
Helena masuk ke dalam toilet yang ditunjukkan oleh pelayan mansion. Letak toilet tersebut agak jauh dari ruang diadakannya acara. Setelah beberapa lama, Helena keluar dari dalam toilet. Di lorong depan toilet, sudah ada Sherly yang menunggunya. Di tempat itu juga ada Evelyn yang berdiri di sudut lorong. Irene juga sudah tiba di sana. Helena hanya tersenyum tipis. Lalu dia berjalan dengan anggun di depan Sherly.
"Dasar wanita murahan! Beraninya kau mempermalukanku di depan orang banyak!" hardik Sherly.
Evelyn yang mendengarnya tersenyum bahagia. Dia senang drama antara Helena dan Sherly masih berlanjut. Dia berharap Sherly akan memberikan pelajaran kepada Helena.
"Bukankah kau yang mempermalukan dirimu sendiri, Nyonya Austin," ucap Helena sambil tersenyum meremehkan.
"Jangan mentang-mentang kau menikah dengan anggota keluarga Alvaro, kau merasa sombong dan bangga sekarang, Helena!" bentak Sherly penuh emosi.
"Oh, tentu saja aku bangga. Karena suamiku yang sekarang jauh lebih baik dari segi apapun dari mantan suamiku yang aku sedekahkan padamu," jawab Helena.
"K****g a**r!" bentak Sherly.
Sherly melangkah maju sambil mengangkat tangannya hendak menampar Helena. Tapi dengan cepat Helena menghalau tangan Sherly dan balik menyerangnya.
Plak! Plak!
"Aarrghh!"
Helena memberikan dua tamparan keras ke wajah Sherly. Sherly jatuh tersungkur di lantai. Irene hanya diam saja sambil menyunggingkan bibirnya. Tak lama, Sherly segera berdiri sambil memegang pipinya.
"Menurutku, wanita sepertimu tidak layak untuk pria sehebat Axello Alvaro," seru Evelyn yang tiba-tiba ikut bersuara sambil melihat Helena dengan tatapan merendahkan.
Helena dan Sherly terkejut dan melihat ke arah Evelyn. Helena tersenyum, dia sudah bisa menebak jika wanita itu pasti salah satu wanita ular yang menggilai suaminya. Apalagi dilihat dari penampilannya yang sengaja ingin menarik perhatian para pria.
"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Helena.
"Perkenalkan, aku adalah Evelyn Meyer, putri dari pemilik perusahan ternama, UniMeyer," jawab Evelyn dengan sombongnya.
"Oh," tanggapan Helena.
"Oh? Apa maksudmu?" tanya Evelyn tak terima.
"Tidak ada maksud apa-apa. Saya pikir Anda orang penting, ternyata bukan," jawab Helena singkat.
"Kau!" bentak Evelyn.
"Beraninya wanita gembel sepertimu menghinaku. Kau tidak sederajat denganku. Wanita sepertimu tidak pantas bersanding dengan pria sesempurna Axel. Kau pasti menjebaknya sehingga dia mau menikah denganmu," hina Evelyn.
"Wah... wah... wah... Kau benar kita memang tidak sederajat, Nona Meyer. Suamiku, Axel, tahu betul mana permata yang berharga dan mana seonggok sampah. Karena suamiku itu alergi sekali dengan wanita murahan," ucap Helena dengan nada mengejek.
"Lancang! Akan ku robek mulutmu!" bentak Evelyn.
Wajah Evelyn memerah dan rahangnya mengeras. Dia mengepalkan tangannya dan berjalan ke arah Helena. Saat hampir dekat dengan Helena, Irene mengangkat kaki kanannya. Evelyn pun tersandung dan jatuh tersungkur di lantai dengan wajahnya mendarat sempurna di kaki Helena. Hidung dan bibir mencium kaki Helena.
Helena dan Sherly terkejut. Sedangkan Irene terkekeh, dia puas melihat hasil karyanya itu. Evelyn langsung mengangkat wajahnya dan menoleh menatap Irene marah.
"K****g a**r!" bentak Evelyn.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Helena sambil terkekeh.
__ADS_1
"Aku ini hanya seorang Nyonya Muda Alvaro, Nona Meyer. Aku bukanlah seorang putri raja yang harus kau sembah dan cium kakinya," ucap Helena sambil tertawa.
Evelyn segera berdiri dan merapikan gaunnya. Lalu menatap Helena penuh kebencian.
"Aku tahu, kau menyukai suamiku. Tapi sayangnya, suamiku itu bukan pria gampangan yang dengan mudahnya akan tergoda oleh wanita ular sepertimu. Sebaiknya kau menjaga sikapmu itu. Aku bisa dengan mudahnya menghancurkan perusahaanmu. Karena aku adalah Helena Margaretha putri dari Narendra Arshaka Hermawan, CEO HH Corps. Paham?!," tegas Helena sambil menyeringai.
Evelyn membulatkan matanya. Evelyn tahu siapa Narendra dan perusahaan IT sebesar HH Corps.
"Kalian berdua!" tunjuk Helena kepada Sherly dan Evelyn. "Kalian itu memiliki sifat, keahlian dan hobi yang sama. Yaitu ahli menjadi pelakor yang sukanya menggoda dan merebut suami orang. Sekalian saja kalian membentuk "paguyuban pelakor"," ucap Helena meremehkan.
Wajah Sherly karena menahan marah sambil memegang pipinya yang sakit akibat tamparan Helena, begitu juga dengan Evelyn yang memegang hidungnya yang sakit karena membentur kaki Helena. Helena berjalan melewati mereka berdua bersama Irene dengan tersenyum penuh kemenangan.
"B******k! K****g a**r! Dasar b***h!" umpat Evelyn penuh emosi.
"Aku bersumpah akan membalasmu. Akan ku rebut suamimu dan akan ku buat dia bertekuk lutut di hadapanku. Dan saat itu tiba, aku akan tertawa penuh bahagia melihat penderitaanmu!" teriak Evelyn.
Sherly tersenyum licik, dia punya ide untuk membalas Helena dengan memanfaatkan Evelyn.
"Kau benar. Rebut saja Tuan Axel dari Helena. Kau itu jauh lebih cantik dan yang lebih pantas menjadi istri Tuan Axel dari pada wanita mandul itu," ucap Sherly mengompori Evelyn.
Evelyn mengangkat wajahnya sambil tersenyum bangga mendapat pujian dari Sherly. Tak lama, senyum di wajahnya menghilang.
"Tapi pria seperti Axel tidak mudah untuk didekati," ucap Evelyn.
"Tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Kau bisa menggunakan cara yang halus untuk meluluhkan hatinya, lalu kau akan dengan mudah mendapatkannya seutuhnya. Kalau kau mau aku bisa memberimu ide. Sekalian aku membalas dendam kepada wanita b******k itu," sahut Sherly.
"Baiklah. Tidak terlalu buruk jika kita bekerja sama untuk menghancurkan wanita sombong itu," ucap Evelyn.
Helena langsung duduk di samping Axel.
"Apa kau baik-baik saja? Mengapa kau lama sekali ke toiletnya. Aku hampir saja menyusulmu ke sana, sayang," tanya Axel lembut namun bisa didengar semua orang, termasuk Marco.
"Aku baik-baik saja. Aku tadi hanya menikmati pemandangan indah dari taman tulip milik Nyonya Robinson, suamiku," jawab Helena sambil tersenyum.
"Jadi kau tadi melihatnya, Helena," seru Nyonya Robinson.
"Benar Nyonya, dan itu indah sekali. Anda pasti merawatnya dengan sepenuh hati," ucap Helena.
"Tentu saja, sayang. Karena aku sangat menyukai bunga tulip," ucap Nyonya Robinson sambil tersenyum.
Tak selang berapa lama, Sherly dan Evelyn juga bergabung di ruang makan tersebut. Mereka terpaksa memberikan senyuman fake untuk menutupi kekesalan hati mereka kepada Helena.
Setelah acara makan malam selesai, Tuan Robinson mengumumkan tentang rencana peresmian hotel yang baru saja dia bangun. Tuan Robinson juga mengundang semua tamu yang hadir saat ini dan memberikan voucher menginap gratis di hotelnya. Semua orang menerimanya dengan senang hati, begitu juga dengan Axel dan Helena.
Evelyn dan Sherly saling melirik sambil menyeringai. Karena momen itu akan menjadi kesempatan bagi Evelyn melancarkan rencana busuknya bersama Sherly untuk mendapatkan Axel.
...*****...
New York, USA.
Jasmine sedang bersantai di kamar hotelnya. Ponselnya berdering. Dia mendapatkan telpon dari Aiden.
__ADS_1
"Halo, Kak Aiden," sapa Jasmine.
"Halo, princess. Ada punya kabar baik dan buruk untukmu. Kabar baiknya, Philipe sudah menemukan Patrick. Sedangkan kabar buruknya, Patrick saat ini dalam kondisi vegetatif," ucap Aiden.
"Kondisi vegetatif?" tanya Jasmine.
"Benar. Saat ini Patrick dalam keadaan koma. Dia ditemukan oleh seorang pendaki gunung di sebuah jurang dalam keadaan tidak sadarkan diri dan tubuh penuh luka. Dan parahnya, kepalanya mengalami benturan yang cukup keras," jelas Aiden.
Jasmine membelalakkan matanya.
"Philipe dan anak buahnya membawa Patrick ke rumah sakit pribadi milik Pangeran Aaron. Pangeran bersedia akan memberikan perawatan yang terbaik untuk kesembuhan Patrick dan berjanji akan merahasiakannya dari Axel. Semua itu dia lakukan untuk membalas kebaikanmu yang telah mengungkap kematian Amy," tambah Aiden.
Jasmine bernapas lega, setidaknya keselamatan Patrick akan terjamin di bawah pengawasan Pangeran Aaron.
"Baiklah, Kak. Dua hari lagi aku akan kembali ke Jerman. Dan aku akan melanjutkan penyelidikanku tentang Marissa dari sana. Dia masih hidup, Kak. Tapi dia menggunakan identitas lain dan ada orang yang sengaja melindunginya. Aku yakin dia melapisi kulit tangannya, sehingga sidik jarinya tidak terdeteksi," ucap Jasmine.
"Semoga kita bisa mengungkap masalah ini dan Axel bisa kembali menjadi Axel yang dulu. Oh iya, saat ini Axel dan Helena berada di mansion Alvaro di Jerman karena harus menghadiri pertemuan bisnis dengan Tuan Robinson, pemilik Robinson Company," ujar Aiden.
"Terima kasih Kak untuk informasinya. Dan aku ingin menunjukkan sesuatu pada Kakak saat aku kembali nanti," ucap Jasmine.
"Baiklah. Kalian hati-hati selama di sana. Sampaikan salamku untuk queen dan Hans," ucap Aiden.
Sambungan telpon merekapun terputus. Jasmine segera keluar dari kamarnya. Dia menelpon Joe untuk mempersiapkan mobil. Di parkiran depan hotel, mobil yang Jasmine minta sudah siap dengan Joe yang duduk di depan kemudi. Dari depan sebuah cafe tak jauh dari hotel, Evan berjalan ke arah mobilnya.
Tanpa sengaja, Evan melihat Jasmine yang berjalan keluar dari hotel. Evan terkejut mengetahui Jasmine juga berada di New York saat ini. Evan segera berlari menghampiri Jasmine. Evan berteriak memanggil nama Jasmine. Namun Jasmine sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil dan tidak mendengar panggilannya. Lalu Joe segera melajukan mobilnya.
Evan berhenti berlari dengan napas terengah-engah. Dia melihat hotel tempat Jasmine keluar tadi. Evan menyunggingkan senyumnya.
...🌹🌹🌹...
Apakah si bule Turki bisa bertemu dengan Jasmine ya?
Dan "sesuatu" apakah yang ingin ditunjukkan Jasmine kepada Aiden?
Tunggu kelanjutan kisahnya🙏😊
(Author ingin meminta maaf jika sering telat up. Tapi, author akan tetap berusaha up chapter terbaru setiap harinya. Mohon doa dan dukungannya reader semoga ke depannya author bisa up chapter lebih banyak lagi setiap hari. Terima kasih author ucapkan kepada para reader yang setia menanti kelanjutan cerita dari novel ini. Danke schön🙏🥰)
Baca juga baca novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author dengan :
💫Tinggalkan comment
💫Tinggalkan like
💫Tinggalkan vote
💫Klik favorite
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰