
Aura kebahagian menguar dari mansion Alvaro. Hari ini, Jasmine dan Evan menggelar acara pertunangan. Mereka sengaja menunda pernikahan karena Tuan Kareem harus melakukan pengobatan di Amerika selama 2 bulan. Tuan Zayn dan Nyonya Aline menyetujuinya. Mereka juga ingin mempersiapkan acara pernikahan putri kesayangan mereka dengan baik dan tidak terburu-buru.
Sebuah cincin cantik dengan batu berlian mungil tersemat di jari manis Jasmine. Jasmine mengulas senyum di bibirnya saat memandang cincin indah itu.
"Apa kau suka?" tanya Evan.
Jasmine mengangguk sambil tersenyum.
"Aku minta maaf jika batu berliannya kecil. Bukan berarti aku tidak mampu membelikan yang ukurannya lebih besar, tapi karena aku menyukainya dan menurutku terlihat cantik di jarimu. Untuk cincin pernikahan, aku akan memberikan yang lebih indah lagi nantinya," ucap Evan.
"Ini cincin yang sangat indah Evan. Aku sangat menyukainya. Meskipun batu berliannya tidak terlalu besar, tapi aku tahu harganya cukup fantastis. Benar bukan?" ucap Jasmine sambil menarik salah satu ujung bibirnya.
Evan tertawa kecil.
Keluarga besar Alvaro, Sahir dan Hadinata telah hadir untuk menyaksikan pertunangan keduanya. Hans, adik Helena juga rela datang jauh-jauh dari benua Amerika. Saat ini mereka sedang saling mengobrol dan menikmati berbagai hidangan yang tersaji untuk mereka.
"Ups, maaf aku tidak sengaja," ucap Hans saat tidak sengaja menabrak Andara, sepupu Jasmine dan Alex saat mengambil camilan.
Ara mendengus kesal karena makanannya jatuh ke tanah.
"Apa kau tidak bisa menggunakan kedua matamu dengan baik? Dasar bule menyebalkan," gerutu Ara sambil menatap Hans kesal.
"Aku kan tidak sengaja dan aku juga sudah minta maaf, Ara. Mengapa kau semarah itu?" ucap Hans.
Ara tidak menjawab, lalu mengambil camilannya lagi dari atas meja.
"Sudahlah Hans. Abaikan saja. Dia memang seperti itu. Dia itu sangat sensitif dengan pria berdarah campuran seperti kita," ujar Darren yang mendatangi Hans bersama kembarannya Darrel dan Adnan.
Ara masih diam dengan wajah dinginnya sambil terus mengisi piringnya dengan makanan.
"Memangnya apa yang salah dengan darah campuran kita?" tanya Hans tak mengerti.
Darren dan Darrel hanya mengangkat bahu mereka.
"Itu juga salah kalian berdua yang suka menggoda dan mengejeknya, sehingga Ara kesal pada kalian berdua," ujar Adnan sambil mengunyah makananya.
"Kami kan hanya bercanda. Ara saja yang terlalu sensitif," sahut Darrel.
Ara memberikan tatapan tajamnya ke arah Darrel.
"Jangan mudah marah, Ra. Nanti kamu cepat tua lo. Jangan terlalu membenci bule, siapa tahu jodohmu nanti seorang bule," ejek Darrel.
"No, no, no! Aku hanya akan menikah dengan pria pribumi yang tampan dan baik hati seperti Papaku," jawab Ara tak terima.
"Hello, Non. Tidak ada manusia yang sama persis di dunia ini. Kalau kau menunggu pria seperti Uncle Bayu bisa-bisa kau melajang sampai rambutmu penuh dengan uban," sahut Darren.
"Bodo amat. Sebaiknya aku pergi ke tempat Kak Jasmine. Kalau terlalu lama di sini bersama kalian, tekanan darahmu bisa naik terus," ucap Ara lalu melenggang pergi ke tempat Jasmine berada.
"Apa dia punya trauma atau kisah buruk dengan pria bule?" tanya Hans penasaran.
"Ara tidak pernah pacaran, tapi beberapa temannya pernah berpacaran dengan pria bule dan berakhir buruk. Sehingga membuat Ara berusaha menjauh dari para pria bule. Bahkan saat aunty Alexa ingin mendaftarkannya kuliah di luar negeri, Ara menolaknya mentah-mentah. Dan dia memilih melanjutkan pendidikannya di Indonesia," jawab Adnan.
Hans hanya menganggukkan kepalanya sambil mengunyah makanannya saat mendengarkan penjelasan Adnan.
"Dan aku akan menjadi orang pertama yang menertawakannya, jika dia berjodoh dengan pria bule," ucap Darrel semangat.
Darren, Hans dan Adnan tertawa melihat ekspresi Darrel saat ini. Namun tawa Darren dan Darrel berhenti saat melihat seorang gadis Turki bergaun biru laut sedang mengambil segelas minuman. Netra safir mereka tak berkedip saat melihat gadis cantik itu yang tak lain adalah Selma, adik sepupu Evan, berjalan dengan anggunnya di depan mereka.
"Dasar twins! Tutup mulut kalian berdua sebelum ada lalat yang masuk!" hardik Hans.
Darren dan Darrel tersentak, seketika menutup mulut keduanya yang tadi menganga dengan tangan mereka. Selma yang menyadari jika dirinya menjadi pusat perhatian kedua pria kembar itu langsung malu dan salah tingkah.
"Haruskah kalian tertarik pada satu wanita yang sama?" tanya Adnan sambil terkekeh.
__ADS_1
Darren dan Darrel saling berpandangan dan tersenyum kikuk.
"Tidak harus. Hanya kebetulan saja gadis itu bisa menarik perhatian kami berdua," ucap Darren sambil tersenyum.
"Gadis itu sepupunya Evan. Kalau tidak salah namanya Selma. Jadi siapa yang akan maju untuk mendapatkannya dan siapa yang akan mengalah. Tidak mungkin kan kalian akan berebut Selma seperti dua anak yang berebut permen," ujar Hans.
"Apa kali ini kita akan bersaing Kak?" goda Darrel.
"Bisa jadi. Karena dia memenuhi kriteriaku," jawab Darren dengan tatapan memujanya.
"Sepertinya kutukan Opa Alex berbalik. Kali ini keturunan Alvaro yang tergila-gila dengan keturunan Sahir," ceplos Hans.
Adnan tidak bisa menahan tawanya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana persaingan diantara double D untuk memperebutkan cucu perempuan Tuan Kareem.
Di salah satu meja, Tuan Alex dan Tuan Kareem sedang bermain catur. Tuan Kareem sangat bahagia karena dia bisa mengalahkan Tuan Alex. Bukan karena Tuan Alex yang mengalah, tetapi karena Tuan Alex memang tidak cukup mahir dalam bermain catur. Bisa dibilang catur adalah permainan yang kurang dia sukai.
"Apa kau bahagia sekarang?" tanya Tuan Alex kesal.
"Tentu saja. Akhirnya aku bisa mengalahkanmu, Alex," jawab Tuan Kareem dengan sombongnya.
Tuan Robby tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua aki-aki itu. Sejak tadi Tuan Alex memperhatikan cucu cantik Tuan Kareem. Triplets A datang dan masing-masing duduk di pangkuan Tuan Alex, Tuan Robby dan Tuan Kareem. Mereka bertiga sedang menikmati es krim yang berada di tangan mereka.
"Kareem, sepertinya cucu perempuanmu itu cocok bersama dengan cucuku," celetuk Tuan Alex.
"Sudah cukup Evan saja yang berhubungan dengan cucumu, tidak dengan Selma. Dia cucu perempuanku satu-satunya. Aku sangat selektif Alex," jawab Tuan Kareem.
"Apa kau meremehkan para pria Alvaro? Semua cucuku itu bibit unggul dan sangat berkualitas," ucap Tuan Alex tak terima.
"Kau tinggal pilih yang mana. Ada si kembar Darren dan Darrel yang mewarisi ketampanan khas Alvaro yang hakiki. Jika kau menginginkan pria dengan ketampanan lokal khas Indonesia, kami mempunyai Adnan, putra dari Adrian. Yudi, Bima dan Arjun, putra dari anak angkatku Rino. Dan satu lagi pria campuran yang tampan, Hans putra dari Narendra. Kau tinggal pilih."
Tuan Kareem hanya menyebikkan bibirnya. "Cucuku masih muda, dia masih kuliah Alex."
Tuan Alex tertawa melihat ekspresi Tuan Kareem dan terus menggodanya, membuat Tuan Kareem geram dan kesal.
"Sudahlah sayang, tenangkan dirimu. Lupakan Evan dan keluarga Sahir. Kau itu cantik, Mommy yakin di luar sana masih banyak pria tampan dan kaya yang bisa kau dapatkan dengan mudah. Yang paling penting sekarang perusahaan kita tidak mengalami kebangkrutan," ucap Nyonya Dilara berusaha menenangkan putrinya.
"Aku marah Mom. Aku tidak terima jika aku harus kalah dari wanita itu. Aku tidak terima," ucap Meira sambil menghentakkan kakinya.
"Sudahlah. Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan ke luar negeri? Dan kau bisa shopping sepuasnya agar perasaanmu menjadi lebih baik," bujuk Nyonya Dilara.
"Mommy serius?" tanya Meira yang mulai luluh.
"Of course, honey," jawab Nyonya Dilara.
Wajah sedih Meira langsung mumringah.
"Aku ingin pergi ke Milan," ucap Meira.
"Sesuai keinginanmu, hari ini juga kita berangkat," sahut Nyonya Dilara.
Meira sangat bahagia dan langsung berhambur ke dalam pelukan ibunya.
...***...
Keesokan harinya, Tuan Kareem terbang ke Amerika bersama Nyonya Gulya. Sedangkan Selma tetap tinggal di Indonesia bersama keluarga Evan, karena saat ini dia sedang libur kuliah. Evan mendapatkan undangan pernikahan dari salah satu kliennya di Batam. Evan pun mau tak mau harus berangkat ke sana, karena dia tidak hanya akan memenuhi undangan pernikahan tetapi juga pertemuan penting dengan beberapa klien The Sahir Cooperation di Batam.
Jasmine ikut ke bandara untuk melepas kepergian Evan bersama asistennya, Sandy. Sejak tadi Jasmine hanya diam karena perasaannya tidak tenang. Jasmine seolah tidak rela jika Evan pergi ke Batam.
"Mengapa kau diam terus sejak tadi? Apa kau sakit?" tanya Evan sambil mengusap kepala Jasmine dengan lembut.
Saat ini mereka sedang berada di ruang tunggu. Evan dan Sandy akan terbang ke Batam menggunakan pesawat komersil, karena klien Evan sudah menyiapkan tiket untuk mereka berdua.
"Haruskah kau pergi? Tidak bisakah Sandy saja yang pergi untuk mewakilimu?" tanya Jasmine.
__ADS_1
Evan menoel hidung mancung Jasmine dan tersenyum.
"Apa kau sudah sangat merindukanku? Ternyata besar sekali ya cintamu padaku," goda Evan.
Jasmine langsung mengerucutkan bibirnya.
"Jangan manyun seperti itu, nanti aku bisa khilaf."
Jasmine memalingkan wajahnya karena kesal. Dengan pelan Evan menarik dagunya agar Jasmine menghadapnya.
"Aku minta maaf. Aku pergi ke Batam bukan hanya untuk menghadiri undangan pernikahan tetapi juga ada pertemuan penting yang harus aku hadiri. Aku di sana kan hanya dua hari. Setelah urusanku selesai aku akan segera kembali dan mempersiapkan acara pernikahan kita," ucap Evan.
Dengan berat hati, Jasmine pun mengikhlaskan kepergian Evan. Saat pesawat yang ditumpangi Evan meninggalkan bandara, Jasmine semakin tidak tenang. Dia seperti mendapat firasat buruk. Sejak tiba di mansion, Jasmine terus memandangi ponselnya, menunggu kabar dari Evan dengan wajah kesalnya.
"Ini sudah berjam-jam lamanya. Seharusnya Evan sudah tiba di Batam sejak tadi. Tapi mengapa Evan belum menghubungiku?" gumam Jasmine.
Ponsel Jasmine berdering. Dengan cepat Jasmine langsung mengangkat panggilan video dari Evan.
"Assalamualaikum, my sunshine," sapa Evan dari seberang telpon.
"Waalalaikumsalam," jawab Jasmine ketus.
"Aku minta maaf, saat tiba bandara ponselku kehabisan baterai dan baru bisa menghubungimu sekarang. Saat ini aku dan Sandy sudah bersiap untuk pergi ke acara pernikahan," ucap Evan sambil tersenyum.
Jasmine menghela napas panjang.
"Syukurlah kau sampai di sana dengan selamat. Hatiku tenang sekarang. Sebaiknya kalian berangkat sekarang, dan jangan kembali ke hotel terlalu malam," ujar Jasmine.
"Siap my sunshine. Kami berangkat dulu. Love you," ucap Evan.
"Love you, too," jawab Jasmine.
Jasmine meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu merebahkan tubuhnya.
"Mungkin aku sedikit berlebihan," gumam Jasmine lalu memejamkan matanya.
Lewat tengah malam, Jasmine terbangun dengan napas terengah-engah dan jantung berdebar kencang.
"Evan," lirih Jasmine sambil menyentuh dadanya.
Jasmine segera turun dari ranjang dan pergi menuju kamar orang tuanya. Jasmine meminta ijin kepada ayahnya untuk menyusul Evan ke Batam. Tuan Zayn mau memberikan ijin tapi dengan syarat Jasmine harus membawa serta Yudistira, putra pertama Rino bersamanya. Jasmine dan Yudi segera terbang ke Batam menggunakan private jet Alvaro.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰