
Pagi-pagi sekali, Helena dan Jasmine berangkat ke rumah sakit diantarkan oleh Axel. Semalaman dokter Darrel dan dokter Dirga secara bergantian memantau kondisi Tuan Kareem. Tuan Farhan, Nyonya Diah dan Evan sudah duduk di depan ruang ICU.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mengapa kalian datang pagi-pagi sekali? Apakah Triplets A tidak apa-apa kalian tinggal sepagi ini?" tanya Tuan Farhan.
"Mereka baik-baik saja, Tuan. Papa dan Mamaku yang menjaga mereka," jawab Axel.
"Sebaiknya kalian sarapan terlebih dahulu. Mama Aline sudah membuatkan nasi goreng seafood untuk kalian," ucap Helena sambil menyerahkan tiga kotak makanan kepada Evan.
"Terima kasih banyak ya Nak. Dan tolong sampaikan ucapan terima kasih kami kepada Nyonya Aline," ucap Nyonya Diah.
"Sama-sama, Nyonya. Baiklah, kalau begitu saya masuk ke dalam ruangan dan memeriksa kondisi Tuan Kareem dulu," ujar Helena.
Tuan Farhan dan Nyonya Diah mengangguk sambil tersenyum.
"Sayang, aku ke ruangan Oma Narita ya. Oma Narita juga sudah tiba karena ada pasien yang akan menjalani operasi satu jam lagi," ucap Axel.
"Baiklah," sahut Helena.
Helena segera masuk ke dalam ruangan Tuan Kareem. Helena menemui dokter Darrel dan dokter Dirga. Dan Axel segera pergi menemui dokter Narita di ruangannya. Tuan Farhan dan Nyonya Diah membuka kotak makanan dan memakan nasi goreng seafood buatan Nyonya Aline. Sedangkan Evan dan Jasmine pergi ke kantin rumah sakit dengan membawa satu kotak makan milik Evan.
Di lobby rumah sakit, terlihat Nyonya Dilara berjalan sambil menarik tangan putrinya, Meira. Begitu mendengar kabar tentang pingsannya Tuan Kareem dari pelayan yang ada di mansion Sahir, Nyonya Dilara segera mengajak Meira ke rumah sakit. Nyonya Dilara ingin mencari perhatian Tuan Farhan dan berharap hati Tuan Farhan akan luluh lalu mendukung perjodohan antara Evan dan Meira.
"Ayo Meira cepatlah. Kita harus segera menjenguk Tuan Kareem," ucap Nyonya Dilara.
"Ini masih terlalu pagi, Mom. Pasti jam besuknya juga belum buka. Meira masih mengantuk Mom," rengek Meira.
Nyonya Dilara tidak menanggapi rengekan Meira, dan terus menariknya menuju tempat resepsionis rumah sakit.
"Pagi suster. Saya mau tanya. Pasien atas nama Tuan Kareem Sahir dirawat di ruangan nomor berapa ya? Saya adalah anggota keluarganya," tanya Nyonya Dilara.
"Tuan Kareem saat ini berada di ruangan ICU. Nyonya bisa mengikuti tanda penunjuk arah di sebelah sana," jawab perawat sambil menunjukkan papan petunjuk arah.
"Ruang ICU? Apa keadaan Tuan Kareem sangat parah?" tanya Nyonya Dilara penasaran.
"Pasien yang berada di ruang ICU adalah pasien yang kondisinya saat ini sedang kritis, Nyonya," terang perawat itu.
Nyonya Dilara melebarkan matanya. Setelah mengucapkan terima kasih, Nyonya Dilara dan Meira segera menuju ruang ICU.
"Kasihan sekali Tuan Kareem. Bagaimana kondisinya bisa kritis?" gumam Nyonya Dilara.
"Memangnya kenapa Mom kalau Tuan Kareem kritis?" tanya Meira di sela-sela uapannya.
"Kalau Tuan Kareem sampai meninggal lebih cepat, kau tidak akan pernah menikah dengan Evan. Dan kita tidak akan bisa menguasai harta dan perusahaan keluarga Sahir. Kau tahu sendiri perusahaan Demir sedang tidak baik sekarang. Apalagi kau selalu menghambur-hamburkan uang untuk kehidupan mewahmu. Jika terus seperti ini kita akan mengalami kebangkrutan. Apa kau mau hidup miskin?" cerocos Nyonya Dilara.
Meira langsung membelalakkan matanya. Rasa kantuk yang dia rasakan seketika menguap.
"Apa Mom? Kita akan jatuh miskin? No no no. Big no. Aku tidak jadi gembel dan hidup susah," teriak Meira sambil menggelengkan kepalanya cepat.
__ADS_1
"Kecilnya suaramu, Meira. Maka dari itu Tuan Kareem tidak boleh mati dulu sebelum kau berhasil menikah dengan Evan," ucap Nyonya Dilara kesal.
Nyonya Dilara dan Meira tiba di ruang ICU. Keduanya melihat Tuan Farhan dan Nyonya Diah yang baru saja selesai makan.
"Tunjukkan wajah sedihmu di depan mereka. Buat mereka merasa jika kau sangat perhatian kepada Tuan Kareem dan dirimu sedih dengan keadaan Tuan Kareem saat ini," bisik Nyonya Dilara.
"Siap, Mom," sahut Meira sambil tersenyum licik.
"Tuan Farhan," sapa Nyonya Dilara.
Tuan Farhan dan Nyonya Diah terkejut melihat keberadaan Nyonya Dilara dan Meira di rumah sakit. Keduanya segera berdiri.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya Tuan Farhan dingin.
"Aku menelpon ke mension kalian karena ponsel Tuan Kareem tidak bisa dihubungi dan pelayan kalian mengatakan jika Tuan Kareem dilarikan ke rumah sakit. Begiti mendengar jika Tuan Kareem jatuh sakit, kami segera datang ke sini secepatnya," jawab Nyonya Dilara.
Tuan Farhan menyerngitkan dahinya.
"Bagaimana keadaan Tuan Kareem?" tanya Nyonya Dilara.
"Papa masih belun sadarkan diri," jawab Nyonya Diah.
Nyonya Dilara mengabaikannya dan fokus memandang Tuan Farhan, membuat hati Nyonya Diah memanas.
"Tuan Farhan yang sabar ya. Aku yakin Tuan Kareem pasti segera sembuh. Aku akan selalu berdoa untuk kesembuhan Tuan Kareem," ucap Nyonya Dilara sambil menyentuh tangan Tuan Farhan.
Tuan Farhan segera menarik tangannya, lalu meletakkannya di pinggang istrinya.
Tuan Farhan mengajak istrinya untuk duduk kembali. Nyonya Dilara mendengus kesal. Nyonya Dilara dan Meira juga ikut duduk di kursi tunggu depan ruang ICU. Meira celingak celinguk mencari keberadaan Evan.
"Tuan Farhan, di mana Evan?" tanya Meira.
"Evan sedang pergi ke kantin rumah sakit bersama Jasmine," jawab Tuan Farhan.
Meira hanya tersenyum sambil menahan kesal di hatinya. Keheningan pun menyelimuti mereka. Sejujurnya Tuan Farhan tidak nyaman dengan keberadaan Nyonya Dilara di sana.
"Mom, aku ke toilet dulu ya," ucap Meira memecah keheningan.
"Baiklah," sahut Nyonya Dilara.
Meira segera berdiri dan melangkahkan kakinya pergi dari sana. Meira jengah dengan keheningan yang tercipta di sana. Sedangkan di kantin rumah sakit, Evan sudah menghabiskan nasi gorengnya. Evan dan Jasmine sedang menikmati teh hangat yang mereka pesan.
"Aku benar-benar menyesal Evan. Seandainya saja aku tahu yang terjadi seperti ini, aku tidak akan mengungkapkan semuanya kepada Tuan Kareem. Dan Tuan Kareem tidak akan terbaring tak berdaya seperti saat ini. Aku benar-bensr menyesal," ucap Jasmine sambil menangis.
Evan langsung berpindah tempat dan duduk di samping Jasmine.
"Hei, jangan menangis. Aku kan sudah bilang jika ini bukan salahmu. Kau tidak perlu merasa bersalah. Daddy dan Mommy juga sudah mengatakan jika apa yang terjadi pada Grandpa bukanlah kesalahanmu. Papa dan aku yang tidak bisa mengontrol emosi. Tanpa mengingat penyakit jantung yang diderita Grandpa, kami meluapkan emosi dan amarah kami kepada Grandpa. Jangan salahkan dirimu lagi. Semuanya sudah menjadi kehendak Tuhan," ucap Evan lembut sambil mengusap kepala Jasmine.
"Tapi sampai saat ini Tuan Kareem masih belum sadarkan diri. Itu yang membuatku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku," ucap Jasmine sambil terus terisak.
Evan menarik Jasmine ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kita doakan semoga Grandpa bisa segera sadar dan sembuh seperti sedia kala. Aku juga berdoa kepada Tuhan semoga pada saat Grandpa sadar nanti, Grandpa bisa menerima hubungan kita," ujar Evan.
Jasmine masih terisak dalam pelukan Evan. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap tajam ke arah mereka yang saling berpelukan. Senyuman licik terukir di bibirnya.
"Jadi wanita sialan ini yang menyebabkan Tuan Kareem sakit seperti sekarang. Aku harus segera memberi tahu Mommy," ucap Meira.
Meira segera pergi meninggalkan kantin dan membatalkan niatnya untuk menemui Evan. Meira ingin segera menceritakan apa yang didengarnya tadi kepada ibunya.
"Permisi, suster. Saya Gulya Sahir. Saya ingin bertanya di mana ruangan pasien atas nama Tuan Kareem Sahir?" terdengar seorang wanita sedang bertanya kepada resepsionis.
Meira menghentikan langkahnya dan menjatuhkan pandangannya ke arah wanita itu. Wanita cantik berdarah Turki, sedang berdiri di meja resepsionis bersama seorang gadis yang usianya lebih muda darinya. Meira tersenyum licik, lalu berjalan mendekati wanita itu.
"Permisi Nyonya. Saya tadi mendengar nama Anda adalah Gulya Sahir. Apakah Anda putri dari Grandpa Kareem Sahir?" sapa Meira dengan sopan.
"Benar. Aku adalah putrinya. Bagaimana kau bisa mengenal ayahku?" tanya Nyonya Gulya penasaran.
"Kenalkan saya adalah Meira Demir, calon istrinya Evan," ucap Meira sambil mengulurkan tangannya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Nyonya Gulya dan putrinya, Selma, sangat terkejut dan saling berpandangan. Kemudian, Nyonya Gulya menyambut uluran tangan Meira.
"Gulya Sahir dan ini putriku, Selma," ujar Nyonya Gulya sambil mengulum senyum.
"Mari aku antarkan kalian ke ruangan Grandpa Kareem. Kondisi Grandpa Kareem saat ini sedang kritis dan harus dirawat di ruang ICU," ucap Meira.
Nyonya Gulya dan Selma membelalakkan mata mereka.
"Apa kau bilang? Papaku kritis?"
Meira tersenyum tipis melihat keterkejutan dan kecemasan di raut wajah Nyonya Gulya.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰