
Jasmine memeluk Evan dengan erat.
"Apa kau senang, sayang?" tanya Evan.
"Lumayan," jawab Jasmine.
"Kok hanya lumayan?"
"Karena kau melarangku untuk menghajar wanita busuk itu secara langsung. Padahal tanganku sudah gatal sekali," ucap Jasmine sedikit kesal.
Evan mencubit hidung Jasmine pelan. "Kan ada baby twins di dalam perutmu, sayang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kalian, jika kau sampai lepas kendali. Sejujurnya, aku juga merindukan kegaranganmu, my sunshine."
Jasmine semakin mengeratkan pelukannya dengan manja. Helena tersenyum dan menghela napas melihat kemesraan mereka berdua. Namun, senyumnya langsung menghilang saat menyadari bahwa Axel mengabaikan kehadirannya dan sibuk dengan ponselnya sambil tersenyum.
Sring...
Axel merasakan bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, sampai kedua matanya menatap wajah dingin Helena yang langsung membuatnya merinding.
"Sa-sayang. Ternyata kau sudah di sini," ucap Axel cengengesan sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Sepertinya kau sibuk sekali ya, sampai tidak menyadari keberadaanku. Luar biasa. Aku jadi penasaran siapakah orang yang telah membuatmu tersenyum bahagia seperti tadi?" sindir Helena.
"Jangan salah paham sayangku. Aku tadi hanya membaca pesan dari Aiden. Kau bisa melihatnya sendiri, aku tidak berbohong," ucap Axel sambil menunjukkan pesan yang telah dikirimkan oleh Aiden.
Helena membaca semua pesan dan melihat beberapa foto yang telah dikirimkan oleh Aiden.
"Jadi, anak buah Aiden yang telah meratakan perusahaan Keluarga Thompson?" ujar Helena.
"Kak Aiden? Bagaimana bisa, Kak?" sahut Jasmine.
"Semalam Aiden menghubungi kakak. Dia menanyakan kabar kita semua. Aku pun memberitahukan kabar gembira tentang kehamilan Jasmine. Aiden senang sekali dan mengucapkan selamat. Selain itu, kakak juga menceritakan tentang kejadian buruk yang kamu alami, Jasmine."
"Aiden sangat marah. Ingin sekali dia terbang ke sini dan menghukum para tikus itu dengan tangannya sendiri. Tapi, kandungan Emily semakin besar dan tak lama lagi dia akan melahirkan. Aiden pun memerintahkan anak buahnya yang berada di Amerika untuk mengancurkan perusahaan itu," terang Axel.
"Kak Aiden memang luar biasa," puji Jasmine sambil tersenyum senang.
"Mengapa kau tidak memberitahuku, Xel? Aku kan juga ingin mengetahui keadaan Emily dan bayi dalam kandungannya," protes Helena.
"Aku tidak ingin mengganggu tidur nyanyakmu sayang. Apalagi melihat wajah lelahmu setelah pertempuran hebat kita semalam," jawab Axel sambil mengedipkan mata kanannya.
Wajah Helena langsung memerah karena malu, dan mendapatkan tawa yang cukup keras dari Jasmine dan Evan. Axel menarik tangan Helena, lalu menciumnya dengan lembut.
"Tapi, bukan hanya Aiden yang bertindak, Azzura juga," tambah Axel.
"Azzura?" seru Jasmine.
"Azzura meminta suaminya, Pangeran Aaron untuk membatalkan semua kontrak kerjasama antara perusahaan milik Pangeran Aaron dengan Thompson Corp. Selain itu, pangeran Aaron juga memblokir perusahaan sehingga tidak bisa masuk ke dalam dunia bisnis yang ada di Inggris dan beberapa negara di benua Eropa," jelas Axel.
"Oh my best bestie," ucap Jasmine terharu.
"Bukan hanya Azzura yang menjadi sahabat terbaikmu, tapi juga ada campur tangan dari Tuan Muda Keluarga Hermawan yang tampan ini. Jangan lupakan tentang sistem keamanan mereka yang kacau balau saat ini," seru Hans yang tiba bersama Baby Triplets.
"Iya, iya saudara kembarku yang berbeda susunan DNA. Kau dan Azzura adalah sahabat-sahabat terbaikku. Merci beaucoup," ujar Jasmine.
"De rien," jawab Hans.
"Dan bagaimana nasib para karyawan dari Thompson Corp.? Mereka kan tidak bersalah tapi juga harus menanggung akibat dari kesalahan bos mereka?" tanya Helena.
"Istriku memang berhati lembut dan sangat baik," ucap Axel. "Hans, bisa tolong bantu untuk menjelaskan?"
"Kami sudah menyeleksi semua karyawan yang ada di perusahaan itu sebelum melakukan eksekusi. Untuk pegawai yang berkualitas dan memiliki kinerja yang bagus, kami sediakan lapangan kerja untuk mereka, baik itu di Alvaro Group, HH Corps., dan Javander Architecture. Dan pastinya kami tidak hanya memandang dari segi pendidikannya saja, tapi juga loyalitas mereka selama bekerja di Thompson Corp." terang Hans.
__ADS_1
Helena tersenyum senang.
Ada seorang wanita cantik namun berpakaian sederhana masuk ke dalam restoran bersama tiga anak kecilnya. Anak yang paling kecil berlarian dan tak sengaja menabrak Helena yang baru keluar dari toilet.
"Argh!" rintih anak itu saat terjatuh sambil terduduk.
Helena terkejut dan langsung mendekati anak laki-laki itu. Helena membantunya untuk berdiri dan memeriksa apakah anak itu terluka atau tidak.
"Apa kau tidak apa-apa, sayang?" tanya Helena.
Anak itu tak menjawab dan terlihat ketakutan.
"Aslan. Mommy kan sudah bilang, jangan berlarian!" terdengar teriakan seorang wanita dari arah belakang Helena.
"Maaf Nyonya atas sikap nakal anak saya," ucap ibu anak itu.
Helena langsung membalikkan badan.
"Putri?!" seru Helena.
Ibu anak itu langsung membelalakkan matanya. "He-Helena."
"Bagaimana kabarmu, Putri?" tanya Helena yang ikut duduk di meja Putri dan ketiga anaknya.
"Aku baik, Helena," jawab Putri sambil tersenyum kaku. "Kau sendiri juga bagaimana kabarnya? Juga kabar keluargamu."
"Alhamdulillah kami semua baik. Suami dan ketiga anak kembarku berada di meja sebelah sana," jawab Helena sambil menunjuk ke arah Axel dan Baby Triplets.
Putri langsung menoleh ke arah meja mereka. Dia melihat Jasmine, Evan, Axel, Hans serta Baby Triplets. Semua orang menatap ke arahnya, kecuali Axel. Putri segera menghadap kembali ke arah Helena.
"Kau dan Axel pasti sangat bahagia, apalagi ditambah dengan kehadiran ketiga anak kembar kalian yang menggemaskan," ucap Putri.
"Dan kau sendiri? Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?"
"Aku bahagia. Apalagi dengan kehadiran mereka bertiga, Danish, Miya dan Aslan. Selain itu, kami juga tinggal bersama Papa dan Ibu tiriku," jawab Putri.
Helena tersenyum senang, tapi juga prihatin melihat keadaan Putri dan ketiga anaknya yang terlihat memakai pakaian yang cukup sederhana, bahkan baju yang Danish kenakan sudah mulai memudar warnanya.
"Bagaimana kabar Marco?" tanya Helena.
"Marco baik. Tak lama lagi dia akan tiba di sini," jawab Putri.
Helena hanya mengangguk sambil tersenyum. Di meja yang lain, terlihat Axel dengan wajah kesalnya. Dia kesal harus bertemu dengan wanita yang dulu pernah memisahkan dirinya dengan Helena. Dan lebih kesalnya lagi, Helena bersikap baik padanya dan mengobrol dengan wanita itu.
"Putri, maaf aku datang terlambat," ucap Marco yang baru saja tiba dengan langkah terburu.
"Helena!" serunya.
"Hai, Marco. Apa kabar?" ucap Helena.
"Kabarku baik. Senang bisa bertemu denganmu, Helena," jawab Marco. "Di mana suamimu?"
"Aku di sini, Marco," jawab Axel yang telah berdiri di samping Helena.
"Bagimana kabarmu, Axel? Senang bisa bertemu denganmu lagi," ucap Marco sambil mengulurkan tangannya.
"Aku baik, Marco. Senang juga bertemu denganmu," ucap Axel sambil menjabat tangan Marco.
Putri terus menundukkan wajahnya dan tidak berani menatap ke arah Axel.
"Kenapa Mommy terus menunduk dan terlihat takut?" tanya Miya dengan polosnya.
__ADS_1
"Mommy tidak apa-apa sayang," jawab Putri sambil tersenyum ke arah Miya.
"El, sebaiknya kita kembali ke meja kita sendiri karena Baby Triplets mulai merengek," ucap Axel.
"Baiklah. Marco, Putri, kami permisi dulu ya," ujar Helena.
Axel dan Helena segera kembali ke maja mereka. Dan benar saja, Baby Triplets merengek ingin dibelikan mainan baru. Axel dan Helena segera membawa Baby Triplets ke salah satu toko mainan, begitu juga Evan, Jasmine dan Hans yang mengikuti mereka dari belakang.
Baby Triplets sangat senang dan antusias saat memilih beberapa mainan baru. Selain itu Arkana dan Arshaka ikut membantu adik mereka untuk memilih beberapa boneka.
"Mengapa kau melamun, El? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Axel yang melihat Helena terdiam sambil menatap beberapa mainan.
"Aku teringat ketiga anak Marco dan Putri. Aku rasa keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja, Xel. Kau lihat sendiri kan bagaimana penampilan mereka tadi," jawab Helena.
Axel mendengus kesal. "Jadi kau kepikiran dengan mantan suamimu itu."
Helena terkekeh. "Kau masih saja cemburu padanya. Apa semua yang telah aku lakukan selama ini, bahkan kehadiran ketiga anak kembar kita membuatmu ragu dengan seberapa besar cintaku padamu?"
"Tidak, El-ku sayang. Aku tahu kau sangat mencintaiku. Tapi aku tidak suka jika kau memikirkan pria lain selain diriku," ucap Axel.
"Bukan hanya Marco, tapi juga keluarganya," tegas Helena.
"Aku juga tidak suka jika kau dekat-dekat dengan wanita itu," sahut Axel.
"Namanya Putri, suamiku sayang. Aku tahu jika masih menyimpan kebencian padanya. Tapi kau juga harus ingat sayang, jika seseorang itu berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua. Dan aku lihat, Putri sudah berubah," ucap Helena.
Axel menyugar rambutnya sedikit kasar. "Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?"
"Bolehkah aku membelikan mainan untuk ketiga anak mereka?" tanya Helena dengan tatapan memohon.
"As you wish, my queen," jawab Axel.
"Terima kasih suamiku, sayang," ucap Helena, lalu mencium salah satu pipi Axel.
"Sama-sama istriku, sayang. Sebagai ucapan terima kasihnya, jangan lupa nanti malam tiga ronde ya," bisik Axel sambil tersenyum nakal.
Helena mendengus kesal. Axel selalu saja melancarkan akal bulusnya.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1