Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 68. Suamiku Bukan Hakmu


__ADS_3

Axel, Helena, Jasmine dan Hans sedang berada di salah satu mall yang ada di Paris. Axel dan Helena berbelanja bahan makanan yang ada di bagian supermarket, sedangkan Jasmine dan Hans sedang asyik keluar masuk distro dan memborong beberapa pakaian.


"Banyak sekali yang kau beli. Apa kau akan memasak semuanya, El?" tanya Axel.


"Iya, Xel. Aku ingin membuatkan rendang kesukaanmu dan Papa Zayn, juga sup daging kesukaan Grandpa dan Daddy," jawab Helena.


Axel tersenyum.


"Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan, asal jangan sampai kelelahan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian berempat, sayang," ucap Axel.


"Iya suamiku sayang. Lagi pula kan ada Mama dan Mommy yang akan membantu, Xel. Kamu tenang saja ya," ucap Helena.


Axel dan Helena segera ke kasir dan membayar barang belanjaan mereka. Pedro sudah berdiri di depan supermarket. Axel menyerahkan barang belanjaan mereka kepada Pedro untuk dibawa ke dalam mobil.


Axel dan Helena masuk ke dalam salah satu restoran. Keduanya memesan steak untuk menu makan siang mereka. Axel juga sudah mengirimkan pesan kepada Jasmine supaya dia dan Hans segera menyusul ke restoran.


"El, aku ke toilet dulu ya. Kau tak apa kan aku tinggal sendiri? Sebentar lagi Jasmine dan Hans akan tiba. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini," ucap Axel.


"Iya, Xel. Pergilah," sahut Helena.


Axel segera berdiri, dan sebelum pergi Axel mencium pucuk kepala istrinya dengan mesra. Sepeninggal Axel, Helena mengeluarkan ponselnya dan memainkannya.


"Permisi, Nyonya. Apa saya boleh duduk di sini?"


Seorang wanita tiba-tiba menghampiri Helena. Helena menyerngitkan dahinya. Helena ingat wanita itu adalah wanita yang menghampiri Axel saat mereka berada di bandara. Wanita itu adalah Heidi.


"Maaf Nona, tempat ini sudah kami pesan. Anda bisa menempati meja yang lain," ucap Helena ramah sambil tersenyum.


"Saya hanya duduk sebentar, Nyonya. Saya tahu jika Anda datang ke tempat ini bersama suami Anda, Tuan Axello Zyan Alvaro," sahut Heidi dan duduk di kursi yang sebelumnya diduduki oleh Axel.


"Apa Anda mengenal suami saya?" tanya Helena.


Heidi tersenyum.


"Perkenalkan nama saya Heidi Calland," ucap Heidi sambil mengulurkan tangannya.


Helena pun menyambut uluran tangan Heidi.


"Helena Alvaro," ucap Helena dengan memberikan penekanan saat menyebutkan nama Alvaro.


"Siapa yang tidak tahu orang setampan dan sehebat suami Anda, Nyonya? Anda pasti menjadi wanita yang sangat beruntung menjadi istrinya," jawab Heidi sambil tersenyum sinis.


"Anda benar. Saya memang wanita yang sangat beruntung. Dan saya sangat bersyukur Tuhan telah memberikan suami sehebat Axel yang sangat mencintai saya dan ketiga calon anak kami," ucap Helena sambil tersenyum.


Heidi memberikan senyum fakenya.


"Dari cara bicara Anda, terlihat sekali jika Anda tertarik dengan suami saya. Apa tebakan saya benar, Nona?" tanya Helena.


"Saya orang yang jujur dan apa adanya. Tebakan Anda benar, dan lebih tepatnya saya telah jatuh cinta dengan suami Anda," jawab Heidi jujur.


"Maaf jika sudah membuat hati Anda tidak senang Nyonya Helena. Tapi perasaan tidak pernah salah," tambahnya.


Helena tersenyum.


"Perasaan memang tidak pernah salah Nona. Tapi manusianya yang salah, karena tidak bisa mengendalikan perasaannya dengan baik," ucap Helena.


"Anda harus tahu Nyonya, jika kedua perusahaan kami akan melakukan kerja sama yang akan menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Tuan Axello sendiri yang harus menghadiri pertemuan penting itu mewakili Alvaro Group dengan saya sebagai perwakilan dari perusahaan, XD Electronic."


"Apa Anda yakin jika suami Anda tidak akan pernah tertarik dengan wanita lain?" tanya Heidi.


"Saya yakin," jawab Helena tegas.


"Anda memang istri yang luar biasa. Dan jujur saja saya akan berjuang untuk cinta saya, Nyonya. Saya siap jika harus menjadi yang kedua di dalam hati Tuan Axello dan saya akan menjadi madu Anda yang baik," ucap Heidi dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Sayangnya saya bukan wanita yang mau berbagi Nona. Jangan pernah mengharapkan apa yang bukan menjadi hak Anda. Suami saya adalah hak saya, bukan hak Anda. Dan saya yakin suami saya, Axello Zyan Alvaro, tidak akan pernah menjatuhkan pandangannya di hadapan wanita lain selain saya, istri sahnya," sahut Helena sambil tersenyum bangga.


Heidi segera bangkit dari duduknya.


"Kita lihat saja nanti Nyonya. Karena pria seperti Tuan Axello layak untuk diperjuangkan. Dan seharuslah wanita yang setara dengannyalah yang layak berdiri di sampingnya," ucap Heidi, lalu melangkah pergi meninggalkan Helena.


Helena meremas bajunya dan berusaha untuk mengendalikan emosinya. Axel sudah kembali dari toilet dan hendak duduk di kursi depan Helena.


"Berhenti! Jangan duduk di situ, Xel," seru Helena.


Axel pun tidak jadi duduk dan langsung berdiri.


"Ada apa, El?" tanya Axel.


"Tidak apa-apa, Xel. Bisakah kita pindah ke meja dekat kaca itu, aku ingin makan sambil menikmati pemandangan yang ada di luar sana," jawab Helena sambil tersenyum.


"As you wish, honey," ucap Axel lembut.


Mereka pun berpindah tempat duduk. Helena meminta Axel duduk di sampingnya sehingga dia bisa terus menggenggam tangan suaminya. Apa yang dikatakan oleh Heidi cukup mengusik hatinya. Tak lama kemudian Jasmine dan Hans pun datang bersamaan dengan menu makanan yang mereka pesan. Mereka berempat pun menikmati hidangan makan siang mereka.


...*****...


Pada malam harinya keluarga besar Alvaro dan Hermawan menikmati makan malam mereka di taman mansion. Para maid dan penjaga mansion sudah menyiapkan meja dan kursi yang akan digunakan untuk makan malam keluarga besar itu.


Menu rendang, sup daging, sate ayam dan beberapa menu masakan khas Indonesia tersaji di atas meja. Semua anggota keluarga sangat menikmati hidangan makan malam mereka, termasuk Granny Martha yang baru pertama kali merasakan masakan khas Indonesia dengan beberapa ragam itu.


William dan Irene yang baru tiba dari Jerman juga ikut bergabung dengan mereka. Mereka berdua sudah dianggap sebagai keluarga bagi Axel dan keluarga Alvaro.


"Semua masakan ini sungguh luar biasa lezat," puji Granny Martha.


"Rasanya aku ingin terus menikmatinya, tapi mengingat kolesterol dan gula darahku yang tinggi membuatku harus berhenti dengan terpaksa," tambah Granny Martha dengan raut wajah sedih.


Semua orang yang berada di sana tertawa.


"Tenang saja, Nyonya Martha. Kapanpun kau ingin menikmati menu makanan ini, akan aku buatkan spesial untukmu," ucap Nyonya Sasmitha.


"Bagaimana Axel? Apa kau sudah memperlajari berkas yang akan dibahas pada pertemuan penting dengan perusahaan XD Electronic besok?" tanya Tuan Vero.


"Sudah Pi. Aku juga sudah mengirimkan softfilenya kepada William dan Irene untuk dipelajari," jawab Axel.


"Baguslah. Pipi harap pertemuan besok akan membuahkan hasil yang baik bagi perusahaan kita. Dan yang Pipi tahu perwakilan yang mereka kirimķan adalah salah satu orang yang hebat di dalam dunia bisnis. Putri Tuan Calland adalah salah satu lulusan terbaik dari Universitas Oxford. Dan setelah dia menjabat menjadi direktur utama, perusahaan elektronik itu berkembang semakin pesat," ucap Tuan Vero.


Axel hanya mengangguk dengan wajah datarnya. Berbeda dengan Helena yang wajahnya sedikit sendu mendengar penuturan Tuan Vero.


"Jadi dia adalah wanita yang hebat di dunia bisnis. Itukah maksud dari ucapannya yang mengatakan bahwa pria sehebat Axel harus bersanding dengan orang yang setara," batin Helena.


"Ada apa sayang? Apa kau merasakan sesuatu yang tidak nyaman?" tanya Axel.


Helena tersentak dari lamunannya.


"Tidak apa-apa, Xel. Aku hanya sedikit kekenyangan saja dan baby triplet sedang aktif di dalam perut," jawab Helena sambil tersenyum.


Axel tersenyum sambil mengelus perut buncit Helena.


"Kalian jangan nakal ya sayang. Kasihan Mommy kalian nanti kewalahan," ucap Axel yang membuat Helena langsung tertawa.


Axel dan Helena sudah berada di dalam kamar. Keduanya baru selesai melaksanakan sholat berjamaah.


"Apa yang kau pikirkan, El? Aku perhatikan sejak tadi kau melamun," tanya Axel sambil duduk di sofa dan menarik tubuh Helena ke dalam pelukannya.


"Tidak apa-apa, Xel," jawab Helena sambil meletakkan kepalanya di bahu Axel.


"Aku sudah sangat mengenalmu, El, luar dan dalam sudah aku jelajahi semuanya. Jadi jangan ada yang kau sembunyikan dariku," ucap Axel sambil mengangkat dagu Helena.

__ADS_1


"Apakah harus dirimu yang menghadiri pertemuan besok, Xel? Apakah tidak bisa diwakilkan oleh orang lain?" tanya Helena.


Axel menyerngitkan dahinya.


"Apa ada masalah sayang? Tidak biasanya kau bertanya seperti itu? Apa kau ingin aku membawamu pergi ke suatu tempat?" Axel balik bertanya.


Helena menggeleng.


"Lalu? Katakan sayang apa yang mengganjal di hatimu?" sahut Axel.


"Aku takut," jawab Helena.


"Hah?" pekik Axel.


"Aku takut kau akan tertarik dengan putri pemilik perusahaan itu," ucap Helena sambil menunduk.


Axel tersenyum. Axel yakin jika sikap Helena saat ini karena pengaruh hormon kehamilannya.


"Mengapa kau harus takut? Kau tahu sendiri kan aku tidak nyaman berdekatan dengan wanita lain. Terutama saat ini aku mengalami couvade syndrome yang pastinya semakin tidak ingin berdekatan dengan wanita lain," ucap Axel.


"Apa yang kau khawatirkan sayang? Apa kau meragukan cinta dan kesetiaanku padamu?" tanya Axel.


Helena langsung menggeleng.


"Tidak Xel. Aku sangat yakin dengan cinta dan kesetiaanmu. Aku minta maaf karena telah mempunyai pikiran buruk seperti itu," ucap Helena sambil meneteskan air mata.


Axel segera menghapus air mata Helena dan mengecup kedua pipinya.


"Jangan menangis sayang. Hatiku sakit jika melihatmu sedih seperti ini," ucap Axel lembut.


Helena langsung memeluk suaminya.


"Kau tidak perlu khawatir, ada William dan Irene yang ikut bersamaku. Dan ketiga bayi hebat kita yang selalu siaga menjauhkanku dari wanita lain," tambah Axel.


Helena mengangguk.


"Aku tahu dan aku percaya padamu, suamiku tercinta," ucap Helena.


"Baiklah, sebaiknya kita tidur sekarang," ucap Axel sambil mengajak Helena naik ke atas ranjang.


Keduanya pun segera naik ke atas ranjang dan membaca doa bersama.


"Tidurlah sayang, aku akan mengusap punggungmu," ucap Axel sambil mengusap punggung Helena dengan lembut.


"Terima kasih sayang," ucap Helena sambil tersenyum.


Bersambung....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2