
Pagi-pagi sekali, Axel sudah berada di apartemen Marissa. Listrik dan saluran air di apartemen Marissa mengalami masalah dan perlu diperbaiki. Marissa memohon kepada Axel supaya dia bisa tinggal di mansion milik Axel.
Axel menolaknya secara halus dengan berbagai alasan. Akhirnya Axel membawa Marissa ke hotel A1 dan menempatkannya di presidential suite. Marissa senang akhirnya rencananya berhasil. Meskipun dia tidak bisa tinggal di mansion, tapi dia yakin rencana yang sudah disiapkannya pasti akan berjalan dengan lancar.
"Apa kau tidak ingin tinggal dan menemaniku di sini, sayang?" tanya Marissa manja saat keduanya berada di dalam kamar hotel setelah memindahkan beberapa barang Marissa.
"Maaf Cha. Hari ini aku harus menghadiri rapat penting dengan para petinggi Alvaro dan beberapa klien," jawab Axel.
Marissa cemberut.
"Tapi nanti malam kau bisa kan menemaniku makan malam, di sini?" pinta Marissa.
"Baiklah. Nanti malam kita makan malam bersama," jawab Axel sambil tersenyum.
"Sebentar lagi, pelayan hotel akan mengantarkan sarapanmu. Kau makanlah lalu istirahat. Jika kau ingin pergi jalan-jalan, aku akan mengirimkan sopir untuk mengantarkanmu," ucap Axel.
"Baiklah. Terima kasih banyak ya, sayang," ucap Marissa saling memeluk lengan Axel.
"Kalau begitu, aku berangkat kerja dulu ya," pamit Axel.
"Iya, kamu hati-hati ya. Aku sudah tidak sabar menunggu malam tiba untuk makan malam bersamamu," ujar Marissa.
Saat Axel keluar dari hotel, William dan Irene sudah menunggunya di dalam mobil.
"Ini Tuan, menu sarapan Anda. Pagi ini Nona Helena membuatkan sup iga. Lezat sekali, Tuan. Benarkan Irene?" ucap William.
"Benar sekali Tuan. Nona Helena sangat pandai memasak," sahut Irene.
Axel memberikan tatapan kesal.
"Beraninya kalian mendahuluiku mencicipi masakan Helena!" bentak Axel.
"Ya mau bagaimana lagi. Bos tadi kan lagi sama cem-cemannya," cibir William.
Plak!!!
Axel memukul kepala William.
"Au...! Sakit Bos," teriak William.
"Makanya didik mulutmu sebelum bicara. Bule tulen Jerman saja sok bilang cem-ceman," ucap Axel kesal.
Irene membuang muka ke jalan sambil menahan tawanya.
"Cepat jalankan mobilnya, Will! Aku sudah lapar dan ingin segera sampai di kantor!" perintah Axel.
"Siap Bos bucin," sahut William.
"Apa kau bilang?" bentak Axel.
"Siap Bos!" teriak William.
Helena disibukkan dengan pekerjaannya di rumah sakit. Sesekali Reymond mencari kesempatan untuk mendekatinya. Reymond sengaja mengajak Helena makan siang bersama supaya bisa berduaan. Namun Reymond harus menelan pil kekecewaan karena Helena juga mengajak Aisya.
Pada sore harinya, Helena mampir ke sebuah supermarket untuk membeli daging dan beberapa bahan makanan yang lain. Helena ingin mengadakan pesta barbekyu dengan para maid dan penjaga di mansion.
Semua itu Helena lakukan supaya dia tidak merasa kesepian karena Axel selalu pulang larut malam. Apalagi sejak kembalinya Marissa, Helena hampir tidak pernah bertemu dengan Axel di malam hari. Hati Helena sedih, tapi dia tidak ingin terus larut dalam kesedihannya.
Tanpa sepengetahuan Helena, Reymond mengikutinya sejak tadi.
"Sungguh bodoh pria yang menjadi suamimu saat ini, Helen. Tuhan telah memberikan istri sebaik dirimu, tapi dia malah menikmati pelukan wanita lain," kesal Reymond.
Reymond berjalan mendekat ke arah Helena.
"Helena," panggil seseorang.
__ADS_1
Helena kaget. Dia langsung membalikkan badannya dan melihat siapa yang telah memanggilnya. Helena melihat pria dari masa lalunya sedang menggendong bayi laki-laki yang tampan.
"Marco?!"
Reymond segera menghentikan langkahnya dan bersembunyi lagi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Helena.
"Aku ingin bicara denganmu. Aku mohon berikan waktumu sebentar," ucap Marco dengan nada memohon.
Helena dan Marco saat ini berada di sebuah cafe dekat supermarket. Marco meletakkan bayinya di dalam stroller. Reymond juga berada di cafe yang sama, dan duduk di belakang Helena agar Helena tidak mengetahui keberadaannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Kita sudah tidak punya urusan lagi, bukan?" tanya Helena.
Marco menghela napas panjang lalu menatap wajah Helena.
"Aku dan Sherly akan bercerai," ucap Marco.
Helena mengerutkan dahinya.
"Dia membohongiku selama ini. Di belakangku dia punya pacar gelap, bernama Rocky. Aku memergoki mereka bermesraan di hotel," jelas Marco.
Helena menghembuskan napasnya kasar.
"Lalu bagaimana dengan anak kalian?" tanya Helena sambil melihat bayi Marco yang tidur dengan lelapnya.
"Deniz, bukanlah anakku. Aku sudah melakukan tes DNA dengannya. Sherly menukar bayi perempuan kami dengan bayi Deniz untuk menyenangkan hati Papa dan Mama yang sangat menginginkan bayi laki-laki. Dan aku tidak tahu di mana anak kandungku sekarang," ucap Marco sambil menangis.
Marco terlihat rapuh sekali. Helena merasa kasihan.
"Mengapa kau tidak mencarinya?" tanya Helena.
"Aku sedang berusaha mencarinya. Aku kehilangan jejaknya, bahkan Sherly juga tidak tahu di mana anak kami berada. Namun ada sedikit titik terang. Pihak rumah sakit tempat Sherly melahirkan, mengatakan ada sepasang suami istri yang mengadopsi bayi perempuan yang tidak diketahui siapa orang tuanya. Dan mereka membawa bayi itu ke negara ini," jawab Marco.
"Aku benar-benar bodoh karena telah jatuh ke dalam perangkap Sherly dan semua kebohongannya selama ini," ucap Marco.
"Iya aku memang bodoh. Aku telah menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu demi seorang j****g. Aku datang ke sini karena aku ingin minta maaf kepadamu. Aku sangat menyesal. Aku ingin mengurangi beban dari rasa bersalahku yang telah banyak memberikan luka padamu selama kau menjadi istriku," ucap Marco.
Reymond membulatkan matanya, saat mengetahui bahwa pria yang sedang bersama Helena saat ini adalah mantan suami Helena.
Helena membuang napasnya kasar.
"Aku sudah memaafkanmu, meskipun aku mungkin tidak akan bisa melupakannya," ucap Helena.
"Lalu bagaimana nasib bayi yang tak bersalah ini? Apa kau akan membuangnya?" tanya Helena.
"Tidak. Meskipun dia bukan darah dagingku, aku akan tetap menjadi ayahnya. Aku sangat menyayanginya. Dia adalah sumber kekuatanku saat ini, meskipun orang tuaku menolaknya. Aku akan membesarkannya dan juga akan terus berusaha mencari putri kandungku," jawab Marco.
Helena tersenyum.
"Kau bukan suami yang baik Marco, bahkan sangat buruk. Tapi kau adalah ayah yang baik," ujar Helena.
Marco tersenyum.
"Bagaimana hubunganmu dengan Axel? Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Marco.
Helena tersenyum simpul.
"Yah, aku bahagia," jawab Helena singkat.
"Aku minta maaf, karena dulu pernah membuat persahabatan kalian rusak. Aku terlalu mencintaimu, sehingga kehadiran Axel di dalam hidupmu membuatku cemburu buta. Aku minta maaf," ucap Marco.
"Sudahlah Marco, yang lalu biarlah berlalu. Aku harap kau bisa segera menemukan putrimu dan mendapatkan kebahagiaanmu," jawab Helena.
"Kau tinggal di mana selama di sini? Aku kasihan melihat putramu yang kecil ini. Apa kau yakin akan mengurusnya sendiri?" tanya Helena.
__ADS_1
"Mamaku memiliki adik perempuan yang tinggal di negara ini. Bibiku itu sangat baik. Dia dan keluarganya menawarkan diri untuk membantu merawat Deniz, terutama saat aku mencari anak perempuanku," jawab Marco.
Helena tersenyum sambil mengangguk.
"Aku doakan semoga kau selalu diberikan kebahagian Helen. Semoga pernikahanmu dengan Axel menjadi pernikahan terakhirmu. Aku tahu kalian saling mencintai sejak lama, tapi kalian berusaha tidak mengakui perasaan itu. Kau layak untuk bahagia. Aku ikhlas melepasmu, Helen," ucap Marco.
"Terima kasih, Marco. Aku juga berdoa semoga suatu saat nanti kau akan mendapatkan wanita yang menjadi jodoh terbaik untukmu. Aku juga berdoa untuk kebahagiaanmu," ucap Helena.
Helena berjongkok dan mencium pipi baby Deniz. Helena dan Marco memberikan pelukan sebagai teman. Kemudian Marco dan bayinya pergi meninggalkan cafe.
"Mau sampai kapan kau akan jadi penguntit, Rey?" ucap Helena.
Reymond menolehkan kepalanya, lalu memberikan senyuman terpaksanya.
Helena duduk di depan Reymond.
"Apa maksud dari semua ini, Rey?" tanya Helena.
Reymond menatap Helena.
"Maafkan aku Helen. Aku tidak bisa mengingkari perasaanku sendiri. Awalnya mungkin aku tertarik padamu, tapi semakin lama aku sadar jika aku telah jatuh cinta padamu, Helena. Aku selalu ingin berada di sampingmu, untuk menjagamu dan melindungimu. Aku tidak ingin melihatmu sakit, Helen," jawab Reymond jujur.
Helena menghela napas panjang. Dia kecewa pada Reymond.
"Kau sendiri sudah tahu kan jika aku sudah menikah dan memiliki seorang suami," ucap Helena kecewa.
"Aku tahu. Dan aku juga tahu jika pernikahan kalian hanya bertahan selama 6 bulan karena suamimu mencintai wanita lain," sahut Reymond.
Helena mengeraskan rahangnya.
"Cukup, Rey. Demi pertemanan kita, jangan pernah mencampuri urusan pribadiku maupun pernikahanku," tegas Helena.
"Tapi suamimu mencintai wanita lain," protes Reymond.
"Aku tidak peduli," sahut Helena.
"Aku tidak akan memaksamu untuk membalas perasaanku. Tapi jika suatu saat nanti perasaanmu sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit, katakan padaku. Aku akan membawamu pergi jauh dari sini dan dari semua hal yang membuatmu sakit, Helena," ucap Reymond sambil menyentuh dan menggenggam tangan Helena di atas meja.
Helena menarik tangannya.
"Terima kasih banyak Rey atas semua perhatianmu.
Aku harap kau bisa membuang jauh perasaanmu itu padaku. Aku tidak ingin kau terluka nantinya. Dan aku minta maaf tidak bisa membalas perasaanmu," ucap Helena.
Helena segera bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Rey yang masih duduk terdiam. Helena segera pulang ke mansion. Badannya lelah sekali dan kepalanya terasa berat. Helena ingin segera tiba di mansion dan menikmati berendam air hangat.
...🌹🌹🌹...
Semangat Marco, semoga kau juga bisa mendapatkan kebahagiaanmu...🥰
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰