
Tuan Kareem sudah tiba di restoran salah satu hotel bintang 5, bersama Tuan Farhan dan Nyonya Diah. Tuan Kareem tersenyum puas dengan tempat pilihannya itu. Mereka masuk ke dalam ruang VVIP. Tuan Farhan ingin acaranya terkesan sederhana agar lebih terasa rasa kekeluargaannya. Tuan Farhan hanya mengundang anggota keluarganya saja dan Jasmine. Sedangkan Tuan Kareem memaksa untuk mengundang Nyonya Dilara dan Meira juga.
"Bagaimana Farhan, tempat yang aku pesan bagus bukan?" tanya Tuan Kareem dengan bangganya.
"Ya bagus sekali, Pa. Terima kasih, Pa?" ucap Tuan Farhan.
"Terima kasih banyak, Papa," ucap Nyonya Diah dengan senyum bahagia.
"Heemm," jawaban singkat Tuan Kareem.
Nyonya Diah hanya tersenyum simpul. Nyonya Diah sudah terbiasa dengan sikap dingin dan cuek ayah mertuanya itu.
"Assalamualaikum."
Evan tiba dengan membawa buket bunga mawar yang indah di tangannya.
"Waalaikumsalam."
"Happy anniversary Daddy dan Mommy. Semoga langgeng selalu. Dan semoga Evan juga bisa segera menyusul kelanggengan kalian," ucap Evan sambil memberikan buket bunga kepada ibunya.
"Terima kasih sayang," ucap Nyonya Diah sambil mencium pipi putranya.
"Terima kasih, Son. Daddy doakan semoga kau dan Jasmine bisa segera bersatu," ucap Tuan Farhan.
Tuan Kareem yang mendengar doa putranya hanya memutar bola matanya.
"Mengapa kau datang sendiri? Di mana calon menantu kesayangan Daddy?" tanya Tuan Farhan.
"Mungkin dia terlalu sibuk Farhan, jangan terlalu mengharapkan kedatangannya. Keluarga Alvaro kan gila kerja," sahut Tuan Kareem.
"Daddy tidak perlu khawatir. Jasmine pasti datang Dad. Kebetulan Evan tadi meeting di tempat yang cukup jauh dari Alvaro Group dan tidak searah. Jika Evan harus menjemput Jasmine terlebih dahulu, Evan takut kami datangnya akan terlambat," jawab Evan.
"Jasmine akan datang bersama Triplets A," bisik Evan.
"Apa kau serius?"
Evan mengangguk sambil mengedipkan satu matanya. Wajah Tuan Farhan langsung berseri-seri. Tuan Farhan sangat merindukan ketiga anak Axel dan Helena itu, yang sudah menganggap mereka sebagai cucunya sendiri.
"Bagaimana dengan meetingmu tadi? Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Tuan Farhan.
"Alhamdulillah semua berjalan lancar, Dad. Tuan Hendrawan tanpa ragu menandatangi surat kerja sama dengan perusahaan kita," jawab Evan.
Tuan Kareem membulatkan matanya saat melihat tiga anak kecil kembar identik dengan wajah yang mengingatkannya kepada orang yang sangat dibencinya, sedang berjalan menuju ruangan mereka.
"Sepertinya mataku bermasalah," gumam Tuan Kareem sambil mengucek kedua matanya.
"Papa kenapa? Mata Papa sakit?" tanya Nyonya Diah.
"Entahlah. Mataku sepertinya bermasalah. Aku seperti melihat Alexander pada wajah ketiga anak itu," jawab Tuan Kareem sambil menunjuk Triplets A.
Tuan Farhan tertawa.
"Kedua mata Papa tidak bermasalah. Mereka bertiga memang mewarisi wajah kakek buyut mereka, Tuan Alexander Alvaro," ucap Tuan Farhan.
Tuan Kareem membulatkan matanya.
"Sepertinya kedatanganku ke negara ini menjadi mimpi buruk bagiku. Setiap hari aku harus bertemu dengan para keturunan Alvaro," gerutu Tuan Kareem.
Tuan Farhan segera berdiri untuk menyambut kedatangan Triplets A dan Jasmine yang berjalan di belakang ketiga keponakannya.
"Assalamualaikum," ucap Jasmine saat memasuki ruangan.
"Waalaikumsalam."
"Arkana, Arshaka, Arsyila," panggil Tuan Farhan sambil merentangkan kedua tangannya.
"Grandpa Farhan," seru Triplets A.
Mereka bertiga langsung berlari ke dalam pelukan Tuan Farhan.
"Grandpa merindukan kalian bertiga."
Tuan Farhan mencium pipi Triplets A bergantian.
"Grandpa gendong," rengek mereka bertiga.
Tuan Farhan kebingungan untuk menggendong ketiga anak kembar yang menggemaskan itu.
"Salah satu gendong Granny Diah ya. Kasihan Grandpa tidak bisa jika harus menggendong kalian bertiga," ujar Nyonya Diah.
"Granny." Arsyila lari ke dalam pelukan Nyonya Diah.
"Tuan Kareem," panggil Jasmine saat dia akan salim.
Tuan Kareem tersentak. Sejak tadi Tuan Kareem ternganga melihat kedekatan putra dan menantunya dengan cicit Tuan Alex, bahkan mereka tampak seperti kakek nenek dengan cucu mereka sendiri.
"Eekkhm!"
__ADS_1
Tuan Kareem memberikan tangannya.
"Arkana, Arshaka dan Arsyila. Perkenalkan ini adalah ayah dari Grandpa Farhan, kakeknya Uncle Evan. Namanya Tuan Kareem Sahir."
Tuan Farhan memperkenalkan ayahnya kepada Triplets A. Arkana, Arshaka dan Arsyila segera turun dan menghampiri Tuan Kareem. Tuan Kareem terlihat canggung.
"Assalamualaikum. Kakek buyut, kenalkan namaku Arkana. Ini adik kembarku Arshaka dan Arsyila."
Dengan sopan Arkana memperkenalkan dirinya dan kedua adik kembarnya. Triplets langsung salim dan mencium punggung tangan Tuan Kareem secara bergantian. Tuan Kareem dibuat terpana dengan sikap ketiga anak kembar itu yang terlihat sopan dan lebih dewasa dari usia mereka.
"Mmm... Bolehkah Arsyila mencium pipi kakek buyut?" tanya Arsyila dengan tatapan menggemaskannya.
Tuan Kareem tersenyum. "Tentu saja anak cantik. Kemarilah."
Arsyila naik ke pangkuan Tuan Kareem dan mencium kedua pipi Tuan Kareem.
"Kakek buyut tampan ya, seperti Opa buyutku," celoteh Arsyila membuat Tuan Kareem terkekeh.
Arsyila segera turun dan duduk di pangkuan Evan, sedangkan Arkana dan Arshaka duduk di kursi mereka sendiri, di sebelah Evan.
"Kak Cemal tidak jadi datang Dad?" tanya Jasmine.
"Tidak, Nak. Saat ini istrinya sedang hamil muda dan tidak diperbolehkan untuk bepergian jauh," jawab Tuan Farhan.
"Wah, selamat ya Daddy, Mommy. Sebentar lagi cucu pertama kalian akan segera hadir," ucap Jasmine.
"Terima kasih, sayang," ucap Nyonya Diah dengan senyum bahagianya.
Tuan Kareem melihat Nyonya Dilara dan Meira memasuki restoran. Senyumnya pun langsung mengembang.
"Akhirnya Dilara dan Meira datang," seru Tuan Kareem.
Sringg...
Triplets A langsung mengarahkan tatapan elang mereka ke arah Meira.
"Jadi ulat ini yang ingin mengganggu uncle Evan dan aunty Jasmine," batin mereka bertiga.
Meira berjalan sambil memeluk tubuhnya yang memakai dress ketat tanpa lengan, sama seperti ibunya.
"Mom, mengapa tiba-tiba aku merinding ya? Lihatlah pori-poriku mulai keluar. Apa AC di restoran ini terlalu dingin?" tanya Meira.
"Tidak. Semua baik-baik saja. Sudahlah, sebaiknya kita segera bergegas. Keluarga Sahir pasti sudah menunggu kedatangan kita. Tersenyumlah. Kau harus menampilkan senyum tercantikmu di depan Evan," ucap Nyonya Dilara.
Nyonya Dilara dan Meira bergegas ke ruang VVIP. Tuan Kareem segera menyambut kedatangan mereka.
"Terima kasih, Tuan Kareem. Maaf kami datang terlambat karena kami harus menyelesaikan pekerjaan di kantor terlebih dahulu," ucap Nyonya Dilara ramah.
"Kalian tidak terlambat. Ayo silakan masuk," ucap Tuan Kareem.
Nyonya Dilara dan Meira mengedarkan pandangan mereka. Terlihat kesal di wajah mereka saat melihat keberadaan Jasmine di sana dan juga ketiga anak kembar yang terus menatap mereka dengan dingin. Dari wajah mereka, sudah bisa ditebak mereka pasti masih ada hubungan saudara dengan Jasmime. Nyonya Dilara dan Meira segera menghampiri Tuan Farhan dan Nyonya Diah.
"Happy anniversary ya Om dan Tante. Ini ada kado kecil dariku untuk Tante," ucap Meira sambil menyerahkan sebuah paperbag berlogo salah satu tas branded.
"Terima kasih banyak Meira," ucap Nyonya Diah sambil tersenyum.
"Kau terlalu merendah Meira. Itu bukan hadiah kecil tapi luar biasa. Daripada orang yang datang dan ikut makan malam tanpa membawa kado sama sekali, tapi membawa pasukan untuk makan gratis," ucap Tuan Kareem menyindir Jasmine.
"Papa," seru Tuan Farhan.
"Saya ucapkan selamat untuk anniversary kalian berdua," ucap Nyonya Dilara yang tatapannya terus tertuju pada Tuan Farhan.
Nyonya Diah tidak senang melihatnya.
"Terima kasih," ucap Tuan Farhan singkat.
"Dasar emak-emak ganjen. Gak anak gak emaknya sama-sama murahan," batin Jasmine.
Meira langsung berjalan mendekati kursi Evan.
"Adik kecil, kamu pindah tempat duduk ya karena aunty mau duduk di sini," ucap Meira dengan senyum manisnya.
"Tidak mau. Ini tempatku. Aku mau duduk dekat Uncle Evan. Aunty duduk di sana saja dekat kakek buyut Kareem," jawab Arkana dingin.
"Tapi kan...,"
"Sudahlah Meira, mengalahlah dengan anak kecil," sahut Nyonya Dilara.
Mau tak mau, Meira pun mengalah dan duduk di samping Tuan Kareem.
"Dasar bocah pengganggu. Padahal aku ingin berdekatan dengan Evan," gerutu Meira dalam hati sambil melirik ke arah Arkana.
Arkana tersenyum sinis. Nyonya Dilara berjalan ke arah kursi dekat Nyonya Diah. Tiba-tiba kakinya tergelincir dan jatuh ke dalam pelukan Tuan Farhan. Nyonya Diah terkejut dan menahan sakit di hatinya. Dengan sengaja Nyonya Dilara mencium jas Tuan Farhan dan meninggalkan bekas bibirnya di sana. Tuan Farhan segera mendorong tubuh Nyonya Dilara untuk menjauh darinya.
"Saya minta maaf Tuan. Kaki saya tergelincir tadi. Saya benar-benar tidak sengaja," ucap Nyonya Dilara dengan menunjukkan wajah menyesal.
Nyonya Dilara tersenyum saat melihat ada noda lipstik bekas bibirnya di jas Tuan Farhan.
__ADS_1
"Ya ampun saya minta maaf Tuan. Bibir saya tidak sengaja mencium baju Anda, sehingga membuat baju Anda kotor," seru Nyonya Dilara dengan suara keras.
Nyonya Diah langsung melihat ke arah pakaian suaminya dan melihat ada bekas lipstik Nyonya Dilara yang menempel di jas suaminya. Terlihat raut wajah cemburu bercampur marah. Nyonya Diah segera mengambil tisu untuk menghapusnya, namun bekas lipstik itu tetap tidak hilang.
"Maaf Nyonya, lipstik saya matt dan waterproof. Perlu cairan pembersih khusus untuk membersihkannya. Saya minta maaf," ujar Nyonya Dilara.
Nyonya Diah hanya menyunggingkan bibirnya.
"Sudahlah Diah tidak perlu marah. Dilara sudah minta maaf dan dia tidak sengaja. Sudah jangan diperpanjang lagi," ucap Tuan Kareem.
Semuanya segera kembali duduk di kursi mereka masing-masing. Nyonya Dilara menyunggingkan bibirnya. Dalam hati, dia tertawa bahagia karena berhasil membuat Nyonya Diah cemburu.
Jasmine mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang. Para pelayan datang dan mengidangkan menu spesial untuk makan malam mereka. Tuan Farhan memberikan sedikit sambutan dan mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah hadir pada acara makan malam untuk merayakan hari pernikahannya dengan istrinya, sambil menggenggam tangan istrinya.
Selesai dengan sambutannya, Tuan Farhan mempersilakan untuk memulai makan malam mereka. Nyonya Dilara menyantap makanannya dengan penuh semangat. Belahan gaun merah Nyonya Dilara di bagian dada terlalu rendah, sehingga menunjukkan belahan asetnya yang cukup besar.
"Oma bergaun merah," panggil Arsyila.
"Ya sayang," jawab Nyonya Dilara sok manja sambil melihat ke arah Arsyila.
"Oma dan aunty itu sedang miskin dan tak punya uang ya, sampai harus memakai baju yang kurang bahan. Memangnya kalian tidak takut masuk angin?" tanya Arsyila.
"A-apa?" seru Nyonya Dilara.
"Kami bukannya miskin ya anak kecil, tapi ini namanya fashion. Baju kami ini mahal. Sudahlah, kau kan masih kecil pasti tidak tahu apa-apa tentang fashion," ucap Meira kesal namun berusaha dia tahan.
"Jangan salah aunty, meskipun aku masih kecil tapi aku dan kedua kakakku tahu tentang fashion. Apa aunty tidak bisa melihat dengan jelas pakaian kami. Oma kami adalah designer ternama dan butiknya terkenal sampai ke luar negeri dan harganya mahal sesuai kualitas. Tapi Oma tidak pernah membuat baju kurang bahan seperti itu. Pengemis di luar sana saja masih memakai baju yang tidak kekurangan bahan. Katanya punya banyak uang tapi kalah sama pengemis," celoteh Arsyila tanpa rasa bersalah.
Nyonya Dilara dan Meira mengeraskan rahang mereka karena dihina oleh anak kecil di depan orang sekelas keluarga Sahir.
"Arsyila sayang, tidak boleh berbicara seperti itu kepada orang yang lebih tua sayang. Ayo minta maaf sama Oma Dilara dan Aunty Meira," ucap Jasmine dengan lembut.
Arsyila mendengus kesal.
"Arsyila minta maaf Oma, Aunty," ucap Arsyila dengan terpaksa.
"Tidak apa-apa sayang," jawab Nyonya Dilara dengan senyum fakenya.
Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah manager hotel bersama anak buahnya.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya. Maaf jika kami mengganggu. Saya adalah manager hotel A1. Kedatangan kami ke sini untuk mengantarkan kue sebagai ucapan selamat dari pihak hotel kepada pasangan Tuan Farhan dan Nyonya Diah yang sedang merayakan ulang tahun pernikahan pada hari ini," ucap manager hotel A1.
Tuan Farhan dan Nyonya Diah langsung berdiri dan mengucapkan terima kasih.
"Nona Jasmine ini pesanan yang Anda minta," ucap manager hotel sambil menyerahkan sebuah paper bag.
"Terima kasih Miss Sella," ucap Jasmine.
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu kami permisi dulu. Dan selamat menikmati," ucap Miss Sella.
Jasmine mengeluarkan sebuah jas dari dalam paper bag.
"Daddy, sebaiknya Daddy mengganti jas Daddy yang kotor dengan jas ini. Ini adalah jas Papaku yang sengaja disimpan di sini dan ini masih baru belum dipakai sama sekali," ucap Jasmine.
Tuan Farhan segera melepas jasnya dan memakai jas pemberian Jasmine.
"Terima kasih," ucap Tuan Farhan.
"Sama-sama Daddy. Papaku selalu bilang tidak baik memakai pakaian yang telah terkena kotoran yang tak seharusnya. Apalagi Papaku mengidap mysophobia, terutama kepada wanita penggoda. Papa biasanya langsung merobek dan membakar pakaiannya jika terkena kotoran seperti yang Daddy alami tadi," ucap Jasmine sambil tersenyum.
"Mengapa Papamu bisa meletakkan jasnya di sini? Apa dia pelanggan tetap hotel ini?" tanya Tuan Kareem.
"Bukan pelanggan, Pa. Tapi mereka adalah pemilik hotel A1 ini," jawab Tuan Farhan tegas.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1