
Axel, William dan Irene sedang dalam perjalanan menuju mansion Alvaro, setelah melakukan perjalanan bisnis dan harus menginap selama semalam di kota Munich. Axel ingin segera tiba di mansion, dia sangat merindukan istri dan ketiga calon bayi mereka.
Ponsel Axel berdering. Wajah Axel sumringah saat menerima panggilan video dari istrinya. Axel segera mengenakan earphonenya.
"Assalamualaikum, istriku sayang," ucap Axel.
"Waalaikumsalam, suamiku. Apa kau sedang dalam perjalanan pulang?" tanya Helena.
"Ya, mungkin satu jam lagi kami tiba di mansion. Apa kau sudah sangat merindukanku?" ucap Axel.
"Tentu saja. Aku semalam sulit tidur karena tidak ada kau di sampingku," ucap Helena sambil mengerucutkan bibirnya.
Axel tersenyum gemas. Ingin rasanya dia menggigit bibir Helena yang menggoda itu.
"Aku minta maaf ya sayang. Aku terpaksa menginap tadi malam. Semuanya baik-baik saja kan? Baby triplets tidak menyusahkanmu kan? Kalau mereka menyusahkanmu, begitu tiba aku akan langsung mengunjungi mereka dan memberikan nasihat pada mereka," ucap Axel sambil tersenyum menggoda.
Helena memutar bola matanya malas.
"Itu kan modusmu saja, Xel, mengatasnamakan baby triplets," ucap Helena kesal.
Axel pun tertawa.
"Baiklah. Kalian hati-hati dan harus tiba di mansion dengan selamat," ucap Helena.
"Ya sayang. Kamu tunggu dengan sabar ya. Tak lama lagi aku datang. Love you," ucap Axel.
"I love you too. Assalamualaikum," ucap Helena.
"Waalaikumsalam," jawab Axel.
Panggilan mereka pun terputus.
"Will! Apa semua yang aku perintahkan padamu sudah kau siapkan?" tanya Axel.
"Sudah Tuan. Anda tidak perlu khawatir. Semuanya sudah saya simpan di bagasi," jawab William sambil tersenyum.
"Bagus. Aku tidak mau sampai ada yang kurang sedikitpun sehingga rencana yang telah kususun dengan rapi menjadi gagal," sahut Axel.
William melihat Axel dari kaca spion dalam mobil sambil tersenyum.
"Nona Helena pasti sangat bahagia mendapatkan kejutan semanis ini dari suaminya, apalagi buket bunga yang disiapkan tadi cantik sekali. Nona Helena adalah wanita yang sangat beruntung. Semoga mereka selalu bahagia, tanpa ada drama dan masalah lagi," batin Irene sambil tersenyum.
William melirik ke arah Irene dan menyunggingkan bibirnya.
Mobil mereka telah tiba di mansion Alvaro.
"Will, bawa semua barang itu ke taman belakang. Aku akan menemui Helena dulu," ucap Axel sesaat sebelum turun dari mobil.
Axel segera masuk ke dalam mansion. Sedangkan William membawa semua barang yang disimpan di bagasi dan dibantu oleh Irene.
"Wow...Tuan Axel ingin memberikan pesta kejutan untuk Nona Helena. Ini indah sekali. Benar kan Will?" seru Irene saat melihat taman yang sudah dihias dengan begitu cantiknya.
William hanya tersenyum.
"Oh tidak, Tuan dan Nona sebentar lagi datang. Tapi kain yang bertuliskan kata-kata romantisnya masih terlipat dan belum dibuka," ucap William panik.
"Di mana?" tanya Irene.
"Itu yang ada di depanmu. Irene, tolong tarik tali yang ada di sebelah kiri tanganmu itu," ucap William.
Irene mengikuti arahan William dan segera menarik tali yang berada di samping tangan kirinya. Seketika kain berwarna merah muda itu terbuka tepat di depan Irene dan bertuliskan,
..."Will you marry me?"...
...♥️♥️♥️...
Irene membelalakkan matanya tak percaya.
__ADS_1
"Apa maksud dari semua ini Will?" tanya Irene sambil membalikkan badannya.
Irene menutup mulutnya tak percaya saat melihat William sudah berlutut dengan satu tangannya memegang buket bunga cantik yang dia kira untuk Helena, dan tangan satunya memegang sebuah kotak hitam kecil berisikan sebuah cincin bertabur berlian yang indah.
"Irene. Menikahlah denganku. Jadilah istriku dan pendamping hidupku. Aku sangat mencintaimu," ucap William.
Bulir air mata keluar langsung dari kedua pelupuk mata Irene.
"Will, kau tahu sendiri kan jika aku...," ucap Irene.
"Aku tidak peduli. Aku hanya menginginkan dirimu," sahut William.
Air mata Irene semakin deras mengalir.
"Kami mohon Irene, terimalah putra kami, William. Dia sangat mencintaimu," ucap Nyonya Serena, ibu William.
Irene langsung menatap ke arah belakang William, yang telah berdiri kedua orang William, Tuan Joe dan Nyonya Serena. Selain itu juga sudah hadir keluarga Alvaro dan sepasang suami istri, Tuan Zibber dan Nyonya Elizabeth yang kebetulan sedang berkunjung ke sana. Irene benar-benar dibuat terkejut.
"T-tapi Nyonya...," ucap Irene.
"Kami mohon, Kak. Menikahlah dengan Kak William," seru Sean, adik laki-laki Irene.
Irene menangis bahagia saat melihat kedua adiknya, Sean (14 tahun) dan Abigail (9 tahun). Keduanya selama ini tinggal di asrama, karena Irene harus bekerja dan tidak bisa menjaga mereka. Axel lah yang telah membiayai kehidupan dan pendidikan kedua adik Irene itu.
"Sean, Abigail. Bagaimana kalian bisa berada di sini?" tanya Irene.
"Tuan Joe yang telah menjemput kami dari asrama," jawab Abigail dengan senyum manisnya.
"Jadilah bagian dari keluarga kami, keluarga Herrmann, Irene. Daddy dan Mommy sangat mengharapkannya, Nak," ucap Tuan Joe.
Irene menatap William yang masih berlutut dengan tatapan memohonnya.
"Jangan ada keraguan, Nak. Raihlah kebahagiaanmu," tutur Nyonya Savira.
"Menikahlah denganku. Aku mohon," mohon William.
Irene tersenyum sambil mengangguk.
Tangis William pun pecah. Dia segera berdiri dan menyerahkan buket bunga kepada Irene, dan menyematkan cincin ke jari tangan Irene. William mencium kening Irene, lalu menarik tubuh Irene ke dalam pelukannya.
Tuan Joe memeluk istrinya dengan hati bahagia. Rasa bahagia juga dirasakan oleh Axel, Helena dan keluarga mereka. Keluarga Alvaro sudah menganggap William dan Irene sebagai bagian dari keluarga mereka.
"Terima kasih sayang. Aku sangat bahagia. Aku mencintaimu, Irene," ucap William.
"Aku juga mencintaimu, William," ucap Irene sambil menangis bahagia.
Kedua calon pengantin itu mengurai pelukan mereka.
Tuan Joe dan Nyonya Serena berjalan ke arah William dan Irene.
"Selamat ya sayang. Kami sangat bahagia," ucap Nyonya Serena sambil memeluk Irene.
Begitu juga Tuan Joe mengucapkan selamat dan memeluk putra sulungnya.
Irene mengarahkan pandangannya kepada kedua adiknya, sambil merentangkan kedua tangannya. Sean dan Abigail segera berlari dan memeluk kakak mereka.
"Daddy dan Mommy sudah mempersiapkan segalanya. Tiga hari lagi, kalian akan melangsungkan pernikahan," ucap Tuan Joe.
Irene melebarkan matanya.
"Maaf Tuan, bukankah itu terlalu cepat?" ucap Irene.
"Kau tidak perlu khawatir Irene, semuanya sudah kami siapkan. Kau tinggal menyiapkan dirimu menjadi pengantin yang sangat cantik," ucap Nyonya Savira.
"Aku sudah menyiapkan gaun yang cantik untukmu, kau tinggal mencobanya," ucap Nyonya Aline.
"Tempat pesta sudah siap," ucap Tuan Zayn.
__ADS_1
"Bahkan untuk perjalanan bulan madu kalian, juga sudah kami siapkan," sahut Axel.
Irene sangat bahagia, dirinya di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Tiba-tiba Irene teringat dengan kedua orang tuanya yang telah meninggalkannya dan kedua adiknya begitu saja setelah keduanya bercerai.
"Ada apa Irene? Apalagi yang kau pikirkan?" tanya William yang melihat wajah sendu calon istrinya.
"Aku hanya teringat dengan ayah dan ibuku. Aku akan menikah dan tidak ada yang akan mendampingiku saat berjalan menuju altar," ucap Irene.
Semuanya terdiam. Sean dan Abigail juga ikut merasa sedih. Selama 8 tahun mereka telah kehilangan kasih sayang kedua orang tua mereka, terutama si kecil Abigail.
"Jika kau tidak keberatan, apakah kau bersedia jika pria tua ini yang mengantarkanmu ke altar?" tanya Tuan Zibber.
Irene menatap Tuan Zibber tak percaya.
"Saya bersedia Tuan. Terima kasih," jawab Irene penuh haru.
Tuan Zibber berjalan mendekati Irene dan memeluknya selayaknya seorang kakek kepada cucunya.
"Mulai sekarang jangan memanggil kami dengan sebutan Tuan dan Nyonya, tapi Daddy dan Mommy," ucap Tuan Joe.
Irene mengangguk sambil tersenyum.
"Dan kalian berdua, Sean dan Abigail. Apakah kalian mau mempunyai orang tua baru?" tanya Tuan Joe kepada Sean dan Abigail.
Sean dan Abigail terkejut tapi juga bahagia.
"Kami mau Tuan," jawab Sean.
Abigail menganggukkan kepalanya dengan mantap. Selama ini dia selalu berharap bisa merasakan kasih sayang dari seorang ayah dan ibu.
"Kalau begitu jangan panggil Tuan, tapi Daddy. Kemarilah! Pelukan Daddy dan Mommy," ucap Tuan Joe.
"Daddy/Mommy," panggil Sean dan Abigail.
Irene benar-benar bahagia. Dia sangat bersyukur pada Tuhan.
Tuan Joe dan Nyonya Serena memeluk kedua anak itu. Tuan Joe mengangkat tubuh Abigail dan menggendongnya.
"Mulai sekarang, kalian akan tinggal di rumah kami, kediaman keluarga Herrmann. Kalian akan bertemu dan berkenalan dengan kedua kakak kalian, Mark dan Stevan. Dan kalian bisa bermain bersama mereka nantinya," ucap Tuan Joe.
"Abby senang sekali. Abby sekarang mempunyai Daddy dan Mommy seperti anak yang lain. Dan punya rumah juga kakak Abby bertambah lagi," ucap Abigail dengan polosnya.
"Ya sayang. Kau sekarang, Abby adalah putri Daddy yang paling cantik," ucap Tuan Joe.
Abigail mencium pipi Tuan Joe dan terus memeluk Tuan Joe seolah tidak ingin melepaskan Daddy barunya itu. Semua orang yang berada di sana, ikut merasakan kebahagian yang mereka rasakan saat ini.
"Terima kasih banyak, Will. Aku sangat bersyukur Tuhan telah mengirimkanmu untukku," ucap Irene.
William tersenyum dan mencium tangan Irene.
Bersambung ...
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
__ADS_1
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰