
Jasmine sudah tiba di London Heathrow Airport, Inggris. Jasmine langsung menghampiri Hans yang sudah menunggunya di bandara bersama Aiden. Keluarga besar Morris sudah berada di Inggris sejak dua hari yang lalu. Azzura sudah memohon kepada Pangeran Aaron agar diijinkan untuk ikut menjemput Jasmine di bandara. Namun Pangeran Aaron tetap tidak memberi ijin, karena itu sangat berbahaya. Pangeran Aaron tidak ingin calon pengantinnya berada dalam bahaya.
"Bagaimana kabarmu, my princess?" tanya Aiden sambil mengusap pucuk kepala Jasmine.
"Kabarku baik, Kak," jawab Jasmine.
Aiden tersenyum lembut.
"Aku tahu ungkapan itu hanya ada di bibirmu, bukan dari hatimu. Tapi kau tenang saja, kami semua akan membuatmu melupakan sejenak masalah yang sedang kau hadapi saat ini," ucap Aiden.
"Kak Aiden benar. Aku janji akan membuat hatimu senang dan bahagia selama kita di sini," sahut Hans.
"Terima kasih," ucap Jasmine sambil tersenyum haru.
Mereka segera pergi meninggalkan bandara dan menuju istana Kerajaan Monarc. Ada seorang sopir khusus dan bodyguard yang telah disiapkan oleh Pangeran Aaron untuk mengawal perjalanan mereka. Jasmine sangat menikmati perjalanannya, dan dia teringat kembali dengan kenangannya saat tinggal di Inggris untuk melanjutkan pendidikannya di Oxford University.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil mereka memasuki sebuah pintu gerbang yang sangat besar dan tinggi. Jasmine terbelalak saat melihat beberapa bangunan kastil yang berdiri dengan megah dan kokoh. Jasmine memang sudah beberapa kali bertemu dengan Pangeran Aaron selama dia berada di Inggris. Tapi ini kali pertamanya dia memasuki Kerajaan Monarc.
Philipe sudah menyambut kedatangan mereka di depan istana milik Pangeran Aaron, yang letaknya cukup jauh dari bangunan istana yang lain.
"Selamat datang di istana Pangeran Aaron, Nona Muda Alvaro," sambut Philipe.
"Terima kasih atas sambutannya Kak Philipe," jawab Jasmine.
Mereka memasuki istana Pangeran Aaron, dan Philipe mengantarkan Jasmine ke tempat Azzura berada.
"Mari saya antarkan ke ruangan Nona Azzura," ucap Philipe sopan.
"Kalian berdua ikutlah bersama Philipe. Aku akan menemui istri dan anakku," ujar Aiden.
"Baik, Kak. Aku juga sudah tidak sabar bertemu dengan Kak Emily dan keponakanku, Angelo. Dan pastinya keluarga besar Morris," jawab Jasmine.
Aiden berpisah dengan mereka dan mengambil arah yang berlawanan.
"Azzura sedang belajar tata krama karena dia akan menjadi calon anggota Kerajaan," ujar Hans.
Jasmine terkekeh. "Aku yakin saat ini wajah Azzura sudah seperti singa betina karena merasa jenuh dan kesal. Azzura kan paling benci jika hidupnya selalu diatur. Aku sangat penasaran, apa alasan Azzuran sampai mau menikah dengan Pangeran Aaron."
"Awalnya dia memang jenuh dan uring-uringan setiap saat. Dia bahkan sampai berniat ingin meledakkan kepala dari gurunya yang lama. Tapi sekarang Azzura malah menikmatinya," ucap Hans.
"Bahkan Nona Azzura sampai rela bangun pagi agar dia bisa segera belajar lagi," sahut Philipe.
"How could it be?" tanya Jasmine.
"Karena dia mendapatkan guru yang sefrekuensi dengannya," jawab Hans dengan senyum penuh arti.
Philipe membukakan pintu sebuah ruangan.
"Jasmine!" teriak Azzura lalu berlari dengan girangnya.
Kedua sahabat itu saling berpelukan.
"Aku senang sekali kau bisa datang ke sini. Terima kasih," ucap Azzura terharu.
"Ini kan hari bahagia dan bersejarah saudariku, tentu saja aku harus datang. Acaramu kurang sakral tanpa kehadiranku," ucap Jasmine sambil tersenyum.
"Nona Alvaro," sapa seseorang dari belakang Azzura.
__ADS_1
"Granny Martha." Jasmine langsung salim dan memeluk Nyonya Martha.
"Jadi Granny Martha yang menjadi guru tata krama Azzura."
"Benar Nona Jasmine," jawab Pangeran Aaron yang sudah berada di tengah mereka. "Nyonya Martha ini adalah sahabat baik mendiang ibuku, Ratu Anne Monarc."
"Pangeran Aaron." Jasmine memberikan hormat.
Pangeran menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Terima kasih sudah berkenan menghadiri pernikahan kami," ucap Pangeran Aaron.
"Sudah menjadi kewajiban hamba, Pangeran. Anda telah berani ingin menikahi saudariku, maka sudah seharusnya aku menyaksikan pernikahan kalian," jawab Jasmine.
Pangeran dan Azzura saling menatap dan melempar senyum, membuat Jasmine menggelengkan kepalanya.
"Bucin akut," bisik Hans.
Jasmine hanya tersenyum sambil mengangguk setuju.
"Oh ya, Azzura. Hans tadi bilang jika gurumu yang hebat ini sefrekuensi denganmu. Aku jadi penasaran," ucap Jasmine sambil menyerngitkan dahinya.
Azzura dan Nyonya Martha terkekeh.
"Karena Granny Martha itu orangnya santai tidak kaku seperti guru yang disiapkan oleh Pangeran Aaron sebelumnya," cibir Azzura kepada calon suaminya.
"Iya aku salah. Sudah berapa kali aku harus meminta maaf queen," sahut Pangeran Aaron kesal.
"Sudah termaafkan," ucap Azzura sambil tersenyum.
Nyonya Martha hanya tersenyum. Sebenarnya Nyonya Martha bukanlah seorang Army. Namun karena Hans sangat menyukai BTS sama halnya seperti Azzura, Nyonya Martha pun akhirnya mulai mengenal apa itu BTS dan para personilnya yang bak dewa Yunani versi Korea Selatan. Sehingga Nyonya Martha bisa menjadi teman bercerita Hans.
"Bagaimana kabar Keluarga Alvaro?" tanya Tuan Zibber Morris.
Saat ini Jasmine sedang bersama keluarga besar Morris.
"Alhamdulillah baik, Grandpa," jawab Jasmine.
"Keluarga Alvaro sangat merindukan kalian, Keluarga Morris. Papa dan Kak Axel meminta maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan Azzura, karena ada hal penting yang harus mereka selesaikan di Alvaro Group. Tapi Opa Alex dan Oma Savira akan tiba di sini pada hari pernikahan Azzura dan Pangeran Aaron. Saat ini mereka sedang berada di Jerman."
"Apa kau serius, Nak?" tanya Tuan Zibber penuh semangat.
"Tentu saja, Grandpa," jawab Jasmine.
Raut wajah bahagia tampak di wajah Tuan Zibber dan istrinya.
"Kami sangat bersyukur Tuan Alex dan Nyonya Savira bisa hadir," ucap Tuan Arnold dengan senyum bahagia.
"Aku penasaran, queen. Apa yang membuatmu mau menikah dengan Pangeran Aaron?" tanya Jasmine saat keduanya sedang berada di dalam kamar Azzura.
Azzura ingin tidur bersama Jasmine dan meluapkan rasa rindunya kepada sahabat sejatinya itu. Karena saat dia sudah menyandang status Nyonya Aaron, Azzura tak kan bisa melakukannya. Pangeran Aaron pasti tak kan membiarkan Azzura tidur dengan siapapun kecuali dengan dirinya.
"Pangeran Aaron itu pria yang tampan, maskulin dan sangat menggoda iman, meskipun usia kami terpaut cukup jauh. Selain itu dia kaya raya, seorang pangeran dan mempunyai kekuasaan," jawab Azzura.
"Tapi dibalik semua kelebihannya itu, ada banyak aturan yang harus kau patuhi saat resmi menjadi anggota kerajaan," ucap Jasmine.
"Kau benar. Itu adalah konsekuensi yang harus aku terima karena menjadi istri seorang pangeran. Pangeran Aaron telah berjanji kepadaku jika dia tidak akan menuntutku untuk berubah dan dia ingin aku tetap menjadi diriku sendiri. Pangeran juga tidak akan membatasi kebebasanku selama masih dalam tahap wajar. Bahkan Pangeran sudah berjanji akan membelikanku setiap album terbaru BTS. Dia juga akan menemaniku menonton konser BTS di manapun dan kapanpun," terang Azzura.
__ADS_1
Jasmine tersenyum bahagai saat melihat binar kebahagiaan di mata Azzura.
"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Evan?" tanya Azzura dengan hati-hati.
"Aku terus mendiamkan Evan dan menolak untuk bertemu dengannya. Sudah satu minggu kami tidak bertemu," jawab Jasmine dengan wajah mulai sendu.
Azzura menyentuh tangan Jasmine.
"Apa kau tidak percaya dengan Evan?"
"Aku bukannya tidak percaya pada Evan, tapi masalah yang kami hadapi bukan hanya tentang masalah percaya atau tidak. Aku percaya jika Evan telah dijebak. Namun kebenaran apakah Evan meniduri gadis itu atau tidaklah yang menjadi fokusku saat ini. Evan adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Tapi dia tetaplah manusia biasa yang tidak sempurna. Evan juga bisa melakukan kesalahan, meskipun dalam kondisi tidak sadar," jawab Jasmine.
Azzura memeluk Jasmine dan berusaha untuk menguatkannya. Azzura sangat sedih. Di saat dia akan meraih kebahagiaan, sahabatnya harus mendapatkan cobaan yang berat.
"Sebaiknya kita tidur sekarang, supaya kau tidak bangun kesiangan. Karena besok pagi ada hal penting yang harus kita hadiri dan lakukan," ucap Jasmine.
Azzura mendengus kesal.
"Hal penting itu adalah hal yang paling aku benci. Aku besok harus bertemu dengan si iblis betina itu," ucap Azzura geram.
"Siapa yang kau maksud itu?" tanya Jasmine penasaran.
"Ratu Kerajaan Monarc," jawab Azzura santai.
"Apa? Bagaimana bisa kau mengatai calon ibu mertuamu dengan sebutan yang kejam seperti itu?" teriak Jasmine.
"Ah, telingaku bisa sakit, sister. Ratu Monarc yang sekarang adalah ibu tiri dari Pangeran Aaron. Dan Pangeran Aaronlah yang sudah menamai Ratu dengan sebutan iblis betina," jelas Azzura.
"Dan bukan hanya wanita itu yang membuatku kesal. Ada satu orang wanita lagi yang sangat tergila-gila dengan Pangeran Aaron dan berharap bisa istri Pangeran Aaron, yaitu Countess Navier Dustin. Di saat pertama kali aku menginjakkan kaiku di istana, mereka berdua telah mempermalukanku di hadapan Raja Jasper dan para bansawan."
Jasmine mengangguk dan tersenyum.
"Kau tenang saja, queen. Mulai sekarang tidak akan ada lagi wanita yang berani mengganggumu dan merendahkanmu. Aku dan Hans ada di sini yang akan selalu melindungimu. Biarkan sampah-sampah itu akan menjadi urusanku dan Hans. Karena kami adalah sang eksekutor," batin Jasmine sambil menyeringai.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1