Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 36 (Pilihan)


__ADS_3

Evan dan Jasmine sedang fokus di depan laptop masing-masing untuk menunggu pengumuman hasil ujian seleksi masuk Harvard University. Tak lama kemudian, ada email masuk. Keduanya langsung membuka email tersebut dengan cepat.


"Alhamdulillah, kita lolos Evan," seru Jasmine dan langsung suaminya dengan erat.


"Alhamdulillah, Tuhan mempermudah jalan kita sayang," ucap Evan sambil mengecup pipi kiri dan kanan istri tercintanya.


Keluarga besar Alvaro dan Sahir sangat bahagia mendengar berita baik ini. Evan dan Jasmine segera mempersiapkan segala sesuatu yang akan mereka bawa dan gunakan selama tinggal di Amerika. Bukan hanya Evan dan Jasmine saja yang akan berangkat ke Amerika, namun Yudistira juga ikut dengan mereka. Tuan Zayn meminta Yudistira untuk menjadi asisten yang akan membantu Evan dan Jasmine nantinya.


Bukan tanpa alasan, Tuan Zayn dan Axel sengaja menempatkan Yudistira untuk menjaga Jasmine dan Evan, seperti Tuan Rino dan William yang menjadi asisten dan orang kepercayaan Tuan Zayn dan Axel selama ini. Selain sebagai bodyguard, Yudistira juga akan melanjutkan pendidikan S2-nya di Amerika.


"Yud, apa kau sudah mempersiapkan barang-barang yang akan kau bawa ke Amerika?" tanya Tuan Rino pada saat makan malam keluarga.


"Sudah, Yah. Tidak banyak kok barang yang akan Yudi bawa," jawab Yudistira.


"Ayah berpesan padamu, jaga diri baik-baik selama kau berada di sana dan jangan lupakan tugasmu untuk menjaga Nona dan Tuan Muda," nasihat Tuan Rino.


"Yudi akan selalu mengingatnya, Yah. Kak Jasmine bukan hanya aku anggap seperti majikan tapi juga kakakku sendiri. Aku akan selalu berusaha untuk menjaganya," ujar Yudistira.


Tuan Rino menganggukkan kepalanya.


"Ayah mau nambah lagi?" tanya Bu Sinta.


"Boleh, Bu," jawab Tuan Rino sambil menyerahkan piringnya kepada Bu Sinta.


"Jangan lupa dedek gemesnya dipamiti ya, Mas Yudi," ucap Bima.


Uhuk...


Yudistira langsung tersedak.


"Ya ampun, hati-hati kalau makan. Memangnya Mas Yudi sedang mikirin apa sih?" tanya Juna sambil menyerahkan segelas air putih.


Yudistira langsung meminum airnya sampai tandas. Bima dan Juna terkekeh dan mendapatkan sorotan tajam dari Yudistira.


"Siapa itu dedek gemes? Pacar kamu Yud?" tanya Bu Sinta.


"Bukan, Bu. Tidak tahu siapa yang Bima sama Juna maksud," jawab Yudistira pura-pura tak tahu.


"Kau itu pembohong paling buruk, Yud," ejek Bu Sinta.


Yudistira langsung terdiam dan tak berkutik.


"Dedek gemes itu namanya Vira, Bu. Gadis yang berasal dari Batam itu," ucap Bima.


"Apa kau menyukai gadis itu, Yud?" tanya Tuan Rino serius.


"T-tidak Yah. Yudi hanya mengenalnya sedikit," jawab Yudistira.


"Tidak perlu gugup seperti itu kalau memang tidak, santai saja. Kalau kau menyukainya juga tidak apa-apa, manusiawi jika seorang pria menyukai seorang wanita. Itu artinya anak Ayah ini masih normal," ucap Tuan Rino.


"Cie... Sudah dapat restu loh dari Ayah," goda Juna.


"Asyik! Kakak perempuan Wulan akan bertambah lagi," seru Wulan, si bungsu yang paling cantik.


Yudistira terlihat salah tingkah.


"Mengapa kau diam, Yud? Apa kau berpikir jika Ayah dan Ibu tidak akan setuju?" tanya Bu Sinta.


Yudistira menghela napas panjang, lalu menatap ibunya. Seketika suasana menjadi hening.


"Ayah dan Ibu memang ingin anak-anak kami mendapatkan pasangan yang baik. Tapi tidak ada satu manusia pun yang sempurna di dunia ini. Kami tahu betul apa yang telah dialami oleh gadis malang itu. Tapi semua itu terjadi bukanlah karena keinginannya, tapi memang sudah menjadi jalan hidup yang harus dia terima dan jalani," ucap Bu Sinta.


"Dia terlalu muda untuk Yudi, Bu. Nanti aku dikira seorang pedofil," sahut Yudistira.


"Apa kau mau menyindir Ayahmu ini, hah?" seru Tuan Rino.


Yudistira membelalakkan matanya. "Tidak Yah."


"Selisih umur kalian masih bisa dihitung menggunakan jari. Apa kau sudah lupa jika selisih umur Ayah dan Ibumu ini 15 tahun? Dan apa kau mau bilang kalau Ayahmu seorang pedofil? Setelah membuat perut ibumu membengkak berkali-kali," ucap Tuan Rino kesal.

__ADS_1


Bukannya takut, tapi Yudistira dan kelima adiknya malam tertawa.


"Bukan maksud Yudi mengatakan Ayah seperti itu. Yudi minta maaf, Yah," ucap Yudi sambil menahan tawa.


"Kalau kau memang menyukai gadis itu, Ayah dan Ibu akan melamarkannya untukmu," ucap Tuan Rino.


Tawa mereka langsung menguap dan suasana berubah menjadi hening dan serius.


"Me-melamar Yah? Untuk apa?" seru Yudistira.


"Kau ini calon mahasiswa S2, tapi otakmu kenapa jadi kosong seperti ini? Tentu untuk menjadikan gadis yang bernama Vira itu sebagai istrimu," jawab Tuan Rino geram.


"T-tapi Yah, Vira akan melanjutkan pendidikannya untuk meraih cita-citanya," ucap Yudistira.


"Kan dia bisa kuliah juga di Amerika bersamamu dan mengambil pendidikan keperawatan. Beasiswa yang diberikan Tuan Axel berlaku untuk kuliah di dalam atau luar negeri," sahut Tuan Rino.


"Dan supaya kau tidak merana selama tinggal di sana karena harus melihat kemesraan pengantin baru setiap hari," tambah Tuan Rino.


Yudistira memutar bola matanya malas.


"Merana Yah? Telat kalau Yudistira harus merana karena melihat kemesraan Kak Jasmine dan Kak Evan. Sudah tidak mempan, Yah," ucap Yudistira.


Tuan Rino menyerngitkan dahinya.


"Karena kami sudah terbiasa dan terlatih melihat kemesraan Ayah dan Ibu setiap hari, bahkan setiap saat jika kalian sedang bersama di rumah. Kami sudah kebal Yah," ucap Juna dan Bima bersamaan.


Tuan Rino dan Bu Sinta menjadi salah tingkah. Wajah Bu Sinta langsung merona karena malu.


"Lagi pula, Yudi juga tidak tahu bagaimana perasaan Vira padaku," ucap Yudistira lesu.


"Makanya tanyakan! Bagaimana perasaannya padamu?" teriak Ayah, Ibu dan kelima adik Yudistira.


Yudistira membulatkan matanya dan meneguk salivanya kasar.


"Jangan bilang kakak yang pernah meraih juara taekwondo, tidak berani menyatakan perasaannya kepada seorang gadis dan balik menanyakan bagaimana perasaan gadis itu," celetuk Nakula sambil memukul dahinya pelan.


"Semua pilihan dan keputusan ada di tanganmu," ucap Tuan Rino.


...***...


Axel, William dan Darren sedang menghadiri pertemuan penting dengan seorang klien di sebuah restoran Italia. Tanpa sengaja mereka melihat Pramudya yang sedang membawa beberapa map di tangannya, map yang berisi surat lamaran pekerjaan. Sudah lebih dari satu minggu, Pramudya berkeliling kota dan memasukkan surat lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan.


"Will, apa kau tahu informasi tentang riwayat pekerjaan Pramudya sebelumnya?" tanya Axel.


"Sebelumnya dia adalah salah satu pekerja biasa di perusahaan PT. Hutama. Kinerjanya sangat bagus dengan loyalitas tinggi. Seharusnya dengan kinerjanya yang bagus itu, dia bisa naik jabatan dengan mudah. Namun pemilik perusahaan itu adalah ayah dari kekasihnya, dan Tuan Hutama tidak setuju dengan hubungan Pramudya dengan putrinya. Jadi, sekeras apapun Pramudya bekerja dan menunjukkan kehebatannya, dia tidak akan pernah naik jabatan," jawab William.


"Apa ada posisi kosong di perusahaan kita?" tanya Axel lagi.


"Ada. Bagian office manager, Kak," jawab Darren. "Tapi apa jabatan itu tidak terlalu tinggi untuk pria seperti Pramudya?"


Axel tersenyum.


"Kita lihat saja, apakah dia sanggup untuk menduduki posisi itu atau tidak," jawab Axel sambil menyeringai.


Pramudya terduduk lemas di salah kursi yang terletak di depan restoran. Wajahnya terlihat lesu setelah ditolak manager restoran saat dia melamar pekerjaan tadi. Pramudya mengambil salah satu mapnya untuk dijadikan kipas karena cuaca siang hari yang sangat panas.


"Ke mana lagi aku harus mencari pekerjaan? Tidak mungkin, aku dan Vira harus terus hidup menumpang kepada Nabila," gumam Pramudya.


"Pramudya!"


Pramudya langsung menoleh ke arah orang yang memanggilnya.


"T-tuan William," seru Pramudya sambil berdiri.


"Tuan Axel ingin bertemu denganmu," ucap William sambil tersenyum.


"Tuan Axel ingin bertemu denganku?" tanya Pramudya tak mengerti.


William mengangguk. "Tuan Axel sudah menunggumu di dalam."

__ADS_1


Pramudya pun mengikuti William masuk ke dalam restoran dan menuju ruang VVIP.


"Selamat siang, Tuan Axel," sapa Pramudya.


"Selamat siang, Pramudya. Silakan duduk," jawab Axel.


Pramudya langsung duduk di depan Axel. Axel melirik map yang dibawa oleh Pramudya.


"Apa kau sedang mencari pekerjaan?" tanya Axel.


"Benar, Tuan," jawab Pramudya.


"Apa kau sudah mendapatkannya?" tanya Axel lagi.


Pramudya tersenyum sambil menggeleng. "Belum, Tuan. Bukan perkara yang mudah untuk mendapatkan pekerjaan di kota sebesar ini."


"Apa kau mau bekerja denganku?"


Pramudya membulatkan matanya. "Apa Tuan serius? S-saya mau Tuan. Menjadi cleaning service pun saya bersedia."


Axel tersenyum. "Tapi untuk bisa bekerja denganku, tidaklah mudah. Kau harus lulus tes terlebih dahulu. Apa kau sanggup?"


"Saya sanggup, Tuan," tegas Pramudya.


Axel mengambil map dan menyerahkannya kepada Pramudya.


"Baca dan pelajari berkas ini. Kau hanya memiliki waktu 1 jam sebelum klienku datang. Kau harus bisa membuat klienku menandatangi surat perjanjian kontrak kerja sama ini," ucap Axel.


Pramudya membuka map itu dan membelalakkan matanya saat membaca berkas-berkas penting yang ada di dalamnya.


"Apa Tuan serius? I-ini kontrak kerja sama berskala besar dengan nominal yang sangat banyak. Bagaimana mungkin Tuan meminta saya untuk melakukan pertemuan penting ini? Dan jika saya sampai gagal, perusahaan Tuan akan mengalami kerugian yang sangat besar," ucap Pramudya.


"Apa kau ingin perusahaanku mengalami kerugian?"


"Tentu saja tidak, Tuan," jawab Pramudya cepat.


"Kalau begitu, kau tidak boleh gagal. Keputusan ada di tanganmu," sahut Axel.


Pramudya melihat ke arah William dan Darren yang hanya tersenyum tipis dengan tatapan tajam. Pramudya langsung meneguk salivanya kasar. Tapi ini adalah kesempatan yang tidak mungkin dia sia-siakan.


"Baiklah, Tuan. Saya akan berusaha semampu saya," ucap Pramudya.


Sementara itu, Vira sedang membereskan buku-buku yang baru saja dia pelajari untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi keperawatan. Terdengar suara ketukan pintu.


"Sebentar!" teriak Vira.


Vira membuka pintu dan terkejut.


"Mas Yudi."


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2