
Pramudya duduk di kursinya dengan tatapan mata yang fokus di depan layar komputer. Axel sudah menyuruh Pramudya untuk tidak masuk kerja karena besok dia akan melangsungkan pernikahan. Namun Pramudya menolak dan tetap memohon agar diijinkan masuk kerja karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Axel akhirnya memperbolehkan Pramudya masuk kerja hanya sampai jam makan siang.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!" seru Pramudya.
Seorang office boy masuk ke dalam ruang kerja Pramudya.
"Maaf Pak Pram. Ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan Bapak," ucap office boy tersebut.
"Tamu. Siapa?" tanya Pramudya.
Tiba-tiba seorang wanita menyelonong masuk ke dalam ruangan kerja Pramudya.
"Halo, Pram," sapa wanita itu.
"Mitha?" gumam Pramudya.
"Ya sayang. Ini aku Mithamu," ucap Mitha sambil tersenyum.
Office boy tersebut segera keluar dan meninggalkan Pramudya dengan Mitha. Mitha tersenyum kagum melihat ruang kerja Pramudya. Mitha tahu betul posisi sebagai Office Manager di perusahaan sebesarnya Alvaro Group mustahil akan mendapatkan penghasilan yang kecil.
"Mau apa kau datang kesini? Dan bagaimana kau bisa tahu jika aku bekerja di sini?" tanya Pramudya dingin dan tetap duduk di kursinya.
"Oh sayang. Jangan bersikap dingin seperti itu. Apa kau tahu jika aku sangat merindukanmu. Dan aku yakin kau juga pasti merindukanku," jawab Mitha sambil berjalan ke arah Pramudya.
"Tidak sulit bagiku untuk menemukan keberadaanmu, sayang."
Pramudya segera berdiri dan berjalan menjauh dari Mitha. Merasa diabaikan oleh Pramudya, Mitha pun langsung memeluk Pramudya dari belakang. Dengan cepat Pramudya melepaskan kedua tangan Mitha yang melingkar di perutnya.
"Jaga sikapmu, Mitha. Aku tidak mau rekan kerja dan atasanku berpikiran buruk kepadaku. Dan kau harus ingat, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Pergi sana ke pacar barumu itu!" bentak Pramudya.
Mitha langsung menangis.
"Aku minta maaf, Pram. Aku benar-benar menyesal karena telah melepaskanmu. Tapi aku sadar sekarang jika pria yang aku cintai itu kamu Pram, bukan pria lain. Aku sudah memutuskan hubunganku dengan pria pilihan Papa. Ternyata dia bukan pria baik-baik. Dia itu penipu dan mencuri uang Papaku. Aku ingin kita bersama lagi seperti dulu," ucap Mitha sambil terisak.
Pramudya tersenyum sinis.
"Apa yang sudah kau putus, tidak bisa kau sambung kembali Mitha. Kita tidak mungkin kembali bersama," ucap Pramudya.
"Mengapa tidak mungkin? Kita saling mencintai. Aku berjanji Pram, aku akan menjadi wanitamu yang baik dan akan selalu setia padamu. Aku mohon kembalilah padaku," mohon Mitha sambil memegang tangan Pramudya.
Parmudya segera menghempaskan tangan Mitha, dan membuat Mitha kesal.
"Aku tidak akan pernah kembali kepada wanita yang telah mengkhianatiku dan membuangku."
"Tapi Pram, kita kan....," ucap Mitha yang terpotong.
"Aku akan menikah. Dan aku tidak akan pernah menyakiti perasaan wanita yang akan menjadi istriku, ibu dari calon anak-anakku," tegas Pramudya.
Mitha sangat terkejut.
"A-apa kau bilang? Kau akan menikah? Tidak mungkin. Kau hanya mencintaiku, Pram," ucap Mitha tak percaya.
"Aku memang mencintaimu, tapi itu dulu. Dan sekarang rasa cinta itu sudah menguap. Di hatiku sudah ada wanita lain yang jauh lebih tulus mencintaiku. Besok kami akan menikah," sahut Pramudya.
"Siapa dia? Siapa wanita yang akan kau nikahi itu, Pram?" tanya Mitha.
Pramudya menyunggingkan bibirnya.
"Aku akan menikah dengan Nabila," jawab Pramudya.
"Apa? Nabila?" seru Mitha sambil terkekeh.
Pramudya menyerngitkan dahinya.
"Jangan membohongi dirimu sendiri Pram. Aku tahu betul jika hubungan kalian tidak lebih dari sekedar sahabat. Dan aku yakin 100% jika cintamu hanya untukku," ucap Mitha dengan senyum mengejek.
"Sebaiknya kau pergi sekarang. Tinggalkan ruanganku dan menjauhlah dari hidupku dan keluargaku," ucap Pramudya sambil menahan emosinya.
__ADS_1
"Kau mengusirku, Pram?" pekik Mitha.
"Bisa dibilang seperti itu. Dan jika kau masih tidak mau pergi, aku akan meminta security untuk membawamu keluar dari sini," tegas Pramudya.
Mitha menghapus air matanya yang terus mengalir.
"Baiklah aku pergi sekarang. Aku tidak menyangka jika kau tega memperlakukanku seperti ini, Pram," ucap Mitha lalu keluar dari ruang kerja Pramudya sambil membanting pintu.
Pramudya menyugar rambutnya. "Semoga pernikahanku dengan Nabila berjalan dengan lancar besok."
Mitha terus menghentakkan kakinya. Dia tidak bisa menerima penolakan Pramudya. Saat sudah berada di luar Alvaro Group, Mitha terus menggerutu dan mengumpat.
"Sial! Br*ngs*k!"
"Beraninya wanita kampungan itu merebut Pram dariku. Aku tidak akan membiarkan mereka menikah. Pramudya hanya akan menikah denganku karena dia hanya akan menjadi milikku. Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."
"Sebaiknya aku segera menemui wanita murahan itu sekarang juga dan menyuruhnya untuk menjauh dari hidup Pramudya selamanya," gumam Mitha.
Mitha segera berjalan dan masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi meninggalkan kawasan Alvaro Group. Tanpa Mitha sadari ada seseorang yang sejak tadi mengamati gerak geriknya. Orang itu mengambil ponsel dari dalam sakunya dan menghubungi seseorang.
Vira dan Nabila sedang mencoba kebaya dan gaun pengantin yang telah dikirimkan oleh Nyonya Aline untuk mereka gunakan di hari penting dalam hidup keduanya.
"Kebaya dan gaun ini bagus sekali, Kak. Ukurannya juga pas. Nyonya Aline itu hebat sekali ya, Kak. Bisa tahu ukuran baju kita tanpa harus mengukurnya terlebih dahulu," ucap Vira.
"Tentu saja, Vira. Nyonya Aline itu kan designer terkenal dan sangat berpengalaman dalam membuat berbagai macam gaun. Gaun rancangannya bahkan sudah terkenal sampai ke luar negeri. Kita sangat beruntung bisa mengenakan gaun hasil rancangan beliau," sahut Nabila.
Vira mengangguk setuju sambil tersenyum bahagia. Tiba-tiba mereka mendengar suara ribut-ribut dari luar rumah.
"Ada apa itu, Kak? Mengapa ribut sekali di luar?" tanya Vira.
"Kakak juga tidak tahu, Vir. Sebaiknya kita keluar," jawab Nabila.
Di luar pagar rumah sedang terjadi perdebatan sengit antara Mitha dengan para pria berbaju hitam yang terlihat yang tak lain adalah para anak buah keluarga Alvaro.
"Minggir kalian! Aku mau masuk!" teriak Mitha.
"Maaf Nona. Anda dilarang masuk ke dalam. Sebaiknya Anda pergi," ucap salah satu penjaga.
"Kami tidak tahu dan tidak mau tahu. Meskipun Anda anak presiden sekalipun, tetap tidak bisa masuk ke dalam. Jadi silakan pergi dari sini, selama kami masih bisa bersikap sopan," jawab penjaga itu.
"Ish. Sial!" gerutu Mitha sambil mendengus kesal.
"Hei Nabila, si wanita sialan dan murahan! Keluar kau! Dasar wanita perebut laki orang. Keluar kau p*l*c*r! Pramudya itu milikku, hanya milikku!" teriak Mitha seperti orang gila.
Nabila dan Vira sangat terkejut mendengar hinaan yang dilontarkan oleh Mitha.
"Itu suara Mitha kan Kak? Bagaimana bisa dia ada di sini?" tanya Vira.
"Kakak juga tidak tahu," jawab Nabila.
Nabila segera membuka pintu rumah dan terkejut melihat ada dua orang pria berjaga di depan pintu.
"Maaf Nona, sebaiknya kalian jangan keluar. Di luar ada wanita gila sedang mengamuk," ucap salah satu penjaga dengan sopan.
"K-kalian siapa? Dan mengapa kalian berada di sini?" tanya Nabila sedikit takut.
"Kami adalah anak buah dari keluarga Alvaro. Tuan Yudistira yang memerintahkan kami untuk menjaga dan melindungi Nona berdua dari wanita gila itu. Sebaiknya Nona masuk dan tetap diam di dalam rumah untuk beristirahat. Secepatnya kami akan mengusir wanita gila itu dari sini," jawab penjaga itu.
Orang yang mengamati Mitha di depan Alvaro Group tadi adalah Yudistira.
"Baiklah. Terima kasih, Tuan," ucap Vira.
"Sama-sama, Nona."
Vira langsung menutup pintu dan menarik Nabila masuk ke dalam kamar.
"Kakak tetap tenang ya dan abaikan semua ucapan wanita itu. Sebaiknya kakak istirahat sekarang. Aku akan kembali ke kamarku," ucap Vira.
Nabila mengangguk sambil tersenyum. Di dalam kamarnya, Nabila terlihat sangat gusar. Nabila takut jika kehadiran Mitha akan membuat Pramudya berubah pikiran dan membatalkan pernikahan mereka. Nabila bersyukur saat ini ibu dan adiknya sedang pergi ke pasar, sehingga mereka tidak perlu mendengarkan kalimat-kalimat hinaan itu.
__ADS_1
Pramudya sudah tiba di rumah saat jam makan siang. Vira langsung menemui kakaknya dan menceritakan kedatangan Mitha, serta kalimat hinaan yang Mitha lontarkan kepada Nabila. Beruntung para anak buah keluarga Alvaro berjaga di sekeliling rumah mereka. Pramudya sangat marah dan kesal mendengar apa yang Vira ceritakan.
Tok... Tok... (Terdengar suara ketukan dari jendela kamar Nabila.)
Nabila langsung beranjak dari tidurnya. Dia berjalan menuju jendela dan membuka tirainya.
"Pram?!" seru Nabila yang terkejut.
Pramudya tersenyum. Nabila segera membuka jendela kamarnya.
"Ada apa?" lirih Nabila dengan perasaan tak karuan.
"Dengarkan aku baik-baik, Nab. Kau pasti sudah tahu jika Mitha ada di kota ini," ucap Pramudya dengan hati-hati.
"Ya, aku. Lalu apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Nabila.
"Apa yang aku inginkan? Tentu saja aku ingin menikah denganmu, Nabilaku. Ada tidaknya Mitha di sekitar kita, tidak akan berpengaruh pada rencana pernikahan kita. Aku sudah tidak mengharapkannya lagi. Aku hanya mengharapkanmu, menginginkanmu seorang," jawab Pramudya.
Wajah sendu Nabila langsung berubah cerah dan senyum manis terbit di bibirnya.
"Jangan pikirkan masalah Mitha lagi, itu tidak penting. Fokus saja dengan pernikahan kita besok. OK!" ucap Pramudya.
"OK!" jawab Nabila dengan senyum bahagianya.
...***...
Yudistira dan Vira telah sah dan resmi menjadi suami istri, begitu juga dengan Pramudya dan Nabila. Yudistira dan Pramudya mengucapkan ijab qabul mereka dengan baik dan lancar. Mereka berempat mendapatkan ucapan selamat dari keluarga besar Alvaro dan orang terdekat yang telah diundang.
Acara sakral mereka diadakan di kediaman keluarga Alvaro. Tuan Alex sengaja memindahkan tempat acara yang semula akan diadakan di rumah kontrakan ke kediaman Alvaro, untuk menghindari hal-hal buruk yang bisa mengganggu prosesi sakral kedua pasangan pengantin itu. Dan itu terbukti dengan keributan yang terjadi di depan pintu gerbang kediaman Alvaro. Namun para anak buah Alvaro sudah siap siaga untuk mengamankan.
Mitha dan ayahnya, Tuan Hutama, berusaha untuk masuk ke dalam mansion dan menggagalkan pernikahan Pramudya dan Nabila. Saat mengetahui Pramudya bekerja di Alvaro Group dengan posisi Office Manager, Tuan Hutama berusaha membantu putrinya untuk bersatu kembali dengan Pramudya. Dia berharap dengan bersatunya Mitha dan Pramudya, bisa menjadi jembatan terjalinnya kerjasama antara PT. Hutama dengan Alvaro Group.
"Ada apa ini? Mengapa kalian ribut sekali?" teriak Tuan Alex.
Mitha dan Tuan Hutama terdiam. Keduanya langsung bersikap manis saat melihat Tuan Alex keluar dari dalam mansion.
"Tuan Alex, perkenalkan saya Hutama, CEO dari PT. Hutama. Dan ini putri saya, Mitha Hutama. Kedatangan kami ke sini untuk...."
Tuan Alex segera memotong perkataan Tuan Hutama.
"Sebaiknya kalian segera pergi dan jangan membuat keributan di kediamanku lagi. Pramudya dan Nabila sudah menikah dan resmi menjadi suami istri. Jangan lagi kalian mengganggu hidup mereka."
"Atau? Akan aku buat perusahaan kalian itu rata dengan tanah!" ancam Tuan Alex dengan tatapan dinginnya.
Tubuh Mitha dan Tuan Hutama seketika membeku setelah mendapatkan ancaman dan tatapan mengerikan dari seorang Tuan Alexander Alvaro.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
(Bagaimana readers? Adakah yang merindukan kata-kata mutiara dari Tuan Alexander Alvaro?🤭
Bagi yang sudah membaca "Menikahi Ayah dari Anak GENIUSKU" pasti paham.😏)
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
__ADS_1
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰