Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 57 (Partner)


__ADS_3

"Cih. Wanita rendahan."


"Kau memang pria yang sangat bodoh, Marco. Kau menolak wanita sesempurna diriku, bahkan meskipun aku sudah menjanjikan sebuah kedudukan tinggi padamu hanya untuk hidup bersama sampah masyarakat seperti dia dalam kemiskinan." Ucap Barbara dengan nada menghina.


"Apa?" pekik Putri sambil menoleh ke arah Barbara dengan mata terbelalak.


Barbara Clinton, adalah mantan atasan Marco. Barbara telah jatuh hati kepada Marco, sejak pertama kali dia melihat ketampanan Marco. Ditambah lagi dengan kinerja Marco yang luar biasa membuat Barbara semakin ingin memilikinya, meskipun Barbara tahu jika Marco telah berkeluarga.


"Hentikan! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jangan pernah menghina dan merendahkan istriku." Marco terlihat sangat marah.


"Siapa wanita ini, Marco? Dan ada hubungan apa diantara kalian? Apa kalian memiliki hubungan spesial?" tanya Putri sambil menekan perasaan cemburunya.


"Kau jangan salah paham dulu, Putri. Aku bisa jelaskan. Aku tidak pernah memiliki hubungan spesial dengannya," jawab Marco.


"Lalu, siapa dia?"


"Dia adalah Barbara Clinton, mantan atasanku di perusahaan tempatku bekerja sebelumnya. Aku bersumpah Putri hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan, tidak lebih," terang Marco.


"Apa maksud dari perkataannya tadi?" tuntut Putri.


"Itu...," Marco bingung bagaimana cara menjelaskannya.


"Itu apa?" bentak Putri.


"Menggelikan sekali," ejek Barbara sambil tertawa.


Helena sangat kesal melihat tingkah wanita yang bernama Barbara itu. Ingin rasanya Helena meremat-remat wajahnya, namun Axel berusaha untuk menahan emosi istrinya yang mulai meluap.


"Biarkan aku yang menjelaskannya, Marco." Helena angkat bicara.


"Wanita ini adalah atasanmu di perusahaanmu sebelumnya. Kemudian dia jatuh hati padamu, dan memintamu untuk meninggalkan Putri supaya kau bisa menjadi miliknya, benar begitu?"


Marco mengangguk.


"Tapi, kau lebih memilih istri dan ketiga anakmu daripada hidup bersamanya, meskipun dia telah menjanjikan kedudukan yang bagus di perusahaannya. Itulah sebabnya kau kehilangan pekerjaanmu."


"Apa benar seperti itu, Marco?" tanya Putri.


"Semua yang dikatakan oleh Helena itu benar," jawab Marco.


"Kau pasti tidak akan pernah melupakan ciuman panas kita kan, Marco?" ucap Barbara tanpa malu.


Napas Putri terasa tercekat. Marco meraih tangan Putri, namun Putri menolaknya.


"Aku mohon dengarkan penjelasanku, Putri. Kami tidak bermaksud untuk berciuman, lebih tepatnya tidak ada niatku sedikitpun untuk menciumnya. Dia yang tiba-tiba menciumku, dan itu tidak berlangsung lama karena aku segera mendorongnya menjauh."


Barbara tertawa. "Meskipun hanya sebentar tapi kau menyukainya Marco. Kau terlalu naif. Pria kesepian sepertimu pasti sangat membutuhkan kehangatan dari seorang wanita."


"Cukup Barbara. Jangan menguji kesabaranku. Berhenti membuat istriku berpikiran buruk tentangku dan menjadi salah paham," bentak Marco.


"Hei, beraninya kau membentak kekasihku!" Pria yang bersama Barbara juga tersulut emosi.


"Tenanglah sayang. Kau tidak perlu meladeni orang miskin seperti dia. Aku yakin saat ini dia merasakan penderitaan akibat dari sikap angkuhnya itu."


"Dan kau, Marco. Tidak mudah kan untuk mendapatkan pekerjaan? Karena aku sudah membuat para pengusaha untuk menolakmu bekerja di perusahaan mereka," ucap Barbara sambil tersenyum puas.


Barbara melirik ke arah Axel dan Helena. Barbara menatap Axel dengan tatapan memuja dan tersenyum genit.


"Hei, Barbar. Jaga sikap dan pandangan matamu yang menjijikkan itu, sebelum aku tarik keluar kedua biji matamu!" bentak Helena.


"Apa kau bilang?" balas Barbara.


Emosi Barbara seketika menyurut saat melihat tatapan tajam Axel.


"Enyahlah dari sini!"


Barbara langsung menarik kekasihnya dan pergi meninggalkan restoran seperti orang yang ketakutan. Putri masih diam seribu bahasa dan terus menolak saat Marco mencoba menyentuhnya.


"Mommy. Daddy." Ketiga anak mereka telah kembali.


Putri segera menghapus jejak air mata di sudut matanya.


"Danish, Maya dan Aslan. Apa kalian mau makan es krim?" tanya Helena.


"Mau!" teriak mereka dengan kompak.


"Mm... Daddy, Mommy, bolehkah kami makan es krim?" tanya Danish.


"Tentu saja, sayang. Kalian boleh makan es krim," jawab Marco sambil tersenyum.


Ketiga anak itu bersorak gembira, karena sudah lama mereka tidak makan es krim.

__ADS_1


"Ayo kita beli es krim sekarang," ajak Axel.


Ketiga bocah kecil itu berjalan bersama Axel dengan saling bergandengan.


"Sebaiknya segera selesaikan masalah kalian. Dan kalian berdua tidak perlu khawatir, mereka akan aman bersama kami," ucap Helena.


"Terima kasih, Helena," ujar Marco.


Helena mengangguk dan segera menyusul Axel.


Marco dan Putri duduk dengan saling berhadapan.


"Putri, aku mohon dengarkan penjelasanku. Aku berkata jujur, aku dan Barbara tidak memiliki hubungan lebih dari sekedar atasan dan bawahan. Percayalah."


"Kau anggap apa aku ini, Marco?"


"Ya?"


"Sebenarnya selama ini kau anggap aku ini apa?" tegas Putri.


"Tentu saja istriku."


Putri tersenyum hambar. "Istri? Benarkah?"


"Mengapa kau bertanya seperti itu?"


"Benarkah selama ini kau menganggapku sebagai istrimu? Jika benar, mengapa kau berbohong? Mengapa kau mengatakan jika kau dipecat karena pengurangan karyawan dan tidak memgatakan yang sebenarnya?" Putri tak kuasa menahan air matanya lagi.


"Aku minta maaf, Putri. Aku tidak bermaksud untuk berbohong padamu. Aku tidak ingin menyakiti hatimu," ucap Marco penuh sesal.


"Tapi kebohonganmu ini justru lebih menyakitkan."


"Aku benar-benar minta maaf," mohon Marco.


Putri mengusap air matanya. "Lebih baik kita berpisah."


"Tidak, Put. Jangan bilang seperti itu. Aku tidak ingin berpisah denganmu," tolak Marco.


"Mau sampai kapan kau akan hidup seperti ini? Karenaku kau hidup menderita, Marco. Aku bukan wanita yang baik untukmu. Kau layak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik, bukan mantan narapidana sepertiku."


"Bagaimana dengan nasib anak-anak kita? Mereka membutuhkan kita berdua, Put."


"Selama ini kita merawat mereka dengan baik, bukan? Dan kita sama-sama tahu jika hubungan kita tidak seperti suami istri normal. Hubungan kita hanya sebagai teman dan partner untuk merawat anak-anak. Dengan atau tanpa ikatan pernikahan, kita masih bisa merawat mereka bersama. Aku tidak ingin menghalangimu untuk hidup bahagia," ujar Putri.


"Aku..."


Marco menggengam tangan Putri.


"Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Karena si masa lalu, aku juga bukan pria yang baik. Mari kita perbaiki hubungan ini, Putri. Mari kita menjadi suami istri sekaligus orang tua sepenuhnya. Bagiku, kau bukan hanya teman dan partnerku dalam mengurus anak-anak, tapi kau adalah istriku. Aku menyayangimu. Aku tidak ingin kehilangan dirimu, dan aku tidak akan sanggup. Karena aku mencintaimu, Putri," ungkap Marco.


Putri membelalakkan matanya. "Apa yang kau katakan?"


"Aku mencintaimu, Putri. Aku mencintaimu, istriku," tegas Marco.


Air mata Putri jatuh semakin deras. Ada rasa bahagia bercampur haru di dalam hatinya.


"Aku tidak peduli, apakah kau telah mencintaiku atau tidak. Tapi aku berjanji, aku akan membuatmu mencintaiku sama halnya seperti aku mencintaimu," yakin Marco.


"Dasar bodoh!" umpat Putri.


"Apa?"


"Kau pikir selama ini aku bertahan denganmu karena apa?" sahut Putri.


Marco tersenyum bahagia. Dia langsung berjongkok di hadapan Putri.


"Jadi kau juga mencintaiku?"


"Kau pria yang menyebalkan, Marco," ucap Putri sambil menutup wajahnya karena malu.


Marco langsung memeluknya dengan erat. "Aku sangat bahagia."


Putri tersenyum bahagia di dalam pelukan suaminya.


...***...


Setelah membersihkan diri, Marco segera merapikan tempat tidur berukuran cukup besar seperti biasanya dan menunggu ketiga anaknya datang. Mereka terbiasa tidur berlima dengan posisi Marco dan Putri berada di pinggir. Putri masuk ke dalam kamar.


"Anak-anak mana, sayang? Bukankah ini sudah waktunya mereka untuk tidur?" tanya Marco.


Wajah Putri merona karena Marco memanggilnya "sayang".

__ADS_1


"Anak-anak ikut Papa dan Ibu ke rumah Paman Sam (adik sepupu Tuan Frans, ayah Putri)."


"Malam-malam begini?"


"Ya. Paman Sam dan istrinya mengundang Papa dan Ibu makan malam di sana untuk merayakan keberhasilan Paman Sam memenangkan tender. Mereka juga akan menginap di sana. Kau tadi masih berada di kamar mandi, saat mereka berangkat," terang Putri.


"Apa kau yakin anak-anak akan baik-baik saja? Maksudku, apa Aslan tidak apa-apa berjauhan denganmu? Aslan selalu memelukmu saat tidur." Wajah Marco terlihat cemas.


Putri tersenyum melihatnya. "Aslan akan baik-baik saja. Dia sendiri yang meminta untuk ikut dan dia terlihat sangat antusias. Aslan ingin menunjukkan mainan barunya kepada cucu Paman Sam. Kau tidak perlu khawatir."


Marco duduk di tepi ranjang dan menghela napas panjang. "Rumah ini, lebih tepatnya kamar ini terasa sepi tanpa mereka."


Putri duduk di samping Marco. Keduanya terdiam cukup lama karena masih ada rasa canggung diantara mereka.


"Apa kita akan terus diam seperti ini?" celetuk Putri memecah keheningan.


"Memangnya apa yang bisa kita lakukan tanpa anak-anak di sini?" sahut Marco sedih.


"Kita kan bisa berbulan madu," ucap Putri sambil menahan malu.


Wajah Marco terasa memanas dan jantungnya seketika berdetak kencang. Marco menatap Putri yang menunduk. Dengan gugup, Putri melepas jubah tidurnya.


Glek... (Marco menelan salivanya)


"Cantik sekali," puji Marco dalam hatinya saat melihat Putri dengan gaun tidur tipisnya.


Marco tersenyum dengan kedua pipinya bersemu merah, membuat Putri semakin malu.


"Apa kau yakin?" tanya Marco.


Putri menyerngitkan dahinya. "Apa kau sedang tidak percaya diri? Atau jangan-jangan belalaimu itu sudah karatan?"


Raut wajah Marco langsung berubah.


"Apa kau sedang meremehkanku?" Marco memajukan wajahnya dengan jarak keduanya sangat dekat.


"Jika belalaiku ini sudah beraksi aku bukan hanya akan membuatmu terus melenguh sayang, tapi aku bisa membuat Aslan dipanggil kakak dalam waktu dekat."


"Oh ya? Aku sudah sangat tidak sabar," tantang Putri sambil menyunggingkan bibirnya.


Rasa malu yang tadi Putri rasakan entah pergi ke mana. Marco tidak lagi berkata-kata, namun bibirnya sudah meraup bibir Putri dengan tak sabarnya. Keduanya saling melu mat dan memagut, bahkan tangan keduanya tidak ingin tinggal diam.


"Aku mencintaimu, sayang," lirih Marco.


"Kalau begitu, buktikan. Jadikan aku milikmu, dan kau adalah milikku," balas Putri dengan napas terengah.


Tak butuh waktu lama, Marco sudah mengukung tubuh Putri dengan kondisi yang sudah polos. Marco benar-benar tidak menahan dirinya untuk menyentuh dan menikmati setiap jengkal tubuh istrinya. Bahkan belalainya sudah tak sabar untuk mengamuk setelah hibernasi dalam waktu yang lama.


Ini bukan pertama kalinya Putri melakukan hubungan in tim, namun ini kali pertama bagi Putri melakukannya dengan hati sukarela tanpa paksaan atau ancaman. Putri sangat menikmati setiap momennya, begitu juga dengan Marco. Marco benar-benar memperlakukan Putri dengan lembut.


Kamar yang semula sunyi senyap dan dingin, berubah menjadi kamar panas yang dipenuhi dengan lenguhan dari bibir keduanya yang saling bersahutan. Hujaman demi hujaman membuat keduanya semakin bersemangat untuk mendapatkan puncak kenik matan.


"Marco, please," rengek Putri.


Marco mempercepat lajunya dan menekan semakin dalam, membuat Putri tidak bisa lagi menahan gejolak yang membuncah. Keduanya meraih puncak bersama dengan berpelukan erat dan merasakan cairan hangat yang telah tumpah di tempatnya.


"Kau sekarang adalah partnerku dalam segala hal sayang. Kau milikku sepenuhnya. Aku mencintaimu," bisik Marco.


"Aku juga mencintaimu, suamiku."


Marco kembali menci um Putri dengan lembut tanpa melepas penyatuan mereka. Dan pergulatan panas pun terulang kembali sampai keduanya benar-benar terlelap karena rasa lelah dan puas yang bercampur menjadi satu.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2