Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 33. Fokus Buat Cucu


__ADS_3

Axel dan Helena sedang bersantai di atas sofa yang ada di kamar Helena setelah keduanya melaksanakan makan malam bersama. Axel menjadi sangat manja. Dia tidur di pangkuan Helena.


"Sekarang jelaskan padaku. Mengapa kau masih tetap perawan setelah menikah dengan Marco?" tanya Axel sambil menatap Helena.


Helena menarik napas panjang.


"Pernikahan kami terjadi di saat aku masih kuliah dan pendidikanku belum selesai. Marco berjanji pada dirinya sendiri, jika dia tidak akan menyentuhku sampai aku menyelesaikan pendidikanku dan menyandang gelar sarjana kedokteran. Marco berjanji akan membawaku berbulan madu dan melakukan program hamil."


Helena tersenyum getir.


"Tapi, di saat aku sudah menyelesaikan pendidikan dan tinggal menunggu hari kelulusan, aku mengetahui perselingkuhan Marco dengan Sherly. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri," jelas Helena sambil meneteskan air mata.


Axel langsung duduk dan menghapus air mata Helena perlahan.


"Apa kau masih mencintai Marco?" tanya Axel penasaran.


Helena memberikan tatapan tajamnya.


"Kalau aku masih mencintai Marco, aku tidak mungkin membukakan kedua kakiku untukmu, bahkan sampai berkali-kali," jawab Helena kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


Axel tersenyum bahagia. Axel langsung ******* bibir Helena gemas.


Helena melotot saat bibirnya disosor.


Axel terkekeh.


"Lalu, untuk apa kalian bertemu kemarin dan apa yang kalian bicarakan?" tanya Axel penasaran.


"Marco akan menceraikan Sherly. Akhirnya dia mengetahui perselingkuhan Sherly dengan pacar gelapnya," ucap Helena sambil tersenyum miring.


"Apa kau sudah mengetahuinya sebelumnya?" tanya Axel.


Helena mengangguk.


"Aku dan Emily tidak sengaja melihat Sherly dan pacar gelapnya menginap di hotel, sebelum aku dan Marco resmi bercerai," jawab Helena.


"Marco semakin terpukul saat mengetahui bahwa bayi laki-lakinya, Deniz, yang selama ini bersamanya, bukanlah anak kandungnya. Sherly sengaja menukar bayi perempuan mereka dengan bayi Deniz. Marco sedang berusaha mencari anak kandungnya," terang Helena.


"Bagaimana dengan Reymond?" Axel terus menginterogasi.


Helena menghela napas panjang lalu menatap mata Axel lekat.


"Rey menyatakan perasaannya padaku," ucap Helena.


Wajah Axel mengeras menahan marah dan cemburu. Axel berusaha untuk meredamnya. Dia tidak ingin karena diliputi rasa cemburu, akan melakukan kesalahan yang akan dia sesali.


"Apa jawabanmu?" tanya Axel dengan wajah dingin.


"Seharusnya kau sudah tahu. Jawabannya sama dengan pertanyaanmu tadi tentang perasaanku pada Marco," jawab Helena ketus.


"Aku bukanlah wanita murahan yang dengan mudahnya jatuh ke dalam pelukan pria lain, meskipun aku tidak akan pernah mendapatkan cinta dari suamiku," ucap Helena sambil tersenyum getir.


Axel terdiam. Axel ingat dengan apa yang dia katakan pada Helena di malam pernikahan mereka.


"Istirahatlah," ucap Axel dingin.


Axel langsung beranjak pergi keluar dari kamar Helena.


Helena hanya bisa diam melihat perubahan sikap Axel yang kembali menjadi dingin. Helena merebahkan tubuhnya perlahan dan memejamkan matanya. Bulir air mata menetes secara perlahan.


Axel masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia mengambil map yang berada di dalam laci. Axel mengeluarkan surat perjanjian pasca pernikahannya dengan Helena. Axel merobek surat itu, lalu membakarnya.


Kemudian Axel mengambil ponselnya.


"Assalamualaikum, Pa," salam Axel.


"Waalaikumsalam. Ada apa Nak? Tumben kau menelpon Papa," jawab Zayn.


"Axel mau minta tolong Pa. Apa Papa bisa menggantikan posisi Axel di kantor selama beberapa hari? Aku ingin fokus pada sesuatu Pa," pinta Axel.


"Memangnya kau mau ke mana? Apa ini ada hubungannya dengan Icha?" tanya Zayn.


"Bukan Pa. Aku ingin fokus membuatkan cucu untuk Papa dan Mama," jawab Axel.


Zayn tertawa bahagia.


"Tentu saja Papa siap menggantikan posisimu di Alvaro Group. Jangankan beberapa hari, sampai cucu Papa lahir pun Papa siap, Nak. Selamat berjuang. Jangan sampai kau kalah sama Papa. Papa dulu berhasil membuat Mamamu hamil dirimu hanya dalam waktu satu malam," ucap Zayn dengan bangganya.


"Siap Pa. Papa jangan meremehkan semangatku." ucap Axel penuh semangat.


"Terima kasih banyak, Pa. Salam buat Mama ya. Assalamualaikum," ucap Axel.


"Sama-sama, Nak. Waalaikumsalam," jawab Zayn.


Sambungan telpon ayah dan anak itupun terputus.

__ADS_1


Helena terbangun dari tidurnya. Dia terkejut dan langsung membelalakkan matanya saat mengetahui dirinya berada di tempat asing. Helena langsung duduk dan melihat sekelilingnya. Hampir semua dinding ruangan terbuat dari kaca tebal dan terlihat beberapa ikan dari balik kaca.


"Kau sudah bangun?" seru Axel yang duduk di atas sofa.


"Kita berada di mana sekarang, Xel? Bukankah aku tadi tidur di kamarku?" tanya Helena.


Axel langsung berdiri dan duduk di samping Helena.


"Kita sedang berada di under water hotel, di Maldives," jawab Axel.


"Bagaimana bisa? Kapan kita berangkat?" tanya Helena bingung.


"Dasar putri tidur. Karena tidurmu terlalu pulas, kau tidak sadar saat aku membawamu ke sini. Kau tidur hampir 5 jam sayang," jawab Axel sambil tersenyum.


Helena membulatkan matanya.


"Ini adalah awal bulan madu kita, El. Aku akan membawamu ke tempat manapun yang kau inginkan. Kalau perlu kita berkeliling dunia," ucap Axel lembut.


Mata Helena berkaca-kaca. Helena sangat terharu. Helena langsung berhambur ke dalam pelukan Axel.


"Terima kasih, Xel" ucap Helena.


"Sama-sama, El," jawab Axel.


Helena mengurai pelukan mereka.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu di Alvaro Group? Dan bagaimana juga dengan pekerjaanku?" tanya Helena.


"Papa yang akan mengambil alih posisiku. Dan untuk pekerjaanmu, aku sudah meminta Oma Narita mencarikan dokter baru untuk menggantikanmu. Sekarang kau adalah salah satu pemilik rumah sakit itu. Oma Narita setuju saat aku membeli 50% saham rumah sakit dan atas namamu," jawab Axel.


"Tapi, menjadi seorang dokter kan cita-citaku sejak kecil, Xel," ucap Helena sedih.


"Aku tidak akan melarangmu melakukan tugasmu sebagai dokter. Kau bisa kembali praktik nantinya, hanya saja statusmu berbeda. Bukan lagi sebagai pegawai rumah sakit, tapi sebagai dokter pemilik rumah sakit sama seperti Oma Narita," ucap Axel lembut.


"Apa kau serius?" tanya Helena semangat.


"Tentu saja dokter Helena," jawab Axel.


Helena bahagia sekali.


Axel menarik Helena ke dalam pelukannya lagi.


"Jangan tinggalkan aku lagi, El," lirih Axel.


"Apa maksudmu?" tanya Axel tak mengerti sambil melepaskan pelukannya.


"Aku tidak pernah mengingkari janjiku padamu. Kau yang memintaku. Apa kau lupa? Kau yang mengirimkan pesan padaku, kau ingin mengakhiri persahabatan kita," jawab Helena.


"Kau jangan mengada-ada. Aku tidak pernah melakukannya," elak Axel.


"Apa kau tadi juga membawa tasku?" tanya Helena.


Axel mengangguk lalu berdiri dan mengambil tas Helena yang dia letakkan di dalam lemari hotel dan memberikannya pada Helena.


Helena mengambil ponsel lamanya dari dalam tas, kemudian menyalakan ponsel itu.


"Bukankah itu ponsel lamamu?" tanya Axel.


Helena mengangguk.


Setelah ponselnya menyala, Helena membuka kotak pesan masuk, kemudian menyerahkannya kepada Axel.


Axel menerima ponsel itu dan membaca pesan yang tersimpan di sana.


..."Hai Helena. Ini adalah pesan terakhir yang aku kirimkan padamu dan terakhir kalinya aku berbicara denganmu. Aku sudah memikirkan dengan matang. Aku ingin kita mengakhiri hubungan persahabatan kita. Kita sama-sama telah memiliki kekasih. Ada hati yang harus kita jaga. Aku harap hubunganmu dengan Marco selalu baik-baik saja. Jangan hadirkan diriku lagi di antara kalian. Karena aku juga tidak ingin menghadirkan dirimu di antara aku dan Icha. Aku sangat mencintai Icha dan dia adalah bagian dari hidupku. Setelah kau membaca pesanku ini, aku harap kau tidak akan menghubungiku lagi. Aku akan memblokir nomormu dan semua akun sosial mediamu. Aku juga akan menghapus semua kenangan kita. Aku harap kau juga melakukan hal yang sama. Semoga kau selalu bahagia. Axel,"...


Axel membelalakkan matanya.


"Bagaimana? Apa kau sudah ingat sekarang?" tanya Helena.


"Aku tidak pernah mengirimkan pesan ini padamu," jawab Axel.


"Tapi ini dikirim dari nomor ponselmu, Xel," ucap Helena.


Wajah Axel berubah dingin.


"Sial! Ternyata aku kecolongan. Ada yang berhasil meretas ponselku," ucap Axel dingin.


Helena melebarkan matanya.


"Apa maksudmu, Xel?" tanya Helena.


"Pesan ini memang dikirim dari nomor ponselku. Tapi, bukan aku yang mengirimkannya, tapi orang lain," jawab Axel.


"Jadi? Kau?" sahut Helena.

__ADS_1


"Aku tidak pernah memintamu untuk meninggalkanku dan aku juga tidak pernah meminta untuk mengakhiri persahabatan kita," jelas Axel.


Helena menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Maksudmu ada orang yang sengaja ingin menghancurkan persahabatan kita?" tanya Helena tak percaya.


"Kau benar. Boleh aku pinjam dulu ponselmu?" ucap Axel.


Helena mengangguk.


Axel meletakkan ponsel itu di atas nakas.


"Aku minta maaf karena selama ini aku sudah berprasangka buruk padamu, bahkan aku sempat membencimu, El," ucap Axel sambil menggenggam kedua tangan Helena.


Helena tersenyum sambil menitikkan air mata.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Xel. Ini semua adalah kesalahpahaman. Aku bersyukur, akhirnya kita mengetahui kebenarannya," ucap Helena.


Axel tersenyum nakal.


"Sebaiknya kita mulai ritual bulan madunya sekarang, El," bujuk Axel dengan tatapan menggoda.


Helena menyipitkan matanya.


"Ayolah El, ini kan moment bulan madu kita," ucap Axel menggoda.


"Badanku masih lelah, Xel. Apa yang tadi siang masih belum cukup?" protes Helena.


"Tentu saja belum. X-Lo ingin bermain dengan L-Na sekarang," rengek Axel.


"Bilang pada X-Lo, L-Na lelah mau tidur," ucap Helena.


"Kalau begitu biar X-Lo bertanya langsung pada L-Na," sahut Axel.


Tanpa aba-aba, Axel langsung menyibak gaun tidur Helena ke atas. Helena melotot saat menyadari dirinya sudah berganti baju dan hanya memakai gaun tidur tipis tanpa pakaian d***m.


Tak butuh waktu lama bagi X-Lo untuk bertemu dengan L-Na. Helena yang awalnya menolak malah mend***h hebat sambil mengimbangi permainan Axel.


Olah raga malam pun berlangsung sampai dua ronde. Helena pun terkapar dan tidur dengan pulasnya. Sedangkan Axel tersenyum puas.


Axel segera membersihkan tubuhnya dari sisa percintaan mereka. Kemudian mengambil air hangat dan kain lap untuk membersihkan tubuh Helena, terutama si L-Na, dengan lembut.


Kemudian Axel melacak pesan lucknut yang dikirimkan ke ponsel lama Helena. Wajah Axel berubah dingin saat mengetahui lokasi beserta siapa pengirimnya.


"Marissa," seru Axel dengan ekspresi dinginnya.


"Jadi kau selama ini benar-benar sudah mengatur semuanya untuk mengendalikan diriku. Tunggu saja pembalasanku," ucap Axel dengan tatapan penuh kebencian dan kedua tangannya mengepal.


Sedangkan di kamar presidential suite, Marissa sedang mengamuk dan membanting barang-barang yang ada di sana. Sejak pagi, Marissa tanpa henti mencari keberadaan Axel, tapi hasilnya nihil. Marissa sampai mendatangi Alvaro Group dan mansion milik Axel. Marissa terus menghubungi ponsel Axel, namun nomornya selalu dialihkan.


"Br*****k! S****n! Di mana Axel sekarang?" teriak Marissa.


"Axel tidak ada di mansion, begitu juga dengan Helena. Apa mungkin saat ini mereka sedang bersama? Tidak. Itu tidak mungkin!" jerit Marissa seperti orang gila saat membayangkan Axel sedang bermesraan dengan Helena.


"Axel hanya milikku. Mereka tidak boleh bersama."


Marissa menggigit kuku-kuku jarinya sambil menggeleng.


"Pangeran Axel hanya untuk Putri. Aku harus segera menyingkirkan Helena dari hidup Axel. Iya benar, aku harus menyingkirkan Helena secepatnya," ucap Marissa sambil tertawa.


...🌹🌹🌹...


Marissa mulai menggila...🤪


Jangan coba-coba mengganggu Helena, karena Axel sudah siap menghantam dan menghempaskanmu!!! 🤨🤨🤨


(Author mohon maaf jika lama up nya🙏🙏🙏)


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2