Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 54 (Pembalasan Yang Indah)


__ADS_3

"Evan. Bagaimana kau bisa kenal dengan Tuan Alvaro? Dan jika kami tidak salah dengar kau tadi memanggilnya dengan sebutan "kakak"," tanya Tuan Thompson penasaran.


Evan menyunggingkan bibirnya. "Tuan Axel ini adalah kakak iparku. Dia adalah kakak kandung dari istriku, Zalina Jasmine Alvaro Sahir."


Untuk kedua kalinya Tuan Thompson dan Michelle dibuat terbelalak. Michelle mulai terlihat gelisah dan gugup.


"Bagaimana Evan? Apa urusan kalian sudah selesai?" tanya Axel.


"Belum, Kak. Tapi hampir," jawab Evan.


Evan mengeluarkan berkas yang sudah disiapkan sebelumnya. Lalu menyerahkan berkas itu kepada Tuan Thompson dan Michelle.


"Apa ini, Evan?" tanya Michelle tak mengerti.


"Silahkan dibaca," jawab Evan dingin.


Tuan Thompson dan Michelle langsung membuka berkas itu dan membacanya.


"Apa maksudnya ini?" tanya Tuan Thompson sedikit membentak.


"Tolong jelaskan Evan. Mengapa kau tiba-tiba memutuskan kontrak kerja sama kita?" Michelle tidak kalah emosi.


"Mengapa? Karena aku tidak sudi bekerja sama dengan iblis berwujud manusia sepertimu," jawab Evan dengan tatapan penuh kebencian.


Michelle tertegun dan berusaha tidak terlihat gugup. "A-apa maksudmu, Evan?"


"Ini maksudku."


Evan memberikan ponselnya dan memperlihatkan video ketiga pria suruhan Michelle yang tengah dikurung dengan kondisi babak belur. Michelle membulatkan matanya. Wajahnya memucat dan tangannya muali gemetaran.


"Sial! Bagaimana mungkin mereka bisa berada di tangan Evan. Tidak mungkin Evan mengetahuinya." Michelle terlihat sangat panik.


Tuan Thompson mengambil ponsel itu dari tangan Michelle.


"Apa maksudmu menunjukkan video ini kepada kami? Siapa mereka? Kami tidak kenal mereka," tanya Tuan Thompson.


"Mungkin Anda tidak kenal, Tuan. Tapi putri kesayangan Anda, ini pasti mengenal mereka. Benarkan, Michelle?" tanya Evan sambil menyeringai.


Michelle semakin gugup dan ketakutan.


"Apa benar yang Evan katakan jika kau mengenal ketiga pria ini? Siapa mereka dan apa hubungannya denganmu,Michelle?" tanya Tuan Thompson.


"A-aku tidak tahu Dad. Aku tidak kenal dengan mereka," elak Michelle.


"Ooh. Jadi, Kau tidak kenal ya dengan mereka. Tapi sayangnya mereka sangat mengenalmu, Michelle. Bahkan, mereka juga mempunyai bukti percakapan yang kalian lakukan baik dalam bentuk tulisan maupun rekaman suara."


Michelle semakin ketakutan, membuat Tuan Thompson semakin penasaran.


"Baiklah. Jika kau ingin tetap bungkam. Aku yang akan menjelaskannya kepada ayahmu."


Evan mengambil ponselnya dari tangan Tuan Thompson.

__ADS_1


"Jadi Tuan Thompson, ketiga pria yang ada di video ini adalah orang bayaran, yang telah Michelle bayar untuk melecehkan dan mencelakai istriku, Jasmine," terang Evan.


"Omong kosong! Putriku tidak mungkin melakukan hal seburuk itu. Jangan coba-coba kau memfitnah putriku dan merusak nama baik Keluarga Thompson," ucap Tuan Thompson tak terima.


"Kami mempunyai bukti-buktinya Tuan. Termasuk bukti transfer sejumlah uang dari rekening milik Michelle ke dalam rekening ketiga pria itu. Terutama rekaman CCTV tentang pertemuan Michelle dengan ketiga pria itu dan merencanakan sebuah kejahatan yang ditujukan kepada istriku, Jasmine," tambahnya.


Wajah Tuan Thompson mengeras. "Apa benar itu, Michelle?"


Michelle tak menjawab. Dia hanya bisa menangis dengan wajah memelas, membuat hati Tuan Thompson luluh dan tak tega.


"Aku mohon Evan. Sebagai ayahnya aku meminta maaf kepadamu atas nama Michelle," mohon Tuan Thompson.


"Tidak semudah itu, Tuan," jawab Evan singkat.


"Tapi....?"


Ponsel Tuan Thompson berdering. Dia mendapatkan telpon dari sekretarisnya, namun Tuan Thompson langsung menolak panggilan itu. Tak lama kemudian, ponselnya berdering kembali.


"Sebaiknya Anda angkat telpon dari anak buah Anda itu. Siapa tahu itu penting," ucap Axel sambil tersenyum tipis.


Tuan Thompson pun mengangkat panggilan sekretarisnya itu.


"Halo, ada apa? Aku sedang sibuk sekarang!" bentak Tuan Thompson.


Tuan Thompson mendengarkan ucapan sekretarisnya. Tiba-tiba wajahnya terlihat sangat shock.


"Apa?! Perusahaan cabang yang ada di San Fransisco telah hancur?" teriak Tuan Thompsom.


"Ada apa, Dad? Apa maksud ucapan Daddy tadi?" tanya Michelle.


Tuan Thompson meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ada yang telah menerobos sistem keamanan Thompson Corp. Selain itu ada yang telah menghancurkan salah satu cabang perusahaan kita yang ada di San Fransisco. Cabang perusahaan yang berkembang paling pesat dan memberikan income sangat besar kepada kita, telah hancur rata dengan tanah," jawab Tuan Thompson dengan wajah lesunya.


Michelle langsung menutup mulutnya, tak percaya.


Evan dan Axel tersenyum puas melihat kepanikan, ketakutan dan keputusasaan Tuan Thompson dan Michelle.


"Itu adalah peringatan dan pelajaran kecil dari kami, karena kalian telah berani mengusik ketenangan Keluarga Alvaro dengan berusaha menyakiti adik kesayanganku," ucap Axel dengan wajah dinginnya.


Tuan Thompson dan Michelle meneguk salivanya kasar. Beberapa anggota polisi wanita telah tiba.


"Silakan tangkap wanita ini," ucap Evan sambil menunjuk ke arah Michelle.


Seorang polisi wanita langsung menarik Michelle dan hendak memborgol tangannya. Michelle langsung memberontak.


"Ti-tidak! Kalian tidak bisa menahanku seenaknya!" bentak Michelle.


"Kami membawa surat penangkapan resmi dari kepolisian. Sebaiknya Nona bisa bekerja sama dengan baik, sebelum kami menggunakan kekerasan," jawab polisi itu.


Michelle menatap ke arah Evan.

__ADS_1


"Aku mohon Evan, jangan penjarakan aku. Cabut tuntutan yang kau berikan padaku. Apapun akan aku lakukan, kalau perlu aku akan pergi jauh darimu dan juga dari Jasmine asalkan kau membebaskanku dari jeratan hukum. Aku benar-benar menyesal. Aku khilaf. Tolong maafkan aku," mohon Michelle dengan wajah memelasnya.


"Khilaf kau bilang? Kau bukan hanya hampir mencelakai istriku, tapi juga calon anak kami!" teriak Evan.


"Kau tinggal pilih, tinggal di balik jeruji besi atau menetap selamanya di dalam liang kubur," jawab Evan dengan wajah bengisnya.


"A-apa?"


Michelle menangis histeris dan terus memberontak saat para polisi itu membawanya secara paksa.


"Aku mohon Evan, Tuan Alvaro. Lepaskan putriku. Berapa pun uang yang kalian inginkan akan aku berikan, asalkan kalian mau melepaskan putriku," mohon Tuan Thompson namun dengan masih terkesan sombong.


"Kekayaan Keluarga Alvaro jauh di atas kekayaanmu Tuan Thompson. Kami tidak sudi menerima uang receh darimu," ucap Axel dengan tatapan merendahkan.


Tuan Thompson terlihat sangat marah. Dia langsung pergi dan mengejar putrinya.


Ting... (Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Axel)


Ada kiriman beberapa foto sebuah bangunan yang telah rata dengan tanah, dan juga sebuah pesan singkat.


"Bagaimana saudaraku? Apa kau menyukai hasil karya anak buahku?"


Axel tersenyum senang, dan langsung membalas pesan itu.


"Aku sangat menyukainya, saudaraku. Terima kasih banyak, Aiden. Ini adalah pembalasan yang indah."


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:



Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen



Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2