
Axel dan Helena tampil memukau pada acara pembukaan Hotel milik Tuan Robinson. Helena berusaha untuk tetap tersenyum, dan berusaha menahan perutnya yang sakit akibat nyeri haid yang dirasakannya. Marco, Sherly dan Evelyn juga ikut hadir. Marco selalu mencuri pandang ke arah Helena dan menatapnya dengan tatapan memuja, membuat Sherly kesal dan marah. Sedangkan Evelyn tiada hentinya memberikan tatapan penuh harapnya kepada Axel.
Setelah acara peresmian dan pembukaan hotel selesai, Tuan dan Nyonya Robinson mempersilakan para tamu untuk menempati kamar yang telah mereka siapkan. Axel dan Helena menempati kamar presidential suite yang lengkap dengan ruang tamu dan jacuzzi di dalamnya. Helena langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sedangkan Axel, William dan Irene berada di ruang tamu karena ada masalah perusahaan yang harus mereka bicarakan.
"Apa terjadi sesuatu dengan Helena, Irene?" tanya Axel.
"Sepertinya Nona Helena sedang mengalami nyeri haid, Tuan. Penyakit yang biasa diderita wanita di awal datang bulannya. Wajah Nona Helena juga terlihat sedikit pucat tadi," jawab Irene.
Axel hanya menganggukkan kepalanya. Setelah rapat mereka selesai, Axel meminta Irene untuk memesankan teh chamomile hangat untuk Helena. Axel ingat dulu Helena selalu meminum teh chamomile, saat Helena merasakan nyeri ketika datang bulan. William mengerutkan dahinya, tapi dalam hati dia merasa senang karena sepertinya Axel mulai bersikap baik kepada istrinya.
Helena keluar dari dalam kamar mandi dan akan bersiap untuk menemani suaminya menghadiri jamuan makan malam yang diadakan oleh Tuan dan Nyonya Robinson, meskipun tubuhnya terasa lemas sekali saat ini. Axel masuk ke dalam kamar.
"Kau tidak perlu ikut ke perjamuan makan malam. Nanti pelayan yang akan mengantarkan makan malammu ke sini. Aku tidak mau Tuan dan Nyonya Robinson juga para tamu yang lain berpikiran buruk padaku saat melihat wajah pucatmu. Mereka akan berpikir aku ini suami yang kejam jika memaksamu untuk ikut hadir dalam keadaan sakit seperti saat ini," ucap Axel dingin.
Helena hanya bisa menghela napas. Apa yang Axel katakan ada benarnya juga, meskipun ucapan dingin Axel sedikit menusuk hatinya. Setidaknya Helena bisa beristirahat dengan tenang.
"Baiklah, terima kasih. Sampaikan permohonan maafku kepada Tuan dan Nyonya Robinson," ucap Helena.
Axel hanya menganggukkan kepalanya.
"Irene nanti akan berada di sini untuk menemanimu," ucap Axel.
Axel segera membersihkan dan bersiap. Dia menggunakan kemeja dan setelan jasnya. Sambil menunggu Axel bersiap, Helena keluar kamar dan menemui William yang sudah menunggu di ruang tamu bersama Irene.
"Will," panggil Helena.
"Iya Nona," jawab William.
"Tolong jaga dan selalu awasi suamiku. Aku punya firasat buruk. Aku yakin dua wanita ular itu merencanakan sesuatu yang buruk. Mereka pasti berencana menjebak suamiku agar bisa tidur dengan Evelyn. Rencana yang sama seperti yang pernah dilakukan Sherly kepada mantan suamiku, Marco," ucap Helena.
William dan Irene membelalakkan mata mereka.
"Apa Anda yakin, Nona?" tanya William.
"Sangat yakin," tegas Helena.
"Baiklah Nona. Saya akan memerintahkan beberapa anak buah untuk mengawasi gerak gerik mereka," ucap William.
"Terima kasih, Will," ucap Helena.
William mengangguk. Axel keluar dari kamar yang sudah siap dengan outfitnya. Helena segera berdiri untuk salim dan mencium punggung tangan suaminya.
"Berhati-hatilah. Jangan sampai kau masuk ke dalam perangkap mereka," lirih Helena sambil menatap Axel.
Axel mengerutkan dahinya tak mengerti, namun dia tetap mengiyakan. Setelah Axel keluar dari suite mereka, pelayan hotel mengantarkan makan malam untuk Helena dan Irene. Pelayan itu juga membawakan teh chamomile hangat untuk Helena. Helena sedikit terkejut.
__ADS_1
"Tuan Axel tadi yang meminta saya untuk memesankan teh chamomile hangat untuk Anda," ucap Irene.
Helena hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ternyata kau masih mengingatnya, Xel. Terima kasih," batin Helena.
Selesai menghabiskan hidangan makan malamnya, Helena pamit untuk istirahat di dalam kamar. Sedangkan Irene tetap berada di ruang tamu sambil menonton acara televisi. Helena mengambil bantal dan selimut lalu tidur di sofa. Helena tahu Axel pasti keberatan jika mereka tidur seranjang lagi dan Helena juga tidak ingin mereka bertengkar lagi seperti tadi pagi.
Kehadiran Axel tanpa Helena, membuat hati Nyonya Robinson sedikit kecewa. Axel menyampaikan permintaan maaf istrinya yang tidak bisa hadir karena kondisinya yang kurang sehat. Nyonya Robinson mengkhawatirkan keadaan Helena. Berbeda jauh dengan apa yang dirasakan oleh Sherly dan Evelyn. Mereka senang sekali mendengar kabar jika Helena tidak ikut jamuan makan malam dan pastinya akan memperlancar rencana mereka untuk menjebak Axel. Sedangkan Marco merasa sedih karena Helena sedang sakit sekarang. Ingin sekali dia menemui Helena, namun Marco yakin Axel pasti akan menempatkan anak buahnya untuk menjaga Helena.
Sebelum acara jamuan makan malam dimulai, Tuan Robinson mengajak para tamunya untuk saling mengobrol di taman hotel. Evelyn berusaha untuk mendekati Axel. Karena terlalu fokus memandang ke arah Axel, Evelyn tidak sengaja menabrak salah satu tamu pria di sana dan menumpahkan minuman daro dalam gelas yang dipegangnya.
"Aukh...," seru Evelyn.
"Kau tidak apa-apa, cantik?" tanya pria yang ditabrak oleh Evelyn.
"Aku baik-baik saja. Maaf aku tadi tidak sengaja," jawab Evelyn.
"Tidak masalah cantik. Bolehkan aku berkenalan denganmu?" tanya pria itu.
Evelyn pun mengiyakan karena dia merasa tidak enak untuk menolaknya.
"Tentu saja," jawab Evelyn sambil memaksakan senyumannya.
"Kenalkan namaku Pedro Salvador, CEO dari Salvador Cooperation. Aku berasal dari Meksiko," ucap pria yang bernama Pedro itu.
"Wow... Nama yang cantik secantik orangnya," puji Pedro dengan tatapan menggoda.
"Baiklah Tuan Pedro, sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya tadi. Dan saya permisi dulu karena ada yang harus saya temui saat ini," ucap Evelyn.
"Baiklah, cantik. Semoga malammu menyenangkan," ucap Pedro dengan tatapan mesumnya.
Evelyn segera pergi menjauh dari pria predator itu. Evelyn terus berusaha mengajak Axel mengobrol, namun Axel hanya memberikan tanggapan singkat yang membuat Evelyn cukup kesal. Tuan Robinson mengumumkan acara makan malam akan dimulai dan mempersilakan para tamu untuk menempati meja masing-masing. Axel duduk di mejanya bersama William. Evelyn melihat ke arah Sherly. Sherly mengacungkan jempol kanannya sambil tersenyum. Evelyn pun tersenyum bahagia.
Saat menikmati jamuan makan malam, Evelyn tiada henti menatap ke arah Axel. Terutama saat Axel meminum air dari dalam gelasnya. Axel memegang tengkuknya seperti ada rasa yang aneh dari dalam tubuhnya. Evelyn mengambil kertas yang berisi tulisan yang sudah dia siapkan sebelumnya dan meminta pelayan untuk memberikannya kepada Axel. Axel pun menerima kertas yang berisi pesan itu dan membacanya.
"Datanglah ke kamarku. Aku menunggumu dan aku akan memberikan kenikmatan surga padamu malam ini, sayang. Evelyn," isi dari surat itu dan di bawahnya tertulis nomor kamar dan password kamar Evelyn.
Axel tersenyum. Dia langsung mengarahkan pandangannya kepada Evelyn sambil tersenyum. Evelyn pun tersenyum bahagia. Selesai menghabiskan hidangannya, Evelyn segera berdiri dan berpamitan kepada Tuan dan Nyonya Robinson. Evelyn keluar dari ruangan itu menuju kamarnya dengan perasaan bahagia.
Axel segera menghabiskan minumannya. Lalu dia berbisik kepada William dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Sherly tersenyum. Rencana busuk mereka berhasil. Hatinya bahagia sekali membayangkan penderitaan yang akan dirasakan oleh Helena untuk kedua kalinya karena suaminya berselingkuh.
Di dalam kamarnya, Evelyn sudah mengganti gaunnya dengan gaun malam yang kurang bahan dan transparan. Evelyn juga menyalakan lilin aroma terapi yang mengandung obat perangsang. Evelyn berharap, saat Axel bangun besok pagi, Axel masih dalam pengaruh obat. Tak lama kemudian, terdengar pintu kamarnya terbuka. Evelyn segera berlari menuju pintu. Namun apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.
"Kau? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Evelyn.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan? Tentu saja memenuhi undanganmu sayang. Dan aku sudah tidak sabar merasakan apa yang kau janjikan di pesanmu tadi sayang," jawab Pedro dengan tatapan penuh n***u.
Sebelumnya, sesaat sebelum jamuan makan malam dimulai, William membisikkan sesuatu kepada Axel. William memberitahu jika Sherly dan Evelyn membayar seorang pelayan untuk memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Axel. Namun William juga memberitahu jika minuman itu sudah dia tukar dengan minuman untuk Pedro. William memperhatikan interaksi antara Evelyn dan Pedro sebelumnya. Setelah menerima pesan dari Evelyn, Axel segera keluar dari ruang perjamuan dan meminta seorang pelayan untuk mengantarkan pesan Evelyn kepada Pedro.
Tanpa berpikir panjang, Pedro langsung memeluk dan menc**m Evelyn kasar. Hasratnya sudah tak terbendung lagi akibat obat dan aroma terapi yang ada di kamar Evelyn saat ini. Apalagi saat dia melihat gaun yang dikenakan Evelyn saat ini hampir tidak bisa menutupi tubuh menggoda Evelyn. Awalnya Evelyn berusaha memberontak, namun lama kelamaan dia pun ikut larut dalam gelora yang dikobarkan oleh Pedro dan mereka pun melakukan cinta satu malam.
Axel segera kembali ke suite dan meminta Irene untuk kembali ke kamarnya. Axel masuk ke dalam kamar, dia tidak melihat Helena di atas ranjang. Axel langsung mengedarkan pandangannya dan melihat Helena yang tidur di sofa. Axel mendekat dan memperhatikan wajah Helena yang sedang tidur lelap.
"Mengapa aku tidak bisa benar-benar membencimu, El? Mengapa hatiku terasa sakit saat melihatmu sakit?" gumam Axel.
Axel mengangkat tubuh Helena dan meletakkannya di atas ranjang. Lalu Axel merapikan selimutnya. Axel segera membersihkan diri dan berganti baju. Axel pun merebahkan tubuhnya di atas sofa tempat Helena tidur tadi dan segera memejamkan matanya.
...*****...
New York, USA
Jasmine sedang duduk sedirian sambil menikmati caffe latte yang dipesannya, di sebuah cafe dekat hotel tempatnya menginap. Azzura dan Hans sedang menonton konser musik band favorit mereka. Tanpa Jasmine sadari, seseorang memperhatikannya dari meja yang terletak di sudut ruangan. Tiba-tiba seorang pelayan memberikan secarik kertas padanya. Saat Jasmine akan bertanya dari siapa, pelayan itu sudah pergi.
"Mengapa wajahmu murung? Nanti cantikmu bisa hilang. Lama tidak bertemu. Dan kau masih tetap bocil seperti dulu," isi dari pesan itu.
Jasmine membulatkan matanya. Dia penasaran juga bahagia. Orang yang selalu memanggilnya bocil adalah Evan. Jasmine langsung mengangkat wajahnya dan mengedarkan pandangannya mencari Evan. Namun Jasmine tak menemukannya. Lalu dia melihat seorang pria memakai kaos hitam keluar dari cafe. Jasmine segera berdiri dan mengejar pria itu.
Saat berada di luar cafe, Jasmine kehilangan jejaknya. Jasmine meneriakkan nama Evan, berharap pria yang diduganya Evan itu mendengarnya. Namun usahanya sia-sia. Wajahnya langsung berubah sedih.
"Hei! Mengapa kau berteriak di jalanan? Apa kau sudah gila?" tegur seseorang dari belakang Jasmine.
Jasmine terkejut. Dia langsung memutar badannya dan melihat orang yang menegurnya. Jasmine pun membelalakkan matanya.
...🌹🌹🌹...
Pasti sudah bisa menebak kan siapa yang menegur Jasmine? 🤭🤭🤭
Oke readers. Cerita Jasmine - Evan akan author lanjutkan di chapter selanjutnya ya. 🤭🙏
Baca juga baca novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author dengan :
💫Tinggalkan comment
💫Tinggalkan like
💫Tinggalkan vote
__ADS_1
💫Klik favorite
Terima kasih🙏🥰