Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 52. Aku Akan Bertanggung Jawab


__ADS_3

Patrick dan Marissa menemui Putri di markas Alvaro dengan pendampingan ketat dari Rino. Putri menangis di dalam ruangannya. Perkataan Bella sebelumnya sangatlah menyakitkan. Sejak kecil dia selalu mendambakan kasih sayang dari seorang ibu yang tak pernah mengharapkan kehadirannya.


Putri tersentak saat pintu ruangannya dibuka. Dia segera menyeka air matanya. Masuklah Patrick, Marissa dan Rino ke dalam ruangan itu.


"Putri," panggil Marissa.


Putri masih diam dan menyerngitkan dahinya bingung. Marissa mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan sebuah gelang tali berwarna hitam. Putri membulatkan matanya.


"Marissa. Kau adalah Marissa?" tanya Putri tak percaya.


"Ya Put, aku Marissa," jawab Marissa sambil tersenyum.


Patrick menahan lengan Marissa saat hendak duduk di samping Putri.


"Tidak apa-apa, Pat. Dia tidak akan menyakitiku. Ada kamu dan Tuan Rino di sini," ucap Marissa.


Patrick pun mengalah. Marissa langsung duduk di samping Putri dan memeluknya, membuat Patrick dan Rino terkejut.


"Bagaimana kabarmu, Marissa? Aku senang sekali bisa bertemu denganmu," tanya Putri.


"Aku baik Putri. Semua berkat dirimu. Terima kasih kau telah menyelamatkanku malam itu. Jika tidak, mungkin saat ini aku tidak ada lagi di dunia ini. Terima kasih banyak Putri," ucap Marissa sambil menitikkan air mata.


Putri tersenyum.


"Kau tidak perlu berterima kasih. Sudah seharusnya aku melakukannya," jawab Putri.


Putri menyentuh wajah Marissa sebelah kiri dan melihat bekas luka bakar yang ada di sana.


"Aku minta maaf karena aku tidak berhasil membawakan obat untukmu pada malam itu," ucap Putri sambil menitikkan air mata.


Marissa tersenyum.


"Tidak apa-apa, Put. Kau sudah berusaha. Aku minta maaf gara-gara aku, kamu sampai dipukuli oleh ibumu," jawab Marissa.


Marissa tersenyum getir. Dia ingat bagaimana ibunya, Bella, marah besar karena dirinya telah membantu Marissa melarikan diri. Suasana tiba-tiba hening.


"Tunggu. Bagaimana kalian bisa akrab? Bukankah dia itu wanita jahat seperti ibunya?" tanya Patrick memecah keheningan.


"Saat Nyonya Bella menahanku, Putri selalu mencuri-curi kesempatan untuk menemuiku. Dia menjadi temanku di tempat tawanan. Putri juga yang selalu memberiku makan dan mengambilkan obatku. Yang jahat itu Nyonya Bella, bukan Putri," terang Marissa.


"Tapi tetap saja dia jahat karena sudah berusaha menjerat Tuan Axel dengan cara yang licik," seru Rino.


Putri menunduk malu.


"Saya sadar Tuan, jika saya salah. Saya berusaha menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hati Axel dan memilikinya seutuhnya. Dan saya sangat menyesal. Saya siap untuk mempertanggung jawabkan perbuatan jahat saya," ucap Putri.


Marissa menggenggam tangan Putri. Marissa tidak bisa membela Putri lagi jika sudah menyangkut masalah Tuan Muda Alvaro. Marissa tahu jika sejak kecil Bella selalu menanamkan pada diri Putri, jika Tuan Muda Alvaro adalah calon suaminya.


"Jawab dengan jujur. Apa kau terlibat dengan rencana pembunuhan Uncle Mario dan istrinya?" tanya Patrick menuntut.


Putri menghela napas.


"Aku bahkan awalnya tidak tahu jika kematian mereka karena kesengajaan. Aku mengetahuinya saat kau marah padaku dan mengatai aku dan ibuku sebagai pembunuh."


"Aku punya hutang permintaan maaf padamu, Patrick. Karena dua kali kau hampir kehilangan nyawa gara-gara aku dan rencana jahat Mamaku," ucap Putri.


Patrick terdiam. Dia masih belum bisa mempercayai Putri sepenuhnya. Rino hanya memberi waktu mengunjungi Putru selama 30 menit.


"Pat, aku mohon jangan masukkan Putri ke dalam penjara," mohon Marissa.


"Meskipun aku tidak mengajukan tuntutan padanya, keluarga Alvaro pasti tetap melakukannya. Sudahlah, biarlah hukum pengadilan yang memutuskan dia bersalah atau tidak," jawab Patrick.

__ADS_1


Hati Marissa sedih karena tidak bisa menolong Putri. Mereka kembali ke mansion Alvaro.


Tiga hari kemudian, ada dua perwakilan dari kepolisian California datang untuk membawa Bella dan Putri kembali ke Amerika untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Anak buah Alvaro tetap mengawal mereka. Frans juga akan mendampingi anaknya.


Saat keluar dari markas Alvaro, Bella berusaha melarikan diri. Bella menggigit tangan dari salah satu anak buah Alvaro dan melepaskan diri. Bella berlari menjauh.


Para anggota keluarga Alvaro, terutama Zayn dan Axel sangat terkejut.


Dorr! (terdengar suara tembakan)


Salah satu polisi mengambil pistolnya dan menembak kaki kanan Bella.


"Aarrgghh!!!" jerit Bella.


"Mama!" teriak Putri.


Putri ingin berlari pada ibunya, namun anak buah Alvaro menahannya.


Bella yang merintih kesakitan langsung dibawa ke rumah sakit dengan pengawalan ketat. Putri merasakan kepalanya pusing, dan tak lama kemudian dia jatuh pingsan.


"Putri," teriak Frans mendekati putrinya.


"Jangan tertipu, itu pasti hanya rencana liciknya," ucap Axel.


"Sebentar suamiku, biarkan aku memeriksanya terlebih dahulu," ucap Helena.


"Tidak sayang, dia itu berbahaya. Aku tidak ingin wanita itu melukaimu dan triplet yang ada dalam kandunganmu," larang Axel.


"Aku mohon. Bagaimana pun juga dia seorang manusia. Sebagai dokter aku wajib menolongnya, baik itu orang baik atau tidak," mohon Helena.


Axel tidak melarang Helena lagi. Helena segera memeriksa denyut nadi Putri. Matanya terbelalak. Kemudian Helena memeriksa denyut nadinya sendiri.


"Dia benar-benar pingsan. Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit," ucap Helena.


"Ada apa, El? Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Axel.


Helena memandang wajah suaminya dengan lekat.


"Jawab dengan jujur, Xel. Apa kau pernah menyentuh Putri?" tanya Helena.


"Apa?" pekik Axel.


"Apa kau masih tidak mempercayaiku, El? Harus berapa kali aku katakan padamu jika kaulah satu-satunya wanita yang pernah kusentuh, satu-satunya wanita yang aku tiduri. Tidak ada wanita lain, terutama wanita jahat itu," jawab Axel kesal.


Wajah Helena berubah sendu.


"Putri hamil. Maksudku dugaan dia hamil," ucap Helena.


Axel menatap istrinya yang sedang bersedih itu. Axel menggenggam tangan Helena.


"Percayalah padaku, El. Jika memang benar wanita itu hamil, aku pastikan bahwa aku bukanlah ayah dari bayi itu," ucap Axel lembut.


Axel menarik Helena ke dalam pelukannya.


Saat tiba di rumah sakit, Bella dan Putri segera mendapatkan penanganan. Dokter dan perawat sedang berusaha mengeluarkan peluru dan menutup lukanya.


Putri sudah dipindahlan ke sebuah ruangan rawat inap. Perlahan dia membuka matanya dan merasakan kepalanya yang masih pening.


"Nak, kau sudah siuman? Terima kasih Tuhan," ucap Frans sedikit berteriak.


Axel dan Helena segera masuk ke dalam ruangan bersama dokter.

__ADS_1


"Bagaimana perasaan Anda, Nona?" tanya sang dokter wanita berhijab.


"Kepalaku sangat sakit dan badanku lemas dokter," jawab Putri.


"Anda terlalu stress. Mohon untuk selalu menjaga kesehatan, pola pikir dan perasaan Anda. Karena saat ini Anda sedang hamil," terang sang dokter.


Putri dan Frans membelalakkan matanya kaget.


"M-maksud dokter ada calon bayi di dalam perut saya?" tanya Putri tak percaya.


"Benar Nona. Jika dilihat dari hasil USG, usia kandungan Anda berusia 10 minggu," jawab sang dokter.


Putri mengelus perut datarnya.


"Katakan pada Helena, Putri. Katakan jika aku bukanlah ayah dari bayi itu!" bentak Axel.


Putri menatap Axel lekat, kemudian beralih memandang Helena.


"Apa yang dikatakan Axel benar, Helena. Axel bukanlah ayah dari calon bayiku. Axel tidak pernah menyentuhku," jawab Putri.


Helena bernafas lega.


"Lalu siapa ayah dari bayimu, Nak?" tanya Frans.


Putri menggeleng.


"Aku tidak tahu," jawab Putri.


"Apa yang akan kau lakukan? Papa berharap kau tidak akan pernah menggugurkan kandunganmu," tanya Frans.


"Aku tidak tahu Pa. Aku takut jika aku akan menjadi ibu yang kejam seperti Mama karena memiliki anak tanpa tahu siapa ayahnya," ucap Putri.


"Kau hanya akan menambah dosamu jika kau melakukan hal kejam seperi itu," ucap Helena.


Putri tersenyum getir.


"Tapi aku takut akan membuatnya menderita seperti yang pernah aku alami dulu, karena tidak tahu siapa ayahnya," ujar Putri.


"Mungkin aku akan menggugurkannya," lanjutnya.


Brak!!!


"Tidak! Jangan kau gugurkan bayi itu! Aku akan bertanggung jawab," terdengar seruan dari seorang pria.


Axel, Helena, Putri dan Frans melihat ke arah pintu.


"Marco?!" teriak Axel dan Helena bersamaan.


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2