Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 72. Sadar Diri


__ADS_3

Dari pintu masuk ruangan pesta, terlihat Heidi dan Sharon yang baru saja tiba. Heidi menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Dan kedua bola matanya berhenti saat melihat sosok pria yang telah menarik hatinya namun juga menolaknya, Axel. Heidi juga memperhatikan Helena yang berada di samping Axel. Heidi terkesima melihat kecantikan Helena pada malam ini. Penampilan Helena malam ini sangat berbeda dengan penampilan Helena saat keduanya bertemu di cafe beberapa waktu lalu.


"Selamat datang Nona Calland. Kami sangat senang Nona. Anda telah menyempatkan waktu untuk menghadiri pesta kami," Tuan Vero menyambut kedatangan Heidi dan asistennya.


"Saya sangat senang karena keluarga Alvaro telah memberikan undangan kepada kami, keluarga Calland. Ayah saya mengucapkan permintaan maaf Tuan karena tidak bisa hadir, dan saya yang mewakilinya," ucap Heidi.


Tuan Vero mengajak Heidi untuk bertemu dengan Tuan Zayn dan Nyonya Aline.


"Perkenalkan Nona Calland, mereka adalah kakak dan kakak iparku, Tuan Zaidan Maliq Alvaro dan istrinya Nyonya Aline."


"Dan Kakak, perkenalkan ini adalah Nona Heidi Calland, putri dari pemilik XD Electronic," ucap Tuan Vero.


"Senang bisa berkenalan dengan Anda Nona Calland. Terima kasih sudah berkenan hadir malam ini," ucap Tuan Zayn ramah namun dengan wajah datarnya.


"Mirip sekali dengan Axello, baik rupa maupun sikapnya," batin Heidi.


"Saya juga senang bisa berkenalan dengan orang hebat seperti Anda, Tuan Zaidan. Saya ucapkan selamat atas kelulusan putri Anda, dan saya dengar putri Anda mendapatkan nilai terbaik. Pasti dia adalah gadis yang luar biasa. Suatu kebahagaiaan bagi saya jika berkenalan dan berteman dengan putri Anda," ucap Heidi sambil tersenyum.


"Terima kasih Nona atas ucapannya. Putriku Jasmine pasti senang bisa berkenalan dengan Anda," ucap Tuan Zayn.


"Tuan Zaidan dan Nyonya Aline, kalian terlihat serasi sekali. Tampan dan cantik. Tidak diragukan lagi pasti ketampanan dan kehebatan Tuan Axello menurun dari kalian berdua, seorang pengusaha yang sukses dan designer yang terkenal."


"Tuan Axello sangat hebat dan luar biasa Tuan, Nyonya. Saya sangat terpukau dengan kepiawaiannya dalam berbisnis," ucap Heidi sambil terus memuji Axel.


Tuan Zayn dan Nyonya Aline mengerti jika Heidi tertarik dengan putra mereka.


"Terima kasih atas pujiannya Nona," ucap Nyonya Aline.


"Dan pria sehebat Tuan Axello seharusnya ada wanita yang hebat di sampingnya," ucap Heidi sambil tersenyum.


Nyonya Charlotte yang mendengar ucapan Heidi sedikit tersinggung. Nyonya Charlotte menarik suaminya dan berjalam mendekat ke arah Tuan Zayn dan Nyonya Aline.


"Aline sepertinya ada beberapa hidangan yang tinggal sedikit di atas meja tamu. Sebaiknya kita ke dalam untuk mengeceknya," ucap Nyonya Charlotte sambil memandang Heidi dengan tatapan tidak suka.


"Baiklah Charlotte, mari kita ke dalam untuk memeriksanya," sahut Nyonya Aline.


Nyonya Aline tahu jika suasana hati Nyonya Charlotte sedang tidak baik, pasti karena dia mendengar ucapan Heidi tadi.


"Tuan Narendra. Senang bisa bertemu dengan Anda di sini," ucap Heidi ramah.


"Senang juga bisa bertemu dengan Anda, Nona. Saya sudah menerima email dari ayah Anda yang ingin mengajukan kerjasama dengan HH Corps.," ucap Tuan Narendra.


"Saya senang sekali mendengarnya Tuan. Dan semoga perusahaan Anda bersedia bekerja sama dengan perusahaan kami," ucap Heidi.


"Nona Calland ternyata sudah mengenal besan saya," seru Tuan Zayn.


Heidi mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Tuan Narendra ini adalah ayah mertua putraku Axel, ayah kandung dari Helena. Dan benar apa yang Anda ucapkan tadi jika pria hebat seharusnya ada wanita hebat di sampingnya," jelas Tuan Zayn sambil menyunggingkan bibirnya.


Heidi membelalakkan matanya saat mengetahui bahwa Helena adalah anak dari sang "Dewa Analyst". Sedangkan Tuan Narendra hanya memberikan senyumannya.


"Benar sekali Papa. Kak Helena adalah wanita hebat dan yang paling pantas mendampingi kakakku, Kak Axel," sahut Jasmine yang saat ini berdiri di samping Tuan Zayn.


"Perkenalkan Nona Calland, saya Zalina Jasmine Alvaro. Panggil saja Jasmine," ucap Jasmine sambil mengulurkan tangannya.


Heidi menyambut uluran tangan Jasmine.

__ADS_1


"Senang berkenalan dengan Anda, Nona Jasmine. Perkenalkan nama saya Heidi Calland, panggil saja Heidi. Saya ucapkan selamat atas kelulusan Nona dengan predikat cumlaude," ucap Heidi sambil tersenyum.


"Terima kasih, Nona Heidi," jawab Jasmine.


"Saya dengar Anda adalah salah satu lulusan terbaik dari Universitas Oxford dan menjadi salah satu pebisnis wanita yang handal, Nona Heidi," ucap Jasmine.


"Anda terlalu membesar-besarkannya Nona. Pengalaman dan keahlian saya masih jauh di bawah kakak Anda, Tuan Axello," balas Heidi.


"Oh ya tentu saja. Karena kakakku pria yang genius. Bukan hanya genius dalam ilmu pengetahuan dan kepiawaiannya dalam memimpin Alvaro Group di dalam dunia bisnis, tapi juga dalam memilih wanita yang menjadi pendampingnya. Kak Helena adalah pilihan terbaik. Mereka terlihat sangat serasi dan saling melengkapi satu sama lain. Kakakku seorang pengusaha dan kakak iparku seorang dokter, pemilik salah satu rumah sakit yang ada di Indonesia," ucap Jasmine.


Terlihat wajah Heidi sedikit tegang.


"Bagaimana menurut Anda? Mereka berdua sangat serasi, bukan?" tanya Jasmine sambil tersenyum.


"Tentu saja Nona. Tuan Axello dan istrinya memang sangat serasi," jawab Heidi sambil memaksakan senyumannya.


Jasmine berjalan mendekati Heidi.


"Kau itu cantik dan pintar. Masih banyak pria yang layak berada di sampingmu. Aku harap kau tidak menjadi benalu di dalam rumah tangga kakakku. Kami keluarga Alvaro tidak akan pernah membiarkan wanita ular dari kelas dan keluarga manapun masuk ke dalam keluarga kami. Dan aku orang pertama yang akan menghancurkanmu jika kau berani mengusik rumah tangga kakakku," bisik Jasmine.


Heidi langsung membelalakkan matanya dan menelan salivanya kasar. Jasmine memundurkan tubuhnya sambil tersenyum.


"Baiklah Tuan dan Nona kalau begitu saya permisi dulu," ucap Heidi.


"Silakan Nona. Dan selamat menikmati pestanya," ucap Jasmine sambil tersenyum manis.


Heidi segera pergi mencari asistennya, Sharon.


"Beraninya wanita seperti dia mau menjadi benalu di dalam rumah tangga kakak kesayanganku," ucap Jasmine sambil menyeringai.


Tuan Zayn dan Tuan Narendra hanya tersenyum mendengar ucapan Jasmine.


"Aku tidak apa-apa Sharon," jawab Heidi sambil memaksakan senyumannya.


"Sebaiknya Anda duduk. Saya akan mengambilkan makanan untuk Anda," ucap Sharon.


Heidi hanya mengangguk segera duduk di tempat yang tak begitu jauh dari tempat Axel dan Helena. Sharon segera pergi mengambil makanan yang sudah tersaji di atas meja saji. Heidi menatap Axel, namun Axel tidak membalas tatapannya sama sekali. Axel semakin erat memeluk tubuh Helena.


"Apa yang dikatakan Sharon memang benar. Tidak seharusnya aku menyimpan perasaan kepada Axello, pria yang sudah beristri. Aku juga harus meminta maaf kepada Nyonya Helena, atas ucapan tidak sopanku beberapa waktu yang lalu," gumam Heidi.


Sharon mengambil dua piring dan mengisinya dengan makanan untuk Heidi dan dirinya sendiri. Tak sengaja dia bertemu dengan William.


"Hai, Tuan William," sapa Sharon sambil tersenyum.


Sejak awal bertemu, sosok William sudah menarik perhatian Sharon.


"Oh, hai juga Nona Sharon," balas William.


Sejak tadi Sharon memperhatikan William dan tidak ada seorang wanita pun yang berada di sampingnya. Itu membuktikan bahwa rumor yang beredar jika William masih belum memiliki kekasih itu benar.


"Apakah Anda selalu menemani Tuan Axello kemanapun beliau pergi?" tanya Sharon basa basi.


"Ya benar. Seperti Anda yang selalu menemani Nona Calland kemanapun dia pergi. Saya permisi dulu ya, Nona," jawab William.


"Tunggu sebentar Tuan William. Jika Anda sedang tidak bekerja, maukah Anda meluangkan waktu sekedar minum kopi atau makan bersama dengan saya di lain waktu?" tanya Sharob dengan hati-hati.


William tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih atas undangannya Nona. Tapi saya minta maaf Nona. Di waktu bebas kerja, saya selalu menghabiskan waktu saya dengan keluarga dan wanita saya," jawab William sambil menekankan kata "wanita saya".


Sharon melebarkan matanya dan wajahnya sedikit memerah karena malu.


"S-saya minta maaf Tuan. Saya harap Anda tidak tersinggung," ucap Sharon sambil menahan rasa malu.


"Santai saja Nona," ucap William, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Sharon.


"Apa yang kau lakukan Sharon? Itu memalukan sekali," gumam Sharon sambil menggigit bibir bawahnya.


Tak lama kemudian Sharon membawa dua piring makanan ke meja tempat Heidi berada. Sharon melihat wajah sendu Heidi. Sharon tahu jika Heidi masih memikirkan Axel.


"Ini Nona, makanlah. Sejak tiba di Jerman tadi sore Anda belum makan sama sekali," ucap Sharon sambil menyodorkan piring yang berisi beberapa kue.


"Terima kasih, Sharon," ucap Heidi.


Tidak ada pembicaraan di antara mereka saat keduanya sedang makan. Setelah menghabiskan kue yang Sharon bawa tadi, Heidi dan Sharon segera berpamitan kepada Tuan Zayn dan Tuan Vero.


"Apa Anda sedang sakit Nona? Atau karena Tuan Axello yang membuat Anda ingin segera meninggalkan tempat ini?" tanya Sharon saat keduanya baru masuk ke dalam mobil.


Heidi menyunggingkan bibirnya.


"Aku merasa malu, Sharon. Apa yang kau katakan benar. Tidak seharusnya aku menyimpan perasaan kepada Tuan Axello yang sudah memiliki seorang istri. Dan yang lebih memalukan lagi, ternyata istrinya bukan wanita biasa. Nyonya Helena adalah putri dari Tuan Narendra Hermawan, CEO HH Corps.," ucap Heidi.


"Syukurlah jika Nona sudah sadar. Hati saya menjadi tenang. Saya juga merasakan hal yang sama Nona. Saya mencoba mendekati Tuan William, karena saya kira Tuan William tidak memiliki kekasih. Ternyata saya salah. Dan saya malu sekali," ucap Sharon sambil tertawa.


Heidi pun ikut tertawa.


"Ternyata nasib kita sama ya. Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini, Sharon. Kita buka lembaran baru lagi. Tuhan pasti sudah menyiapkan jodoh yang tepat untuk kita," ucap Heidi.


"That's right," sahut Sharon.


Sharon segera melajukan mobil mereka dan pergi meninggalkan area mansion Alvaro. Saat mobil Heidi meninggalkan mansion, sebuah mobil sport Ferrari berwarna hitam memasuki kawasan mansion Alvaro.


Seorang pria tampan keluar dari dalam mobil. Dia memandang mansion Alvaro dengan takjub.


"Mansion ini sudah seperti sebuah istana. Aku tidak menyangka jika Keluarga Alvaro sekaya ini. Aku benar-benar bodoh karena nekat pernah berpikir untuk merebut Helena dari pria beku itu," gumam pria itu.


"Sadar ya Rey. Kau itu hanya butiran debu jika dibandingkan dengan pria kulkas tiga pintu itu. Beruntung aku sudah move on dari Helena," ucap Reymond sambil tertawa sendiri.


Reymond segera masuk ke dalam mansion dan menuju ruangan pesta.


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2