
Mobil Emily tiba di depan mansion. Dari dalam mobil, Helena melihat Axel keluar dari mobil sambil dipapah oleh William.
"Apa terjadi sesuatu dengan Axel?" gumam Helena.
"Sebaiknya kau segera masuk ke dalam mansion, Helen," seru Emily.
"Baiklah. Terima kasih banyak Em, karena telah mengantarkanku. Apa kau tidak ingin mampir dulu?" tanya Helena.
"Tidak sekarang Helen. Besok pagi saja aku datang lagi ke sini. Aku ada janji makan malam dengan keluarga Daddyku," jawab Emily.
"Baiklah. Aku tunggu kedatanganmu besok," ucap Helena.
Helena segera turun dan mobil, lalu masuk ke dalam mansion. Sedangkan Emily segera melajukan mobilnya keluar dari mansion. Saat berada di dalam mansion, Helena bertemu dengan Irene.
"Irene, apa terjadi sesuatu dengan suamiku?" tanya Helena khawatir.
"Tuan mengeluhkan sakit kepala Nona sejak tadi siang. Dan sampai sekarang masih belum sembuh. Kami ingin membawa Tuan ke rumah sakit, tapi Tuan menolak dan minta pulang ke mansion," jawab Irene.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan memeriksanya. Terima kasih Irene," ucap Helena.
"Sama-sama, Nona," jawab Irene.
Helena segera masuk ke dalam kamar dan mengambil tas yang berisi peralatan medisnya. Kemudian masuk ke dalam kamar Axel. William merebahkan tubuh Axel di atas ranjang. Dan segera keluar dari kamar Axel saat melihat Helena sudah berada di sana.
"Apa yang kau rasakan Axel? Di bagian mana yang sakit?" tanya Helena sambil memeriksa tekanan darah Axel.
"Kepalaku sakit," jawab Axel.
"Tekanan darahmu rendah. Apa kau belum makan lagi sejak tadi pagi?" tanya Helena lagi.
"Sakit kepala ini membuatku tak enak makan," jawab Axel kesal.
Helena menghela napas. Kemudian dia memeriksa detak jantung dan organ tubuh lainnya menggunakan stetoskopnya. Dia bernapas lega karena tidak ditemukan penyakit yang serius.
"Ganti bajumu dulu. Aku akan membuatkan sup hangat untukmu," ucap Helena.
"Badanku lemas. Aku tidak bisa bangun," keluh Axel.
Helena segera masuk ke dalam walk in closet dan mengambil piyama tidur milik Axel beserta pakaian dalamnya, lalu meletakknya di atas nakas. Setelah itu, Helena mengambil baskom yang diisi air hangat, selain itu dia juga mengambil handuk dan kain lap. Helena membantu Axel untuk duduk. Lalu berjongkok untuk melepaskan sepatu Axel dan dengan telaten membersihkan kaki Axel. Axel tertegun dibuatnya.
"Apa kau juga melakukan hal yang sama pada orang lain?" tanya Axel.
"Maksudmu?" Helena balas bertanya.
"Siapa saja pria yang sudah kau perlakukan seperti ini?" tanya Axel lagi dengan nada kesal.
"Aku hanya pernah melakukannya kepada Grandpa Haris, Daddy dan suamiku," jawab Helena sambil terus mengelap kaki Axel.
"Termasuk Marco," sahut Axel kesal.
Helena mengangkat kepalanya lalu menatap Axel.
__ADS_1
"Suami keduaku, bukan suami pertamaku," tegas Helena.
Axel tersenyum simpul, entah mengapa hatinya senang mendengar jawaban terakhir Helena. Helena mengeringkan kaki Axel dengan handuk. Setelah itu Helena segera membuang air dari baskom dan menggantinya dengan air yang bersih beserta kain lap dan handuk yang baru. Helena membantu membuka kancing baju Axel satu per satu, kemudian meminta Axel melepas kemeja dan kaos dalamnya.
Helena mengelap tubuh Axel dengan lembut, lalu mengeringkannya dengan handuk. Kedua pipinya bersemu merah berada sedekat ini dengan Axel dan menyentuh tubuhnya yang menggoda iman. Axel yang mengetahuinya menyunggingkan bibirnya. Setelah itu, Helena memakaikan atasan piyama tidur ke tubuh Axel.
"Mengapa berhenti? Sekalian bantu buka dan pakaikan celanaku," goda Axel sambil tersenyum nakal.
Wajah Helena semakin merona.
"Kau buka saja sendiri dan pakai celanamu sendiri!" bentak Helena sambil melempar celana piyama ke wajah Axel.
Helena berjalan keluar dari kamar dan membanting pintunya dengan keras. Axel pun terkekeh. Dengan hati kesal, Helena menuruni tangga dengan langkah cepat menuju ke dapur untuk membuatkan sup daging untuk Axel.
"Seandainya saja dia sedang tidak sakit sudah ku pukul kepalanya," gerutu Helena.
Setelah sup matang, Helena menuangkan sup itu ke dalam mangkok dan menyiapkan nasi ke atas piring. Kemudian Helena meletakkannya di atas nampan dan membawanya ke kamar Axel.
Di dalam kamarnya, Axel sudah berganti celana. Dia duduk bersandar di atas sofa. Helena meletakkan nampan di atas meja.
"Segera kau makan supnya, sebelum dingin," ucap Helena ketus.
"Taruh saja di sana. Tanganku masih lemas," sahut Axel malas.
Helena menghela napas panjang. Helena duduk di samping Axel, lalu mengambil mangkuk yang berisi sup dan memasukkan beberapa sendok nasi ke dalamnya.
"Buka mulutmu!" perintah Helena sambil mengangkat sendok berisi makanan tepat di depan mulut Axel.
"Apa kau juga bersikap sekasar ini kepada para pasienmu di rumah sakit?" tanya Axel.
"Baiklah kalau kau tidak mau makan," jawab Helena kesal.
"Aaaakk..." Axel membuka mulutnya.
Satu suapan pun mendarat dengan sempurna di dalam rongga mulut Axel. Axel mengunyah makanannya perlahan. Dan seperti biasa masakan Helena selalu bisa memanjakan lidah dan perutnya.
"Apa kau sudah makan?" tanya Axel sambil membuka mulutnya lagi untuk menerima suapan yang selanjutnya.
"Aku akan makan nanti," jawab Helena.
Axel mengambil sendok yang berada di piring nasi. Lalu mengambil makanan dan menyuapkannya pada Helena.
"Bagaimana bisa memastikan kesembuhan pasiennya, jika dokternya saja tidak menjaga kesehatan lebih dulu. Buka mulutmu," ucap Axel.
Helena pun menurut. Dia sedang malas berdebat, lagi pula perutnya juga sudah lapar. Akhirnya mereka saling suap-menyuapi sampai makanan yang Helena bawa tadi habis. Helena menaruh kembali mangkok dan sendok ke atas nampan. Lalu mengambilkan gelas berisi air minum untuk Axel. Axel segera meminumnya namun tidak menghabiskannya.
"Ini minumlah," ucap Axel.
Helena menghabiskan sisa air dari dalam gelas Axel.
"Kau sengaja ya hanya membawa satu porsi makanan dan segelas air minum, supaya bisa makan berdua dan suap-suapan denganku. Lalu minum menggunakan gelas yang sama, supaya kau bisa menyentuh bibirku secara tidak langsung. Luar biasa sekali. Kau mencari kesempatan saat aku sedang tak berdaya. Dasar modus," ejek Axel.
__ADS_1
"Apa kau bilang? Dasar pria menyebalkan tidak tahu terima kasih!" bentak Helena dengan wajah memerah karena marah.
Helena langsung berdiri dan hendak melangkah, namun Axel segera menarik tangannya sehingga Helena jatuh dan duduk di pangkuan Axel.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Helena kesal dan berusaha berdiri.
Kedua tangan Axel menahan tubuh Helena. Axel menarik tengkuk leher belakang Helena dan mendekatkan wajah mereka. Helena merasakan hembusan hangat napas Axel.
"Lepaskan a....hemmp!"
Bibir Axel langsung membungkam dan ******* bibir Helena dengan kasar. Helena memukul dada Axel karena dia tidak bisa bernapas. Axel melepaskan tautan bibir mereka, memberi Helena kesempatan untuk menghirup oksigen. Tak lama kemudian, Axel melanjutkan c**m*n mereka, namun dia melakukannya dengan sangat lembut membuat Helena terbuai dan menutup matanya. Axel menarik kedua tangan Helena dan mengalungkannya di lehernya. Kedua bibir mereka saling menyesap. Tangan Axel mulai bergerilya dengan nakalnya menelusuri tubuh Helena.
"Mmmmpphhh....," terdengar d*s***n Helena di sela-sela c**m*n mereka.
Axel tersenyum senang. Perlahan dia menarik kemeja yang dipakai Helena ke atas, dan menyusupkan tangannya ke dalam. Helena semakin menggeliatkan tubuhnya saat tangan Axel menyentuh kulitnya. Axel semakin memperdalam c**m*n mereka.
Brakk!!!
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dengan keras. Axel dan Helena terkejut, sehingga tautan bibir keduanya terlepas. Axel dan Helena langsung menoleh ke arah pintu dan melihat siapa yang telah berani mengganggu mereka.
Tampak Jasmine berdiri di tengah pintu sambil membelalakkan matanya, lalu tersenyum meringis.
"Sorry. Silakan dilanjutkan lagi," ucap Jasmine sambil menutup pintu secara perlahan.
"Dasar adik tidak punya akhlak. Mengapa dia harus datang di waktu yang tidak tepat? Mengganggu saja," gerutu Axel dengan wajah kesal.
Helena langsung menyadari posisinya saat ini. Dia segera berdiri dan mengambil nampan. Dengan wajah menahan malu dan jantung berdebar kencang, Helena berjalan menuju pintu.
"Bilang pada Jasmine. Suruh dia menemuiku sekarang juga," ucap Axel.
Helena hanya mengangguk, lidahnya terasa kelu untuk berbicara.
...🌹🌹🌹...
Wadawww.... Suhu udara hari sangat panas dan Axel membuatnya semakin panas...🥵🤭
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author dengan :
💫Tinggalkan comment
💫Tinggalkan like
💫Tinggalkan vote
💫Klik favorite
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1