Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 26 (Pernikahan Pangeran Aaron dan Azzura)


__ADS_3

Jasmine sedang duduk santai membaca majalah sambil menyesap teh hangatnya di taman. Hans menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Di mana queen?" tanya Hans.


"Masih bersiap di kamar," jawab Jasmine.


Hans hanya menganggukkan kepalanya.


"Jadi pagi ini kita diundang untuk sarapan bersama keluarga kerajaan?" tanya Jasmine.


"Ya begitulah. Yang Mulia Raja Jasper mengundang keluarga Morris untuk sarapan bersama di istana utama agar hubungan kekeluargaan mereka terjalin semakin erat. Dan Pangeran Aaron juga meminta kita berdua untuk ikut bergabung bersama mereka," jawab Hans sambil mengangkat tangan untuk meregangkan otot-ototnya.


Tak lama kemudian, Azzura dan keluarga besar Morris sudah siap. Si tampan Angelo langsung berlari menuju tempat Jasmine dan Hans.


"Guten morgen, Uncle dan Aunty," sapa Angelo.


"Guten morgen, Angelo," jawab Jasmine dan Hans.


Angelo langsung naik ke atas pangkuan Hans. Hans pun langsung memeluknya karena gemas.


"Hai handsome. Haahhh...Kau mengingatkan Uncle pada Triplets A," ucap Hans sambil menghela napas.


"Jika kau merindukan mereka, ikutlah aku pulang ke Indonesia," sahut Jasmine.


Hans mengangguk sambil memainkan pipi gembul Angelo.


"Kita berangkat sekarang. Pangeran Aaron sudah menunggu kita di mobil," ucap Aiden.


"Baik, Kak," jawab Jasmine.


"Angelo kamu gendong Daddy saja. Kasihan Uncle Hans nanti bisa sakit pinggang kalau menggendong tubuhmu yang semakin berat ini," ejek Aiden sambil mengambil tubuh Angelo dari pelukan Hans.


"Beraninya kau mengejekku, Aiden. Jangankan menggendong Angelo, menggendong Mommynya pun aku sanggup," sahut Hans.


"Awas saja kalau kau berani menggoda apalagi menyentuh istriku!" teriak Aiden sambil berlalu.


Hans bukannya takut malah tertawa. Jasmine mengambil sebuah batu kerikil dari pot bunga.


"Apa yang kau lakukan? Untuk apa kau mengambil batu itu?" tanya Hans.


"Untuk menghilangkan rasa bosan lah," jawab Jasmine santai.


Hans juga ikut mengambil batu kerikil.


"Mengapa kau ikut-ikutan?" tanya Jasmine.


"Kau tidak boleh egois. Kalau mau mengusir kebosanan seharusnya kau mengajakku," jawab Hans sambil tersenyum.


Mobil limosin Pangeran Aaron tiba di depan istana utama, istana yang ditempati oleh Raja dan Ratu Kerajaan Monarc. Pangeran Arthur dan istrinya Princess Sofia beserta seorang bayi tampan di dalam gendongannya, menyambut kedatangan mereka. Pangeran Aaron berpelukan dengan kakaknya, Pangeran Arthur, lalu keduanya masuk ke dalam istana utama secara beriringan. Sedangkan Azzura berjalan beriringan bersama Princess Sofia.


Saat menuju ruang makan istana, mereka bertemu dengan seorang wanita bangsawan dengan balutan gaun khas bangsawan yang anggun namun dengan riasan yang cukup tebal bersama para pelayannya. Wanita itu langsung menebar senyumnya saat melihat kedatangan Pangeran Aaron.


"Hormat hamba, Pangeran Arthur, Princess Sofia dan Pangeran Aaron." Wanita itu sedikit membungkuk tanda memberikan hormat sambil melirik Pangeran Aaron dengan tatapan memujanya.


"Apa kabar Countess Navier?" sapa Pangeran Arthur.


"Kabar hamba baik, Pangeran. Pangeran Aaron, bolehkah hamba berjalan bersama Pangeran?" tanya Countess Navier sambil terus tersenyum.


"Countess Navier, tolong bersikap sopanlah di hadapan calon istri adikku dan keluarganya," tegur Pangeran Arthur.


Senyum di wajah Countess Navier seketika luntur. "Hamba minta maaf, Pangeran."


Pangeran Arthur dan Pangeran Aaron melanjutkan perjalanan mereka. Countess Navier menatap Azzura dengan tatapan penuh kebencian, namun Azzura mengabaikan tatapannya. Pelayan setia Ratu sudah berdiri di depan pintu ruang makan untuk menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang Pangeran Arthur, Pangeran Aaron, Princess Sofia, Pangeran Felix, Nona Morris dan seluruh Keluarga Morris. Dan selamat datang juga kepada bangsawan tercantik di Kerajaan Monarc, siapa lagi kalau bukan Countess Navier," sapa pelayan itu.


"Ah pelayan Denna kau bisa saja. Aku kan jadi malu," ucap Countess Navier pura-pura malu.


"Sang penjilat," bisik Hans.


"Yups, cocok sama penjulid," balas Jasmine.


"Silakan masuk, Yang Mulia Raja dan Ratu sudah menunggu di dalam."


Semua masuk ke dalam ruangan.


"Hormat kepada Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu," ucap mereka.

__ADS_1


"Hormat kalian aku terima. Mari silakan duduk Tuan dan Nyonya Morris. Pelayan akan segera menyiapkan hidangan makanannya," ucap Raja Jasper ramah.


Berbanding terbalik dengan wajah Ratu Monalisa yang hanya memberikan senyum sinisnya saat melihat ke arah Azzura. Wajahnya berubah bahagia saat melihat Countess Navier masuk ke dalam ruangan.


"Oh, Countess Navier. Pagiku semakin cerah dengan melihat wajah cantikmu, sayang," ujar Ratu Monalisa sambil tersenyum.


Countess Navier mengembangkan senyumnya dan melangkahkan kakinya untuk mendekat ke tempat Raja dan Ratu.


Takk...


"Aargh!" pekik Countess Navier saat merasakan tulang kering kaki sebelah kanannya seperti terbentur benda yang keras.


Countess Navier langsung jatuh tersungkur dengan wajahnya mencium lantai tepat di depan kaki Azzura.


"Apa kau baik-baik saja, Countess Navier? Mengapa kau sampai harus bersujud seperti ini di depanku?" tanya Azzura dengan nada tak enak, padahal dalam hati dia tertawa terbahak-bahak.


Countess Navier langsung tersentak.


"Aku terjatuh bukannya bersujud," ucap Countess Navier sambil menahan marah dan rasa malu.


Countess Navier berusaha untuk bangun, namun tidak bisa karena kakinya masih sakit. Para pelayan segera membantunya untuk bangun dan berdiri.


"Hamba mohon maaf Yang Mulia, tiba-tiba kaki hamba sakit dan membuat tubuh hamba terjatuh," ucap Countess Navier sambil menunduk malu.


Ratu Monalisa segera mendatanginya. "Tidak apa-apa sayang. Apa kau baik-baik saja?"


"Hamba baik-baik saja, Yang Mulia," jawab Countess Navier sambil menahan sakit.


"Kalau begitu, mari kita duduk.Pelayan, siapkan hidangan makanan kami," perintah Raja Jasper.


Pelayan mengantarkan Countess Navier ke tempat duduknya. Azzura duduk berdampingan Pangeran Aaron, sedangkan Jasmine dan Hans duduk agak jauh dari keduanya. Para pelayan segera menghidangkan berbagai makanan di atas meja. Pelayan Denna segera menghidangkan makanan kesukaan Ratu Monalisa, yaitu Beef Bourguignon.


Takk...


Pelayan Denna tersentak, seperti ada yang menyentil punggungnya dengan sangat keras. Alhasil makanan yang dibawanya tumpah dan mengenai tangan dan bahu sebelah kanan Ratu Monalisa.


"Aargghh! Panas!" teriak Ratu Monalisa histeris.


Semuanya langsung berdiri karena terkejut.


Raja Jasper membelalakkan mata saat melihat tangan Ratu Monalisa tersiram makanan berkuah yang masih panas itu.


"Panas! Sakit Yang Mulia!" rintih Ratu Monalisa.


"Hamba mohon ampun Yang Mulia Ratu," mohon pelayan Denna sambil berlutut.


"Ampun katamu? Kau sudah membuat kulitku melepuh. Yang Mulia Raja hukum pelayan ini, kalau perlu hukum mati karena dia telah mencelaiku," teriak Ratu Monalisa.


"Tenangkan dirimu, Ratu," sahut Raja Jasper. "Pelayan! Segera bawa Ratu ke kamar dan panggilkan dokter kerajaan!"


Para pelayan segera membawa Ratu Monalisa kembali ke kamarnya dan memanggil dokter kerajaan. Raja Jasper mohon maaf karena harus pergi meninggalkan ruang makan untuk menemani Ratu. Sedangkan pelayan Denna masih berlutut dengan tubuh gemetar dan menangis karena takut dia akan mendapatkan hukuman mati.


"Penjaga! Bawa pelayan ini ke penjara," perintah Pengeran Arthur.


"Tuan dan Nyonya Morris, serta Nona Jasmine dan Tuan Hans, saya mohon maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan ini. Semua ini sungguh di luar dugaan dan kuasa kami," ucap Pangeran Arthur.


"Tidak apa-apa Pangeran. Kami mengerti dan kami berdoa semoga Yang Mulia Ratu bisa segera sembuh," jawab Tuan Arnold.


Acara sarapan bersama pun dibatalkan, dan diganti dengan acara makan malam bersama tanpa kehadiran Ratu Monalisa dan Countess Navier. Ratu Monalisa memaksa Raja Jasper untuk mencarikan dokter ahli bedah plastik terbaik untuk mengobati luka bakarnya. Sedangkan Countess Navier harus istirahat selama satu minggu karena ada retak pada tulang kering kakinya.


"Ternyata mereka tidak ada apa-apanya. Gelar saja tinggi, tapi kemampuan minus. Hanya dengan dua batu kerikil saja sudah mengalami retak tulang dan kulit melepuh," cibir Hans.


Jasmine menyeringai. "Karena otak mereka hanya diisi pikiran jahat dan muslihat. Dan sifat sombong yang mendarah daging."


Hari pernikahan Pangeran Aaron dengan Azzura pun telah tiba. Keduanya melakukan prosesi pemberkatan di Katedral terbesar yang ada di Kerajaan Monarc. Setelah itu resepsi pernikahan digelar dengan sangat mewah. Bukan hanya para anggota kerajaan dan bangsawan yang diundang, tetapi rakyat kerajaan pun juga ikut memeriahkan pesta pernikahan Pangeran Aaron dan Azzura.


Semua acara dan prosesi berjalan dengan sangat lancar dan baik tanpa kehadiran dua wanita ular yang telah berencana menghancurkan pernikahan Pangeran Aaron dan Azzura. Pesta pun berlangung sampai tengah malam. Kedua mempelai meninggalkan acara pesta terlebih dahulu dengan alasan karena mempelai wanita sudah kelelahan. Pada kenyataannya Pangeran Aaron yang sudah tidak sabar ingin segera menikmati malam pengantin mereka.


Keesokan harinya Jasmine dan Hans menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan berkeliling Kerajaan Monarc.


"Nanti malam bersiaplah dan dandan yang cantik. Aku akan mengajakmu jalan-jalan di luar Kerajaan," ucap Hans saat keduanya tiba di istana Pangeran Aaron.


Jasmine menyerngitkan dahinya. "Jangan bilang kalau kau mau mengajakku berkencan."


Hans tertawa. "Bisa dibilang seperti itu."


"Tidak terlalu buruk," ucap Jasmine sambil menghela napas.

__ADS_1


Jasmine dan Hans pun pergi makan malam di luar Kerajaan Monarc. Jasmine membelalakkan matanya saat melihat tempat yang mereka datangi saat ini.


"Hans! Kau masih waras kan? Otakmu belum konslet kan?" bentak Jasmine.


"Tentu saja. Ayo kita masuk," jawab Hans.


"Dasar gila. Aku tidak mau masuk ke dalam club malam," tolak Jasmine.


Pasalnya mereka berada di depan sebuah club malam yang berada di kota London.


"Masuklah dulu. Aku janji tidak akan macam-macam. Ada yang ingin aku tunjukkan padamu," ucap Hans sambil menarik tangan Jasmine dan keduanya masuk ke dalam club.


Cahaya lampu disko, suara dentuman musik dari DJ ternama, serta para tarian para pengunjung club membuat Jasmine merasa risih dan kesal. Selama ini dia tidak pernah sekalipun mendatangi tempat seperti itu. Hans memesan salah satu ruang VVIP.


"Duduklah!" perintah Hans.


Jasmine menurut dengan wajah kesalnya.


"Kau benar-benar menyebalkan. Aku pastikan Daddy Rendra akan memberikan hukuman padamu."


Hans hanya menyebikkan bibirnya. Hans mengeluarkan ponsel pintarnya. "Simpan saja kekesalan dan gerutuanmu sampai aku menunjukkan sesuatu yang luar biasa."


Hans memutar sebuah video yang Jasmine yakini itu adalah rekaman CCTV. Dan Jasmine yakin sekali jika itu adalah rekaman CCTV dari salah ruang VVIP yang ada di club tempat mereka berada saat ini.


"Ini adalah ruangan yang ada di sebelah ruangan ini. Bukan hanya gambar tapi juga suaranya bisa kita dengarkan. Nah, film sudah dimulai," ucap Hans.


Dari video itu terlihat masuklah tiga orang pria berdarah Asia dengan tiga wanita bule yang terlihat seperti wanita bayaran. Mereka memesan beberapa gelas bir. Terdengar mereka sedang mengobrol dengan menggunakan bahasa Indonesia.


"Mereka dari Indonesia," celetuk Jasmine.


Hans hanya menganggukkan kepalanya.


"Hei Vic, apa kau yakin sudah menghapus semua jejakmu di hotel itu?" tanya salah seorang pria kepada temannya yang bernama Vicky.


"Tentu saja, Ryan. Anak buah Papaku sudah membereskan semuanya. Bahkan mereka bilang gadis br*****k itu sudah pergi dari Batam. Entah dia pergi karena malu atau pergi ke alam baka," jawab Vicky sambil tertawa.


"Kau benar-benar sudah gila, Vic. Jadi benar kau sudah unboxing gadis miskin yang bernama Vira itu?" tanya Ryan.


Jasmine membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Tentu saja. Gadis sombong dan sok pintar itu sudah aku nikmati perawannya. Sekarang dia sudah tidak lebih dari sampah," jawab Vicky.


"Bagaimana jika dia mengalami depresi dan mencoba mengakhiri hidupnya?" tanya Ryan lagi.


Vicky meneguk birnya lalu tertawa.


"Jika dia mati, itu lebih baik. Jadi hidupku akan aman selamanya. Tidak akan ada yang tahu jika akulah yang sudah mengg***i gadis itu. Itulah hukuman bagi gadis yang sombong dan munafik seperti dia. Aku sudah dengan baik hati menawarinya menjadi penghangat ranjangku dengan bayaran tinggi, tapi dia malah menolakku dan mempermalukanku di depan orang banyak."


Jasmine mengepalkan tangannya kuat. Dia langsung berdiri dan hendak menemui pria itu. Namun Hans menahannya.


"Gunakan otak geniusmu, princess. Kita harus bermain cantik, karena pria yang bernama Vicky itu bukan anak orang biasa. Jangan sampai gegabah. Kita harus membuat para pelaku itu membayar semuanya," ucap Hans dengan tatapan dinginnya.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


(Author minta maaf jika kisah Azzura dan Pangeran Aaron dipersingkat dan adegan keuwuannya harus diskip, karena kisah mereka berdua akan author ceritakan secara gamblang di novel khusus kisah mereka🙏🙏🥰)


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2