Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 3 (Miss Executor 2)


__ADS_3

Wina meneguk salivanya kasar. Baru kali ini dia melihat sosok Helena yang berbeda dari biasanya, yang selalu terkesan lemah lembut. Wajah Wina semakin memucat dengan keringat yang mulai bercucuran. Wina memegang perutnya yang mulai bergejolak.


"Apa racun itu sudah bereaksi sekarang?" tanya Jasmine tepat di dekat telinga Wina.


Wina membulatkan matanya.


"R-racun apa Nona?" tanya Wina sambil terbata.


Jasmine tertawa pelan.


"Kau pikir bisa membodohi kami semua. Aku sangat mengenal kakak dan kakak iparku. Mereka berdua itu tipe orang yang sangat jeli dan teliti, terutama untuk kebutuhan ketiga anak mereka. Sangat mustahil jika Kak Helena sampai membeli susu yang sudah expired, kecuali ada orang yang memang sengaja menukarnya dan membuatnya seolah-olah merupakan kesalahan Kak Helena."


"Aku akui kau cukup pintar, tapi sayangnya tidak sebanding dengan otak geniusku. Kau sudah tahu dan menyadari pada saat Kak Helena membeli susu itu adalah sesaat setelah dia pulang dari rumah sakit. Kau memanfaatkan kondisi Kak Helena yang lelah untuk melancarkan aksimu. Ketika Arsyila sakit setelah meminum susu itu, Kak Helena pasti akan menyalahkan dirinya yang kurang fokus dan hati-hati saat membeli susu. Dan Kak Axel akan marah kepada Kak Helena dan menyalahkannya."


"Hari ini kau ingin melancarkan rencana busukmu lagi dengan memberikan racun ke dalam bubur buatan Kak Helena untuk Arsyila. Kau berharap kakakku akan menyalahkan Kak Helena lagi. Kau menginginkan hubungan Kakak dan kakak iparku rusak dan hancur. Kau bermimpi terlalu tinggi, Wina. Kau pikir kau bisa mendapatkan hati kakakku dengan mudahnya dan bersanding dengannya. Konyol sekali," jelas Jasmine.


"Nona tidak bisa menuduh saya sembarangan. Apa Nona memiliki bukti?" tantang Wina.


"Kau butuh bukti? Baiklah."


"Om Rino dan Bu Sari, bisa minta tolong ambilkan buktinya untuk kami?" ucap Jasmine dengan ramah.


"Dengan senang hati, Nona," jawab Tuan Rino.


Tuan Rino dan Bu Sari segera menuju kamar Wina dan mendapatkan bukti kejahatan Wina. Wina semakin ketakutan dan perutnya terasa semakin sakit. Tak lama kemudian, Tuan Rino dan Bu Sari membawa struk pembelian susu yang sudah expired dan botol berisi cairan berwarna putih. Mereka menunjukkan barang bukti itu ke hadapan Axel dan Helena.


Helena melihat struk pembelian itu, lalu mengambil botol yang berisi cairan putih. Helena membuka tutup botol itu dan mencium aromanya. Seketika mata Helena terbelalak, saat mengetahui cairan yang ada di dalam botol itu adalah racun.


"Apa kau masih mau mengelak, Wina?" tanya Jasmine sambil tersenyum.


Wina tidak bisa mengelak dan berkata apa-apa lagi. Lidahnya terasa kelu. Helena langsung berdiri dan menghampirinya.


Plak! Plak!


Helena menampar kedua pipi Wina dengan sangat keras. Wina memekik kesakitan.


"Teganya kau melakukan semua ini padaku dan keluargaku, Wina! Aku punya salah apa padamu? Bukankah selama ini aku selalu bersikap baik padamu," tanya Helena.


Wina masih terdiam.


"Jawab!" bentak Helena.


"Aku iri pada Nyonya. Hidup Nyonya terlalu sempurna. Nyonya itu cantik, punya suami yang sangat tampan dan kaya raya, juga anak-anak yang cerdas dan menggemaskan. Saat pertama kali bertemu dengan Tuan Axel, aku langsung jatuh cinta padanya. Aku merasa Tuhan tidak adil, mengapa Tuhan menciptakan hidup yang sempurna untuk Nyonya. Mengapa tidak untukku juga? Aku juga ingin merasakan cinta dan perhatian seperti yang Tuan Axel berikan pada Nyonya." jawab Wina.


Helena mengeraskan rahangnya dan wajahnya semakin memerah karena marah.


"Apa aku salah?" tanya Wina.


"Tentu saja salah. Kau itu manusia yang tidak tahu diri dan serakah. Seharusnya kau bersyukur, istriku Helena telah berbaik hati menolongmu. Bukannya berterima kasih, kau malah ingin memfitnah dan menyakitinya," jawab Axel.


"Tapi aku melakukan semua karena aku sangat mencintai Anda, Tuan Axel. Aku bersedia mengabdikan hidupku untuk Anda. Aku juga rela meskipun sekedar menjadi penghangat tubuh Anda di atas ranjang," ucap Wina tanpa malu.


Plak! (Helena memberikan tamparannya lagi)


Wina jatuh tersungkur dan memuntahkan apa yang ada di perutnya.


"Om Rino dan Bu Sari, bawa wanita j****g ini ke rumah sakit untuk berobat. Setelah itu jebloskan dia ke dalam penjara. Pastikan wanita jahat ini mendapatkan hukuman yang setimpal karena telah menyakiti putriku," perintah Helena.


"Baik Nyonya," jawab Tuan Rino dan Bu Sari bersamaan.

__ADS_1


"Tidak! Kalian tidak bisa memenjarakanku. Aku tidak bersalah. Tuan Axel aku mohon jangan biarkan mereka membawaku pergi dari sini. Aku sangat mencintaimu," mohon Wina.


"Aku tidak sudi!" jawab Axel.


"Cepat bawa wanita ini keluar dari mansionku, sebelum kesabaranku habis. Aku dan keluarga tidak sudi melihatnya lagi," perintah Axel.


Tuan Rino dan Bu Sari segera membawa dan menyeret Wina keluar dari sana. Wina terus meronta minta dibebaskan, namun Tuan Rino dan Bu Sari mengabaikannya.


Tangis Helena pun pecah. Axel segera menarik tubuh Helena ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku sayang. Aku benar-benar bodoh, karena berhasil diperdaya olehnya. Aku adalah ibu yang jahat. Gara-gara aku, putri kita menjadi korban," ucap Helena sambil terisak.


Axel memeluknya semakin erat.


"Sudahlah, semuanya sudah berakhir. Jangan menyalahkan dirimu lagi," ucap Axel lembut.


Axel mengurai pelukan mereka dan kedua tangannya menakup wajah cantik Helena.


"Kau itu terlalu baik sayang, sehingga orang lain bisa dengan mudah membodohimu. Ini bisa menjadi pelajaran bagimu, agar kedepannya kau harus lebih hati-hati lagi dan jangan mudah percaya kepada orang yang baru kau kenal," tutur Axel.


Helena mengangguk sambil terus menangis.


"Mommy. Mengapa Mommy menangis?" tanya Arsyila yang sudah keluar dari kamar bersama Tuan Zayn, Nyonya Aline, Arkana dan Arshaka.


Helena langsung memeluk putrinya.


"Mommy minta maaf ya sayang," ucap Helena.


Arsyila menarik tubuhnya, lalu menghapus air mata ibunya dengan lembut.


"Mommy jangan meminta maaf terus. Cilla sebentar lagi sembuh. Cilla mau makan bubur buatan Mommy terus minum obat," ucap Arsyila.


Arkana bernapas lega karena sudah tidak melihat keberadaan Wina lagi di sana.


"Apa Arkana masih marah sama Mommy?" tanya Jasmine.


Arkana menggeleng. Arkana langsung mendekati Helena dan memeluknya. Arshaka dan Arsyila juga ikut memeluk ibu mereka.


"Jadi, Arkana marah sama Mommy karena Wina?" tanya Helena.


Arkana mengangguk.


"Arka tidak suka sejak Mommy membawanya pulang ke rumah," jawab Arkana.


"Arkana memiliki insting yang sangat kuat, Kak. Sejak awal Arkana sudah tahu jika Wina itu bukan orang baik," ucap Jasmine.


"Mommy minta maaf ya sayang. Mommy janji, Mommy tidak akan melakukannya lagi," ucap Helena.


Arkana tersenyum, lalu mencium pipi Helena. Helena menghapus bekas air matanya.


"Baiklah, kalian tunggu di sini. Mommy akan membuatkan bubur untuk kalian," ucap Helena.


Helena segera pergi ke dapur dan membuatkan bubur untuk ketiga anaknya. Axel menyusulnya ke dapur. Axel memeluk Helena dari belakang. Helena tersenyum saat merasakan ada dua tangan kekar yangbmemeluk tubuhnya.


"Apa kau sudah merasa tenang sekarang?" bisik Axel.


"Ya," jawab Helena.


"Mengapa kau tidak pernah mengatakannya padaku sebelumnya, Xel?" tanya Helena.

__ADS_1


Axel menghela napas panjang.


"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu jika Bu Sari dan beberapa maid di mansion ini sudah cukup untuk membantu kita merawat Baby Triplets. Tapi apa tanggapanmu saat itu?" ucap Axel.


"Aku minta maaf, telah memaksamu menerima Wina untuk bekerja di sini," lirih Helena dengan raut wajah menyesal.


"Ya awalnya aku juga berpikir dia orang yang baik. Selama ini dia tidak pernah berani mengangkat wajahnya dan terang-terangan menatap ke arahku. Namun, saat Arsyila sakit dengan alasan yang tak masuk akal, baru aku yakin jika dia bukanlah orang yang baik. Aku juga minta maaf dan sangat menyesal karena telah membentakmu sebelumnya," ucap Axel.


Helena tersenyum dan mengangguk. Helena menolehkan kepalanya ke belakang lalu mencium bibir Axel sekilas namun penuh kelembutan. Helena segera menyelesaikan membuat bubur untuk ketiga anaknya dengan Axel yang masih menempel padanya. Evan yang hendak mengambil air minum, langsung menghentikan langkahnya dan berbalik arah. Evan tidak ingin mengganggu momen kebersamaan mereka.


"Apa sepasang suami istri memang seperti itu? Di manapun dan kapanpun selalu menempel seperti perangko," gumam Evan.


"Hanya bagi pasangan yang saling mencintai," bisik seseorang di telinga Evan.


Evan langsung membalikkan badannya.


"Tuan Zayn. Anda mengagetkan saya saja. Saya pikir ada makhluk astral yang mendekati saya," ucap Evan.


Tuan Zayn menatap Evan tajam.


"Beraninya kau menganggapku makhluk astral. Dasar anak kurang a**r!" ucap Tuan Zayn kesal.


"Saya minta maaf Tuan. Saya hanya bercanda," ucap Evan sambil menunjukkan senyum manisnya.


Tuan Zayn mendengus kesal.


"Oh ya, kau tadi lihat kan bagaimana cara putriku mengeksekusi wanita ular itu?" tanya Tuan Zayn.


"Iya Tuan," jawab Evan.


"Apa itu tidak membuatmu takut dan ingin mundur?" tanya Tuan Zayn lagi sambil tersenyum mengejek.


"Tentu saja tidak. Karena sosok Jasmine yang seperti itulah yang selalu membuat saya terpesona," ucap Evan sambil tersenyum dengan mata berbinar.


Senyum Tuan Zayn langsung menghilang. Tuan Zayn terkejut mengetahui respon Evan yang di luar dugaannya.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2