Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 30 (Kemalangan Yang Bertubi)


__ADS_3

Nabila terlihat kalut dan ketakutan. Dia berjalan dengan cepat di samping Vira yang terbaring di atas bangkar yang sedang didorong oleh dua orang perawat menuju ruangan dokter Zahra. Dokter Risa juga ikut mendampingi mereka.


"Dokter Nabila, dokter Risa. Apa yang terjadi para Vira?" sapa Helena saat mereka berada di depan ruangan dokter Zahra.


"Vira mengalami pendarahan hebat, dokter Helena," jawab Nabila sambil berurai air mata.


Helena membelalakkan matanya. "Apa yang terjadi?"


Nabila tak kuasa untuk menjawab dan terus menangis. Dokter Risa pun langsung menjelaskan apa yang telah terjadi kepada Helena.


"Ternyata tindak pelecehan itu membuahkan hasil dokter, Vira hamil. Saat terakhir kali saya memeriksanya sebelum keluar dari rumah sakit, usia kandungan Vira masih sangat muda kemungkinan sekitar 2 minggu, sehingga saya tidak mendeteksi kehamilannya," terang dokter Risa.


"Selama ini, Vira juga tidak menunjukkan gejala ibu hamil sama sekali. Sehingga saya tidak menyadari jika Vira sedang hamil. Vira juga tidak mengeluh atau mengatakan apapun kepada saya. Pagi ini Vira terlihat berbeda, wajahnya tampak pucat dan mengeluh sakit pada perutnya. Saya langsung pergi ke kamar dan mengambil peralatan medis untuk memeriksanya."


"Tapi, saat saya kembali Vira sudah tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai dengan darah segar yang mengalir dari pangkal pahanya," ucap Nabila sambil terisak.


Dokter Risa memeluk Nabila dan berusaha untuk menenagkannya. Mereka bertiga segera masuk ke ruangan dokter Zahra. Dokter Zahra sedang melakukan pemeriksaan melalui alat USG.


"Dokter Zahra, bagaimana keadaan Vira?" tanya Helena.


Dokter Zahra meletakkan alat USG lalu menghela napas panjang. "Vira sedang mengandung dan usia kandungannya sekitar 3 minggu. Karena usia sang ibu masih sangat muda dan juga kondisi kandungannya yang lemah, janinnya tidak berkembang dengan baik dan tidak bertahan. Vira mengalami keguguran."


Tangis Nabila semakin pecah. Dia mendekati Vira yang masih dalam kondisi pingsan. Helena dan dokter Risa juga ikut bersedih. Mereka prihatin dengan ujian hidup yang harus dialami oleh gadis semuda Vira.


"Kita harus segera mengambil tindakan dokter," ujar dokter Zahra.


"Baiklah. Lakukan yang terbaik untuk gadis ini, dokter Zahra," sahut Helena.


Dokter Zahra segera melakukan tindakan medis untuk membersihkan kandungan Vira. Helena dan Nabila menunggu di luar ruangan, sedangkan dokter Risa harus kembali bekerja.


"Kau harus kuat Nabila dan kau harus menjadi penyemangat untuk Vira. Hanya kau orang terdekatnya Vira saat ini. Kita doakan semoga keadaan Vira segera membaik," tutur Helena sambil memeluk Nabila.


"Iya dokter. Terima kasih," ucap Nabila saat pelukan keduanya terurai.


Ponsel Nabila berdering. Pramudya menghubunginya. Nabila ragu untuk mengangkat telponnya.


"Bagaimana aku harus menjelaskannya kepada Pram?" batin Nabila.


"Angkat telponnya Nabila. Pramudya harus tahu tentang keadaan adiknya yang sebenarnya," saran Helena.


Nabila menarik napas dan mengangkat telpon dari Pramudya.


"Halo, Pram," sapa Nabila dengan suara sedikit bergetar.


"Halo, Nabila. Maaf mengganggumu bekerja. Aku ingin menanyakan keadaan Vira," jawab Pramudya.


"Pram. Vira... Vira...." Nabila tak sanggup melanjutkan kalimatnya dan menangis kembali.


"Ada apa Nab? Mengapa kau menangis? Semua baik-baik saja, kan?" tanya Pramudya cemas.


Nabila semakin menangis dan tak kuasa untuk menjawab. Helena mengambil ponsel Nabila.


"Halo, Pramudya. Ini aku, dokter Helena," ucap Helena.


"Halo, dokter Helena. Dokter tolong katakan apa yang terjadi? Mengapa Nabila menangis? Vira baik-baik saja kan?" tanya Pramudya.


"Aku minta maaf Pram, aku harus mengatakan kabar buruk ini. Vira sedang hamil, tapi dia mengalami keguguran dan kandungannya tidak bisa diselamatkan," jawab Helena.


"A-apa? Vira hamil dan keguguran? La-lalu bagaimana keadaan adik saya dokter? Adik saya baik-baik saja kan dokter?" cerca Pramudya.


"Saat ini dokter Zahra sedang menangani Vira. Kita berdoa semoga Vira baik-baik saja dan kondisinya bisa segera pulih kembali," ucap Helena.


Helena mendengar perdebatan dari seberang telpon, namun dia tidak bisa mendengar dengan jelas. Tiba-tiba sambungan telponnya terputus. Helena mengembalikan ponsel itu kepada Nabila.


"Bagaimana dokter? Apa yang Pram katakan?" tanya Nabila.


"Sambungan telponnya tiba-tiba terputus. Aku yakin saat ini Pramudya sedang syok dan terpukul. Kita berdoa semoga semua akan baik-baik saja," jawab Helena.


Pramudya tidak menghubungi Nabila lagi setelah panggilan telpon terakhir mereka. Tindakan medis yang dilakukan oleh dokter Zahra berhasil dengan baik dan Vira sudah ditempatkan di ruang rawat inap. Nabila mengambil ijin cuti supaya bisa mendampingi Vira. Nabila juga tak henti berusaha untuk menghubungi ponsel Pramudya, namun tak ada jawaban sama sekali.


"Ouuhhh...." Terdengar lenguhan pelan dari bibir Vira.

__ADS_1


"Vira sayang, kau sudah sadar?" tanya Nabila.


Vira membuka matanya dengan perlahan dan mencari keberadaan Nabila.


"Kak Nabila," panggil Vira.


"Ya, Vira. Kakak ada di sini," jawab Nabila sambil menggenggam tangan Vira.


Vira memperhatikan keadaan di sekitarnya.


"Apa kita berada di rumah sakit lagi?" tanya Vira.


Nabila mengangguk. Vira merasakan rasa sakit yang luar biasa pada bagian perutnya.


"Sttt... Kak perutku sakit sekali. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" tanya Vira.


Nabila langsung menunduk dan mengatur napasnya.


"Kak, lihat ke arahku. Katakan, apa yang terjadi? Aku sakit apa?"


"Kau hamil, Vira," ucap Nabila perlahan.


"A-aku hamil? M-maksud kakak aku akan menjadi seorang ibu?" seru Vira dengan wajah terkejutnya.


Nabila mengangguk. "T-tapi Tuhan berkehendak lain, Dia telah mengambilnya lagi. K-kau mengalami keguguran."


Tangis Vira langsung pecah. "Mengapa nasibku seburuk ini, Kak? Aku diperkosa, lalu aku hamil dan sekarang aku kehilangan calon anakku."


Nabila memeluk tubuh Vira dan berusaha untuk menenangkannya.


"Tenangkan dirimu, Vira. Semua ini sudah menjadi kehendak Tuhan. Kakak mohon ikhlaskanlah, meskipun kakak tahu semua ini berat untukmu. Kakak akan selalu ada di dekatmu dan kakak akan selalu bersamamu. Kakak mohon kuatkan dirimu," ucap Nabila.


Pintu ruangan terbuka membuat keduanya tersentak.


"Pram!" seru Nabila.


Pramudya langsung mendekat dan memeluk adiknya.


"Kakak ada di sini, Vira. Kakak sudah datang, kau tidak perlu takut lagi," ucap Pramudya sambil mengusap kepala adiknya.


Dengan lembut Pramudya menghapus air mata Vira.


"Kak, aku... aku...."


"Suuttt... Kakak tahu sayang. Kau ikhlaskan semuanya dan kita akan membuka lembaran hidup yang baru," sahut Pramudya.


Vira mengangguk sambil terus menangis. Setelah cukup lama menangis dan juga efek obat yang diberikan dokter, perlahan Vira tertidur kembali. Pramudya membetulkan selimut Vira, lalu ikut duduk di sofa panjang bersama Nabila.


"Maaf aku tidak mengangkat telponmu. Saat itu pikiranku sedang kalut, dan aku berusaha untuk segera tiba di sini," ucap Pramudya.


"Tidak apa-apa, Pram. Aku bersyukur kau sudah kembali. Vira sangat membutuhkan keberadaanmu di sampingnya," jawab Nabila.


Pramudya menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Beberapa saat terjadi keheningan.


"Bagaimana dengan acara lamaranmu?" tanya Nabila.


Pramudya menghela napas panjang.


"Hubungan kami telah berakhir, Nab. Keluarga Mitha tidak merestui hubungan kami. Mereka tidak bisa menerima kemalangan yang menimpa Vira dan menyuruh Mitha menikah dengan pria pilihan mereka," jawab Pramudya.


Nabila melebarkan matanya. "Bagaimana dengan Mitha? Apa dia tidak berusaha memperjuangkan hubungan kalian?"


"Mitha tidak bisa menolak perjodohan itu. Ayahnya mengancam tidak akan mengakuinya sebagai anak lagi serta akan mencabut semua uang dan fasilitas yang dia berikan, jika Mitha masih mempertahankan hubungan kami," terang Pramudya.


"Kamu yang sabar ya, Pram," ujar Nabila.


Pramudya mengangguk.


"Terima kasih, Nab. Saat ini aku hanya ingin fokus untuk kesembuhan Vira," ucap Pramudya.


...***...

__ADS_1


Jasmine terus berguling ke kanan dan ke kiri karena pikirannya yang tak tenang. Esok pagi adalah hari yang bersejarah dalam hidupnya. Evan akan mengikat dirinya ke dalam janji suci pernikahan. Selama tiga hari keduanya tidak bertemu dan fokus untuk mempersiapkan diri menjelang pernikahan. Acara pengajian dan siraman telah dilaksanakan di mansion Tuan Zayn.


Ponsel Jasmine berdering. Jasmine segera mengangkat panggilan telpon dari Evan.


"Assalamualaikum, my sunshine," sapa Evan.


"Waalaikumsalam," jawab Jasmine dengan jantung berdebar-debar.


"Mengapa kau belum tidur di jam segini? Apa kau tidak bisa tidur karena memikirkan acara pernikahan kita besok?" tanya Evan.


Jasmine mendengus kesal. "Haruskah kau masih menanyakannya?"


Evan tertawa pelan.


"Tenangkan pikiranmu sayang. InsyaAllah hal mulia yang akan kita laksanakan besok akan berjalan dengan baik," ucap Evan.


"Aamiin," jawab Jasmine singkat.


"Sebaiknya kau segera tidur, supaya besok badanmu kembali segar dan fit, terutama untuk ritual malam pertama," ucap Evan.


"Ish. Sejak kapan pikiranmu menjadi mesum seperti itu?" bentak Jasmine dengan wajah yang memerah karena malu.


"Ah, jangan galak seperti itu padahal wajahmu mulai memerah," goda Evan.


Wajah Jasmine semakin memerah.


"Tuh kan semakin memerah," ucap Evan sambil tertawa.


"Sial! Bagaimana Evan bisa tahu jika saat ini aku sedang malu?" batin Jasmine.


"Sudahlah, aku malas bicara denganmu," ucap Jasmine kesal.


"Jangan marah seperti itu calon Nyonya Evander Sahir. Dan kecantikan abadimu bisa luntur," ucap Evan.


"Mana ada kecantikan abadi yang luntur?"


Evan tertawa. "Aku minta maaf. Jangan marah lagi ya. Aku sangat merindukanmu dan kau menyiksaku dengan kemarahanmu itu. Karena saat kau marah, wajahmu semakin menggemaskan. Aku takut tidak bisa menahan diri sampai besok pagi."


Jasmine ikut tertawa.


"Baiklah. Kau juga harus segera tidur agar ketampanan abadimu tidak luntur, calon suamiku. Aku mau sholat dulu, setelah itu aku akan istirahat," ujar Jasmine.


"Siap, my sunshine. Malam ini kau sholat sendiri dulu, dan mulai besok aku akan menjadi imammu. Selamat malam, my sunshine. I love you. Assalamualaikum," ucap Evan.


"Love you, too. Waalaikumsalam."


Jasmine meletakkan ponselnya di atas nakas dan segera melaksanakan ibadah malamnya. Jasmine pun bisa tidur lelap dengan perasaan tenang.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2