di hadapannya.
Irene tersenyum malu. Akad nikah pun segera dimulai, William dan Irene mengucapkan janji pernikahan mereka. Dan keduanya resmi menjadi suami istri.
Pesta pernikahan William dan Irene digelar dengan sangat meriah. Tamu undangan silih berganti mengucapkan selamat kepada kedua pengantin baru itu. Keluarga besar Morris juga telah hadir.
"Selamat William dan Irene. Semoga Tuhan selalu memberkati kalian dengan kebahagiaan," ucap Aiden sambil menggandeng tangan istrinya.
"Terima kasih, Aiden," ucap William.
Dengan perlahan Axel berjalan bergandengan dengan Helena.
"Kami ucapkan selamat untuk kalian berdua. Semoga keluarga kalian selalu harmonis dan bahagia," ucap Axel.
"Terima kasih Tuan dan Nona," ucap William dan Irene.
"Jangan terlalu formal Will," sahut Axel.
"Terima kasih banyak, Axel," ucap William.
Axel dan William pun berpelukan, begitu juga dengan Helena dan Irene.
"Tuan Axel. Apakah Anda masih mengijinkan saya untuk menjadi sekretaris Anda, setelah ini?" tanya Irene dengan wajah khawatir.
Axel tersenyum.
"Tentu saja, Irene. William dan dirimu adalah paket komplit bagiku. Kalian adalah asisten terbaik yang aku miliki. Aku tidak semudah itu melepaskan salah satu dari kalian," jawab Axel.
Jawaban Axel membuat Irene bernapas lega.
Kemeriahan pesta pun berakhir pada saat jam menunjukkan waktu yang sudah mendekati tengah malam. William dan Irene sudah berada di private jet milik Axel, yang sengaja Axel siapkan untuk mengantarkan pengantin baru itu berbulan madu. Mereka sedang melakukan perjalanan menuju negara Yunani. Keduanya ingin menghabiskan waktu bulan madu mereka di pulau Santorini.
"Apa kau bahagia sayang?" tanya William sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Irene yang berada di pangkuannya.
"Masihkah kau bertanya sayang? Tentu saja aku sangat bahagia," jawab Irene.
"Aku juga sangat bahagia," ucap William.
Irene mencium bibir pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
__ADS_1
"Irene, ada yang ingin aku katakan padamu," ucap William dengan hati-hati.
"Apa Will? Katakanlah," ucap Irene.
"Nona Helena mengatakan padaku jika dia sudah menyiapkan serangkaian perawatan untukmu. Bahkan Tuan Axel sudah mencarikan dokter terbaik. Kita akan melakukan program kehamilan."
Irene melebarkan matanya.
"Jangan salah paham. Bukannya aku tidak mau menerima keadaanmu, tapi kita juga tidak boleh menyerah begitu saja. Setidaknya kita berusaha dulu, dan apapun hasilnya nanti aku akan menerimanya dengan lapang dada," terang William.
Irene sangat terharu.
"Aku mau mencobanya sayang," ucap Irene dengan senyum bahagia.
William menghapus air mata Irene yang mulai menetes.
"Dan usaha kita saat ini adalah menikmati malam pengantin kita," ucap William.
William mencium dan menyesap leher jenjang Irene dan meninggalkan beberapa kissmark.
Usaha William itu sontak membuat Irene mendesah. Tak butuh waktu lama, kancing baju Irene sudah terlepas semua. Tangan nakal William dengan perlahan melepas pengait kaca mata seksi Irene, dan memperlihatkan kedua squisy yang sudah seperti dua buah gantung yang sangat menggoda.
Dengan rakusnya William melahap salah satunya, dan satu tangannya memainkan bagian yang lain.
"Will. Aahh...," lenguh Irene sambil meremas rambut William dan sedikit menekan kepalanya.
Tubuh Irene seperti tersengat aliran listrik.
"Will, aku mohon. Aku menginginkanmu sekarang juga," rengek William.
William tersenyum lalu menggigit pelan choco chip Irene.
"Ouugghh...," desah Irene.
Braakkk!!! Ceklek!!!
William membanting pintu dengan keras dan menguncinya.
Malam pengantin yang panas pun mereka lakukan di atas udara dengan ketinggian 36.000 di atas permukaan bumi.
...*****...
Keluarga besar Alvaro memutuskan untuk kembali ke tanah air, termasuk Axel dan Helena. Tuan Haris dan Nyonya Sasmitha juga ikut pulang ke Indonesia. Mereka ingin menghabiskan waktu senja mereka di tanah kelahiran mereka.
Helena ingin kembali menjalani aktivitasnya di rumah sakit sebagai seorang dokter, meskipun hanya beberapa jam saja sehari sesuai ijin yang telah diberikan oleh suaminya, Axel.
Evan pun sudah pulang ke Turki. Sebelum pulang, Evan mengatakan kepada Jasmine jika dia akan meminta ijin kepada Daddynya untuk memegang salah perusahaan keluarga Sahir yang ada di Indonesia. Hal itu membuat hati Jasmine bahagia.
Jasmine akan menghabiskan waktu santainya di Indonesia, sambil menunggu pendaftaran pendidikan S2 nya dan menunggu kelahiran baby triplets. Hans sudah kembali ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya.
Darren mengantarkan adik kembarnya, Derrel yang mengambil jurusan kedokteran kembali ke Austria. Darrel kuliah di universitas yang sama seperti tempat belajar Helena dulu. Sedangkan Darren mengambil jurusan bisnis di salah satu universitas yang ada di Jerman.
"Helena sayang, kamu harus menjaga dirimu baik-baik dan jangan sampai kelelahan. Mommy tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan ketiga calon cucu Mommy," ucap Nyonya Charlotte pada putri kesayangannya itu.
"Tentu saja. Mommy tidak perlu khawatir. Helena kan tidak sendiri, ada Axel, Papa, Mama, Opa, Oma dan semua anggota keluarga Alvaro yang akan menjaga Helena. Axel dan Helena juga akan tinggal di mansion Papa Zayn," ucap Helena.
"Axel. Jika Helena kelelahan karena kesibukannya, segera suruh dia berhenti kerja. Kalau istrimu tidak mau menurut, Mommy akan langsung terbang dari Perancis ke Indonesia dan menguncinya di rumah," cerocos Nyonya Charlotte.
"Mom," protes Helena.
"Mommy tenang saja. Axel sendiri yang akan menjaga dan menguncinya di dalam kamar," ucap Axel sambil tersenyum.
__ADS_1
"Hahh, kalian berdua ini kompak sekali," gerutu Helena sambil mengerucutkan bibirnya.
"Itu karena mereka berdua terlalu menyayangimu dan ketiga bayi dalam perutmu sayang," ucap Tuan Narendra sambil mengelus puncak kepala Helena.
Helena memeluk Daddynya.
"Helena pasti akan merindukan Mommy dan Daddy," ucap Helena dengan manjanya.
"Tiga bulan lagi Daddy dan Mommy. Kami semua akan mendampingimu berjuang melahirkan tiga keturunan dari dua keluarga besar dan hebat," ucap Tuan Narendra.
Keluarga Morris mengantarkan mereka sampai di bandara.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di bandara Soekarno-Hatta.
"Senangnya bisa kembali ke tanah kelahiran," ucap Tuan Haris.
"Kamu benar suamiku. Aku ingin meminta ijin suamiku, bolehkah minggu depan kita pergi ke kota Padang. Aku ingin berziarah ke makam abak dan amak," ucap Nyonya Sasmitha.
"Tentu saja, istriku. Minggu depan kita berangkat ke Padang," jawab Tuan Haris.
Keluarga Alvaro dan keluarga Hermawan pun berpisah dan kembali ke mansion mereka masing-masing.
"Suamiku, aku ingin mampir ke mansion Papa. Aku merindukan Papa dan Mama," pinta Nyonya Aline saat berada di dalam mobil.
"Baiklah istriku sayang, kita berkunjung ke mansion Hadinata terlebih dahulu," jawab Tuan Zayn.
"Terima kasih suamiku sayang," ucap Nyonya Aline sambil mencium pipi suaminya.
Tuan Zayn membalasnya dengan mencium bibir istrinya dengan panas di depan kedua anak dan menantu mereka. Sedangkan Tuan Alex dan Nyonya Savira berada di mobil yang berbeda bersama Vero, Dea dan Deffan.
"Papa! Mama! Lihat-lihat dong kalau mau bermesraan," protes Jasmine sambil melipat kedua tangannya.
Tuan Zayn dan Nyonya Aline segera melepaskan tautan bibir keduanya. Nyonya Aline tersenyum malu.
"Berisik. Makanya segera minta Evan untuk menikahimu, supaya jiwa jomblomu tidak meronta-ronta," ucap Axel, lalu mencium bibir Helena dengan lembut di depan Jasmine.
Helena membelalakkan matanya karena terkejut.
"Hoaahhh... Dasar kakak tidak ada akhlak!" teriak Jasmine.
Axel tertawa terbahak-bahak, sedangkan Helena membenamkan wajahnya yang merona di dada Axel.
Bersambung ...
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰