
"Wah... Ucapan Opa itu pasti terasa seperti kutukan bagi Tuan Kareem," ucap Axel sambil terkekeh.
Tuan Alex hanya tersenyum.
"Mengapa wanita yang bernama Fiola itu menolak Tuan Kareem? Jangan-jangan wanita itu cinta mati sama Opa?" tanya Darrel.
Tuan Alex mengangkat kedua bahunya.
"Opa tidak tahu dan tidak mau tahu," jawab Tuan Alex cuek.
"Sudah-sudah. Sebaiknya kalian segera berangkat kerja. Apa kata pegawai Alvaro Group jika para petingginya datang terlambat," ucap Nyonya Savira.
"Siap Oma sayang," sahut Jasmine dan Darren sambil tersenyum.
"Darrel juga, bukankah kau hari ini ada jadwal ujian tes menjadi dokter rumah sakit?" ujar Nyonya Savira.
"Ya Oma. Darrel nanti berangkat sama Kak Helena," jawab Darrel.
Axel, Jasmine dan Darren segera berangkat bersama ke kantor menggunakan mobil yang sama. Sedangkan Helena berangkat bersama Darrel ke rumah sakit.
"Kakak hanya mau mengingatkan lagi jika hari ini kita ada pertemuan penting dengan klien kita dari luar negeri, di Italian Restaurant. Namanya Tuan Emilio. Orangnya sangat disiplin dan menghargai ketepatan waktu. Dia juga sangat perfeksionis. Ini adalah salah satu ujian untuk kalian dari Papa dan Pipi. Jadi jangan sampai gagal dan membuat mereka kecewa," ucap Axel saat mereka berada dalam mobil menuju Alvaro Group.
"Siap, Boss! Aku sudah mempelajari berkas yang akan kami bahas," jawab Jasmine.
"Aku juga sudah mempelajarinya tadi malam," ucap Darren sambil mengemudikan mobil.
Axel hanya menganggukkan kepalanya. Jasmine mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu mengetik sebuah pesan untuk Evan.
J : "Nanti kita makan siang di Italian Restaurant ya. Karena aku dan Darren ada pertemuan penting dengan klien di sana."
Jasmine memainkan ponselnya sambil menunggu balasan dari Evan. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.
Ting... (Pesan Evan masuk)
E : "Siap my sunshine. Saat meeting kalian selesai, aku pastikan sudah berada di sana.❤"
Jasmine tersenyum dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Evan mengumbar senyuman di bibirnya sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Kalau kau terus senyum seperti itu, bisa-bisa semut tidak mau lagi sama gula, Evan," tegur Tuan Farhan.
Evan langsung meringis sambil memamerkan gigi putihnya.
"Apa seenak itu masakan buatan Mommy, Evan?" tanya Tuan Farhan.
"Masakan Mommy memang selalu enak, Dad. Evan barusan mendapat pesan dari Jasmine. Jasmine mengajak Evan makan siang di Italian Restaurant karena hari ini dia ada meeting bersama salah satu klien di restoran itu, Dad," ucap Evan.
"Pantas saja mulai tadi senyam senyum. Ternyata mendapat pesan dari bidadari," goda Nyonya Diah.
Evan segera menghabiskan sarapannya, lalu pamit pergi ke The Sahir Cooperation. Tuan Kareem yang mendengar pembicaraan Evan dan kedua orang tuanya menyunggingkan bibirnya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menikmati makan siang bersama," gumam Tuan Kareem.
Tuan Kareem mengambil ponselnya dari dalam saku dan menghubungi nomor Meira.
Di ruangannya Evan sangat sibuk, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam makan siang.
"Sandy. Semua berkasnya sudah aku baca dan aku tanda tangani. Aku pergi dulu ya. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku," ucap Evan.
"Baik, Tuan," jawab Sandy.
Evan segera pergi meninggalkan The Sahir Cooperation menuju Italian Restaurant. Evan memesan sebuah meja full selama satu hari yang letaknya dekat jendela sambil menunggu kedatangan Jasmine. Evan memainkan ponselnya agar tidak bosan.
"Evan," panggil seorang wanita.
Evan langsung mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang memanggilnya. Wajah cerah Evan seketika berubah menjadi muram.
"Mau apa Grandpa dan dia datang kemari?" tanya Evan ketus.
"Heh... Dasar anak kurang aj*r! Di mana sopan santunmu itu?" gerutu Tuan Kareem.
"Grandpa mau apa?" tanya Evan lagi dengan nada lebih pelan.
"Grandpa ingin kau makan siang romantis bersama Meira. Tapi sepertinya kau sudah tahu apa keinginan Grandpa. Kau pintar sekali memilih tempat, Evan," ucap Tuan Kareem sambil tersenyum.
Meira langsung duduk di depan Evan dengan senyum bahagia. Evan mendengus kesal.
"Aku memesan tempat ini untuk makan bersama Jasmine, bukan dengannya. Sebaiknya Grandpa saja yang makan bersama wanita ini," ucap Evan.
"Tidak bisa. Apa kau tidak lihat, Meira sudah berdandan cantik hanya demi makan bersamamu. Kau harus makan bersama Meira. Titik!" ucap Tuan Kareem.
__ADS_1
"Mau dia dandan seperti apapun, bagi Evan tetap Jasminelah yang paling cantik. Grade A+," ucap Evan.
"Grandpa tidak mau tahu. Kau harus makan bersama Meira. Jika kau menolak, maka kau harus melepaskan posisimu saat ini juga sebagai CEO The Sahir Cooperation Indonesia," ancam Tuan Kareem.
Evan memutar bola matanya.
"Jika itu mau Grandpa, tidak masalah. Saat ini juga Evan akan mengajukan surat pengunduran diri," jawab Evan.
"Bagus sekali. Dan bukan hanya dirimu yang harus mundur dari posisi itu, tapi juga Daddy dan kakakmu, Cemal, dari perusahaan keluarga Sahir yang lain," ucap Tuan Kareem sambil tersenyum licik.
"Luar biasa sekali. Baiklah kali ini Evan mengalah, hanya kali ini. Tidak dengan lain kali, Grandpa," ucap Evan dingin.
Tuan Kareem tersenyum bahagia. Akhirnya dia menang. Begitu juga dengan Meira yang tiada henti mengumbar senyumnya. Evan kembali fokus dengan ponselnya.
"Pelayan. Segera sajikan semua menu yang menjadi menu andalan restoran ini," ucap Tuan Kareem kepada pelayan restoran.
"Selamat menikmati momen kebersamaan kalian. Grandpa tidak akan mengganggu kalian," ucap Tuan Kareem, lalu melangkah menjauh dan duduk di meja yang agak jauh dari sana.
Tak lama kemudian, Jasmine dan Darren tiba di restoran. Tuan Kareem yang melihat kedatangan Jasmine, tersenyum licik.
"Sebentar lagi cucu Alex itu pasti akan memutuskan hubungannya dengan Evan setelah melihat kebersamaan Evan dengan Meira. Apalagi wanita itu juga datang bersama pria tampan. Aku tidak sabar melihat peperangan mereka," batin Tuan Kareem.
Saat berada di dalam restoran, Darren melihat Evan yang sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita.
"Kak, bukankah itu Kak Evan? Siapa wanita itu?" bisik Darren.
Jasmine langsung melihat ke arah Evan dan Meira.
"Itu si sigung," jawab Jasmine.
Darren berusaha menahan tawanya.
"Lumayan kak untuk menghilangkan penat," ucap Darren pelan.
Jasmine tersenyum dan melangkah ke arah Evan.
"Hai, Evan. Kau sudah datang," seru Jasmine.
Evan langsung tersenyum kikuk dan menatap Jasmine penuh makna.
"Tolong segera eksekusi hama ini, my gorgeous executor," batin Evan.
Jasmine mengedipkan satu matanya.
"Tidak masalah. Lagipula kedatanganku kemari karena ada urusan pekerjaan, Nona Demir," balas Jasmine sambil mengumbar senyumnya.
"Semangat ya my sunshine," ucap Evan dengan lembut.
"Thank you," balas Jasmine tak kalah mesra.
Meira memutar bola matanya malas.
"Oh ya, Nona Demir. Aku titip kekasihku sebentar. Pastikan jangan sampai ada wanita penggoda yang mendekatinya. Jika ada wanita yang mencoba mendekat, kau langsung saja menyalak. Dan jika wanita itu berani menyentuh Evanku langsung gigit dan usir dia," ucap Jasmine.
Wajah Meira langsung merah karena marah, dan rahang wajahnya mengeras. Meira langsung menggebrak meja.
Brak!!!
"Beraninya kau bicara seperti! Kau pikir aku ini seekor anj*ng?" bentak Meira.
Tuan Kareem membelalakkan matanya saat melihat sikap Meira.
"Fiuh, ternyata Nona Demir ini galaknya ya. Ke mana hilangnya sikap yang lemah lembut itu?" ucap Jasmine sambil tangannya menutup mulutnya.
Meira langsung mengontrol emosinya. Jasmine menyunggingkan bibirnya.
"Apa aku tadi menyebut Nona dengan kata anj*ng? Tidak kan? Mengapa Nona marah? Saya kan hanya minta tolong untuk menjaga priaku dari godaan wanita penggoda," ucap Jasmine dengan lembut.
"Jangan bicara seperti itu kepada wanita semenggemaskan Helsy ini, Kak," sahut Darren.
Meira langsung tersenyum saat Darren memujinya dengan sebutan menggemaskan.
"Helsy?" seru Jasmine dan Evan.
"Iya Helsy, si herder yang ada di mansion keluarga Morris. Yang suka diciumi sama Azzura. Azzura selalu bilang seperti ini, "Oh Helsy, kamu menggemaskan sekali"," ucap Darren dengan santainya dan mempraktekkan cara Azzura berbicara pada anj*ngnya.
"Bahahahaa..."
Evan tak bisa menahan tawanya. Sedangkan Jasmine hanya tersenyum menahan tawa. Wajah Meira semakin merah karena marah.
"Kau tidak boleh berbicara seperti Darren, kapada Nona Demir yang usianya lebih tua dari kita," ucap Jasmine sambil menekankan kata tua.
__ADS_1
"Ups. Kakak benar dia kan lebih tua dari kita. Saya minta maaf ya Nona," ucap Darren dengan wajah tanpa dosa.
"Sebaiknya kalian segera pergi dari sini," ucap Meira dengan wajah marahnya.
"Ayo Darren kita harus segera menemui Tuan Emilio," ujar Jasmine.
Darren mengangguk sambil tertawa pelan.
"Evan, aku temui klien dulu ya," ucap Jasmine.
"Ya. Semoga meeting kalian berjalan dengan baik dengan hasil yang memuaskan Tuan Zaidan dan Tuan Vero. Semangat buat kalian berdua," ucap Evan.
"Terima kasih," ucap Jasmine.
"Terima kasih, kakak ipar," ucap Darren sambil menekankan kata kakak ipar.
Jasmine dan Darren segera pergi meninggalkan Evan dan Meira.
"Evan, bagaimana bisa kau menyukai wanita bar-bar seperti itu? Semua kata yang keluar dari mulutnya sangat pedas," tanya Meira dengan manjanya.
"Karena sifat bar-barnya itu yang membuatku jatuh cinta padanya," jawab Evan santai.
Meira mendengus kesal.
Jasmine melihat Tuan Kareem di meja yang berada di sudut ruangan. Jasmine menghampirinya.
"Assalamualaikum, Tuan Kareem," sapa Jasmine.
Tuan Kareem hanya diam dan mengabaikan sapaan Jasmine.
"Menjawab salam itu hukumnya wajib, Tuan," ujar Darren.
"Waalaikumsalam," jawab Tuan Kareem ketus.
Darren langsung tersenyum.
"Sudah kan. Mengapa masih di sini?" bentak Tuan Kareem.
"Sabar Tuan. Jangan suka marah, nanti jantungnya sakit lo," jawab Darren.
"Dasar anak tidak tahu diri. Beraninya kau bersikap tidak sopan kepada orang yang lebih tua. Memangnya siapa dirimu? Apa kau selingkuhan wanita ini?" bentak Tuan Kareem.
"Kenalkan Tuan Kareem Sahir, nama saya Alfillah Darren Alvaro, cucu ketiga dari Tuan Alexander Alvaro."
Darren memperkenalkan dirinya dengan sangat bangga.
"Huh... Ternyata kau seorang Alvaro. Pantas saja sikapmu sangat menyebalkan," ucap Tuan Kareem kesal.
Jasmine dan Darren tersenyum manis mendengar ucapan Tuan Kareem.
"Sebaiknya kalian segera pergi dari hadapanku," usir Tuan Kareem.
"Baiklah. Selamat menikmati makan siang Anda, Tuan Kareem," ucap Jasmine.
"Dan jangan sampai lupa untuk meminum obatnya Tuan. Karena saya merasa senang bertemu dengan Anda. Dan saya ingin sekali mengobrol lebih banyak lagi dengan Anda," ucap Darren yang membuat Tuan Kareem semakin kesal.
Jasmine dan Darren segera pergi menemui Tuan Emilio yang sudah tiba di sana. Diam-diam Tuan Kareem memperhatikan ke arah meja tempat Jasmine melakukan pertemuan dengan Tuan Emilio. Tuan Kareem dibuat terkesima dengan cara Jasmine dan Darren saat menjelaskan program kerja sama mereka dengan bahasa Italia yang sangat fasih.
"Meskipun hatiku sangat jengkel dengan sikap para cucu Alex, tapi tidak bisa aku pungkiri kehebatan mereka saat bekerja. Benar-benar menunjukkan darah Alvaro," batin Tuan Kareem.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰