
Kondisi Axel semakin hari semakin parah. Dia tidak bisa berdekatan dengan wanita lain, kecuali keluarga dan orang terdekatnya. Setiap mendapatkan tatapan menggoda dari para wanita ular, Axel langsung muntah di tempat. William selalu membawa kantong plastik di dalam tasnya kemanapun mereka pergi.
Zayn mengambil alih kembali pekerjaan Axel. Dia tidak tega melihat kondisi putranya. Apa yang dialami Axel lebih parah dari apa yang dialaminya dulu saat istrinya, Aline sedang mengandung.
"Aku sudah mengetahui siapa ibu dari Putri," ucap Jasmine saat berada di ruang keluarga di mansion Zayn.
"Apa kau yakin?" tanya Axel sambil menahan gejolak yang sering muncul di perutnya.
Jasmine mengangguk.
"Wanita itu menyimpan dendam pada keluarga kita karena gagal mendapatkan Papa. Wanita itu menyimpan obsesi yang besar untuk menjadi istri Papa dan menantu di keluarga Alvaro," ucap Jasmine.
Aline membulatkan matanya, sedangkan Zayn hanya mengerutkan dahinya.
"Apa Papa masih ingat dengan nama Bella Wira Admaja? Anak dari Wira Admaja," tanya Jasmine.
Zayn mengangguk. Aline langsung melihat ke arah suaminya dengan tatapan menuntut penjelasan.
Zayn menarik napas panjang.
"Bella adalah salah satu orang yang bertanggung jawab atas kesalahan yang aku lakukan padamu malam itu istriku, kejadian di hotel XXX. Bella dan Frans yang menjebakku dengan minuman yang telah diberi obat perangsang. Mereka berharap malam itu akan melakukan ONS dengan Bella. Bella ingin menjadi bagian dari keluarga Alvaro, sedangkan Frans ingin menghancurkan nama baikku di dunia bisnis," terang Zayn.
"Arya dan Rino merubah rencana mereka. Frans dan Bella diberikan obat perangsang, kemudian keduanya dimasukkan ke dalam satu kamar," tanbah Zayn.
Aline memeluk lengan suaminya.
"Wanita yang bernama Bella itu ingin membalas dendam kepada keluarga kita dengan menggunakan anaknya si Putri untuk mendekati Kak Axel," ucap Jasmine.
Axel hanya menganggukkan kepalanya.
"Itu artinya Putri adalah anak Frans. Papa baru menyadari jika wajah Putri memiliki kemiripan dengan wajah Frans," ucap Zayn.
"Apakah Bella bekerja sama dengan Frans untuk membalas dendam pada kita, suamiku?" tanya Aline.
"Aku tidak tahu sayang. Aku akan meminta Rino dan Arya datang kemari. Aku memerintahkan mereka untuk mengawasi Frans," jawab Zayn.
Aline mengangguk. Kemudian Aline melihat ke arah putranya.
"Dan untukmu Axel. Mama mohon, jangan kau siksa lagi wanita itu, cukup kau tahan saja. Mama yakin dia tidak sepenuhnya bersalah," pinta Aline.
Axel terdiam.
"Ingatlah Nak. Istrimu sedang mengandung anakmu sekarang. Perbanyaklah berbuat baik dan jangan berbuat jahat lagi," nasihat Aline.
Axel menghela napas panjang.
"Baiklah. Aku tidak akan menyuruh anak buahku untuk menyiksanya lagi. Tapi Axel akan tetap mengurungnya sampai kita menemukan ibunya," ucap Axel.
"Papa juga sudah menghubungi Narendra lagi untuk mencari tahu keberadaan Helena. Narendra masih belum berhasil menemukannya. Dan itu membuat Narendra dan Charlotte sangat sedih," tutur Zayn.
"Ini sudah hampir satu bulan Pa. Tapi Axel belum berhasil menemukan mereka," lirih Axel dengan raut wajah sedih.
"Bersabarlah sayang. Kita akan terus berusaha untuk menemukan Helena," ucap Aline berusaha menenangkan putranya.
"Mama benar Kak. Jujur saja aku geram sekali, siapa yang sudah menyembunyikan Kak Helena. Bahkan Daddy Narendra tidak dapat menemukannya," ucap Jasmine.
"Axel dan Jasmine berencana akan pergi ke Jerman. Siapa tahu Helena berada di sana. Besok kami akan berangkat Pa, Ma," ucap Axel.
"Baiklah. Bawalah William dan Irene bersama kalian. Untuk masalah perusahaan serahkan pada Papa dan Pipi Vero. Kau harus selalu menjaga kesehatanmu selama berada di sana," tutur Axel.
"Baik Pa," ucap Axel dan Jasmine.
Keesokan harinya, Axel dan Jasmine terbang ke Jerman. Setibanya di bandara yang terletak di kota Berlin, Aiden sudah menyambut kedatangan mereka.
"Bagaimana Aiden? Apa ada kabar tentang Helena?" tanya Axel saat keduanya berada di mansion Alvaro.
Aiden menggeleng.
"Belum. Aku masih belum menemukan jejak Helena," jawab Aiden.
"Bagaimana dengan Kak Emily? Apa kakak sudah bertanya padanya?" tanya Jasmine.
"Belum," jawab Aiden.
"Selamat malam semuanya," sapa Emily yang baru tiba di mansion Alvaro.
"Kak Emily?" seru Jasmine.
"Maaf, aku baru kembali dari Italia. Aku langsung kembali ke sini saat mengetahui jika Helena menghilang," ucap Emily.
"Apa itu artinya kau tidak tahu di mana Helena saat ini?" tanya Aiden.
Emily menggeleng.
"Aku tidak tahu. Hampir satu bulan ini kami tidak berkomunikasi karena aku sibuk dengan pekerjaanku sebagai dokter relawan selama berada di Italia," jawab Emily.
__ADS_1
"Sebenarnya ada masalah apa? Sampai membuat Helena pergi?" tanya Emily.
"Kesalahpahaman. Ada yang sengaja membuat kebohongan besar jika Kak Axel berselingkuh dengan wanita lain dengan memberikan bukti berupa foto dan video," jawab Jasmine.
Emily menghela napas panjang.
"Mungkin Helena masih trauma dengan pengalamannya dulu saat mengetahui suami pertamanya, Marco, berselingkuh. Dan Helena memergoki keduanya dengan mata kepalanya sendiri," ucap Emily.
Axel duduk bersandar sambil memejamkan matanya.
"Apa dia sedang sakit?" tanya Emily saat melihat Axel berwajah pucat.
Jasmine mengangguk.
"Gejala couvade syndrome. Kemungkinan besar Kak Helena saat ini sedang mengandung. Dan kakakku merasakan penderitaan yang biasanya dialami oleh ibu hamil," jawab Jasmine sambil tersenyum tipis.
Emily membulatkan matanya.
"Kalau begitu kita harus segera menemukan Helena secepatnya," ujar Emily.
"Tentu saja Kak. Kami sedang berusaha mencari Kak Helena. Dan kami tidak akan pernah menyerah," ucap Jasmine.
...***** ...
Hans sudah siap dengan semua perlengkapan kuliahnya. Dia meletakkan tasnya di atas sofa yang ada di ruang keluarga.
"Granny, Kak Helena mana? Hans mau berpamitan. Hans mau kembali ke California selama tiga hari karena ada jadwal kuliah. Setelah itu Hans akan kembali lagi ke sini," teriak Hans.
Granny Martha keluar dari dapur.
"Sepertinya Helena sedang membaca novel di taman belakang, Hans. Coba kau ke sana," ucap Granny Martha.
Hans segera melangkahkan kakinya menuju taman yang berada di masion bagian belakang. Hans melihat sosok Helena yang duduk di bawah pohon. Hans segera mendekatinya.
Hans terkekeh melihat Helena tertidur dengan posisi bersandar pada pohon.
"Ya ampun Kakak. Sudah kesekian kalinya kau tertidur di sini," ujar Hans sambil tersenyum.
Hans mengambil novel yang ada di pangkuan Helena.
"Apa kalian membuat Mommy kelelahan lagi hari ini?" tanya Hans sambil mengelus perut Helena yang sudah mulai membuncit sedikit.
Hans mengangkat tubuh Helena dan membawanya masuk ke dalam mansion. Hans menidurkan tubuh Helena di atas ranjang secara perlahan.
"Uncle berangkat kuliah dulu ya. Kalian jangan nakal dan jaga Mommy ya," ucap Hans sambil mengelus perut Helena lagi.
"Granny, Hans berangkat dulu ya," pamit.
"Baiklah. Kau hati-hati ya. Granny akan selalu menjaga kakak dan para calon keponakanmu," ucap Granny.
Hans mengangguk. Dia salim dan segera pergi ke bandara untuk terbang meninggalkan Alaska menuju California.
Helena merasa sedikit kesepian setiap Hans pergi ke California. Granny Martha selalu berusaha menghiburnya dengan mengajaknya jalan-jalan di sekitar mansion dan menikmati pemandangan di sana.
Helena senang sekali saat Granny Martha mengajaknya ke kebun stroberi. Helena antusias sekali memanen stroberi yang ada di sana. Setelah cukup banyak stroberi yang dia panen, Helena beristirahat dan duduk di gazebo.
"Apa kalian senang hari ini, sayang? Kalian anak-anak Mommy yang hebat. Kalian menemani Mommy memanen buah stroberi hari ini," ucap Helena sambil mengelus perutnya.
Helena menghela napas panjang.
"Bagaimana kabarmu, Xel? Apa kau merindukanku?" Helena bermonolog.
"Aku dan calon anak-anak kita baik-baik saja di sini. Kami merindukanmu. Tapi maaf, aku belum siap untuk bertemu dengamu, Xel," lirih Helena.
"Jangan bersedih seperti itu, sayang. Kasihan nanti anak-anak juga ikut sedih. Granny yakin suamimu pasti juga merindukanmu. Dan dia pasti akan datang untukmu," ucap Granny Martha.
Helena tersenyum. Helena memeluk Granny Martha dengan manjanya.
Jasmine sedang duduk di balkon kamarnya sambil menikmati indahnya mentari pagi. Tiba-tiba ponselnya berdering. Evan menghubunginya melalui panggilan video.
"Assalamualaikum, Evan," salam Jasmine.
"Waalaikumsalam. Bagaimana kabarmu, my sunshine?" ucap Evan.
"Aku baik," jawab Jasmine singkat.
"Kau terlihat kurang bersemangat. Apa kalian belum menemukan Kakak iparmu itu?" tanya Evan.
Jasmine mengangguk.
"Kau di mana sekarang? Sepertinya kau sedang berada di bandara?" tanya Jasmine.
"Kau benar. Aku sedang berada di bandara Alaska. Temanku, Jeremy, mengajakku berlibur di rumah keluarganya yang ada di Alaska. Dia mengajakku untuk menikmati pemandangan yang ada di Alaska," jawab Evan.
Jasmine memberikan seulas senyum. Evan menunjukkan suasana yang ada di bandara tersebut. Sampai kamera ponsel Evan menangkap sosok pria yang sangat Jasmine kenali. Pria itu memakai jaket hoodie berwarna merah dengan tas ransel di belakang, juga earphone yang terpasang di telinganya.
__ADS_1
"Hans?" seru Jasmine.
"Apa?" tanya Evan tak mengerti.
"Sedang apa Hans berada di Alaska. Bukankah di kuliah di California," gumam Jasmine.
"Apa yang kau bicarakan? Siapa itu Hans?" tanya Evan kesal.
Jasmine membulatkan matanya.
"Evan. Segera cari pria yang memakai jaket hoodie warna merah dan memakai eraphone. Kau harus segera menemukannya," seru Jasmine.
Evan menyerngitkan dahinya.
"Siapa Hans itu? Bisa-bisanya kau memintaku untuk mencarikanmu pria lain," ucap Evan cemburu.
"Buang rasa cemburumu yang tak guna itu, Evan! Cepat cari pria itu. Ini berhubungan dengan hidup mati kakakku," ucap Jasmine geram.
Evan membelalakkan matanya. Dia langsung berlari mencari Hans. Evan memutuskan panggilan videonya. Dia melihat Hans keluar dari bandara dan masuk ke dalam mobil sport berwarna hitam yang berada di parkiran bandara.
Evan mengambil gambar mobil itu, lebih tepatnya plat nomornya. Evan naik ke dalam sebuah taksi dan berusaha mengejar mobil Hans. Namun dia gagal karena Hans melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
Evan kembali menghubungi Jasmine.
"Halo bagaimana Evan? Apa kau berhasil menemukannya?" tanya Jasmine.
"Maaf, aku gagal mengejar mobilnya. Aku tidak tahu dia pergi ke mana. Tapi aku sempat mengambil gambar plat nomor mobilnya," jawab Evan.
"Tidak apa-apa Evan. Terima kasih sudah berusaha membantu. Bisa kau kirimkan gambar plat nomor itu?" ucap Jasmine.
"Baiklah, akan segera ku kirimkan padamu," ucap Evan.
Keduanya memutuskan panggilan mereka. Jasmine segera melacak plat nomor mobil Hans, setelah mendapatkannya dari Evan. Meskipun Jasmine sedikit kesulitan akhirnya dia mendapatkan jejak dari salah satu CCTV yang di jalan.
"Dapat!" seru Jasmine.
"Apa yang kau lakukan di sana? Dan apa yang kau sembunyikan di sana, Hans?" gumam Jasmine sambil tersenyum miring.
Jasmine melangkah masuk ke dalam kamar kakaknya. Jasmine membuka tirai, sehingga cahaya matahari masuk ke dalam.
"Bangun, Kak!" teriak Jasmine.
Axel menutup matanya yang silau terkena cahaya matahari.
"Mengapa kau berteriak, Jasmine?" tanya Axel kesal.
"Segera bangun. Atau kau akan kehilangan Kak Helena selamanya. Aku sudah menemukannya," bentak Jasmine.
Axel langsung bangkit dari tidurnya.
"Apa kau serius?" tanya Axel antusias.
"Ya. Segera bersiap. Kita harus secepatnya berangkat sebelum Kak Helena menghilang lagi," jawab Jasmine.
Axel tersenyum bahagia. Dia langsung berlari menuju kamar mandi dan bersiap-siap. Dia bahkan memakan hidangan sarapannya dengan lahap. Axel sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Helena.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Axel saat keduanya berada di dalam private jet.
"Amerika. Lebih tepatnya kita akan ke Alaska. Kak Helena berada di sana," jawab Jasmine.
Axel membulatkan matanya, lalu menyunggingkan senyum bahagia.
"Adikku memang sangat genius," puji Axel.
Jasmine hanya memberikan senyumannya.
"Tunggu aku sayang. Aku akan membawamu pulang bersama calon anak kita," ucap Axel dalam hati.
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰