
Axel mengerjapkan matanya saat merasakan hangatnya cahaya matahari yang menelusup masuk dari jendela kamarnya dan menyilaukan matanya. Axel melihat jam yang ada di dinding kamarnya.
"Sudah pukul 8," gumam Axel.
Axel menguap dan menggeliatkan tubuh atletisnya. Axel memang tidur kembali setelah sholat subuh tadi, karena semalam dia ikut begadang menemani Helena. Baby Triplets rewel dan menangis karena badan mereka panas setelah kemarin melakukan imunisasi.
Axel tidak mendapati istri dan ketiga bayinya di kamar. Axel segera bangun dan membersihkan diri, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Bik Siti, istri dan ketiga bayiku di mana?" tanya Axel kepada salah satu maid yang berada di sana.
"Nyonya Helena sedang menjemur Tuan dan Nona muda di taman belakang bersama Tuan Zayn dan Nyonya Aline, Tuan," jawab Bik Siti.
Axel mengangguk.
"Terima kasih, Bik," ucap Axel.
Axel langsung berjalan menuju taman belakang.
"Selamat pagi semuanya. Dan selamat pagi para kesayangannya Daddy," sapa Axel.
Axel langsung mencium ketiga bayinya satu per satu, membuat ketiga bayi menggemaskan itu tertawa riang di atas pangkuan Helena, Nyonya Aline dan Tuan Zayn. Baby Triplets baru saja selesai berjemur ria.
"Apa kau sudah makan, Nak?" tanya Nyonya Aline.
"Belum Ma. Axel tadi langsung ke sini karena merindukan ketiga bayi hebatnya Daddy Axel ini," jawab Axel sambil duduk di samping Helena.
"Baiklah akan aku siapkan. Kau mau makan di ruang makan apa di sini, Xel?" tanya Helena.
"Aku mau makan di sini saja, boleh?" ucap Axel sambil tersenyum.
"Tentu saja. Tolong gendong dulu baby Arshakanya" ucap Helena sambil memberikan baby Arshaka kepada suaminya.
Helena segera masuk ke dalam mansion untuk mengambilkan makanan.
"Bagaimana kondisi perusahaan saat ini, Pa? Semua baik-baik saja kan?" tanya Axel.
"Kau tidak perlu khawatir, semuanya aman terkendali," jawab Tuan Zayn.
"Syukurlah," sahut Axel.
Helena sudah datang dengan membawakan makanan untuk suaminya, serta camilan untuk kedua mertuanya.
"Banyak sekali, Helena. Mengapa kau tidak meminta maid saja untuk membantumu membawakannya," ucap Tuan Zayn.
"Tidak apa-apa, Pa. Helena masih sanggup," ucap Helena sambil tersenyum.
Axel meletakkan baby Arshaka yang sedang tidur ke dalam stroller.
"Terima kasih, sayang," ucap Axel saat mengambil makanannya.
"Sama-sama," ucap Helena sambil meletakkan air minum Axel di atas meja.
Axel segera melahap nasi rawon buatan ibunya.
"Oh ya, dari tadi Axel tidak melihat Jasmine. Dia ke mana Pa, Ma?" tanya Axel.
"Adikmu sedang keluar bersama Evan, untuk melihat perusahaan Keluarga Sahir yang nantinya akan dipimpin oleh Evan," jawab Tuan Zayn.
"Tumben Papa mengijinkan Jasmine pergi berdua saja sama Evan?" ucap Axel.
"Siapa bilang mereka hanya pergi berdua. Adnan dan Ara juga ikut. Papa minta mereka untuk ikut bersama Jasmine dan Evan," ucap Tuan Zayn.
"Adnan dan Ara tadi datang ke sini," seru Axel.
"Tadi pagi mereka datang ke sini diantarkan oleh ayah Adrian. Mereka merindukan Baby Triplets. Mama sekalian ajak mereka sarapan di sini. Sebelum Papa kalian yang over protective ini meminta mereka untuk ikut, Evan sudah lebih dulu mengajak mereka. Evan juga mengatakan akan membawa mereka bermain ke Dufan," ucap Nyonya Aline.
Axel sudah menghabiskan sarapannya.
"Apa kau bisa datang ke perusahaan minggu depan?" tanya Tuan Zayn.
"Bisa Pa. Apa ada pertemuan penting?" jawab Axel.
"Ya. Perusahaan kita akan melakukan kerja sama dengan PT. Eragon. Dan kau sebagai CEO dari Alvaro Group harus ikut dalam pertemuan ini," ucap Tuan Zayn.
Axel menghela napas panjang.
"Axel pasti datang, Pa," ucap Axel.
"Baguslah," sahut Tuan Zayn.
"Kau tidak apa-apa kan sayang jika aku mulai kerja minggu depan?" tanya Axel.
"Kau tenang saja. Nanti kan ada Bu Sari dan maid lainnya yang akan membantuku mengurus Baby Triplets," jawab Helena.
"Ada yang ingin Papa dan Mama sampaikan kepada kalian," ujar Tuan Zayn.
__ADS_1
"Ada apa, Pa?" tanya Axel.
"Bagaimana jika untuk sementara waktu kalian dan Baby Triplets tinggal di mansion ini? Bukannya Papa dan Mama melarang kalian untuk menempati mansion kalian kembali. Ketiga bayi kalian kan masih sangat kecil. Ijinkan kami membantu kalian untuk mengurus mereka," ucap Tuan Zayn.
"Benar, Nak. Jujur saja Papa, Mama, Opa, Oma, Pipi, Mimi, bahkan Daddy Narendra dan Mommy Charlotte merasa khawatir. Kami semua tidak tega jika kalian harus mengurus tiga bayi hanya berdua saja. Ya meskipun di mansion kalian ada maid yang pastinya akan membantu," sahut Nyonya Aline.
Axel dan Helena terdiam dan sambil berpandangan.
"Kami tidak memaksa, Nak. Semua keputusan ada di tangan kalian berdua. Dan apapun itu, akan tetap kami hormati," ucap Tuan Zayn.
"Maaf Pa, Ma. Bukannya kami menolak, tapi kami tidak ingin merepotkan Papa dan Mama. Selama ini Papa dan Mama sudah banyak membantu kami," ucap Helena.
"Kalian tidak merepotkan sama sekali. Justru kami malah senang, Nak. Dan renovasi mansion kalian juga masih belum selesai," ucap Tuan Zayn.
"Mansion kita direnovasi, suamiku?" tanya Helena.
"Ya sayang. Maaf aku tidak mengatakannya padamu sebelumnya," jawab Axel.
"Kau tidak marah kan?" Axel merasa tak enak hati.
Helena tersenyum.
"Tentu saja tidak. Untuk apa aku harus marah. Sebenarnya aku juga ingin memintamu untuk merenovasi mansion kita, apalagi sekarang Baby Triplets sudah lahir. Mereka belum mempunyai kamar sendiri," ucap Helena.
"Terima kasih sayang. Saat ini kamar untuk mereka sedang dipersiapkan. Kita bisa berkunjung dan menginap di sana pada akhir minggu ini," ujar Axel dengan wajah bahagianya.
"Apa itu artinya kalian setuju untuk tinggal di mansion ini untuk sementara waktu?" tanya Tuan Zayn.
"Ya Pa, Ma. Kami dan Baby Triplets akan tinggal lebih lama di mansion ini," jawab Axel.
"Wah, Papa bahagia sekali. Akhirnya kami bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama ketiga cucu kami," ucap Tuan Zayn bahagia.
"Dan kalian tidak perlu khawatir, privacy kalian tidak akan pernah terganggu. Malah Papa dan Mama nantinya bisa membantu kalian agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk berduaan," tambah Tuan Zayn.
"Ah, Papa dan Mama memang yang terbaik," sahut Axel senang.
Sedangkan wajah Helena langsung memerah karena malu.
Jasmine, Evan, Adnan dan Ara tiba di perusahaan keluarga Sahir yang diberi nama The Sahir Cooperation. Perusahaan tersebut bergerak di bidang properti dan letaknya tak jauh dari PT. Hadinata Textile, perusahaan milik keluarga Nyonya Aline. Perusahaan yang akan dipimpin oleh Evan itu terlihat cukup besar, meskipun tidak sebesar Alvaro Group.
"Kebetulan sekali lokasi perusahaan keluarga Kak Evan tak jauh dari PT. Hadinata Textile. Perusahaan yang dibangun oleh kakek kami, Tuan Robby Hadinata. Dan saat ini berada di bawah pimpinan ayahku, Tuan Adrian Putra Hadinata bersama papanya Ara, paman Bayu," ucap Adnan.
"Itu perusahaannya terlihat dari sini. Kau bisa membaca nama perusahaannya, kan," sahut Jasmine sambil menunjukkan perusahaan milik keluarga ibunya dari ruangan yang akan ditempati Evan.
"Sungguh suatu kebetulan. Sepertinya nanti aku bisa sering bersilaturrahmi dengan keluarga dari Mama Aline," ujar Evan.
"Dan jangan harap Kak Evan bisa berbuat macam-macam, apalagi sampai mengkhianati Kak Jasmine. Karena paman Adrian dan papaku mempunyai banyak pengawal yang tersebar di wilayah ini," ucap Ara sambil menyeringai.
Jasmine dan Adnan tertawa melihat ekspresi wajah Ara, sedangkan Evan hanya tersenyum.
"Kau tenang saja Ara, hatiku sudah terkunci untuk Jasmine seorang," ucap Evan sambil menatap wajah Jasmine lekat.
Seketika pipi Jasmine merona, membuat Adnan dan Ara terus tertawa dan menggodanya.
"Waduh hujan Kak. Kita tidak bisa pergi ke Dufan. Kita bisa basah kuyup kalau tetap pergi ke sana," seru Adnan.
"Kau benar Adnan. Kita bisa pergi ke sana di lain hari. Bagaimana kalau kita pergi nonton di bioskop?" tanya Evan.
"Itu ide yang bagus Kak. Ada film Hollywood yang baru saja rilis," jawab Ara penuh semangat.
"Aku setuju," sahut Adnan.
Evan melihat ke arah Jasmine.
"Mustahil jika aku bilang tidak setuju," ucap Jasmine sambil tersenyum.
Akhirnya mereka berempat pergi untuk menonton film di bioskop. Setelah puas menonton film, mereka pergi ke sebuah restoran burger untuk makan siang.
"Oh ya Evan. Boleh aku bertanya sesuatu? Dan aku harap kau tidak tersinggung karena ini berhubungan dengan kehidupan pribadimu," ucap Jasmine dengan hati-hati.
Evan tersenyum dengan sangat mempesona. Jasmine langsung tersipu malu.
"Jika kau selalu tersenyum seperti itu, para gadis di luar sana pasti akan berlomba untuk mengejarmu," ucap Jasmine kesal.
"Senyuman spesialku ini hanya untukmu," ucap Evan.
Blush... (Pipi Jasmine semakin merona)
"Apa yang ingin kau tanyakan?" ucap Evan.
"Apa kau masih mempunyai keluarga lain? Maksudku keluarga besar Sahir selain Daddy, Mommy, Kak Cemal dan Uncle yang tinggal di California," tanya Jasmine.
"Ada. Aku masih memiliki seorang kakek, ayah dari Daddyku. Aku dan Kak Cemal memanggilnya Grandpa Karem. Beliau tinggal bersama Bibi Gulya, adik bungsu Daddy. Tapi hubungan kami dengan Granpa Karem tidak sebaik dan sedekat hubunganmu dengan para kakekmu," jawab Evan sambil tersenyum tipis.
"Apa ada masalah?" tanya Jasmine penasaran.
__ADS_1
Evan menghela napas panjang.
"Itu karena Grandpa Karem tidak menyukai Mommyku. Dulu Grandpa Karem berniat menjodohkan Daddy dengan putri dari sahabatnya, tapi Daddy menolak karena mencintai Mommy dan mereka berdua sepakat untuk menikah. Grandpa Karem sangat marah dan mengusir Daddy dari rumah. Di hari pernikahan Daddy dan Mommy, Grandpa Karem tidak hadir. Namun, pada saat Kak Cemal lahir, hati Grandpa sedikit luluh karena Mommy telah memberikan cucu laki-laki di keluarga Sahir. Namun sikap Grandpa kepada Mommy tetap dingin."
"Ketika aku lahir, Grandpa semakin bahagia karena memiliki 2 orang cucu laki-laki yang akan menjadi penerus keluarga Sahir. Grandpa sangat menyayangiku dan Kak Cemal. Tapi Grandpa selalu berusaha untuk menjauhkanku dari Mommy. Grandpa selalu mengatakan hal yang buruk tentang Mommy, sehingga aku dan Kak Cemal perlahan menjauh dari Grandpa. Kami tidak suka jika ada orang yang menjelekkan wanita yang sangat berharga dalam hidup kami, termasuk keluarga kami sendiri," jelas Evan.
"Aku minta maaf," ucap Jasmine tak enak hati.
"Kau tidak perlu meminta maaf. Kau berhak untuk tahu semua tentang keluargaku," ucap Evan lembut.
Selesai makan siang, mereka segera kembali ke mansion Tuan Zayn. Adnan dan Ara senang sekali bisa bermain bersama Baby Triplets yang lucu dan menggemaskan.
...*****...
Di akhir pekan, Axel dan Helena membawa Baby Triplets ke mansion pribadi mereka. Bu Sari dan para maid yang lain menyambut kedatangan mereka berlima dengan perasaan senang bercampur haru.
Axel membawa Helena dan ketiga bayinya yang berada di dalam stroller menuju lantai atas menggunakan lift.
"Kau penuh sekali dengan kejutan, Xel. Sejak kapan ada lift di mansion kita?" ucap Helena.
Axel hanya tersenyum.
"Sebenarnya aku ingin memberikan kejutan kepadamu, El, saat mansion ini sudah selesai direnovasi," ujar Axel.
Saat pintu lift terbuka, mereka segera melangkah keluar dengan Axel mendorong stroller bayi.
"Lihatlah sayang. Apa kau suka?" tanya Axel sambil menunjukkan kamar lama Helena yang telah diubah menjadi kamar bayi yang akan ditempati ketiga bayinya.
"Ini indah sekali sayang. Jadi kau merubah kamar lamaku menjadi kamar Baby Triplets," ucap Helena sambil tersenyum bahagia.
Axel mengangguk dan tersenyum, lalu menarik Helena masuk ke dalam kamar.
"Dan satu lagi. Aku juga membuat pintu penghubung, yang akan menghubungkannya langsung ke kamar kita yang berada di sebelah dengan kamar ini," ucap Axel sambil menunjukkan pintu penghubung itu.
Helena langsung memeluk suaminya.
"Terima kasih sayang," ucap Helena.
"Sama-sama, sayang," ucap Axel lalu mencium pucuk kepala Helena.
"Dan ada satu lagi kejutan untukmu," ucap Axel.
"Masih ada lagi? Beruntung aku tidak memiliki riwayat sakit jantung," ucap Helena membuat Axel tertawa.
Mereka sudah berada di balkon kamar Axel dan Helena. Mata Helena langsung terbelalak dan berbinar melihat taman belakang mansion yang disulap menjadi lautan bunga mawar di sebelah kanan dan lautan bunga tulip di sebelah kiri, serta bunga anggrek beraneka warna yang tergantung pada pinggir gazebo.
Axel memeluk tubuh Helena dari belakang dan meletakkan kepalanya di bahu Helena.
"Apa kau suka, El-ku sayang?" bisik Axel.
"Aku sangat menyukainya, Xel-ku sayang," jawab Helena.
Helena langsung berbalik menghadap suaminya.
"Terima kasih banyak suamiku. Kau adalah suami dan ayah yang terbaik," ucap Helena.
"Apapun akan kulakukan untuk membuat kalian bahagia. Kamu dan ketiga anak kita adalah segala-galanya untukku. Kalian adalah sumber kebahagiaanku," ucap Axel.
Axel menunduk dan mencium bibir Helena lembut.
"I love you, my Helena," ucap Axel.
"I love you too, my Axello," ucap Helena.
Keduanya saling memberikan tatapan penuh cinta.
Happy ending...❤
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
__ADS_1
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰