Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 50. Ngidam Uncle Rey .......


__ADS_3

Di sebuah taman yang terletak di mansion Alvaro, terlihat sepasang manusia yang saling mengobati rasa rindu yang terbenam di hati mereka.


"Selama ini kau tinggal di mana, Issa?" tanya Patrick.


Issa adalah panggilan sayang Patrick pada Marissa. Keduanya sedang duduk di bawah gazebo.


"Aku tinggal di Illinois. Ada sepasang kakek nenek menemukanku yang tergeletak di pinggir jalan. Mereka adalah penjual buah yang ada di pasar tradisional. Mereka dalam perjalanan pulang ketika melihatku, sehingga membawaku pulang. Sejak saat itu Grandpa Sam dan Granny Mia merawatku seperti cucu mereka sendiri. Mereka tidak dikaruniai anak seperti Daddy Mario dan Mommy Laila," jawab Marissa.


"Saat itu aku sedang membantu Grandpa dan Granny berjualan di toko buah. Tiba-tiba datanglah dua pria kembar yang tampan menghampiriku. Mereka adalah para Tuan Muda Alvaro, Tuan Darren dan Tuan Darrel, sepupu Nona Jasmine. Mereka menceritakan tentang dirimu dan kondisimu. Mereka juga yang membawaku ke negara ini untuk bertemu denganmu," terang Marissa


"Apakah kakek dan nenek itu masih hidup?" tanya Patrick lagi


Marissa mengangguk.


"Puji Tuhan. Tuhan masih memberikan mereka panjang umur dan kesehatan di usia mereka yang senja. Mereka tidak hanya memberikan tempat tinggal dan makan, tapi juga menyekolahkanku sampai mendapatkan gelar sarjana," jawab Marissa.


Marissa terus memperbaiki rambutnya yang diterpa angin pada bagian wajahnya sebelah kiri. Terlihat sekali ada yang ingin disembunyikan oleh Marissa.


"Berhenti. Untuk apa kau menutupi wajahmu dengan rambut, Issa?" seru Patrick.


"Aku tidak ingin kau melihat wajahku yang cacat, Pat. Aku tidak ingin mau merasa jijik padaku," ucap Marissa sambil menunduk malu.


Patrick menarik tangan Marissa dan membuka rambut Marissa perlahan. Terlihatlah ada bekas luka bakar yang berwarna coklat gelap di dekat telinga kiri Marissa. Patrick menyentuh luka itu dan tersenyum.


"Bagiku kau tetaplah wanita tercantik di dunia ini, Issa. Aku jatuh cinta padamu bukan karena wajah cantikmu, tapi kepribadian dan ketulusan hatimu yang selalu kau tunjukkan pada orang-orang yang ada di sekitarmu. Meskipun Issaku kecil itu sedikit bodoh dan ceroboh tapi dia memiliki hati yang tulus," ucap Patrick.


Marissa meneteskan air mata bahagia bercampur haru. Patrick menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk mata itu secara perlahan. Patrick menggenggam kedua tangan Marissa.


"Bersediakah kau menikah denganku, Issa? Menjadi pendamping hidupku, dan menjadi ibu dari anak-anakku. Kita akan memberikan penerus bagi keluarga Dawson," ucap Patrick dengan wajah memohon.


Marissa semakin menangis. Perlahan Marissa menganggukkan kepalanya.


"Ya, aku mau Patrick, aku mau," jawaban Marissa.


Patrick sangat bahagia. Dia menarik tubuh Marissa ke dalam pelukannya.


"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu," ucap Patrick.


"Aku juga mencintaimu, Patrickku," balas Marissa sambil tersenyum bahagia.


"Kita akan segera melangsungkan pernikahan saat kita tiba di Amerika dan menjebloskan orang-orang jahat itu ke dalam penjara," ucap Patrick.


Marissa menyerngitkan dahinya.


"Orang-orang jahat itu?" tanya Marissa bingung.


"Ya sayang. Wanita yang bernama Ella dan anaknya yang telah memalsukan identitasnya dan berpura-pura untuk menjadi dirimu," terang Patrick.


"Wanita yang bernama Bella itu memang jahat. Tapi tidak dengan Putri, anaknya. Putri itu anak yang baik, Pat. Dia yang telah membantuku kabur sebelum orang bayaran Bella membunuhku," ucap Marissa.


"Apa kau yakin?" tanya Patrick tak percaya.


Marissa mengangguk.


"Bawa aku untuk bertemu dengan Putri, Pat. Aku mohon. Aku berhutang nyawa padanya," mohon Marissa.


Patrick terdiam dan merenung, lalu menghela napas panjang.


"Aku tidak bisa asal membawamu bertemu dengannya. Kita harus meminta ijin terlebih dahulu kepada Tuan Zaidan dan Tuan Axel. Nanti aku akan mencoba meminta ijin pada mereka," ucap Patrick.


Marissa mengangguk, lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Patrick.


Pada malam harinya, setelah makan malam Patrick langsung meminta ijin kepada Zayn dan Axel untuk mempertemukan Marissa dengan Putri. Awalnya Axel keberatan karena dia sudah tidak bisa mempercayai Putri. Namun Zayn berusaha memberikan pengertian pada putranya jika Marissa berhak untuk bertemu dengan Putri, apalagi setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh Marissa kepada Patrick.


Axel akhirnya memberikan ijin dengan syarat Rino harus ikut saat mereka menemui Putri dan tanpa ada rahasia.


Axel masuk ke dalam kamarnya. Wajah kesal Axel berubah cerah saat melihat Helena yang duduk bersandar di atas ranjang. Axel langsung naik ke atas ranjang dan duduk di samping Helena. Axel terkejut melihat wajah Helena yang bersedih.


"Apa apa sayang? Mengapa wajahmu seperti itu?" tanya Axel lembut.


"Aku ingin bertemu dengan Reymond," ucap Helena dengan hati-hati.


Seketika wajah Axel berubah menjadi awan hitam kelam bercampur petir.


"Apa tidak ada keinginan yang lain?" tanya Axel kesal.


"Ini keinginan Baby Triplet, Xel. Boleh ya?" ucap Helena memohon.


"Tidak. Aku tidak ijinkan," sahut Axel dingin.


Helena langsung menangis dan membuat Axel kelabakan.


"Daddy kalian sudah tidak sayang pada kita berempat sayang. Sebaiknya kalian ganti Daddy saja, Daddy Reymond," ucap Helena terisak sambil mengelus perut buncitnya.


Axel membelalakkan matanya.


"Tidak El. Hanya aku satu-satunya Daddy dari Baby Triplet, tidak ada yang lain. Aku yang buat adonan, enak aja Reymond yang jadi ayahnya," protes Axel.


Tangis Helena semakin keras.

__ADS_1


"Sudah, El-ku sayang. Jangan menangis lagi," mohon Axel sambil menggenggam tangan istrinya.


"Kau tinggal pilih. Baby Triplet akan memanggil Reymond dengan sebutan Daddy Rey apa Uncle Rey?" bentak Helena.


"Uncle Rey. Baiklah kita berangkat ke apartemen Reymond sekarang," seru Axel.


Seketika tangis Helena berhenti dan tersenyum ceria.


"Ganti bajumu. Pakailah baju yang panjang. Aku tidak mau pria lain melihat tubuh mulusmu. Dan jangan berdandan cantik untuk bertemu dokter genit itu," ucap Axel.


"Siap suamiku. Terima kasih," ucap Helena senang sambil mencium bibir Axel sekilas.


Dengan perlahan, Helena bangun dan melangkahkan kakinya memasuki walk in closet untuk berganti baju.


"Sabar Axel. Itu hanya hormon ibu hamil yang suka berubah-ubah. Jangan sampai nafkah batinmu terancam nantinya," batin Axel sambil mengelus dadanya.


"Awas saja kalau Reymond mencari kesempatan dalam kesempitan! Akan kubuat dia jadi perkedel menggunakan bulldozer," gerutu Axel.


Setelah Helena selesai berganti baju, mereka segera berangkat menuju apartemen Reymond.


Ting...Tong...


Brakk...Brakk... Brakk...


"Siapa sih yang datang malam-malam begini? Ganggu orang tampan istirahat saja. Bisa-bisa muncul garis-garis keriput di wajahku," gerutu Reymond sambil berjalan menuju pintu.


Reymond membuka pintu dan terkejut melihat Helena dan Axel berada di depan apartemennya.


"Helena? Axel?" seru Reymond.


"Assalamualaikum, Reymond. Lama tak jumpa," sapa Helena sambil menyelonong masuk ke dalam apartemen Reymond.


"Waalaikumsalam," jawab Reymond.


Axel hanya tersenyum tipis lalu ikut masuk ke dalam apartemen Reymond.


"Wah apartemenmu bersih dan wangi sekali, Rey. Kau memang patut menyandang gelar dokter," celoteh Helena.


Reymond hanya memaksakan senyumnya.


"Benar-benar bakal muncul garis keriput di wajah tampanku, gara-gara bertemu si kulkas 3 pintu malam-malam begini," guman Reymond pelan.


"Aku mendengarnya Rey," sahut Axel.


Reymond yang sedang menutup pintu langsung tersentak. Lalu tersenyum kikuk pada Axel.


"Silakan duduk. Ada perlu apa kalian datang ke apartemenku malam-malam begini?" tanya Reymond dengan senyum fakenya.


Reymond membelalakkan matanya.


"Helena hamil?" seru Reymond.


"Ya benar. Aku berhasil membuat Helena hamil, bukan hanya satu tapi ada tiga bayi dalam perutnya," jawab Axel.


"Wow... Kau sungguh luar biasa," puji Reymond.


"Oh... tentu saja. Thanks," ucap Axel sambil tersenyum sombong.


Reymond menyebikkan bibirnya.


"Rey, Baby Tripletku ingin bertemu denganmu. Mereka menginginkan sesuatu darimu," ucap Helena dengan wajah memelas.


Melihat ekspresi Helena membuat senyum Reymond menghilang. Perasaannya seketika menjadi tak tenang.


Helena mengambil sesuatu dari dalam paper bag yang dibawanya dari mansion. Axel dan Reymond membulatkan mata mereka saat Helena mengeluarkan sebuah daster berwarna merah menyala dengan bagian bawahnya lebar.


Glek...


"Perasaanku tidak enak," batin Reymond.


"Oh, no. Jangan bilang Helena mau menginap di apartemen ini," batin Axel.


"Baby Triplet ingin melihatmu memakai daster ini dan menarikan tarian seperti di lagu "Bole Chudiyan" yang ada di film "Kabhi Khushi Kabhi Gham"," ucap Helena dengan penuh semangat.


"A-apa??? Jangan gila Helena. Aku tidak mau. Terus lagu Bole Bolen apa itu? Aku tidak tahu," tolak Reymond.


"Itu lagu India, Rey. Ini aku kasih tahu," ucap Helena sambil membuka ponselnya dan membuka aplikasi y-cub.


Axel dan Reymond membelalakkan mata mereka.


"Sejak kapan kau menyukai lagu dan film india, El?" tanya Axel bingung.


"Aku tidak sengaja mendengarnya tadi saat melewati rumah para maid. Lalu aku mencarinya di y-cub," ucap Helena.


"Aku mohon Rey, kamu bersedia ya, please. Demi bayi kembar tigaku," mohon Helena.


"Aku tidak mau. Itu konyol!" tolak Reymond lagi.


Helena langsung menangis, membuat Axel dan Reymond terkejut.

__ADS_1


"Rey, segera lakukan apa yang diinginkan istriku!" perintah Axel sambil memberikan tatapan dingin pada Reymond.


"Kau pikir kau siapa? Beraninya memerintahku. Kau tidak punya hak," jawab Reymond sambil berkacak pinggang.


"Tenanglah sayang. Aku pastikan Reymond akan melakukan apa yang kau inginkan," ucap Axel menenangkan.


Reymond memberikan tatapan tajamnya pada Axel.


Axel mengambil ponselnya dan menghubungi nomor seseorang. Tak lupa juga Axel mengaktifkan pengeras suara pada ponselnya.


"Halo," sapa seorang pria dari seberang telpon.


"Halo. Selamat malam Tuan Bagaskara. Saya Axello Zyan Alvaro. Anda masih ingat dengan saya?" jawab Axel.


Reymond membulatkan matanya tak percaya ternyata Axel menelpon ayahnya.


"Tentu saja saya masih ingat Tuan Muda Alvaro. Apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Tuan Bagaskara.


"Saya berencana ingin mengajukan kerjasama antara Alvaro Group dengan Bagaskara Group. Dan pastinya akan memberikan keuntungan yang sangat besar bagi perusahaan Anda," jawab Axel.


"Bagaimana Tuan Bagaskara? Apa Anda setuju?" tanya Axel.


"Itu sungguh kesempatan yang sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan, Tuan Axel. Tentu saja saya sangat setuju. Lalu persyaratan apa yang Anda inginkan Tuan Axel?" ucap Tuan Bagaskara.


"Ah ya. Syaratnya tidaklah sulit Tuan. Istri saya sedang hamil dan ngidam ingin melihat Reymond menari mengikuti salah satu lagu India. Namun putra Anda menolak. Dan Anda tahu pasti jika persyaratan tidak terpenuhi, kontrak kerjasama kita juga tidak akan pernah terjadi," ucap Axel memojokkan.


"Apa? Beraninya anak itu menolak. Apa saya bisa bicara dengan putra saya, Reymond?" tanya Tuan Bagaskara.


"Tentu saja. Dia sudah mendengarkan suara Anda sejak tadi," jawab Axel.


"Reymond. Beraninya kau menolak permintaan Nyonya Muda Alvaro? Apalagi saat ini beliau sedang mengandung," bentak Tuan Bagaskara.


"Ayolah Pa. Tentu saja Rey menolak. Helena minta Rey memakai daster merah dan menari sesuai lagu India yang judulnya Bolen apa itu tadi. Rey tidak mau. Itu sama saja dengan merendahkan harga diri Rey, Pa. Mau ditaruh mana muka tampan Rey nantinya," keluh Reymond.


"Mukamu tetap berada di kepala tidak mungkin berpindah ke p**t*t. Tidak perlu memikirkan harga diri, lebih penting memikirkan kemajuan perusahaan keluarga kita. Ini peluang besar Rey. Mau tidak mau, kau harus mau. Atau, Papa akan mencoret namamu dari daftar Kartu Keluarga. Titik!" ucap Tuan Bagaskara.


Axel berusaha menahan tawanya. Sedangkan Helena masih setia dengan wajah cemberutnya.


"Aaakhh...!" Reymond menjambak rambutnya pelan.


Reymond mendengus kesal.


"Baiklah kali ini saja. Ini yang pertama dan terakhir kalinya aku berbaik hati supaya ketiga anak kalian tidak ileran dan ingusan nantinya," ucap Reymond sambil mengambil daster merah itu dan membawanya ke kamar untuk berganti baju.


"Terima kasih Tuan Bagaskara. Senang bekerjasama dengan Anda," ucap Axel, kemudian mematikan panggilan telponnya.


Wajah Helena kembali ceria.


Reymond benar-benar melakukan apa yang diminta oleh Helena. Axel tak bisa menahan tawanya saat melihat badan kekar Reymond dibalut daster berwarna merah dan menirukan goyangan Kareena Kapoor seperti yang ada di video lagu "Bole Chudiyan".


Reymond pun pasrah saat Helena memintanya untuk menari lagi sampai tiga kali.


"Sudah selesai kan. Sebaiknya sekarang kalian pulang. Aku mau istirahat," ucap Reymond kesal sambil melempar daster merah ke atas meja.


"Baiklah kami pulang dulu. Terima kasih Uncle Rey. Semoga mimpi indah," ucap Helena dengan raut wajah bahagia.


"Terima kasih ya dokter Rey. Goyanganmu sungguh luar biasa," ucap Axel sambil tertawa mengejek.


"Kau yang enak-enak buatnya, mengapa aku yang apes kena imbas ngidamnya. Jangan-jangan saat proses buat adonan anak kau terus mengumpatiku dalam hati. Sehingga anak-anakmu seperti menyimpan dendam kesumat padaku," ucap Reymond kesal.


"Maat ya, aku terlalu menikmati setiap momentnya sehingga tidak ada waktu memikirkanmu," jawab Axel.


Axel dan Helena segera pergi dari apartemen Reymond dan kembali ke mansion.


Bersambung....


...🌹🌹🌹...


Ini adalah visual dokter Reymond.



Nah! Kalian bisa bayangkan sendiri dokter setampan ini memakai daster warna merah dan menari goyangan India.🤭🤭🤭


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2