Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 8 (Lawan Yang Tak Sebanding)


__ADS_3

Keheningan terjadi di ruang makan kediaman keluarga Sahir. Semua kembali duduk di tempatnya. Jasmine duduk di antara Evan dan Nyonya Diah. Tuan Kareem, Nyonya Dilara dan Meira menatap Jasmine dengan tajam. Sedangkan Jasmine tetap santai seperti di pantai. Jasmine dan Evan saling melempar senyum tanpa henti.


"Jadi kau, wanita yang mencoba mendekati cucuku?" tanya Tuan Kareem memecah keheningan.


Jasmine tersenyum.


"Jadi menurut Grandpa akulah yang mengejar Evan," ucap Jasmine.


"Jangan panggil aku Grandpa. Aku bukan kakekmu," sahut Tuan Kareem.


Meira tersenyum sinis.


"Tuan Kareem. Kata mencoba mendekati tidaklah tepat. Karena selama delapan tahun ini, cucu Tuanlah yang selalu setia menungguku," ucap Jasmine.


"Percaya diri sekali. Hanya bermodal tampang saja, kau pikir bisa membodohi cucuku," ucap Tuan Kareem merendahkan.


"Sebutkan!"


"Maksud Tuan Kareem?" tanya Jasmine.


"Aku sudah sangat mengenal wanita sepertimu. Jadi sebutkan berapa nominal uang yang kau inginkan supaya kau bisa melepaskan Evan?" ucap Tuan Kareem.


"Grandpa?" seru Evan tak terima.


Tuan Farhan menghela napas.


"Papa mencari lawan yang salah," batin Tuan Farhan.


"Jasmine. Calon menantu kesayangan Daddy, apa kau kekurangan uang, Nak?" tanya Tuan Farhan lembut.


"Menurut Daddy bagaimana?" Jasmine balik bertanya sambil tersenyum manis.


"Tentu saja tidak," jawab Tuan Farhan.


"Dasar wanita tak tahu diri. Kau bukan hanya membodohi cucuku, tapi juga anakku. Kau sudah memeloroti anak dan cucuku. Diah mengapa kau diam saja?" teriak Tuan Kareem.


"Jasmine tidak seperti yang Papa pikirkan. Dia anak yang baik. Diah mohon jangan perlakukan Jasmine seperti itu, Pa," ucap Nyonya Diah pelan agar mertuanya tidak tersinggung.


"Nyonya Diah benar. Grandpa jangan bersikap seperti itu. Bagaimanapun juga wanita ini adalah kekasih Evan. Ya meskipun dia wanita yang cukup kasar," ucap Meira dengan manja.


"Dasar pemain amatiran. Kau mau adu main drama," batin Jasmine sambil menarik salah satu sudut bibirnya.


"Apa kau pernah bertemu wanita ini sebelumnya, Meira?" tanya Tuan Kareem heran.


"Ya Grandpa. Beberapa hari yang lalu kami tidak sengaja bertemu. Temannya tidak sengaja menabrakku, tapi dia malah membentakku dan menjambak rambutku," jawab Meira dengan raut wajah sedih.


Tuan Kareem dan Nyonya Dilara melebarkan mata mereka, begitu juga dengan Tuan Farhan, Nyonya Diah dan Evan.


"Beraninya kau menyakiti calon cucu menantuku! Lihatlah Farhan seperti apa sifat dan kelakuan buruk dari wanita pilihan Evan yang sangat kau banggakan ini," bentak Tuan Kareem sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Jasmine.


"Apa itu benar, Jasmine?" tanya Evan lembut.


"Ya benar. Aku memang membentak dan menjambak rambutnya sesuai ucapannya tadi," jawab Jasmine dengan santai.


Evan menyerngitkan dahinya.


"Karena dialah yang telah mendorong Kak Irene sampai jatuh tersungkur ke lantai dan pingsan," tambah Jasmine.


"I-itu tidak benar. Aku hanya menyentuhnya dengan pelan, tapi temannya saja yang terlalu lemah," elak Meira.


"Baiklah kita buktikan saja dengan hasil rekaman CCTV di restoran itu. Kebetulan aku kenal dengan manager restoran itu," ucap Evan.


Wajah Meira langsung memucat.


"Apa kau tahu Nona Meira Demir? Wanita yang kau dorong itu sedang hamil dan saat ini harus mendapatkan perawatan intens di rumah sakit. Beruntung Kak Irene tidak sampai mengalami keguguran karena ulahmu itu. Jika sampai Kak Irene kehilangan janin dalam kandungannya, kau pasti sudah dijebloskan ke dalam penjara," ucap Evan dengan raut wajah dinginnya.


Meira meneguk salivanya kasar. Tubuhnya langsung gemetar, membayangkan dirinya mendekam di penjara.


"Wah, aku tidak menyangka jika Nona Muda Demir bisa melakukan hal seperti itu," ujar Tuan Farhan mengejek.


"Apa Daddy mau lihat? Jasmine punya hasil rekamannya, karena Kak William berniat akan memberikan pelajaran kepada orang yang telah menyakiti istri dan calon bayi mereka," ucap Jasmine sambil mengeluarkan ponsel pintarnya.


Meira semakin ketakutan.


"Maaf Nona. Anda tidak perlu melakukan itu. Saya sebagai ibunya memohon maaf atas kesalahan yang telah dia perbuat. Sebenarnya putriku anak yang baik, mungkin saat itu dia sedang kondisi terburu-buru atau ada masalah perusahaan yang dipikirkannya. Benar kan Meira?" ucap Nyonya Dilara sambil meneteskan air mata.


"B-benar Mommy. Saat itu aku sedang kalut dengan masalah perusahaan. Aku benar-benar tidak berniat berbuat jahat kepada siapapun. Aku sangat menyesal," ucap Meira dengan wajah sedih dan memelas.


Jasmine hanya memutar bola matanya malas.


"Dilara, Meira. Kalian berdua tenanglah. Tidak akan ada yang bisa menjebloskan Meira ke dalam penjara. Aku yang akan menjadi pelindung Meira," ucap Tuan Kareem dengan penuh simpatik.

__ADS_1


Tuan Farhan mendehem. Tuan Kareem langsung memberinya tatapan tajam.


"Siapa namamu tadi? Jasmine ya."


"Apa kelebihan yang kau miliki sehingga cucuku sampai harus menghabiskan waktu berharganya selama delapan tahun hanya untuk menunggumu?" tanya Tuan Kareem.


"Sebentar Pa. Sejak tadi Papa terus mencerca Jasmine. Kami juga penasaran apa sih kelebihan yang dimiliki oleh Nona Muda Demir ini," sahut Tuan Farhan.


"Jadi kau ingin tahu. Baiklah biar Papa ungkap kelebihan dari Meira, selain dari kecantikan yang dimilikinya," jawab Tuan Kareem.


"Meira ini adalah seorang sarjana lulusan dari universitas terbaik di Turki dengan nilai yang memuaskan. Setelah menyandang gelar sarjananya, Meira langsung memegang posisi direktur di PT. Demir Cooperation. Dengan kecerdasan dan keahlian yang dimilikinya, Meira selalu berhasil mendapatkan kesepakatan kerja sama dengan beberapa perusahaan besar. Meira adalah wanita yang baik dan sopan," ucap Tuan Kareem dengan bangganya.


Meira tersenyum dengan angkuhnya di depan Jasmine.


"Hanya itu?" seru Tuan Farhan.


Senyum Meira langsung hilang.


"Apa maksudmu dengan berkata hanya itu? Dengan kelebihan yang dimilikinya, Meira menjadi kandidat kuat sebagai calon istri Evander Sahir," ucap Tuan Kareem tak terima.


Tuan Farhan terkekeh.


"Baiklah, sekarang giliranku Papa."


"Pertama kali aku bertemu dan mengenal Jasmine adalah saat dia memenangkan lomba sain dan mengalahkan putraku Evan, sang juara bertahan. Saat itu dia masih berusia 13 tahun, sedangkan Evan 18 tahun. Mereka belajar di sekolah internasional terbaik yang ada di kota ini. Di usia 13 tahun Jasmine sudah duduk di kelas 3 SMP. Karena sejak SD, Jasmine sudah menempuh jalur pendidikan akselerasi. Itu semua karena kecerdasan yang dimilikinya. Aku ralat bukan kecerdasan tapi kejeniusannya."


Tuan Kareem melebarkan matanya.


"Evan lulus SMA dengan predikat lulusan terbaik, begitu juga dengan Jasmine menjadi lulusan SMP terbaik. Dua tahun kemudian, Jasmine lulus dari SMA dengan prediket lulusan terbaik SMA dengan nilai sempurna. Jasmine menempuh pendidikan S1 Manajemen Bisnis di universitas terbaik yang ada di Jerman, dan lagi-lagi sebagai lulusan terbaik dengan predikat cum laude."


"Dan belum lama ini, Jasmine menyelesaikan pendidikan S2 nya di Oxford University. Dan untuk kesekian kalianya, dia menjadi lulusan terbaik dan tentu saja dengan predikat cum laude."


Tuan Farhan sengaja menekankan kata cum laude dengan raut wajah bangganya.


"Selanjutnya, Jasmine menguasai ilmu beladiri Taekwondo sabuk hitam."


Meira membelalakkan matanya.


"Selain itu Jasmine juga hebat dalam berkuda, panahan, dan ahli dalam bidang IT. Dan apalagi ya kelebihannya, aku sampai bingung mau menyebutkannya karena dia terlalu banyak kelebihannya. Dan dari sekian banyak kelebihannya itu, Jasmine adalah anak yang sangat taat beragama dan sangat menghormati orang yang lebih tua. Itu adalah poin terpentingnya," ujar Tuan Farhan sambil tersenyum.


Tuan Kareem, Nyonya Dilara dan Meira ternganga dengan mulut terbuka. Jasmine dan Evan berusaha menahan tawa mereka.


"Apa ada lagi yang ingin Papa tanyakan atau ketahui?" tanya Tuan Farhan.


"Sangat berpotensi. Tapi aku tidak boleh percaya begitu saja pada ucapan Farhan," batin Tuan Kareem sambil menyipitkan kedua matanya.


"Meira juga menguasai beberapa bahasa asing selain bahasa Inggris. Benarkan Meira?" ucap Tuan Kareem.


"Benar Grandpa. Aku menguasai bahasa Turki, Jerman dan Belanda," jawab Meira dengan sombongnya.


"Bahasa asing apa saja yang kau kuasai?" tanya Tuan Kareem kepada Jasmine.


"Tidak banyak Tuan," jawab Jasmine sambil tersenyum.


Tuan Kareem dan Meira tersenyum dan memberikan tatapan meremehkan.


"Hanya bahasa Jerman, Perancis, Rusia, Belanda, Spanyol, Italia, Turki, Jepang, China, Arab, Tagalog, Thailand, Hindi dan saat ini aku sedang mempelajari bahasa Korea," ucap Jasmine.


Glek... (Tuan Kareem meneguk salivanya kasar)


"Meira bukanlah orang berasal dari keluarga sembarangan. Keluarga Demir adalah salah satu keluarga kaya dan terpandang di Turki. PT. Demir Cooperation adalah perusahaan besar yang setara PT. Sahir Cooperation yang memiliki beberapa perusahaan cabang di beberapa negara," ucap Tuan Kareem yang masih belum mau kalah.


Tuan Kareem menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Tuan Farhan memijat pelipisnya.


"Papa masih belum menyerah. Baiklah akan aku ungkap semuanya, semoga jantungnya kuat untuk menerima semua kenyataan," batin Tuan Farhan sambil mendengus kesal.


"Grandpa tidak tahu jika perusahaan Sahir tidak sebanding atau setara dengan Alvaro Group. Semoga jantung Grandpa bisa menerimanya," batin Evan.


"Jasmine, bisa tolong kau sebutkan nama panjangmu," pinta Tuan Farhan.


"Tentu saja Daddy. Saya ingin memperkenalkan diri lagi Tuan Kareem. Nama saya adalah Zalina Jasmine Alvaro," ucap Jasmine sambil menyeringai.


Takkk! (Sebuah sendok terlepas dari tangan Tuan Kareem dan jatuh di atas meja)


"A-Alvaro?" seru Tuan Kareem.


Jasmine menganggukkan kepalanya. Nyonya Dilara sangat terkejut mendengarnya. Sedangkan Meira tampak cuek dan tetap melanjutkan kegiatan makannya.


"Jasmine adalah cucu dari Tuan Alexander Alvaro. Ayahnya adalah Tuan Zaidan Maliq Alvaro. Sedangkan ibunya adalah Nyonya Rosaline Ariana Alvaro, seorang designer terkenal sekaligus pemilik DńA Fashion," terang Tuan Farhan.


Tuan Kareem langsung memegang dada kirinya.

__ADS_1


"Apa Grandpa baik-baik saja?" tanya Evan.


Tuan Kareem hanya mengangguk tanpa menjawab.


"Memangnya apa hebatnya keluarga Alvaro itu?" seru Meira.


Nyonya Dilara langsung mencubit paha Meira, membuat Meira meringis.


"Bukankah Nona Meira itu orang yang sangat menguasai dunia bisnis? Seharusnya tahu betul tentang keluarga Alvaro," ucap Evan.


Meira terdiam. Dia menyadari jika dia telah membuat kesalahan.


"Keluarga Alvaro adalah pemilik Alvaro Group, perusahaan retail terbesar yang menguasai pasar Asia dan Eropa. Dan saat ini mulai merambah pasar Amerika dan Australia," ujar Tuan Farhan menjelaskan.


"Uhuk...," Meira tersedak.


Meira membelalakkan kedua matanya. Jasmine mengangkat alis kanannya sambil menyunggingkan bibirnya. Wajah Tuan Kareem terlihat sangat tegang.


Teng... Teng...!!! (Keluarga Demir kalah telak)


"Aku tetap tidak setuju Evan menikah dengannya," ucap Tuan Kareem.


"Atas alasan apalagi, Pa?" tanya Tuan Farhan.


"Karena aku harus memenuhi janjiku kepada sahabatku," jawab Tuan Kareem.


Nyonya Dilara dan Meira mengumbar senyum mereka. Dalam hati keduanya sangat bahagia, Tuan Kareem tidak berubah pikiran.


"Benarkah? Atau Tuan Kareem tidak mau menerima saya, karena Tuan Kareem mempunyai masa lalu yang kurang baik dengan Opa saya, Tuan Alexander Alvaro," sahut Jasmine.


"Omong kosong!" jawab Tuan Kareem.


Wajah Tuan Kareem semakin tegang.


"Maaf Dilara, Meira. Sepertinya kesehatanku tiba-tiba kurang baik. Kalian lanjutkan saja makan malam kalian. Aku akan beristirahat dulu," ucap Tuan Kareem.


"Kami sudah selesai makan, Tuan. Benarkan Meira? Sebaiknya kami segera kembali ke apartemen karena ada pekerjaan yang masih harus saya selesaikan," jawab Nyonya Dilara.


Nyonya Dilara dan Meira tidak akan sanggup jika mereka harus melanjutkan makan malam tanpa kehadiran Tuan Kareem. Mental mereka sangat lemah saat ini, setelah mengetahui semua fakta tentang Jasmine dan keluarganya.


"Evan, antarkan mereka berdua pulang," perinta Tuan Kareem.


"Bukannya mereka tadi membawa mobil sendiri. Lagipula Evan harus mengantarkan Jasmine pulang dengan selamat ke mansion Alvaro," jawab Evan.


Tuan Kareem terdiam dengan wajah kesalnya. Nyonya Dilara dan Meira segera pamit dan meninggalkan mansion keluarga Sahir. Tuan Farhan mendekati ayahnya yang hendak kembali ke kamar.


"Maaf ya Pa. Calon yang Papa agungkan itu bukanlah lawan yang sebanding dengan calon menantu idaman Farhan," bisik Tuan Farhan.


Tuan Kareem langsung melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan hati yang yang panas.


"Diah. Siapkan obatku!" teriak Tuan Kareem.


Nyonya Diah segera berdiri dan menyiapkan obat milik ayah mertuanya. Jasmine pun ikut pamit karena tidak ingin pulang terlalu malam.


"Bocilku memang luar biasa. Tanpa mengeluarkan banyak tenaga sudah bisa menjatuhkan lawannya dengan telak," puji Evan sambil tertawa.


Saat ini Evan dan Jasmine sedang dalam perjalanan menuju mansion Alvaro.


"Ya beginilah keuntungan mempunyai calon mertua yang terlalu menyayangiku," sahut Jasmine sambil tersenyum.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2