
Di sebuah pusat pembelanjaan terbesar di Jerman, ada seorang wanita cantik sedang melihat dan memilih tas yang memiliki harga selangit di sebuah toko tas dengan merek ternama di dunia. Wanita cantik itu tak lain adalah Emily, sahabat Helena. Setelah lama melihat-lihat, akhirnya pandangan mata Emily jatuh pada sebuah tas berlogo H limited edition berwarna hitam mengkilap model terbaru dengan harga yang cukup fantastis.
Emily langsung mendekat dan mengambil tas itu. Namun saat tangannya baru saja menyentuh tas hitam itu, tiba-tiba datanglah seorang wanita yang memakai mini dress berwarna merah dan menggunakan riasan yang cukup tebal menyerobot dan merebut tas itu dari tangan Emily.
"Hei!" hardik Emily tak terima.
"Aku yang melihatnya lebih dulu. Beraninya kau merebut tas ini dariku!" bentak Emily sambil merebut kembali tas yang diambil oleh wanita itu.
"Aku yang mengambil terlebih dahulu. Jadi tas ini milikku!" Wanita itu balas membentak sambil berusaha mengambil tas hitam itu dari tangan Emily.
"Ini milikku!"
"Milikku!"
Emily dan wanita itu saling berteriak dan terus memperebutkan tas mahal itu. Pelayan toko dan security berusaha melerai mereka. Tapi tidak ada satupun yang mau mengalah.
"Ada apa ini!" seru seorang pria tampan dengan suara beratnya.
Emily segera melepas tas itu, sehingga wanita yang menjadi lawannya tadi jatuh terjungkal ke belakang.
"Aarrggkkhh!" teriak wanita itu jatuh tersungkur di lantai.
Ternyata, pria tampan itu adalah kekasih si wanita yang terjatuh itu. Si pria langsung menghampiri kekasihnya dan membantunya untuk berdiri.
"Ada apa ini, Zoya? Mengapa kau membuat masalah di sini, memalukan saja!" ucap pria itu kesal.
"Sayang, jangan marah seperti itu. Ini semua gara-gara wanita sialan ini. Dia mau merebut tas incaranku," adu wanita itu kepada kekasihnya dengan nada manjanya.
"Hei! Kau yang merebutnya. Jelas-jelas aku duluan yang melihat dan mengambil tas itu. Kau saja yang tiba-tiba datang dan merebutnya," ucap Emily tak terima.
"Di sini kan ada banyak tas bagus dan mahal. Mengapa harus memperebutkan satu tas ini dengan wanita lain?" tanya pria itu.
"Tapi aku maunya tas ini Aiden sayang. Ini limited edition. Aku sudah mengincarnya sejak lama. Aku mohon, belikan tas ini ya untukku," mohon Zoya sambil menggesekkan tubuhnya ke tubuh Aiden.
Pria tampan itu adalah Aiden Morris. Aiden menghela napas panjang dan berusaha menahan hasratnya yang telah dikobarkan oleh Zoya. Emily yang mengetahuinya pun mencibirnya.
"Cih! Benar-benar wanita murahan dan pria bodoh. Pasangan yang serasi!" cuit Emily dalam hati.
"Baiklah," jawab Aiden.
"Nona, aku mohon berikan tas ini kepada kekasihku. Aku akan menggantinya dengan tas lain yang sama mahalnya. Kau tinggal pilih tas mana saja yang kau mau, aku yang akan membayarnya," ucap Aiden dengan sombongnya.
Wajah Emily memerah dan rahangnya mengeras.
"Hei! Jangan kau pikir aku ini wanita miskin yang tak punya uang. Aku masih sanggup membeli tas-tas mahal yang ada di sini menggunakan uangku sendiri tanpa harus mengemis uang dari seorang pria sepertimu. Jangan samakan aku dengan j****gmu ini," ucap Emily tak terima.
"Kau! Beraninya kau mengataiku j****g! Kau itu yang j****g!" bentak Zoya tak terima.
Zoya langsung melangkah maju dan hendak menampar Emily, namun gerakan Emily lebih cepat untuk menangkisnya dan memberikan balasan.
Plak!!!
Emily menampar wajah Zoya dengan sangat keras. Zoya berteriak. Aiden langsung menarik dan mencengkeram tangan Emily dengan kasar.
"Beraninya kau menampar kekasihku! Aku sudah berusaha bicara baik-baik denganmu!" bentak Aiden tak terima.
"Lepaskan!" hardik Emily
Emily segera menarik tangannya dari cengkeraman tangan Aiden.
"Sebaiknya kau didik mulut kekasihmu itu. Dan kalau perlu, masukkan dia ke sekolah khusus tata krama supaya dia bisa bersikap dengan baik layaknya manusia normal," ucap Emily kesal.
__ADS_1
Emily segera pergi dan keluar dari toko. Sepanjang jalan dia mengumpat mengeluarkan sumpah serapahnya. Sedangkan Aiden segera membayar tas yang diinginkan oleh Zoya dan keduanya segera meninggalkan pusat pembelanjaan itu.
Helena sudah duduk di sebuah cafe yang ada di dalam mall. Tak lama kemudian, Emily menghampirinya dengan wajah kesalnya. Helena langsung memeluk Emily untuk melepaskan rasa rindunya.
"Hei. Mengapa wajahmu cemberut seperti itu? Apa kau tidak senang bertemu denganku?" tanya Helena.
Emily menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja tidak sayang. Aku senang sekali bertemu denganmu. Sini peluk aku lagi. Hatiku sedang kesal sekarang," jawab Emily sambil merentangkan kedua tangannya.
Helena pun tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu lagi.
"Ada apa? Siapa yang sudah membuatmu kesal?" tanya Helena penasaran.
Emily menghela napas panjangnya. Lalu dia menceritakan kejadian tidak mengenakkan yang baru saja dia alami kepada Helena.
"Benar-benar k****g a**r kan wanita itu! Beraninya dia merebut tas yang aku inginkan. Mana tas itu limited edition lagi. Dan pacarnya juga sok sombong, padahal dia terlihat bodoh sekali sampai mau dengan wanita yang dandanannya seperti badut itu," umpat Emily untuk melampiaskan kekesalannya.
Helena mengelus bahu Emily lembut.
"Sudahlah. Tenangkan dirimu. Masih banyak tas bagus dan bermerek yang lain, bahkan limited edition juga. Nanti aku akan menemanimu. Kita akan hunting dan shopping bersama," bujuk Helena.
Emily menganggukkan kepalanya dengan bibir yang masih mengerucut.
"Ini minumlah. Aku sudah memesankannya untukmu," ucap Helena.
"Terima kasih Helena sayang," ucap Emily.
Emily segera meminum minumannya agar emosinya menurun.
"Oh iya, bagaimana dengan pernikahanmu? Aku minta maaf tidak bisa hadir, karena harus menemani Mommy menjalani operasi usus buntunya," ujar Emily.
"Pernikahanku ya....," ucap Helena sambil mengangkat kedua bahunya.
"Apa maksudmu? Kau menikah dengan sahabat kecilmu itu kan? Apa kalian masih belum berbaikan? Kalian tidak sedang mempermainkan pernikahan kan, Helen?" cerca Emily.
"Sikap Axel sangat dingin. Dia sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi, Em. Dia menikahiku karena permintaan para kakek kami. Axel hanya ingin membalas budi atas kebaikan Grandpa dan keluargaku selama ini. Tidak ada cinta di hatinya untukku. Karena di dalam hatinya hanya ada Marissa, wanita yang sangat dicintainya. Dia juga membuat surat perjanjian yang kami tanda tangani, yang isinya pernikahan kami hanya berlangsung selama 6 bulan," terang Helena sedih namun ia berusaha tersenyum.
"Ya Tuhan. Mengapa malang sekali nasibmu, sayang? Dulu, suami pertamamu selingkuh, dan suamimu yang sekarang tidak memberikan cinta untukmu dan hanya menginginkan pernikahan kalian bertahan 6 bulan saja," ucap Emily sedih.
Helena tersenyum.
"Jangan sedih seperti itu. Aku kan masih punya keluarga yang menyayangiku dan sahabat terbaik sepertimu yang selalu mendukungku," ucap Helena.
"Tentu saja Helena sayang. Kita kan "Best Friend Forever". Bahkan kita kan sudah seperti saudara kandung," ucap Emily sambil tertawa.
Emily langsung memeluk Helena untuk menguatkan hati sahabatnya itu. Setelah mereka mengobrol cukup lama, keduanya pun segera keluar dari cafe. Helena menepati janjinya untuk menemani Emily hunting dan shopping.
...*****...
Sementara itu di Alvaro Group. Axel marah besar karena ada pengkhianat yang telah memberikan data perusahaan ke perusahaan rival Alvaro Group.
"Bagaimana Will? Apa kau sudah menemukan siapa saja para tikus itu?" tanya Axel.
"Sudah, Tuan. Tapi mereka telah melarikan diri. Anak buah kita sedang mencari keberadaan mereka," lapor William.
"Segera temukan dan beri pelajaran kepada mereka. Dan juga segera perbaiki sistem keamanan di perusahaan kita," perintah Axel.
"Baik, Tuan. Para tim IT kita sedang memperbaikinya," jawab William.
"Maaf Tuan. Saya mendapatkan kabar tidak baik dari anak buah kita yang ada di Amerika, Tuan," ucap Will dengan hati-hati.
__ADS_1
Mata elang Axel langsung memberikan tatapan tajamnya membuat William meneguk salivanya kasar.
"Kedua orang tua Patrick menghilang. Anak buah kita sedang berusaha mencari keberadaan mereka," lapor William.
Brakkk!!!
Axel memukul mejanya dengan sangat keras.
"Bodoh! Bagaimana bisa mereka menghilang? Mereka benar-benar tidak becus. Mengawasi dua orang saja tidak bisa!" bentak Axel.
Axel murka. Dia membuang semua berkas yang ada di mejanya.
"Aargh!!!"
Tiba-tiba Axel memegangi kepalanya dan jalannya sedikit terhuyung, lalu jatuh terduduk di sofa.
"Tuan!" teriak William.
"Anda baik-baik saja?" tanya William khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Kepalaku hanya sedikit sakit saja, Will," jawab Axel sambil memijat pelipis kepalanya.
"Apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya William.
"Tidak perlu, sebentar lagi juga akan hilang," tolak Axel.
"Saya perhatikan, akhir-akhir ini Anda sering mengalami sakit kepala. Apa benar tidak apa-apa, Tuan? Sebaiknya kita periksa ke dokter," bujuk William.
"Aku tidak apa-apa. Aku akan istirahat sebentar. Kau tidak perlu khawatir," ucap Axel.
Axel segera bangkit dari atas sofa, lalu masuk ke dalam bilik kamar yang ada di ruangan kerjanya itu. William pun segera merapikan berkas berceceran di lantai dan meletakkannya kembali di atas meja Axel. Setelah itu William segera keluar dari ruangan Axel untuk melaksanakan perintah Axel. Axel merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil terus memijat kepalanya.
"William benar, akhir-akhir rasa sakit di kepalaku lebih sering muncul. Apa karena terlalu banyak yang harus aku pikirkan, sehingga stamina dan kekebalan tubuhku menurun?" gumam Axel sambil memejamkan mata.
"Maafkan aku Icha. Aku belum bisa membalaskan dendammu. Mereka berhasil kabur, Cha," ucap Axel penuh sesal.
Axel mencoba membayangkan wajah Marissa, namun yang muncul adalah wajah Helena. Axel kaget dan langsung membuka matanya.
"Mengapa bisa seperti ini? Tidak mungkin hatiku berubah. Aku masih mencintai Icha. Tapi mengapa bayangan wajah Helena yang muncul?" batin Axel sambil menggelengkan kepalanya.
...🌹🌹🌹...
Wah... Kira-kira Axel sakit apa ya? 😲😳
Sepertinya musim semi bunga cinta telah datang.🤭
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan :
💫Tinggalkan comment
💫Tinggalkan like
💫Tinggalkan vote
💫Klik favorite
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1