Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 53. Kesungguhan Marco


__ADS_3

Marco tiba di bandara Indonesia,setelah melakukan penerbangan dari Jerman. Satu minggu yang lalu Marco kembali ke Jerman untuk menghadiri sidang perceraiannnya dengan Sherly dan hak asuh anak jatuh ke tangan Marco. Marco merasa lega dan tenang, sehingga dia bisa fokus mencari keberadaan anak kandungnya sekaligus mengurus Deniz, putra angkatnya.


Ponsel Marco berdering. Dan muncul nama Arman di layar ponselnya. Andi adalah orang yang Marco bayar untuk menyelidiki dan mencari tahu wanita yang tidur di hotel bersamanya, beberapa waktu yang lalu.


"Halo, Andi," sapa Marco.


"Halo, Tuan. Saya sudah menemukan wanita yang Anda cari," jawab Andi.


"Wajahnya sempat terekam di salah satu kamera CCTV di lantai kamar tempat Anda menginap. Kemudian saya melacak keberadaan wanita itu. Namun saya tidak menemukannya. Tapi saya memiliki gambarnya Tuan, meskipun dari rekaman kamera CCTV tapi masih cukup jelas, Tuan," lapor Andi.


"Baiklah, segera kirimkan gambarnya padaku. Tolong kau terus selidiki di mana keberadaannya," ucap Marco.


"Siap, Tuan," jawab Andi.


Marco memutuskan panggilan telpon mereka. Tak selang berapa lama, Andi sudah mengirimkan gambar seorang wanita cantik yang keluar dari kamar hotel, tempat mereka menginap.


"Siapa kau sebenarnya?" gumam Marco.


Ponsel Marco berdering lagi, ada panggilan masuk dari bibinya yang mengasuh Deniz.


"Halo, iya Tante ada apa?" sapa Marco.


"Halo Marco. Kau di mana? Apa kau sudah tiba di Indonesia?" tanya bibi Marco.


Terdengar suara bibinya penuh kecemasan.


"Aku baru tiba, Tante. Ini aku masih di bandara, sebentar lagi aku akan ke rumah Tante," jawab Marco.


"Tidak, Nak. Kau langsung ke rumah sakit saja. Deniz sakit, sejak semalam badannya demam tinggi. Om dan tante membawanya ke rumah sakit dan Deniz diharuskan rawat inap. Segeralah ke sini, Deniz menangis terus. Sepertinya dia merindukan ayahnya," ucap bibi Marco.


"Apa? Deniz sakit. Baiklah Tante, Marco segera ke rumah sakit. Tolong kirimkan alamat rumah sakitnya," ucap Marco, kemudian mematikan panggilan telponnya.


Marco segera berlari ke luar bandara dan masuk ke dalam sebuah taksi, kemudian melaju ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Marco langsung bergegas menuju ruang tempat Deniz dirawat sesuai dengan pesan bibinya.


"Assalamualaikum. Tante," salam Marco saat masuk ke dalam ruangan Deniz.


"Waalikumsalam, Nak. Syukurlah kau sudah datang. Deniz merindukanmu. Dia menangis terus," jawab bibi Marco yang sedang menggendong Deniz dan berusaha menenangkannya.


Marco langsung mengambil Deniz dari gendongan bibinya dengan hati-hati karena di tangan kanan Deniz ada selang infusnya.


"Sini anak Daddy yang paling tampan. Kamu merindukan Daddy ya," ucap Marco sambil mencium pipi putranya.


Seketika tangis bayi tampan itu langsung berhenti. Marco memeluknya Deniz sambil menimang-nimangnya.


"Kata dokter yang memeriksa Deniz, demamnya dikarena perubahan cuaca saat ini. Kalau di Indonesia biasa disebut dengan pancaroba. Pada perubahan musim seperti ini biasanya banyak anak yang sakit," ucap bibi Marco.


Marco mengangguk.


"Terima kasih ya Tante sudah membantuku menjaga dan merawat Deniz," ucap Marco.


"Sama-sama Marco. Om dan Tante senang bersama Deniz. Om dan Tante sangat menyayanginya seperti cucu kami sendiri," ucap bibi Marco sambil tersenyum.


Tak butuh waktu lama, Deniz sudah tertidur digendongan Marco. Marco meletakkannya perlahan di ranjangnya.


"Tante, Marco mau ke kantin rumah sakit. Marco belum makan tadi. Apa Tante mau titip makanan?" ucap Marco.


"Tidak Nak. Tante tadi sudah makan sama Om. Om tadi pulang mengambilkan baju ganti untuk Tante. Kamu makanlah dulu," ujar bibi Marco.


Marco keluar dari ruangan Deniz dan melangkahkan kakinya menuju kantin rumah sakit. Marco melihat Axel dan Helena duduk di depan ssbuah ruang rawat.


"Kebetulan itu ada Axel dan Helena. Aku ingin bertanya pada Axel, apa anak buahnya sudah mendapatkan informasi tentang putriku," gumam Marco.


Marco berjalan menuju tempat Axel dan Helena. Namun Axel dan Helena berdiri, lalu masuk ke dalam ruangan itu bersama seorang dokter. Marco berniat menunggu Axel dan Helena keluar dari ruangan itu. Karena pintunya tidak ditutup sepenuhnya, Marco pun bisa melihat ke dalam ruangan.


Kedua mata Marco membulat saat melihat wanita yang terbaring di atas ranjang. Marco mengambil ponselnya untuk memastikan apakah wanita itu sama dengan wanita yang tidur dengannya.


"Jadi benar, dia adalah wanita yang aku cari. Ada hubungan apa wanita itu dengan Axel dan Helena?" batin Marco.


Marco semakin mendekat dan menguping pembicaraan mereka. Mata Marco terbelalak saat mengetahui wanita yang tidur dengan pada malam itu saat ini tengah hamil.


"Katakan pada Helena, Putri. Katakan jika aku bukanlah ayah dari bayi itu!" bentak Axel.


"Oh, jadi namanya Putri. Ada hubungan apa dia dengan Axel sampai Axel marah seperti itu?" batin Marco.


"Apa yang dikatakan Axel benar, Helena. Axel bukanlah ayah dari calon bayiku. Axel tidak pernah menyentuhku," jawab Putri.


"Lalu siapa ayah dari bayimu, Nak?" tanya Frans.


"Pria paruh baya itu pasti ayahnya, wajah mereka berdua mirip," gumam Marco pelan.


Putri menggeleng.


"Aku tidak tahu," jawab Putri.


"Apa yang akan kau lakukan? Papa berharap kau tidak akan pernah menggugurkan kandunganmu," tanya Frans.


"Aku tidak tahu Pa. Aku takut jika aku akan menjadi ibu yang kejam seperti Mama karena memiliki anak tanpa tahu siapa ayahnya," ucap Putri.


"Kau hanya akan menambah dosamu jika kau melakukan hal kejam seperi itu," ucap Helena.


Putri tersenyum getir.


"Tapi aku takut akan membuatnya menderita seperti yang pernah aku alami dulu, karena tidak tahu siapa ayahnya," ujar Putri.


"Mungkin aku akan menggugurkannya," lanjutnya.


Brak!!!

__ADS_1


"Tidak! Jangan kau gugurkan bayi itu! Aku akan bertanggung jawab," terdengar seruan dari seorang pria.


Axel, Helena, Putri dan Frans melihat ke arah pintu.


"Marco?!" teriak Axel dan Helena bersamaan.


"Ya Axel, Helena. Aku adalah ayah bayi itu. Benar kan, Putri?" seru Marco.


Putri melebarkan matanya.


"Kau?" sahut Putri.


"Ya. Aku adalah pria yang kamar hotelnya kau terobos masuk, sampai akhirnya kita melakukan hubungan terlarang itu pada malam itu. Aku yakin kau pasti tahu. Karena keesokan harinya, kau terbangun lebih dulu dan pergi meninggalkanku begitu saja," ucap Marco.


Frans masih belum berkomentar.


"Jadi kau setelah dipakai dicampakkan begitu saja Marco," ucap Axel sambil terkekeh.


"Axel!" seru Helena dengan tatapan tajamnya.


Wajah Axel langsung berubah takut.


"Maaf sayang," ucap Axel.


Helena menghela napas panjang.


"Apa benar pria ini adalah ayah dari bayimu, Putri?" tanya Helena.


Putri menunduk sambil terdiam.


"Jawablah Nak. Apa benar pria ini ayah dari anakmu?" sahut Frans.


"Atau Javier Alonso?" tambah Axel.


Putri langsung mengangkat wajahnya dan menggeleng kepalanya.


"Bukan!" jawab Putri.


Axel, Helena, Frans dan Marco menatap Putri bingung.


"Bukan Javier. Tapi pria ini ayah dari anakku," ucap Putri sambil melihat Marco dengan tatapan sedikit takut.


"Apa kau yakin?" tanya Axel lagi.


"Aku yakin. Dia adalah pria yang menyentuhku setelah aku selesai mendapatkan tamu bulanan terakhirku. Dan pada malam itu dia tidak menggunakan pengaman sama sekali," jawab Putri.


"Marco!" panggil Helena dengan tatapan dinginnya.


Marco meringis.


"Aku akan bertanggung jawab Helen. Seperti ucapanku tadi," ucap Marco.


"Helena, tunggu," cegah Putri.


"Ya. Ada apa?" tanya Helena.


"A-aku minta maaf untuk sikap jahatku padamu selama ini. Aku minta maaf telah berusaha memisahkanmu dengan Axel dan berniat merebutnya darimu. Aku benar-benar minta maaf, meskipun kesalahanku sulit untuk kau maafkan," ucap Putri dengan tulus.


Helena tersenyum simpul.


"Ya aku memaafkanmu. Tapi, mungkin aku tidak bisa melupakannya," ucap Helena.


"Aku mengerti. Terima kasih banyak. Sekarang beban hatiku sedikit berkurang. Terima kasih, Helena," ucap Putri.


"Sama-sama. Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Helena.


Axel dan Helena segera meninggalkan ruangan Putri, meninggalkan Marco bersama Putri dan Frans.


"Mengapa semudah itu kau memaafkannya, El? Dia kan sudah berusaha memisahkan kita. Gara-gara kebusukannya kita jadi salah paham dan sempat berjauhan," tanya Axel kesal.


Helena menatap wajah suaminya.


"Apa dia berhasil? Apa kita berpisah sekarang?" tanya Helena balik.


"Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun berhasil membuat kita berpisah," jawab Axel.


"Lalu untuk apa aku marah padanya. Usahanya untuk memisahkan kita kan sudah gagal total. Memaafkan lebih baik dari pada menyimpan dendam, Xel. Aku ingin mengajarkan kepada ketiga anak kita untuk selalu berbuat baik kepada siapapun," ucap Helena sambil mengelus perutnya.


Axel tersenyum dan menggenggam tangan istrinya.


"Kau adalah wanita terbaik yang telah dikirimkan Tuhan untukku, El," ucap Axel sambil mencium tangan Helena.


Helena tersipu malu.


"Ekhheem!"


Axel dan Helena tersentak saat mendengar deheman seseorang.


"Rey," seru Helena.


"Kalau mau mesra-mesraan itu di rumah, bukan di rumah sakit," ucap Reymond menyindir.


"Dasar tukang syirik. Makanya cari pasangan sana," cibir Axel.


"Aku kan masih menunggu Helena jadi single," jawab Reymond.


Wajah Axel seketika memerah.

__ADS_1


"Akan ku gilas kau sampai tak bersisa," ucap Axel marah.


Reymond tertawa terbahak-bahak.


"Dasar bucin yang bapernya tingkat dewa," ejek Reymond sambil berjalan meninggalkan Axel dan Helena.


"Hei mau kemana kau? Dasar dokter gila!" teriak Axel.


"Sudahlah, Xel. Rey hanya menggodamu. Kecilkan suaramu. Kita ada di rumah sakit sekarang. Sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Helena kesal melihat sikap suaminya yang seperti anak kecil.


"Tidak, El. Aku harus membuat perhitungan dengannya," tolak Axel.


"Pulang atau tidak ada lagi acara mengunjungi triplet!" ancam Helena.


Axel membulatkan matanya.


"Pulang, El. Ayo kita pulang sekarang juga," jawab sambil memeluk pinggang Helena.


Sedangkan di ruangan Putri, suasana masih hening karena tidak ada yang bersuara sampai akhirnya Frans memecah keheningan.


"Siapa namamu tadi?" tanya Frans.


"Perkenalkan nama saya Marco Dariel Austin. Anda bisa memanggil saya Marco, Tuan," jawab Marco sopan.


"Frans Alfred Mahesa, ayah Putri. Apa kau serius dengan ucapanmu? Apa kau akan bertanggung jawab atas bayi yang dikandung oleh putriku?" tanya Frans.


"Benar Tuan. Saya akan bertanggung jawab," jawab Marco mantab.


"Tapi kita tidak saling kenal. Kau tidak tahu siapa diriku, begitu juga sebaliknya. Aku tidak tahu siapa dirimu," sahut Putri.


"Kalau boleh tahu, apa hubunganmu dengan Axel dan Helena?" tanya Marco.


"A-aku adalah mantan kekasih Axel," jawab Putri.


"Kau adalah Marissa," ucap Marco.


"Benar. Tapi namaku yang sebenarnya adalah Putri bukan Marissa. Aku menggunakan nama Marissa untuk menipu Axel, supaya aku bisa mendapatkannya," jelas Putri sambil tersenyum getir.


"Aku bukan wanita baik-baik, Marco," tambah Putri.


"Tidak ada manusia yang sempurna dan baik sepenuhnya. Semua pasti pernah membuat kesalahan. Aku juga bukan pria yang baik 100%," sahut Marco.


Marco menarik napas panjang.


"Aku adalah mantan suami Helena. Saat kami masih terikat pernikahan, aku membuat kesalahan besar. Aku mengkhianatinya dan memaksanya untuk dipoligami karena selingkuhanku hamil. Helena menceraikanku karena kebodohanku. Dan aku juga sudah bercerai dengan istri keduaku," terang Marco.


"Aku pernah menjadi pria tidak baik. Tapi sekarang aku berusaha untuk menjadi pria yang lebih baik lagi," tambah Marco sambil tersenyum.


"Aku mohon, ijinkan aku bertanggung jawab atas dirimu dan bayi dalam kandunganmu. Bagaimanapun juga bayi itu tidak bersalah. Dia berhak untuk hidup. Jika suatu saat nanti kau tidak ingin merawat dan membesarkannya, aku siap untuk merawat dan membesarkannya sendiri," ucap Marco.


Frans melihat kesungguhan dari tatapan mata Marco.


"Bagaimana Nak? Apa kau bersedia menerima Marco?" tanya Frans.


Putri masih merenung. Ini semua terlalu tiba-tiba untuknya. Marco menyadari jika Putri saat ini masih bingung untuk mengambil keputusan.


"Kau pikirkanlah baik-baik. Kita bisa memulai dengan lebih mengenal satu sama lain. Aku akan menunggu. Aku tidak ingin permintaanku sampai membuatmu stress dan membahayakan bayi dalam perutmu," ucap Marco dengan hati-hati.


Putri menatap Marco lekat.


"Beri aku waktu untuk berpikir dan mengambil keputusan yang benar," pinta Putri.


"Baiklah, aku akan memberikan waktu untukmu," jawab Marco.


"Ini kartu namaku. Hubungi aku jika kau sudah membuat keputusan. Dan aku berharap kau bersedia menerimaku dan mempertahankan bayi kita, Putri," ucap Marco.


Setelah menyerahkan kartu namanya, Marco pun pamit dan meninggalkan ruangan Putri.


"Pikirkanlah baik-baik, Nak. Jika kau tidak ingin bersama Marco, Papa tidak akan memaksa. Tapi Papa sangat memohon padamu untuk mempertahankan bayimu. Jika kau merasa terbebani, ijinkan Papa nantinya yang akan merawatnya," tutur Frans.


Putri mengangguk.


"Terima kasih, Papa," ucap Putri.


Frans bangkit dan memeluk putrinya.


"Mulai sekarang Papa akan selalu berada di sampingmu dan memberikan kasih sayang yang seharusnya kau dapatkan sejak lahir. Papa minta maaf atas masa lalu, dan Papa akan memperbaikinya di masa kini dan akan datang," ucap Frans.


Putri tersenyum sambil menitikkan air mata. Hatinya merasa hangat. Kehangatan seperti ini yang selalu dia rindukan dan dambakan sejak kecil.


Bersambung....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2