Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 49. Pengakuan


__ADS_3

"Apa mau kalian sekarang? Apa kalian mau membunuhku?" tanya Bella sinis.


"Kami ini bukan malaikat pencabut nyawa. Jika kau langsung mati, itu hukuman yang terlalu ringan untukmu," jawab Axel dengan tatapan dingin.


Bella menatap Axel lekat, lalu tersenyum miring.


"Seharusnya kau lahir dari rahimku, Axel. Kau adalah sosok anak yang selalu aku harapkan selama ini, bukan anak pembawa sial seperti dia," ucap Bella sambil menunjuk ke arah Putri.


Snuttt... (Hati Putri serasa ditusuk-tusuk)


"Jaga bicaramu! Aku tidak sudi lahir dari wanita j****g sepertimu!" bentak Axel.


"Mengapa Mama mengatakan hal sekejam itu? Apa salahku, Ma? Mengapa Mama tidak pernah sayang padaku?" tanya Putri sambil terisak.


Bella tertawa seperti orang gila. Helena menggengam tangan Axel erat.


"Apa kau tidak apa-apa sayang?" tanya Axel lirih.


Helena mengangguk.


"Kau ingin tahu mengapa aku tidak pernah menyayangimu," ucap Bella.


Putri mengangguk.


"Karena aku memang tidak mengharapkan kehadiranmu. Kehadiranmu telah menghancurkan hidupku. Aku hamil tanpa suami. Dan aku semakin benci karena kau terlahir dengan memiliki wajah orang yang sangat ku benci, Putri. Seharusnya aku dulu mengggugurkanmu dan tidak pernah melahirkanmu ke dunia ini," ucap Bella sambil berteriak.


Plak!!!


Aline menampar wajah Bella dengan sangat keras.


"Lancang! Beraninya kau menamparku!" bentak Bella.


Bella ingin membalas Aline namun tangannya dipegangi oleh anak buah Rino.


"Wanita macam apa kau ini? Teganya kau mengatakan hal sekejam itu pada anakmu, darah dagingmu sendiri!" bentak Aline.


"Dia tidak bersalah. Kau yang salah, kau yang jahat," tambah Aline.


Zayn langsung menghampiri istrinya. Kemudian membawanya menjauh dari Bella.


"Tidak ada untungnya bagiku memiliki anak seperti dia. Meskipun dia memiliki wajah yang cantik, tapi otaknya bodoh. Dasar anak tidak ada gunanya," cerocos Bella.


"Cukup Bella!" hardik seseorang yang berjalan masuk ke dalam ruangan itu.


Bella terkejut dan melihat siapa orang yang telah menghardiknya.


"Kau? Mau apa kau ke mari? Apa mereka yang telah mengundangmu?" tanya Bella ketus.


"Ya kau benar. Mereka yang memintaku untuk datang kemari," jawab Frans.


Frans menolehkan pandangannya ke arah Putri yang menangis sambil menunduk. Ada rasa rindu yang teramat dari tatapannya. Hatinya terasa sakit saat melihat anaknya menangis dan terluka.


"Apa yang kau lihat Frans?" tanya Bella dengan nada mengejek.


Frans mengalihkan pandangan matanya lagi dan menatap Bella.


"Mengapa kau lakukan semua ini Bella? Jika kau ingin marah, marahlah padaku. Aku akui aku memang salah karena tidak percaya bahwa janin yang kau kandung saat itu adalah anakku," ucap Frans.


Bella tersenyum sinis.


"Jika kau tidak menyayangi Putri, mengapa kau tidak memberikannya padaku saat aku datang dan memohon padamu? Mengapa Bella?" tanya Frans dengan nada membentak.


Putri mengangkat wajahnya. Dia terus memandangi wajah Frans yang mirip dengannya.


"Apa kau ayahku?" tanya Putri.


Frans langsung mendekati anaknya.


"Iya sayang. Aku Papamu. Maafkan Papa yang selama ini tak berada di sampingmu," ucap Frans sambil berjongkok di depan Putri.

__ADS_1


"Pemandangan yang menarik," seru Bella.


"Apa kau ingat Frans? Dulu kau menolak mengakui anak yang kukandung saat itu adalah anakmu. Kau tidak mempercayaiku dan menolak untuk bertanggung jawab. Lalu saat anak itu telah lahir dan mewarisi wajahmu baru kau mengakuinya dan memintaku untuk memberikannya. Enak saja!"


"Saat aku harus berjuang untuk hidupnya kau tidak ada Frans. Kau membuangku seperti sampah. Dan aku mempertahankannya bersamaku supaya aku bisa masuk ke dalam keluarga Alvaro. Jika aku tidak bisa masuk sebagai istri seorang Zaidan Maliq Alvaro, setidaknya aku bisa masuk sebagai besan Zaidan Maliq Alvaro. Sehingga aku bisa terus dekat dengan Zaidan," terang Bella sambil memberikan tatapan memujanya pada Zayn.


Aline geram dibuatnya. Beraninya ada wanita lain yang menginginkan suaminya di hadapannya. Aline mengepalkan tangannya.


"Beraninya kau memberikan tatapan memujamu pada suamiku, di depanku!" bentak Aline.


"Tenanglah sayang. Jangan terpancing emosi. Wanita ini gila karena obsesinya yang terlalu tinggi. Kau memilikiku seutuhnya. Hati dan ragamu hanya untukmu," lirih Zayn berusaha menenangkan istrinya.


Bella tertawa bahagia karena telah berhasil menyulut emosi Aline.


"Om Rino! Beri wanita ini 10 cambukan karena telah berani membuat Mamaku marah!" ucap Jasmine dingin.


Rino memberikan isyarat pada salah satu anak buahnya. Anak buah Rino mengambil cambuk dan memberikan 10 cambukan dahsyat pada tubuh Bella. Bella berteriak dan meraung kesakitan.


Putri terus menangis. Meskipun Bella selalu menyakitinya, Putri tetap tidak tega jika ibunya meringis kesakitan.


Patrick mendekat ke arah Bella.


"Apa tujuan kalian masuk ke dalam keluarga Dawson? Dan menggunakan identitas Marissa?" tanya Patrick.


Bella terkekeh.


"Kau itu bodoh atau apa? Tentu saja untuk mendapatkan uang dan hidup yang layak. Kami butuh uang untuk bertahan hidup dan untuk melancarkan semua rencana kami," jawab Bella sambil terus tertawa.


"Bahkan sampai membunuh paman dan bibiku?" tanya Patrick lagi.


"Tentu saja. Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Sebenarnya Mario itu pria yang tampan dan menggairahkan. Sayang dia tidak mau menceraikan istrinya yang sakit-sakitan itu. Tidak ada cara lain selain menghilangkan nyawa mereka, sehingga aku bisa menggunakan harta mereka dengan baik," jawab Bella sambil tersenyum dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Bugghhh... (Patrick memberikan bogeman ke wajah Bella)


"Berhenti! Jangan siksa Mamaku lagi. Aku mohon," pinta Putri.


Patrick menatap Putri tajam.


"Tidak, Nak. Papa tidak terima jika kau harus menanggung hukuman atas kesalahan ibumu," sahut Frans.


Bella terkekeh.


"Dasar anak bodoh. Kau pikir rasa benciku padamu akan berubah menjadi rasa sayang jika kau menggantikanku mendapatkan hukuman. Kau salah. Aku malah semakin bahagia melihatmu menderita," ucap Bella.


Plak!!! (Frans memberikan tamparan kerasnya di wajah Bella)


"Kau benar-benar wanita berhati iblis," ucap Frans.


Para anggota keluarga Alvaro hanya diam menyaksikan drama yang ada di depan mata mereka. Dan yang lebih menggelikan lagi, Rino duduk dan menontonnya sambil makan kacang dan minum minuman bersoda.


"Jadi kau mengakui semua kejahatanmu?" tanya Patrick.


"Ya. Aku akui semuanya. Lalu apa yang akan kalian lakukan sekarang?" jawab Bella dengan wajah santainya.


"Kau benar-benar psycho," seru Jasmine.


Bella terus tertawa.


"Kalau kalian mau membunuhku, silakan. Aku tidak peduli. Aku tidak menyesali semua yang telah aku lakukan. Aku senang melihat kalian menderita. Ha...ha...ha ...," ucap Bella.


"Mati terlalu ringan untukmu. Kalian akan dikirim ke Amerika dan diserahkan kepada pihak kepolisian California untuk mempertanggung jawabkan perbuatan jahat kalian," ucap Axel.


Bella berhenti tertawa.


"Tidak! Bunuh saja aku. Aku tidak mau masuk penjara dan menderita di sana," ucap Bella.


"Kami bukan pengadilan. Jadi tidak menerima sanggahan," sahut Axel dengan tatapan dingin.


Bella menggenggam tangannya erat. Dia berharap bisa mati di tangan keluarga Alvaro, supaya kelak keluarga Alvaro dan keturunannya akan memikul dosa sebagai pembunuh.

__ADS_1


Putri hanya bisa pasrah. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Putri sudah siap menerima hukuman yang akan dia terima. Frans mendekatinya.


"Tenanglah, Nak. Apapun yang terjadi padamu, mulai saat ini Papa akan selalu berada di dekatmu dan mendampingimu. Papa tahu semua itu tidak akan sebanding dengan sikap jahat Papa padamu dulu. Papa sadar, jika Papa tidak layak mengharapkan pengampunan darimu. Tapi Papa akan berusaha menjadi ayah yang baik di sisa umur Papa," penuturan Frans.


Putri hanya diam dan tak menjawab, sampai anak buah Rino membawanya kembali ke dalam ruangannya, termasuk Bella yang dikembalikan ke ruang bawah tanah.


Frans menghampiri Zayn dan keluarganya.


"Aku minta maaf Zaidan atas sikap jahatku dulu padamu. Aku menyesal akibat kesalahanku di masa lalu, keluargamu menjadi menderita. Aku benar-benar minta maaf," ucap Frans sambil menakupkan kedua tangannya di depan dada.


Zayn menghela napas panjang.


"Sudahlah Frans, yang lalu biarlah berlalu. Yang paling penting saat ini kau sudah berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Berkat rencana jahatmu dan Bella, aku akhirnya bisa bertemu dengan wanita terbaik di dunia ini yaitu istriku, Aline," jawab Zayn sambil memeluk pinggang istrinya.


"Terima kasih," ucap Frans.


"Bolehkan aku menemani putriku di dalam ruangannya?" tanya Frans.


"Maaf Tuan Frans, saya tidak mengijinkan. Tapi Anda boleh mengunjunginya saat makan siang dan malam," jawab Axel.


Frans mengangguk. Meskipun dia sedikit kecewa karena tidak bisa menemani putrinya, namun dia tetap bersyukur setidaknya Tuan Muda Alvaro masih mengijinkannya untuk mengunjungi anaknya.


Zayn dan keluarganya sudah keluar dari markas Avlvaro, termasuk Patrick dan Frans. Mereka kembali ke mansion Alvaro, kecuali Frans yang kembali ke rumah lama orang tuanya yang ada di Indonesia untuk menemui istrinya.


"Patrick," panggil Jasmine saat mereka tiba di mansion Alvaro.


"Ya Nona," jawab Patrick.


"Ikut aku. Ada yang ingin bertemu denganmu," seru Jasmine.


Patrick menurut dan mengikuti langkah Jasmine menuju taman.


"Wanita itu ingin bertemu denganmu," ucap Jasmine sambil menunjuk seorang wanita yang berdiri membelakangi mereka.


Patrick berjalan menghampiri wanita itu, sedangkan Jasmine sudah melenggang pergi meninggalkan mereka berdua.


"Permisi, Nona. Apa benar Anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Patrick dengan ramah.


Wanita itu memutar badannya dan tersenyum.


"K-kau? Marissa?" seru Patrick.


"Ya, aku Marissa. Apa kau masih mengenaliku, Patrick?" jawab wanita itu.


Patrick tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sekarang tepat di hadapannya telah berdiri wanita cantik yang selalu dirindukannya selama ini. Patrick meneteskan air mata.


"Tentu saja, aku akan selalu mengenalimu, Marissaku," ucap Patrick.


Patrick menarik tubuh Marissa untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Aku merindukanmu, Marissaku," lirih Patrick sambil menangis haru bercampur bahagia.


"Aku juga merindukanmu, Patrickku," balas Marissa.


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2